Category Archive Berita

Borong Prestasi di bidang Kimia, Deni Bangga menjadi Bagian Keluarga UM

Penulis : Nuri Riskian/Joko Wibowo

Deni Ainuurohim,
mahasiswa pendidikan Kimia angkatan 2016
Universitas Negeri Malang (UM)

Tiada henti mengukir prestasi, kiranya slogan tersebut layak dise-matkan kepada Deni Ainuurohim, mahasiswa pendidikan Kimia angkatan 2016 Universitas Negeri Malang (UM). Ia tak bosan mengharumkan nama UM baik di kancah nasional maupun internasional. Rentetan gelar juara maupun predikat terbaik di bidang kepenulisan dan karya tulis ilmiah berhasil Ia embat tanpa diberi jeda istirahat. Ia lahir di Sidoarjo 22 tahun yang lalu tepat di tanggal 17 September. 

Read More

Tak Hanya dengan Nilai UTBK, UM juga Menyelenggarakan TMBK

Penulis : Sely Septi Sartika

Suasana Tes Mandiri Berbasis Komputer UM

erbeda dengan tahun sebelumnya, Universitas Negeri Malang (UM) membuka dua opsi dalam penerimaan Mahasiswa Baru jalur mandiri tahun ini yaitu menggunakan nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan mengikuti Tes Mandiri Berbasis Komputer (TMBK). Hal ini dimaksudkan agar calon mahasiswa baru yang tidak sempat mengikuti UTBK tetap bisa mendaftarkan diri dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi mahasiswa UM. Pendaftaran penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri dibuka tanggal 25 Juni – 12 Juli 2019.

Read More

Penandatangan Kontrak Kerja Pembangunan Gedung Kuliah Bersama UM Tahun 2016

Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. AH. Rofi’uddin dan Direktur Eksekutif Project Implementation Unit (PIU)-IDB UM, Drs. Bambang Supriyanto, S.T., M.T melakukan penandatanganan surat perjanjian/kontrak pekerjaan pengadaan jasa konsultasi belanja modal gedung dan bangunan berupa perencanaan pembangunan gedung kuliah bersama tahun anggaran 2016, 15 Juni 2016 di Ruang Sidang Rektorat Gedung A1 lantai 2.

penandatanganan KontrakPenandatanganan kontrak pekerjaan tersebut dilakukan bersama pihak perwakilan dari PT Patroon Arsindo selaku Konsultan Detailed Engineering Design (DED), Anung Widhayaka, S.T.IAI.

Hadir dalam kegiatan tersebut para Wakil Rektor UM, Kepala Biro UK, Drs. Andoyo, S.IP.,M.M., PPK UM Drs. Yusuf Ikhwanto, Ketua dan Anggota kelompok kerja.

Menurut Drs. Bambang Supriyanto, S.T., M.T penandatanganan kontrak pekerjaan ini sedianya dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2016, karena ada kendala, sehingga kegiatan ini diundur pelaksanaannya pada 20 Mei 2016.

Tetapi karena masih banyak kendala akhirnya penandatanganan kontrak ini dilaksanakan 15 Juni 2016. Harapannya dengan terlaksananya kontrak pekerjaan ini, perencanaan pembangunan gedung kuliah bersama UM tahun anggaran 2016 dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Senada dengan Direktur Eksekutif PIU-IDB UM, Rektor UM Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd. berharap dengan dilaksanakannya penandatanganan kontrak pekerjaan ini di bulan Ramadhan semoga dapat memberikan keberkahan bagi UM dan PT Patroon Arsindo.

Penulis : Kautsar S./Joko W.

