Borong Prestasi di bidang Kimia, Deni Bangga menjadi Bagian Keluarga UM

Borong Prestasi di bidang Kimia, Deni Bangga menjadi Bagian Keluarga UM

Penulis : Nuri Riskian/Joko Wibowo

Deni Ainuurohim,
mahasiswa pendidikan Kimia angkatan 2016
Universitas Negeri Malang (UM)

Tiada henti mengukir prestasi, kiranya slogan tersebut layak dise-matkan kepada Deni Ainuurohim, mahasiswa pendidikan Kimia angkatan 2016 Universitas Negeri Malang (UM). Ia tak bosan mengharumkan nama UM baik di kancah nasional maupun internasional. Rentetan gelar juara maupun predikat terbaik di bidang kepenulisan dan karya tulis ilmiah berhasil Ia embat tanpa diberi jeda istirahat. Ia lahir di Sidoarjo 22 tahun yang lalu tepat di tanggal 17 September. 

Kimia menurutnya adalah ilmu yang tidak terlampau sulit, hampir seluruh materinya bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga, mudah untuk difahami dan dipelajari. Kesukaannya pada Kimia mengantarkannya tak hanya ke panggung nasional tetapi juga internasional. Sejak tahun 2017, Ia mulai menunjukkan siapa dirinya. Prestasi pertamanya bahkan peraihan medali emas pada event yang diselenggarakan di Jakarta. Karya tulis berjudul “Pemanfaatan Lumpur Panas Sidoarjo Menjadi Listrik” menjadi andalannya saat itu. Di tahun yang sama pula, Ia menyabet Juara I sekaligus Best Paper dalam perlombaan Karya Tulis Ilmiah yang diadakan di Jember. Berkat event pertamanya tersebut, Dani mendapatkan banyak dukungan dan support dari fakultas untuk event-event yang diikuti selanjutnya. 

Menyambut tahun yang baru, Ia memamerkan alat pendeteksi kerusakan terumbu karang ciptaanya di pulau Dewata Bali, Silver medal atas alat tersebut menjadi pembuka di tahun 2018 nya. Tak berhenti hingga disana, salah satu karyanya yang berhubungan dengan tabel periodik yakni Mekdisepur mendapat penghargaan dari Kerajaan Brunei Darussalam. Sebelumnya, alat tersebut telah mendapatkan pendanaan dari Kemenristekdikti dan meng-alami penelitian lebih lanjut, sehingga menghasilkan karya yang luar biasa.

Karya fenomenalnya yang bernama Mekdisepur (Media 3D Sistem Predigusor untuk penyandang disabilitas mental) adalah alat yang mampu membantu teman-teman disabilitas mental/autis dalam pengenalan tabel periodik Kimia. Ia beranggapan bahwa semua orang bisa belajar sains dengan metode belajar yang bisa difahami dengan mudah. Sedangkan sistem Predigusor yang sudah beredar di masyarakat diketahui hanya produk gambar diatas kertas. Akhirnya, Ia memadukan beberapa komponen yaitu visual dan audio untuk memudahkan penyandang disabilitas mental untuk memahami sebuah Predigusor. 

Sebelumnya, Objek alat ini adalah penyandang disabilitas fisik, namun karena Kimia memiliki beberapa aturan dalam klasifikasi pelajar yang menggeluti bidang Kimia seperti tidak diperbolehkan buta warna ataupun disabilitas fisik yang lain. Sehingga Deni mengubah objeknya dan memodifikasi konsep Medisepur ini. Ia menjadikan disa-bilitas mental/autis sebagai objeknya. Seperti kita tau, bahwa penyandang disabilitas mental memiliki kesehatan di fisiknya, sehingga tidak men-yalahi aturan yang berlaku.

Tahun 2019, menjadi tahun ketiga dalam perjalanannya menabung prestasi. Bahkan dengan bangganya, tahun tersebut dibuka dengan peraihan Gold Medal dalam pelaksanaan Lomba Karya Tulis Ilmiah di Malaysia. Tidak ambil jeda, dua bulan setelahnya Ia menggaet silver medal dalam event LKTI Internasional yang diselenggarakan di kampus tetangga, Universitas Brawijaya.

Masih banyak prestasi Deni lainnya yang tidak mungkin bisa dirincikan disini, sekitar 40 penghargaan di bidang kepenulisan dan karya tulis ilmiah yang lain Ia berikan untuk almamater tercinta. Pencapaiannya selama ini tidak lepas dari bantuan keluarga dan universitas. 

Ia selalu menekankan kepada dirinya sendiri, bahwa Ia harus terus belajar dengan tekun, karena Kimia itu tidak sulit, hanya butuh intensitas belajar yang tinggi untuk menguasainya. Ia juga selalu berprinsip bahwa melakukan perubahan itu penting, meskipun kecil tetapi harus bernilai dan berharga bagi masyarakat. Keyakinan yang selalu ia pegang selama ini adalah bahwa setiap orang memiliki titik kesuksesan masing-masing, yang faham mengenai titik itu adalah diri sendiri bukan orang lain. Sehingga tidak ada waktu untuk membandingkan diri dengan yang lain, cukup fokus kepada titik kesuksesan diri sendiri yang telah dirancang sejak dini. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *







Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial