[...]" />

Anak Bangsa Harus Inovatif “Paradigma dulu, kalau kamu besar mau jadi apa?; Sekarang, kalau besar mau berbuat apa?”

Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Bangsa Indonesia sekarang ini memasuki era pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Era pasar bebas ini jika dimaknai positif, disana terbentang peluang kerja yang sangat luas. Namun bisa sebaliknya, kalau bangsa Indonesia kalah dalam bersaing, maka akan menjadi pasar bagi produk mereka.

Mendikbud, Anies Bawesdan.
Mendikbud RI, Anies Bawesdan.

Agar bangsa ini bisa keluar jadi pemenang, maka harus terus-menerus menyiapkan/menumbuhkembangkan kreatif generasi muda. Karena dengan kreatif generasi muda akan menemukan inovasi-inovasi baru yang menghasilkan produk-produk baru, sehingga akan menciptakan lapangan kerja baru. Dengan luasnya lapangan kerja, dan produk-produk yang melimpah akan menempatkan negara ini menjadi negara produsen bukan lagi negara konsumen.

Hal tersebut selaras dengan pernyataan Mendikbud, Anies Bawesdan.

”Zaman dulu sering diajukan pertanyaan pada anak-anak yang masih sekolah begini, nanti kalo sudah besar mau jadi apa? Pertanyaan masa depan itu harus dirubah begini, kalo sudah besar mau membuat apa?”

Bangsa ini untuk menuju negara produsen pertanyaan harus dirubah menjadi, “Kamu kalau besar mau membuat apa kenapa bukan mau jadi apa?, Karena pekerjaan yang sekarang ada, mungkin 10 tahun lagi bakal tidak ada. Kami belum membayangkan 10 tahun lagi akan muncul kerjaan apa?, Jadi semua pelajar disini yang sekarang ada di bangku sekolah, anda adalah generasi penerus bangsa yang bisa menjawab pertanyaan itu.”

Generasi bangsa sekarang harus selalu didorong selalu berinovasi untuk membuat produk-produk baru, sehingga menciptakan lapangan kerja sendiri. Karena kerjaan sekarang ada 10 tahun mendatang sudak tidak ada lagi, atau memang sudah diisi orang lain. Jalan satu-satunya adalah menciptakan lapangan kerja, karena di era ekonomi bebas itu terbuka peluang yang sangat luas.
Tingkatkan Kompetensi Siswa Hadapi Persaingan Industri Global.

Pembekalan kompetensi anak bangsa tidak diberikan di perguruan tinggi saja, namun sejak dari anak duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK sudah dilatih dan dididik untuk berkarya, dan memiliki karya. Dengan berbekal kompetensi yang dimiliki ini, mereka benar-benar akan menghasilkan sesuatu prestasi, sehingga akan menjadi pionir Indonesia.

Pembelajaran Outdoor yang dilakukan oleh Mahasiswa CLS UM
Pembelajaran Outdoor yang dilakukan oleh Mahasiswa CLS UM

Anies Baswedan, memberi semangat untuk “semua generasi muda jangan khawatir tentang tempat lahir, jangan pernah berfikir saya lahir di kota besar maupun pelosok. Lokasi lahir boleh dimana saja lokasi mimpi harus diatas langit yang amat tinggi. jadi anda mimpinya yang tinggi Insya Allah nanti dengan kerja keras, kerja cerdas, serta doa akan ketemu jalannya.”

“Saya menerima laporan bahwa di Jawa Timur sekarang proporsinya Sekolah Menengah Kejuruan dan Sekolah Umum 70% dan 30%, diproyeksikan pada tahun 2020 yang tinggal empat tahun lagi. Pulau Jawa dan Bali itu proporsinya SMK diharapkan diatas 72 persen.

Dari paparan tersebut di atas menggambarkan upaya menyiapkan generasi produktif. Sehingga dapat mengantarkan Indonesia menuju negara industri. Dengan modal SDM yang mumpuni Indonesia akan mampu bersaing di kancah global.

Bekali Kompetensi Abad 21 Agar Siswa Mampu Berinovasi.

Di Indonesia banyak sekali anak-anak yang kreatif sayangnya, sekolah-sekolah kita tidak menumbuhkan anak menjadi kreatif. seluruh Indonesia ini misalnya dikasih kertas, untuk menggambar pasti semua yang sekolah di indonesia, yaitu menggambar dua gunung dengan matahari di tengahnya. jika menggambarnya begitu orang luar langsung tahu ini pasti kurikulumnya Indonesia. Karena kreativitas yang diajarkan oleh guru itu bukan kreasi. Akan tetapi ini pasi kenapa karena gurunya memaksakan begitu, tidak memberikan anak didik untuk berkreasi sendiri. Kreatif itu penting sekali untuk memperluas cakrawala berfikir.

Anies bepesan “anda harus punya kompetensi abad 21, yang biasa disebutkan dengan 4C. “C” pertama adalah Creativity yaitu, peserta didik harus punya kemampuan berkreatif. Untuk menerobos kebiasaan kreatifitas itu, ditumbuhkan dengan cara dilatih. “C” kedua adalah Critical Thinking kemampuan berpikir kritis. Peserta didik yang mempunyai kemampuan ini bisa memecahkan permasalahan secara rasional, logis, teliti dan tidak mudah untuk dibohongi; “C” ketiga adalah Communication, Peserta didik harus bisa berkomunikasi baik yang tertulis maupun lisan. Kemampuan komunikasi memang diperlukan peserta didik untuk saling bertukar ilmu pengetahuan ,agar tidak ketinggalan perkembangan zaman; “C “keempat, Collaboration. Setiap orang harus bisa kerjasama (kolaborasi), Hal ini bertujuan seseorang agar bisa bertukar ilmu pengetahuan dan jual beli hasil produksinya.”

Mereka yang memiliki karakter dan kompetensi ini, ditambah dengan ilmu pengetahuan yang luas. Merekalah yang punya kesempatan untuk menjadi pemenang di abad 21 ini.

Selenggarakan Kompetisi dan Ivent Munculkan Telenta Kreativitas Siswa.

Kompetisi dan iven merupakan ajang, untuk memberi kesempatan peserta didik menunjukkan kemampuan kreatifitasnya. Kegiatan ini dapat memunculkan putra-putri Indonesia bertalenta, walaupun mereka lahir di pelosok maupun di perkotaan bisa unjuk kompetensi.

Kompetisi dan ivent ini diselenggarakan untuk memilih putra-putri berprestasi. Dalam kenyataan Indonesia sering berhasil di level internasional, juga sering gagal yang membedakan antara kita berhasil atau tidak adalah bagaimana cara kita menominasikan.

“Jika menominasikan pemenang dengan proses yang meritokratik yaitu, berdasarkan prestasi pasti yang mewakili Indonesia itu memang hebat. Akan tapi jika menominasikannya karena faktor pertemanan karena faktor non meritokrasi maka wakil kita bertarung di level Internasional banyak yang gagal.”

“Kita semua bisa melihat kompetisi seperti LKS, olympiade ini adalah ajang untuk mengantarkan putra-putri terbaik, melalui proses meritokratik. Dengan filter ini nanti menjadi pionir-pionir Indonesia di masa depan berada di jajaran dunia. jadi adik-adik jangan berfikir ruang berkaryanya hanya sebatas Indonesia saja, tetapi sudah menglobal.

Solusi Kreatif Masyarakat Pecahkan Masalah Mendidikan.

Partisipasi Masyarakat Indonesia sangat proaktif untuk mencari solusi atasi masalah pendidikan, sehingga pemerintah tidak jalan sendirian. Masyarakat memiliki kekuatan berkreasi dan berinovasi, menciptakan masyarakat pembelajaran sepanjang hayat. Mereka membentuk komunitas-komunitas untuk mengembangkan model pembelajaran yang inovatif, demi kemajuan pendidikan.

Kolaborasi pemerintah dan masyarakat harus dibangun dari tingkat pusat dan daerah. Kegiatan ini guna membantu mereka yang belum tersejahtrakan melalui pendidikan sebagai akibat keterbatasan infrastruktur.

Baru-baru ini Kemdikbud, Anies Baswedan telah memberikan penghargaan kepada 40 komunitas penggiat pendidikan yang berjasa lewat berbagi aktivitas pendidikan dan kebudayaan. Mereka meliputi literasi, pendidikan keluarga, Pendidikan anak usia dini, perfilman dan penelitian.

Menurut Anies,” Jika kolaborasi masyarakat dengan pemerintah terus berlangsung dengan baik di bidang pendidikan dan kebudayaan, sehingga upaya mencerdaskan bangsa akan berjalan lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Keberhasilan pendidikan merupakan usaha bersama dari seluruh individu, komunitas dan organisasi dalam menghasilkan inovasi, praktik-praktik cerdas yang mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia.”

Bentuk Karakter Seseorang Kunci Keberhasilan masa depan.

Di mana-mana faktor nomor satu keberhasilan seseorang adalah karakter. “Dalam bahasa sederhananya karekter adalah kebiasaan. Karakter disiplin artinya kebiasaan disiplin, karakter kerja keras artinya kebiasaan kerja keras. Jadi untuk membentuk karekter dibutuhkan kebiasaan-kebiasaan yang menyangkut moral misalnya, berintegritas, rendah hati, dan kejujuran.”

Selain itu adalah kinerja seseorang, seperti kerjanya keras, tuntas, disiplin dan penuh rasa ingin tahu itu penting sekali. Hal inilah yang membedakan orang itu sukses atau tidak. Nilai ijasah (IPK) penting, akan tetapi IPK itu, hanya mengantar seseorang sampai pada panggilan wawancara.

“Nilai yang baik itu mengantarkan anda ke panggilan wawancara, sampai di ruang wawancara yang menentukan karakter seseorang. Jadi keberhasilan mencari kerja tidak cukup dengan nilai saja, tetapi karakter juga menentukan. Namun kalau nilainya rendah juga tidak dipanggil.”

jadi dengan kata lain, tinggi rendahnya nilai itu hanya mengantarkan sampai wawancara saja. Keberhasilan di ruang wawancara yang menentukan adalah karakter seseorang.“Jika sudah bekerja nanti karakter seseorang yang dipakai ukuran kinerja, sehingga jangan dibayangkan karakter itu hanya moralnya saja. Karakter itu juga termasuk kinerja disiplin, kerja keras, kerja tuntas.”

“Rumusnya adalah seseorang berhenti bekerja, bukan karena lelah, tetapi berhenti bekerja karena pekerjaan sudah selesai. Orang-orang yang bekerja seperti itu adalah calon orang sukses.”

Penulis: Budiharto

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*