UM Siap menjadi Pusat Unggulan dalam Pembelajaran melalui Inovasi Pembelajaran

Pasca Financial Agreement dengan Islamic Development Bank (IDB) pada Rabu, 18 Mei 2016, di Jakarta International Convention Center (JCC), UM memasang target menjadi pusat unggulan dalam pembelajaran. Hal tersebut disampaikan oleh Staf Ahli Wakil Rektor IV UM, Apif Miptahul Hajji, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D.,

Mou IDB di Jakarta 2“Universitas Negeri Malang (UM) akan mengembangkan Center of Excellence (CoE) bidang Inovasi Pembelajaran. Dengan demikian, UM akan lebih memfokuskan diri pada capability development model yang mengubah paradigma expert-centered learning dan work-based learning menuju life-based learning. CoE bidang Inovasi pembelajaran ini akan diwadahi sebagai I-CLIR (Indonesia Consortium for Learning Innovation Research)”, jelasnya.

Lebih lanjut, Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UM ini menambahkan bahwa CoE juga diperuntukkan kepada empat perguruan tinggi lainnya yaitu, Universitas Jember (UNEJ), Universitas Mulawarman, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, yang tergabung dalam project four in one.
“CoE difungsikan pada penguatan daya saing bangsa (National Competitiveness) dengan fokus inovasi yang sesuai dengan kerakter dan keunikan masing-masing universitas”. lanjutnya.

Pelaksaan Financial Agreement yang dilaksanakan pada sela-sela kegiatan agenda rutin IDB Group 41st Annual Meeting tersebut, dilakukan oleh Rektor UM, Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd, didampingi oleh Wakil Rektor IV UM, Dr. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed.

Seperti yang dilansir pada laman Kemenristek Dikti (http://ristekdikti.go.id), dikabarkan bahwa Kemenristek Dikti melalui Pinjaman Hibah Luar Negeri Islamic Development Bank (PHLN IDB) Direktorat Jenderal Sumber Daya menyelenggarakan Proyek Pengembangan Empat Universitas (Project 4 in 1). Dana sebesar USD 189 juta ini dipergunakan untuk proyek pembangunan Center of Excellence (CoE) bagi 4 (empat) Universitas Negeri di Indonesia.

Milestone Proyek Pengembangan empat Universitas ini diharapkan selesai dalam jangka waktu 4 (empat) tahun. Diawali Financial Agreement ini, selanjutnya akan dilanjutkan dengan implementasi, advance procurement dan persiapan Soft Program yang berupa panduan pelaksanaan pembangunan (staff development, curriculum development, research grant dan research consortia) serta sosialisasi Soft Program di masing-masing universitas. Tahun 2017 merupakan awal konstruksi dan pelaksanaan Soft Program serta familiarisasi program ke IDB Headquarters. Pengembangan pembangunan bagi ke-4 CoE Universitas ini akan terus berlanjut pada tahun 2018 berupa pengadaan peralatan dan pelaksanaan Soft Program, dan penerapan kurikulum di perguruan tinggi penerima Project 4 in 1. Pembangunan diharapkan selesai pada tahun 2019.

Dengan support yang demikian, maka UM semakin mantap dalam memberikan layanan pembelajaran yang berkualitas bagi negeri ini. Program-program strategis ini akan menjadikan UM sebagai pusat unggulan dalam pembelajaran.

Penulis : Suhardi

Selamat Datang Keberagaman, Selamat Tinggal Keseragaman

Menuju masyarakat yang moderat, tentunya tidak ada perbedaan yang menjadi penghalang untuk berkehidupan yang rukun, dan damai. Keberagaman justru menjadikan simbol kekuatan, dan kesolidan bagi seluruh elemen masyarakat di muka bumi ini.

Hal tersebut sepakat disampaikan para pembicara dalam The 4th International Conference of Language, Society, And Culture In Asian Contexts (LSCAC) 2016, di Hotel Atria Malang, pada 24-25 Mei 2016.

pembicara 1“Apabila kita mengenal budaya di Benua Asia ini, tentu sudah banyak sekali keberagaman yang ditemui. Sesuai dengan tema yang disepakati pada gelaran LSCAC 2016, kami sepakat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Asia untuk memaknai pentingnya keberagaman, khususnya untuk masyarakat Asia itu sendiri”, ungkap ketua pelaksana LSCAC 2016, Maria Hidayati, S.S., M.Pd.

Lebih lanjut, Dosen Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra UM ini menambahkan bahwa harapan dari terselanggaranya seminar internasional ini ini adalah mengikis perselisihan antar ras, budaya, maupun suku bangsa yang satu dengan lainnya, dan membangun persepsi positif kepada masyarakat bahwa keberagaman merupakan sumber kekayaan yang patut dijunjung tinggi sebagai nilai luhur dalam berkehidupan berbudaya.

Selain itu Wakil Rektor III UM, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., M.Ed dalam sambutan pembukaan acara tersebut mengungkapkan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada para pembicara dari keempat negara yang hadir untuk memberikan sumbangsih pemikirannya dalam rangka memupuk rasa solidaritas berkehidupan antar bangsa, khususnya di Asia.

“Saya sampaikan terima kasih, untuk para kreator acara dari Mahasarakham University, Thailand, University of Hyderabad, Hue University Vietnam, dan Universitas Negeri Malang atas pemikiran inspiratifnya dalam rangka memupuk rasa persaudaraan antar kehidupan dalam keberagaman berbangsa”, sambutnya di hadapan ratusan peserta di Paramount Hall, Atria Hotel.

Kedepan, hasil dari pemikiran seminar ini akan dikonversikan pada sebuah kegiatan yang melembaga untuk terus mengembangkan bidang-bidang keilmuan budaya, seni, pendidikan dan sains.

Penulis : Suhardi

Pembicara utama: Dr. Jennifer Pei-Ling Tan

Quality Improvement in Education in Point of View of Three Country

Seminar Internasional

Setiap Negara pasti selalu ingin meningkatkan pendididkan rakyatnya ke arah yang lebih baik. Masyarakat yang memilki kecerdasan baik akan mengahasilkan produksi yang baik pula, dan pada gilirannya akan tercapai kesejahtraan masyarakat. Reformasi dibidang pendidikan merupakan salah satu Jalan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereformasi pendidikan diperlukan masukan, dan pengalaman dari negara lain yang sudah lebih dulu berhasil. Ada tiga negara rela berbagi pengalaman dengan Indonesia, khususnya FIP Universitas Negeri Malang dalam acara seminar Internasional.

Pembicara utama, Dr. Jennifer Pei-Ling Tan yang telah melakukan penelitian tentang perubahan pendidikan di Singapura selama dua puluh tahun, Dr. Maiko Kishi, dari Jepang yang bekerja di Meiji University, Mr. Sturt Weston, dari Inggris Direktur Program Prioritas, USAID. USA. Mereka menyumbangkan pemikiran ,dan pengalamannya selama melakukan penelitian maupun pengalaman kerjanya. Agar bisa menginspirasi dunia pendidikan di Indonesia.

Pola pikiran siswa sulit diubah.

Dr. Jennifer Pei-Ling Tan”, Innovasi pendidikan merupakan masalah umum, tidak hanya di Singapura, Australia, Inggris, Cina, bahkan di seluruh Dunia, yang penting bagaimana para pendidik. Mengapa kita harus berinovasi dalam dunia pendidikan?. Kita disini akan menyajikan dua kerangka kurikulum yang berlaku secara global, bagaimana mamajukan pendidikan bukan hanya untuk mementingkan angka/skor kelulusan ujian saja. Akan tetapi bagaimana kita menanamkan ketrampilan untuk menghadapi abat dua puluh satu.

Perubahan dalam pendidikan ada tiga komponen yang tidak dapat diabaikan. Komponen itu adalah keinginan orang tua (keluarga), kurikulum, guru, dan siswa. Tiga komponen ini yang sangat sulit diubah adala persepsi siswa. Siswa mempunyai pemahaman bahwa nilai/skor yang tinggi lebih bergengsi dibanding ketrapilan. Mereka beranggapan nilai akademik A misalnya, bisa menjadi jaminan akan diterima di perguruan tinggi. Hal ini lebih bergengsi dibangding dari pada yang nilai ketrampilan baik, yang ujung-ujungnya masuk di sekolah kejuruan. Sehingga siswa tidak suka menikuti ekstra kurikuler, untuk merubah pendidikan menjadi baik, jalan yang paling mudah merurikulum, dan guru.

Singapura telah menyempurnakan Kurikulum. Kurikulum baru ini berisi nilai-nilai inti yaitu empati, tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut adalah inti yang harus ditanamkan pada siswa. Ketrampilan-ketrampilan sosial, yang berisi kesadaran sosial, bagaimana mengelola hubungan baik yang baik, mengelola tanggung jawab, mengelola kesadaran diri atau mengelola diri sendiri. Nilai-nilai/hal-hal yang penting oleh Kementerian Singapor pada saat ini adalah menyiapkan ketrampilan abad dua puluh satu. Keterampilan abad 21 isi adalah berfikir kreatif kemampuan berkomunikasi, kemampuan ICT, kewarganegaraan, dan kompetensi kultural.

Keseluruhan perangkat kurikulum ini oleh Kementerian Pendidikan Singapura disebut kerangka kurikulum total yang bertujuan untuk mengeluarkan kemampuan diri siswa, rasa percaya diri, kemampuan mengarahkan diri sendiri, keaktivan, dan rasa kepedulian kepada masyarakat. Semua ini harus dicapai di dalam proses pendidikan. Semua kopetensi ini menjadi berbengsi di abad 21 ini.
Komposisi ketrampilan, dan kemampuan akademik untuk menunjang keberhasilan pekerja yang telah diadakan penelitian di Singapura basilnya adalah dua puluh persen kemapuan akademik, delapan puluh persen ketrampilan.

Tan, merekomendasi bagaimana, dan apa yang akan dilakukan dalam pendidikan, dan pembelajaran. Guru direkomendasikan tidak hanya mengejar keinginan untuk mengejar skor/nilai. Hasil penelitian terlihat ada hubungan terbalik antara skor dan kreativitas, sehingga perlu diupayakan tinggi dua-duanya.

Bahasa Inggris wajib tapi bukan prioritas

Dr. Maiko Kishi, dari Jepang bekerja di Meiji University

Dr. Maiko Kishi, dari Jepang bekerja di Meiji University

Dr. Makiko Kishi, ”Di Negeri Jepang mata pelajaran bahasa Inggris wajib, tetapi bukan prioritas. Bedasarakan pengalaman di Jepang siswa sekolah dasar diajarkan bahasa inggris dari mulai kelas satu sampai kelas sembilan, ternyata juga belum bisa berbicara dengan bahasa Inggris. Tujuan pembelajaran bahasa Ingris di jepang hanya untuk bisa menjawab ujian. Untuk itu guru dibekali bahasa Inggris dan ICT guna menyerap ilmu pengetahuan IPTEK dari luar Jepang. Guru dipacu melakukan pengayaan ilmu pengetahuan yang mencukupi, sebab gurulah yang akan menjadi fasilitator siswa dalam prose pembelajaran. Model pembelajaran sekarang memotivasi untuk memproduksi ilmu pengetahuan dalam prosesnya ini, dan penggunaan bahas Inggri sudah termasuk didalamnya.

Peningkatan pendidikan kata kuncinya adalah inovasi dalam pendidikan. Kata kunci berikutnya apa, siapa, dan bagaimana. Pembalajaran tradisional biasanya guru mempunyai pengetahuan yang luas. Murid datang dengan kepala kosong (seperti kertas putih) yang akan diisi pengetahuan oleh guru. Kemudian inovasi yang akan dimasukan disini adalah radikal Invansif and Learning. Guru dan murid bersama-sama memproduksi/menghasilkan ilmu pengetahuan. Biasanya siswa belum berpengalaman menghasilkan ilmu pengetahuan, peran guru adalam membimbing siswa bagaimana menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru. Dalam pembelajaran guru bisa mengatur kegiatan macam-macam, seperti memfasilitasi, dan mengkoordinasikan belajar.
Pendidikan dari tradisional ke Invansi and learning ini perlu perubahan. Transformasi pengajaran ini harus berubah dari siswa bersifat pasif menjadi aktif. Ada empat ciri perdidikan pertama, Guru menggunakan peralatan (laboratorium) yang ada pembelajaranya sifatnya workshop. Kedua, Guru jika bekerjasama/kolaboratif dengan siswa menggunakan VBA sifatnya bimbingan. Ketiga, Guru invansi membuat tujuan pembelajaran ini bisa menjadi workshop. Keempat, apabila siswa saja yang menentukan tujuan sendiri sifatnya isidental.

Pendidikan tidak boleh mencetak manusia robot.

Mr. Sturt Weston, dari Inggris Direktur Program Prioritas, USAID. USA.

Mr. Sturt Weston, dari Inggris Direktur Program Prioritas, USAID. USA.

Mr. Sturt Weston memaparkan, Sebenarnya untuk apa mendidikan anak, jaman dulu hafalan saja sudah pintar, akan tetapi ke depan mengajarkan dunia yang belum diketahui. Pada zaman dulu belum banyak mobil dan sekarang berkembang pesat dengan teknologi yang canggih Dua puluh atau tiga tahun kedepan anak kita harus apa, harus mampu apa oleh kerena itu. Pikiran anak kita harus disiapkan berkembang terus, bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang belum pernah diketahui atau dialami. Oleh kerena itu kita tidak mencetak robot, tetapi mencetak orang yang pintar mampu berkembang sendiri.

Fokus kita meningkatan proses pembelajaran jadi menarik dan efektif, terutama mata pelajaran membaca tulis, matematika, dan sains. Meningkatkan pembelajaran harus mendapat dukungan pemerintah daerah, khusus dalam hal mencukupi alokasi guru di setiap sekolah. Pemerintah harus kreatif dalam penempatan guru sesuai kemampuan, dan kebutuhan.

Selanjutannya LPTK kedepan sangat penting, kalu program yang lama sebatas guru pada program jabatan. Keterbibatan LPTK sangat penting supaya guru-guru mau mengajar di sekolah sudah menguasai teknik pembelajaran. Guru sudah memahami pembelajaran berbasis sekolah, dan ciri-ciri pembelajaran problem solving.

Ciri-ciri proses perubahan dalam pendidikan yakni, ciri-ciri perubahan guru yang biasanya jadi penceramah menjadi fasilitator, merancang kegiatan kegiatan yang merangsang anak untuk berfikir dengan cara mengajak siswa untuk memecahkan masalah melalui diskusi. Selanjutnya ada pameran hasil karya untuk menghargai karya siswa. Dengan demikian sumber belajar menjadi beragam tidak hanya bersumber dari guru, tetapi siswa juga mampu menjadi peran dalam pembelajaran. Guru sebagai fasilitator harus cakap menggunakan media pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang berkreasi, berinovasi mengembangkan kecakapan hidup sehari-hari. Seperti cara siswa memecahkan masalah, berpikir kooperatif, dan kemampuan menghasilkan suatu karya. Inilah yang dimaksud memdidik siswa bukan mencetak robot. (bud)

Tags,

Dr. Tutut Chusniyah, M.Si.

Generasi Emas Indonesia Harus Jauh dari tindakan kekerasan “Bully”

Bagaimana tanggapan kita tentang bullying? Nampaknya budaya ini semakin marak di lingkungan masyarakat kita. Kemudian, setelah mengetahui demikian langkah apa yang musti kita lakukan?, dan bagaimana mengenali apakah itu tindakan bullying atau bukan?

Dr. Tutut Chusniyah, M.Si.

Dr. Tutut Chusniyah, M.Si.

Dewasa ini berita tentang kasus bullying semakin marak ditanyangkan dimedia, baik televisi maupun media cetak. Memang miris melihatnya tatkala kita melihat generasi bangsa yang selalu penuh dengan kekerasan. Banyak kisah yang telah digambarkan dalam setiap tindakan kekerasan hanya akan menyisakan tekanan psikologis si korban.

Oleh karena itu, Fakultas Pendidikan Psikologis Universitas Negeri Malang (UM) telah melakukan berbagai upaya guna turut memberikan pembelajaran kepada masyarakat, dengan tujuan meminimalisir aktivas bully ini terjadi di masyarakat. Bukan hanya di lingkungan kampus, melainkan para psikolog UM menjadi bagian ikatan psikologi nasional.

“Masyarakat saat ini sudah mengalami perubahan, disekolah tingkat SD,SMP, SMA, bahkan sampai perguruan tinggi, sering kita jumpai tindakan bully (kekerasan) ini. sebagai insan pendidik tentunya tugas kami semua untuk memberikan pemahaman ini kepada masyarakat”, ungkap Wakil Dekan Psikologi Dr. Tutut Chusniyah, M.Si.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Fakultas Pendidikan Psikologi UM telah mencanagkan program pengabdian kepada masyarakat, dengan membentuk kelompok desa binaan. Kelompok ini nantinya yang akan memberikan pembelajaran dimasyarakat untuk menyelesaikan kasus-kasus yang sifatnya berhubungan dengan psikologi.

Bully atau pelaku bullying adalah seseorang yang secara langsung melakukan agresi baik fisik, verbal atau psikologis kepada orang lain dengan tujuan untuk menunjukkan kekuatan atau mendemonstrasikan pada orang lain. Kebanyakan perilaku bullying berkembang dari berbagai faktor lingkungan yang kompleks. Tidak hanya faktor tunggal menjadi penyebab munculnya bullying.

Faktor-faktor penyebabnya antara lain: 1) Faktor keluarga: Anak yang melihat orang tuanya/saudaranya melakukan bullying, akan berdampak si anak perilaku yang sama. Ketika anak menerima hukuman fisik di rumah karena melakukan kesalahan, mereka akan mengembangkan konsep diri yang negatif, kemudian dengan pengalaman yang dialaminya tersebut mereka cenderung akan meyerang orang lain. 2) Faktor sekolah: pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini. apabila tidak jeli melihat secara teliti, maka bullying akan berkembang dengan pesat di lingkungan sekolah. sehingga siswa sering melakukan aktivitas negatif/kekerasan pada siswa yang lain. 3) Faktor kelompok sebaya: Anak-anak ketika berinteraksi di sekolah dan dengan teman sekitar rumah, kadangkala mendorong untuk melakukan bullying pada anak yang lainnya dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu.

Hal tersebut diatas yang menjadi fokus kita semua untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat. Sehingga kebiasaan-kebiasaan yang diluar dari toleran dapat ditekan untuk tidak dibalas dengan tibdakan kekerasan.
(Har/Reno)

Tags,

Para Penyunting Jurnal UM melakukan penyuntingan bersama. kegiatan ini dimaksudkan untuk menjaga eksistensi jurnal ilmiah UM di kancah nasional

Ikhtiar Mempertahankan Status Terakreditasi

Sadar pentingnya publikasi karya ilmiah sebagai salah satu upaya untuk melambungkan UM, tim penyuntingan Jurnal Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Sastra (FS), dan Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3), melakukan penyuntingan bersama. Proses penyuntingan bersama ini dilakukan dalam rangka menjaga kualitas dan mutu tulisan yang dimuat di jurnal lingkungan UM.

Kegiatan yang dilaksanakan Jumat-Sabtu (15-16/1/2016) di Aula Hotel Swiss Bell Inn. Para penyunting menganalisa secara menyeluruh terhadap kelayakan naskah yang dikirim ke masing-masing redaksi jurnal.

Kegiatan penyuntingan jurnal bersama yang dinahkodai Satuan Penjaminan Mutu (SPM) UM tersebut, mematok target akreditasi yang lebih baik dari capaian periode lalu. Sebelumnya lima jurnal ilmiah UM terakreditasi B. Dalam reakreditasi ini diharapkan memenuhi akreditasi yang lebih baik.

Ketua SPM, Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd menegaskan akan arti penting peranan jurnal dalam institusi perguruan tinggi. Seperti halnya program studi, bahwa jurnal ilmiah yang terakreditasi dapat menyumbangkan eksistensi perguruan tinggi dikancah nasional dan internasional.

“UM memiliki lima jurnal yang terakreditasi, tiga diantaranya hari ini melakukan penyuntingan jurnal bersama. Ditargetkan pada Maret mendatang sudah dapat dicetak dan dipublikasikan”

Kebijakan terkini, terhitung Maret 2016 pelaksanaan akreditasi dilakukan secara elektronik. Dengan demikian pengeloaan jurnalnya juga harus berbasis elektronik. Mulai dari pengiriman artikel, proses penelaahan mitra bestari, korespondensi antar penulis, pengelola dan mitra bestari, semuanya berbasis online.

Selain itu penyuntingan berbasis elektronik lebih sederhana. Penulis cukup mengirim e-mail kepada penyunting, jadi tidak perlu membawa print out karya tulis ilmianya untuk diperiksa penyunting lansung, sehingga karya ilmiah bisa dikirim dari rumah, demikian penyutingnya.

Diharapkan kegiatan ini dapat lebih mengairahkan dosen untuk rajin menulis karya ilmiah. Karena penyuntingan berbasis elektronik memberikan kemudahan-kemudahan yang tidak didapatkan sebelumnya.
Penulis : Suhardi, Editor : Moch. Syahri)

Tags

Pelepasan Mahasiswa PPL UM ke Thailand

Untuk kali pertama mahasiwa Universitas Negeri Malang (UM) melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ke Thailand. Program ini merupakan serangkaian kerjasama yang terjalin antara pemerintah Indonesia dengan Thailand. Sejumlah 16 (enam belas) Mahasiswa Fakultas Sastra  (FS) yang berangkat ke Thailand, tepatnya wilayah Thailand selatan.

KKL thailandDalam acara pelepasan yang diselenggarakan di Ruang Sidang Rektor UM Gedung A1 Lantai 2, pada tanggal 4 Juni 2015 tersebut dihadiri Rektor UM Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd., Dekan FS Prof. Hj. Utami Widiati, M.A., P.hD., dan para undangan.

Read More

Peran Laboratorium Seni & Desain, serta Laboratorium Sentral FMIPA bagi Perkembangan Pendidikan di UM

Laboratorium seni dan desain Fakultas Sastra (FS) UM merupakan  sumber belajar yang berkaitan dengan kesenian, kebudayaan, dan aplikatif terhadap praktikum yang menunjang pemahaman dalam bidang animasi, audio visual, seminar dan teknik presentasi. Diharapkan dari kegiatan ini mahasiswa mampu mengembangkan bakat dan potensi.Selain itu, laboratorium juga dipergunakan untuk membantu mahasiswa dalam menyelesaikan Tugas Akhir (TA), Skripsi, Tesis, maupun Desertasi, serta membantu pada dosen dalam pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Mengingat kompleknya fungsi tersebut sehingga laboratorium seni dan desain mendedikasikan diri sebagai suport terhadap pembelajaran dilingkungan UM.

“FS UM kini memiliki  antara lain studio audio visual, gamelan, tari, media rekam, photografi, laboratorium keramik, dan kria. Selain itu, memiliki ruang gambar dan sablon. Keberadaan laboratorium ini sebagian besar di gedung E8, tetapi ada yang terpisah keberadaannya, seperti laboratorium gamelan dan tari di gedung Sasana Krida UM. Fasilitas tersebut tentunya merupakan milik dari civitas akademika UM. Pemanfaatanya akan dijadwal secara menyeluruh sehingga semua pihak-pihak  yang akan memanfaatkan laboratorium ini dapat menggunakan dengan baik.” papar Gunawan Susilo, M.Sn, Kepala Laboratorium Seni dan Desain Fakultas Sastra UM (23/6)

Read More

Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial