[...]" />

Berkarya Membangun Perguruan Tinggi Yang Berkualitas

Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti (Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti)
Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti (Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti)

Membangun kehidupan Bangsa dan Negara tidak bisa lepas dari pembangunan manusia seutuhnya. Pembangunan manusia seutuhnya ada dua hal pokok yang harus dirubah menuju lebih baik. Visi Kemenristekdikti adalah terwujudnya pendidikan tinggi yang bermutu serta kemampuan iptek dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa. Misi Kemenristekdikti, meningkatkan akses, relevansi, dan mutu pendidikan tinggi guna menghasilkan SDM yang berkualitas untuk mendukung daya saing bangsa. Semua tahu di dalam kalau suatu bangsa ingin maju memiliki daya saing yang handal.

Semua tahu apabila suatu bangsa ingin maju, maka harus memiliki daya saing yang handal, kita juga memiliki misi meningkatkan akses relevansi mutu pendidikan tinggi untuk menghasilkan sumber daya berkualitas, profesional, dan berkarakter. Kita bisa lihat bagaimana upaya, untuk meningkatkan kualitas iptek, sehingga mendapatkan nilai tambah produk. Singapura sebagai contoh negara yang kecil bisa maju oleh karena SDM-nya berkualitas.

Sebenarnya Indonesia juga memiliki putra terbaik dibidang teknologi, yaitu Prof. Dr. B.J. Habibie. Beliau lahir sebelum sejarah bangsanya, sudah mampu menciptakan pesawat yang mana negara Asean belum mampu, bahkan di Puspitek Serpong dikembangkan Stek airodinamic untuk pengecekkan pesawat-pesawat mancanegara, termasuk mobil-mobil mewah. Sebetulnya ini adalah potensi yang luar biasa.

Bayangkan kalau kita hanya mempunya pasir besi, berapa nilanya?, tetapi kalau menjadi pesawat, hal ini merupakan nilai tambah berlipat ganda. Kita harus berdaulat untuk teknologi, berdaulat untuk ilmu pengetahuan, berdaulat secara politik, untuk menjadi bangsa yang kuat dan disegani di dunia ini.

Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti
Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti

Tujuan terakhir kita adalah meningkatkan relevansi, Kuantitas, dan kualitas sumber daya manusia yang berpendidikan tinggi. Tanpa memiliki poporsi jumlah SDM yang berpendidikan tinggi, kita sulit bersaing di era sekarang ini. Oleh karena itu sasaran strategis Kemenristek Dikti ingin meningkatkan kualitas pembelajaran, dan kemahasiswaan (UKM) pendidikan tinggi. Diharapkan kedepan tidak ada lagi program studi yang dihentikan karena tidak sesuai syarat-syarat tertentu, baik masalah rasio SDM yaitu antara dosen dengan mahasiswa, pasal-pasal terkait dengan laporan-laporan rutin, ataupun masalah-masalah lainnya.

Meningkatnya relevansi kualitas ini menjadi hal yang sangat penting. UM sebagai institusi pendidikan harus mampu menumbuhkan kompetensi lulusannya. Saya mempunyai pengalaman menarik, beberapa kali mengetes lulusan perguruan tinggi, sebagai contoh Fakultas Ekonomi, saudara lulusan ekonomi apa? Akutansi, jawabnya. Kemudian saya tanya kembali, apa bedanya akuntasi barbasis Cash Base dengan berbasis aktual. Jawabnya, saya penah dengar pak tapi itu apa pak?, tambah balik tanya. Hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Bagaimanapun kurikulum yang kita kembangkan di universitas harus betul-betul mencetak manusia-manusia yang dibutuhkan dalam proses pembangunan bangsa ini.
Meningkatnya produktivitas dari hasil research, seperti yang dihasilkan Prof. Efendy (Guru Besar Jurusan Kimia UM), hasilnya tidak harus disimpan di perpustakkan, harus dipublikasikan, selanjutnya inovasi tersebut harus dihilirisasi ke industri terkait

Merujuk Renstra Kemenristek Dikti, kita berkeinginan Universitas seperti UM tidak saja sebagai basic education (agen pendidikan), tetapi juga sebagai agen research, oleh karena itu kita berharap reserach- research di UM semakin bagus, semakin banyak, dan berkualitas. Tidak berhenti sampai di sini, sekarang ini universitas menjadi Agent of Culture, knowledge, technology transfer. Sebagai agen untuk mengembangkan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, selajutnya Agent Economic Development.

Menghadapi globalisasi kedepan, kita dihadapkan pada tantangan pasar bebas, ASEAN Free Trade Area (AFTA), dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Oleh karena itu perlu dipersiapkan strategi-strategi jitu untuk menjaga daya saing produk Indonesia di ASEAN. Produk-produk yang kita hasilkan harus unggul dan berkualitas secara baik. Kemaren, Singapura memboikot produk Indonesia, dengan alasan produk yang dihasilkan kurang ramah lingkungan. Jika hal ini benar, maka menjadikan evaluasi bagi kita untuk memperbaiki kualitas produk-produk ekspor Indonesia.

Saat ini Indonesia diuntungkan dengan bonus demografi. Usia produktif penduduk Indonesia lebih banyak daripada usia tua (tidak produkti). Oleh karena itu ini merupakan kesempatan yang baik untuk bangkit dan mengembangkan potensi-potensi sumber daya yang ada di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan Singapura atau Jepang. Jepang pada saat ini banyak yang sudah lansia kemudian mereka memerlukan tenaga kontrak dengan Indonesia. Singapura nanti banyak lansia yang tidak produktif lagi, oleh karena itu Singapura mempunyai kebijakan kalau wanita berkeluarga mau hamil akan diberi insentif sementara di Indonesia sebainya tidak hamil, tetapi paling tidak diatur dengan KB.

Selanjutnya Bagaimana cara menciptakan penduduk muda yang berkualitas? Kita jauhkan pewaris masa depan ini dari masalah-masalah sosial seperti ketergantungan narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, dan lain-lain yang dapat merusak karakter pemuda Indonesia. Hal ini melibatkan semua elemen utamanya Dosen, Guru, para pendidik, serta kerjasama semua pihak untuk terus mengawasi dan memberikan pendidikan berkualitas. Sehingga SDM yang dihasilkan akan sesuai dengan yang kita inginkan.

Selain itu, perlu dikembangkan Life skill dan Skillholder, terutama skillholder yang dibutuhkan di negara maju. Global triad index dan competitive index Indonesia ketinggalan dibanding neraga-negara lain, kita harus memacu menjadi negara yang berpengaruh dan menjadi urutan ke tujuh dunia ditahun dua ribu tiga puluh ini. Oleh karena itu kita ingin fokuskan untuk kembangkan sepuluh sampai dua puluh perguruan tinggi (research university), juga bisa mengembangkan menjadi research. Dalam waktu tidak terlalu lama, saya percaya Rektor UM dan jajaranya, dan seluruh akademika bekerja bersama, bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja iklas untuk menjadilakan UM menjadi research university kedepan yang bergengsi.

Apabila perguruan tinggi masuk research university, keuntungannya adalah PT yang bersangkutan akan tambah anggaran. Seleksi akan dilakukan untuk sepuluh sampai dua puluh perguruan tinggi yang ada di Indonesia, dan kita harapkan masuk lima ratus rengking dunia. Selain PT research, PT pendidikan, juga Politeknik sangat ditunggu kiprahnya. sehingga harapannya para lulusan tidak hanya menghasilkan sarjana yang kaya teori, tetapi skill yang siap kontribusi dalam proses pembangunan.

Akhir-akhir ini ada beberapa perguruan tinggi yang tidak memiliki sumber daya yang cukup terpaksa harus dinonaktifkan. Tidak seimbangnya rasio antara dosen dengan mahasiswa menjadi masalah, terutama terhadap kualitas pembelajaran. Nonaktif artinya dihentikan sementara, kalau semua persyaratan dipenuhi akan kita aktifkan kembali. Sumberdaya keuangan, dan sarana dan prasarana juga tersedia dengan baik untuk memenuhi kegiatan pembelajaran yang efektif. Status dosen sekarang menjadi masalah antara dosen tetap, dan nontetap, dasen tetap nonPNS. Oleh karena itu Kementerian riset, teknologo dan Pendidikan Tinggi dalam rangka memepercepat terpenuhinya sumberdaya tersebut telah melakukan beberapa terobosan, diantaranya yaitu dengan mengeluarkan Permen Kemenristek Dikti nomor 26 tahun 2015 untuk bisa diakui sebagai dosen. Apabila ada anggota Polri, TNI punya keinginan mengkotribusikan pengalamannya dapat diakomodasikan sebagai dosen. kita bisa berikan nomor NIDK (Nomor Induk Dosen Khusus), termasuk di bidang-bidang yang lain, seperti olahraga/seni, dan lain-lain.

Selain itu, profesi dosen jangan hanya S1 tapi minimal S2, untuk mengajar S1, dan yang mengajar S2 harus S3. Jabatan akademik ini harus dipenuhi. Pengembangan dosen terus diupayakan menjadi lebih baik. Kita punya program LPDP, Program doktor luar negeri. Hal ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengembangkan sumberdaya yang didunia pendidikan kita. (Bud)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*