Category Archive Berkarya

Inovasi Pertanian Indonesia Melalui Big-Data Agriculture

Kontributor : Austin Fascal Iskandar

Pertanian atau disebut sebagai sektor pangan adalah sektor strategis dan vital bagi berlangsungnya kehidupan dan perekonomian. Pengaruh pangan tidak lagi hanya pada tingkat individu, bahkan sampai ke tingkat masyarakat dalam tatanan negara dan dunia.

Read More

Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Pelatihan dan Kewirausahaan

Oleh: Zulkarnain
Dosen Jurusan PLS FIP UM

Anak Jalanan Santri Ponpes Sabihul Hikmah
saat mengikuti pelatihan Kerajinan Tangan
Lampu Neon Berbahan Pipa PVC

Anak jalanan merupakan sekumpulan anak yang menghabiskan masa kecil dan remaja mereka dengan menjual koran, mengamen, ataupun hanya sekedar meminta belas kasihan orang yang ditemui demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kesulitan ekonomi membuat mereka tidak sempat memanfaatkan masa kecil dan remaja mereka untuk mengenyam bangku pendidikan seperti anak-anak pada umumnya.

Read More

Komunikasi Efektif Guru Atasi Arogansi Siswa

Oleh Dra Ella Faridati Zen, MPd

Kepala Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karir dan Kompetensi Akademik (P2BK3A) Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang (UM).

Merebaknya kasus AA, siswa SMP PGRI Wringinanom Kabupaten Gresik Jawa Timur yang sangat arogan dan melecehkan guru Nur Khalim, merupakan tamparan hebat bagi kancah pendidikan. Seorang siswa SMP yang sebentar lagi akan ikut Ujian Nasional, berani merokok di dalam kelas dan saat ditegur guru justru menantang berkelahi. Sungguh ini merupakan potret buram dunia pendidikan, yang seharusnya tidak boleh terulang lagi di masa mendatang.

Kasus pelecehan siswa terhadap guru tersebut, memang secara hukum telah berakhir, setelah dilakukan mediasi di Polsek Wringinanom Gresik. Hadir dalam mediasi tersebut guru Nur Khalim, siswa AA didampingi orangtuanya, Kepala Sekolah SMP PGRI Wringinanom Gresik, Yayasan PGRI Gresik, Dinas Pendidikan Gresik, Perwakilan Kementrian Sosial serta petugas Unit Pelaksana Terpadu Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Jawa Timur.

Begitu kasus pelecehan guru oleh siswa di Gresik ini meledak di Medsos, pihak Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karir, dan Kompetensi Akademik ( P2BK3A) Universitas Negeri Malang sempat melakukan diskusi kecil dengan sejumlah dosen konselor. Para dosen konselor ini terdiri dari pakar bimbingan konseling serta pakar psikologi. Umumnya amat prihatin dengan hadirnya fenomena arogansi siswa yang berani melecehkan gurunya.

Perilaku Bermasalah

Jika disimak dari kasus tersebut, tampaknya memang siswa yang bersangkutan menunjukkan sikap atau perilaku bermasalah dalam penyesuaian sosial. Siswa menunjukkan sikap menentang, menantang serta arogan terhadap gurunya. Sikap arogansi itu menunjukkan bahwa siswa pelaku pelecehan pada guru memang memiliki masalah dalam perilaku dan pihak lembaga pendididikan seharusnya membantu menyelesaikan perilaku bermasalah tersebut.

Dilihat dari sisi perkembangannya, siswa berinisial AA itu kini berusia 15 tahun, ia berada pada masa remaja. Pada masa ini, individu sedang mengeksplorasi identitas diri dan identitas sosial. Pada individu yang berhasil dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungannya, ia akan berkembang sebagai individu yang mampu menunjukkan eksistensi diri atau jati dirinya. Eksistensi diri itu bisa ditunjukkan melalui prestasi yang dicapainya, baik prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Seperti mengikuti pentas seni, lomba robotik, olimpiade, olahraga dan sebagainya.

Namun pada sebagian remaja yang gagal dalam penyesuaian diri, bisa memunculkan perilaku yang tidak diharapkan, seperti ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dirinya “hebat”, sok kuasa, sok kuat atau sok berpengaruh, seperti pada tinggah laku yang ditunjukkan siswa AA pada gurunya Nur Khalim. Siswa AA ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa menundukkan gurunya, karena itu dia lantas sengaja merokok dalam kelas dan saat ditegur berani menantang gurunya.

Kondisi yang lain, kemungkinan siswa yang bersangkutan ingin mencari perhatian dari lingkungannya, karena selama ini ia merasa kurang mendapat perhatian. Bisa jadi keluarga yang menganggap anaknya sudah gede, sehingga tidak mendapat perhatian dari orang tuanya. Karena itulah siswa AA akhirnya mencari perhatian di lingkungan sekolah lewat perilakunya yang arogan.
Peran Bimbingan dan Konseling

Bagaimanapun perilaku siswa, maka pihak guru dengan kompetensi pedagoginya, dituntut untuk memahami siapa peserta didiknya. Terlebih lagi guru bimbingan dan konseling (guru BK) atau konselor, ia seharusnya memahami karakteristik siswa dan segera mengidentifikasi para siswa yang bermasalah. Kepada siswa yang bermasalah, selanjutnya ditindaklanjuti dengan layanan responsif, membantu memecahkan masalah mereka dengan layanan konseling. Dengan demikian mereka terpecahkan masalahnya dan dapat mengadakan penyesuaian sosial secara efektif, serta tidak akan muncul perilaku yang agresif.

Peran bimbingan dan konseling di sekolah lanjutan (SMP, SMA, SMK atau MA), sangat diperlukan, mengingat para siswa pada jenjang pendidikan tersebut, berada pada masa remaja. Pada masa ini siswa memiliki ciri yang khas, di antaranya emosinya masih labil, pengaruh lingkungan dan teman sebaya lebih dominan dibanding dengan keluarga, dikenal banyak masalah, serta suka mencoba-coba sebagai upaya mencari identitas diri.
Ditinjau dari sisi perkembangan moralnya, remaja juga seringkali menunjukkan keraguan atas nilai moral atau aturan yang selama ini sudah diketahui. Muncul pertanyaan pada dirinya, benarkah jika melanggar nilai atau aturan ada sangsi pada dirinya. Sikap ragu tersebut ditunjukkan dengan perilaku menentang atau mencoba melanggar norma atau aturan yang berlaku.

Maka menjadi tanggung jawab konselor melalui layanan bimbingan dan konseling, membantu siswa dalam rangka memahami proses perkembangan yang sedang terjadi pada dirinya. Melalui layanan bimbingan yang diberikan konselor, diharapkan siswa dapat berkembang secara optimal, meliputi seluruh aspek kehidupannya. Siswa dapat menemukan jati diri dan menyesuaikan diri secara tepat atas terjadinya perubahan pada dirinya, seiring dengan proses perkembangannya. Penyesuaian diri secara tepat pada diri siswa yang berada pada masa remaja, dapat mencegah atas munculnya permasalahan dalam kehidupannya.

Terhadap siswa yang sedang menghadapi kesulitan atau masalah, baik terkait dengan aktivitas belajarnya ataupun dalam kehidupan sosialnya, maka konselor bertanggungjawab membantu mereka melalui layanan reponsif, dalam bentuk konseling. Seperti halnya kasus AA, maka konselor sekolah perlu menindak lanjuti dengan layanan konseling. Dengan demikian, AA dapat memahami dirinya dan dapat memecahkan masalahnya. Dari sisi perilaku sosial yang dapat diidentifikasi menunjukkan perilaku yang salah suai, diharapkan dapat perubahan, sehingga ia berkembang sebagai sosok siswa yang memiliki kepribadian yang lebih efektif.

Penyiapan Sosok Guru Berwibawa

Apabila disimak dari sisi guru, dalam video siswa AA melecehkan guru yang sempat viral di Medsos, menunjukkan sikap guru yang pasrah diperlakukan tidak sopan oleh siswanya. Sikap guru yang pasrah atas arogansi siswanya ini, tentu patut disesalkan. Seorang guru yang menguasai kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi pedagogi yang mumpuni, tentu akan menunjukkan sebagai sosok guru yang berwibawa. Dengan pola komunikasi yang efektif, baik secara verbal maupun non verbal, guru dapat menunjukkan kekuatannya dalam mempengaruhi siswa, tanpa harus menunjukkan sikap agresif. Sikap yang demikian ini, dapat berpengaruh pada siswa sehingga mereka merasa segan dan hormat pada guru dan tidak akan menjadikan guru sebagai obyek pelecehan ataupun obyek bully para siswanya.

Arogansi yang ditunjukkan siswa, bisa jadi karena hasil belajar yang mereka tangkap dari para guru atau lingkungan sekitar. Mereka secara sadar ataupun tidak sadar dari sikap atau komunikasi yang kurang tepat, telah menyakitkan siswa. Misal saja komentar guru “ begitu saja tidak bisa”. Kalimat ini mungkin bagi seorang siswa merupakan kalimat yang wajar, tetapi bagi siswa lain, bisa ditangkap sebagai pesan yang sangat menyakitkan, karena ia dianggap tidak mampu dan tidak dihargai. Perasaan sakit hati ini, lama kelamaan bisa menimbulkan sikap berontak dan menghasilkan perikalu arogan ataupun agresif.

Pola interaksi atau hubungan sosial antara guru dengan siswa yang diharapkan adalah guru dekat dengan siswa namun ada jarak sehingga siswa tetap menunjukkan sikap hormat. Pola hubungan yang demikian dapat diwujudkan jika guru memiliki keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi yang efektif baik dalam konteks formal (dalam proses pembelajaran) maupun dalam konteks informal (konteks hubungan interpersonal).

Penguasaan keterampilan komunikasi ini, tentu akan berdampak pada bagaimana pola hubungan antara guru dengan siswa. Tampaknyakemampuan pola komunikasi secara asertif juga harus dimiliki oleh seorang guru. Dengan kemampuan komunikasi yang asertif, maka guru dapat menyampaikan secara tegas mana yang “boleh” atau “tidak boleh”, tanpa menimbulkan perasaan sakit hati atau tersinggung pada siswa penerima pesan. Pola komunikasi asertif, dapat meminimalkan adanya salah paham dalam berkomunikasi. Inilah yang perlu dikuasai oleh para guru, agar mereka mampu “bersahabat” dengan para siswa namun tetap dihormati serta disegani.

Penguasaan keterampilan dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif, pada hakikatnya merupakan bagian dari kompetensi sosial guru. Namun di dalam kurikulum calon guru, materi kompetensi sosial tidak disajikan dalam suatu matakuliah secara khusus. Keterampilan dalam berinteraksi dan berkomunikasi diharapkan menjadi bagian dari karakter calon guru dan pengembangannya berlangsung dalam setiap proses pembelajaran pada setiap matakuliah yang disajikan.

Melalui strategi pembelajaran yang didesain oleh para dosen, diharapkan dinamika belajar di dalam perkuliahan, dapat menstimulasi keterampilan dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Dengan model-model pembelajaran seperti kooperatif learning, problem base learning, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam berinteraksi sosial dan berkomunikasi, di samping tentu menguasai monten materi yang sedang dipelajari.
Meskipun demikian, keterampilan dalam berinteraksi dan berkomunikasi perlu mendapat perhatian secara khusus dalam menyiapkan calon guru. Materi ini secara eksplisit harusnya menjadi kajian dan memberi kesempatan mahasiswa untuk berlatih, mengembangkan keterampilan yang dimaksud. Dengan demikian, menjadi semakin jelas siapa yang harus bertanggungjawab dalam mempersiapkan kompetensi kepribadian dan sosial calon guru.

Tampaknya matakuliah yang paling relevan memberikan materi yang mendukung capaian kompetensi pribadi dan sosial yaitu pada kelompok Matakuliah Dasar Pengembangan Karakter. Di antara kelompok matakuliah tersebut, mestinya membahas topik yang yang dimaksudkan untuk mengembangkan kompetensi pribadi dan sosial. Sehingga guru yang berwibawa, mampu berinteraksi dan berkomunukasi secara efektif bisa diwujudkan. Dengan demikian, peristiwa pembulian atau pelecehan terhadap guru seperti yang dilakukan AA, tidak terulang kembali di masa mendatang.

Youth Choose, Penyuluhan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja Papua, Hasil Kerja Sama Pemerintah Australia, Universitas Negeri Malang dan Universitas Ottow Geissler Papua

oleh: dr. Desi Ariwinanti, M.P.H

Pada medio April hingga Agustus 2018 yang lalu, tim dosen dari program studi Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, mengadakan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan kesehatan reproduksi pada siswa SMA di Jayapura bertajuk ‘Youth Choose’. Youth Choose merupakan program hibah yang didanai oleh pemerintah Australia melalui program Alumni Grant Scheme(AGS). Setahun dua kali, pemerintah Australia membuka kesempatan alumni-alumni yang pernah menuntut ilmu di benua kanguru ini untuk berkompetisi memperebutkan 25 grant untuk mendanai kegiatan-kegiatan yang dapat bermanfaat bagi pembangunan masyarakat, pengembangan profesionalisme alumni dan penguatan hubungan Indonesia dan Australia. Pada AGS 2017 putaran kedua, Desi Ariwinanti sebagai dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan UM berhasil mendapatkan grant untuk penyelenggaraan penyuluhan kegiatan reproduksi untuk remaja Papua.

Program Youth Choose dilaksanakan di tiga sekolah di kota Jayapura yaitu SMAN 1 Jayapura, SMAN 3 Bumi Perkemahan Waena, dan SMA PGRI Jayapura. Peserta dari masing-masing SMA diberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi, pencegahan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya serta pendewasaan usia pernikahan. Target program yang menyasar remaja Papua ini bertujuan memberikan informasi dan keterampilan bagi remaja untuk dapat menentukan keputusan penting dalam hidupnya mengenai kesehatan seksual. Remaja Papua dapat memilih untuk hidup sehat demi kemajuan Papua di masa depan.

Program Youth Choose menggunakan metode yang fun dan ramah pada remaja dengan memberikan video, games dan menggunakan modul yang bisa dimanfaatkan sebagai buku catatan siswa. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan peserta pada kegiatan dan membuat mereka tidak bosan mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Peserta dari penyuluhanYouth Choose diharapkan dapat menyebarluaskan ilmu yang mereka dapat kepada teman sebaya baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya.

Siswa sedang asyik mengerjakan permainan edukasi kesehatan reproduksi dalam kegiatan Youth Choose
Gambar 1. Siswa sedang asyik mengerjakan permainan edukasi kesehatan reproduksi dalam kegiatan Youth Choose

Selain memberikan modul bagi siswa, tim juga merancang modul yang lebih komprehensif untuk para guru yang mengikuti program. Sebagian besar guru yang mengikuti adalah guru Bimbingan Konseling yang sering berhubungan dengan masalah kesiswaan dan menerima “curhat” para remaja di sekolah. Dengan keberadaan modul yang dirancang oleh tim Youth Choose ini para guru dapat menggunakannya sebagai acuan bila siswa bertanya tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan perilaku seksual berisiko.

Suasana diskusi siswa dalam materi didampingi guru dan tim Youth Choose
Gambar 2. Suasana diskusi siswa dalam materi didampingi guru dan tim Youth Choose

Kegiatan Youth Choose ini diikuti oleh 66 siswa dan 10 guru. Kegiatan berlangsung dengan lancar, banyak pertanyaan yang dilontarkan siswa yang awalnya tampak malu-malu. Sebagian siswa mengakui sudah mendapatkan beberapa informasi dari internet tapi mereka ingin mengetahui lebih banyak dan memastikan bahwa informasi yang didapat bukan hoax. Di akhir kegiatan peserta yang bertanya mendapatkan kejutan hadiah doorprize berupa permainan monopoli, UNO dan ular tangga yang nantinya bisa digunakan untuk bermain bersama teman sebaya sembari menyebarluaskan informasi kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV serta IMS.

Menurut Eka Marey, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA 3 Buper Waena, kegiatan Youth Choose sangat diapresiasi karena program penyuluhan kesehatan reproduksi menjawab kebutuhan remaja Papua terutama di tengah derasnya arus informasi internet yang belum semuanya mengandung kebenaran. Senada dengan Eka, Supriyani, guru Bimbingan Konseling SMA 1 Jayapura menyebutkan kegiatan positif ini sangat bermanfaat bagi siswa terutama mengenai isu sensitif yang terkadang malu untuk ditanyakan pada orang tua. Dari siswa sendiri, Obet Cristian Krey dari SMA 3 Buper Waena, menyebutkan keinginannya agar kegiatan ini lebih sering diadakan. Sedangkan Marlince Walianggeru dari SMA PGRI Jayapura mengatakan bahwa ia akan menyebarluaskan isi dari modul kepada teman-teman sebaya di lingkungan sekitarnya.

Pengetahuan yang memadai dan skill untuk memilih keputusan merupakan kunci penting dalam perilaku remaja. Dengan membekali remaja Papua informasi kesehatan tentang pencegahan HIV, IMS dan kesehatan reproduksi, mereka dapat menentukan keputusan yang dapat mempengaruhi masa depannya, yang berarti juga masa depan generasi penerus pembangunan di Papua. Maju terus, Youth Choose!

UM Sebagai Pusat Unggulan Inovasi Belajar Dan Pembelajaran

Oleh: Suyono
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Suyono

Perihal belajar dan pembelajaran memiliki cakupan yang sangat luas. Belajar dan pembelajaran juga mempunyai posisi strategis dalam pendidikan. Oleh karena itu, pilihan pada belajar dan pembelajaran sebagai arus besar penelitian dan pengembangan di UM sudah tepat. Dengan memilih belajar dan pembelajaran sebagai arus utama dalam penelitian dan pengembangan, berarti ke-giatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh sebagian besar mahasiswa dan dosen diarahkan mampu menjelaskan secara mendalam dan tuntas dimensi dan aspek-aspek yang berkaitan dengan belajar dan pembelajaran dalam arti yang seluas-luasnya.

Pentingnya Inovasi Belajar dan Pembelajaran

Inovasi belajar dan pembelajaran saat ini dan terlebih-lebih untuk waktu yang akan datang sangat diperlukan. Ada sejumlah alasan yang menuntut perlunya inovasi belajar dan pembelajaran dilakukan.

Pertama, proses dan hasil belajar dan pembelajaran saat ini baik di sekolah maupun di kampus belum sepenuhnya memuaskan. Masih tersedia ruang yang sangat luas bagi siapa saja untuk berkreasi dalam rangka melakukan inovasi belajar dan pembelajaran di sekolah dan di kampus. Inovasi belajar dan pembelajaran itu dilakukan untuk kemajuan pendidikan dan sekaligus kemajuan bangsa Indonesia.

Kedua, inovasi belajar dan pembelajaran merupakan investasi untuk jangka panjang. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan bagaimana pendidikannya dikelola. Bagian penting dalam pendidikan adalah kegiatan belajar setiap warga negara dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dan kampus. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah dan kampus, walau mungkin tidak disadari, akan berdampak pada bagaimana warga bangsa ini belajar di setiap kesempatan. Mengingat dampaknya untuk jangka panjang, perihal inovasi belajar dan pembelajaran dapat dianggap sebagai investasi jangka panjang yang perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Ketiga, tanpa inovasi belajar dan pembelajaran, proses dan hasil belajar dan pembelajaran hanya akan datar-datar saja, sementara negara tetangga terus berbenah lebih cepat. Artinya, tanpa inovasi tersebut, kinerja bangsa ini di bidang pendidikan akan semakin tertinggal. Bila kinerja bidang pendidikan tertinggal, maka kinerja bidang-bidang lainnya akan tertinggal juga. Keadaan yang demikian, tentu tidak diharapkan terjadi di negara yang serba ada ini.
Keempat, inovasi belajar dan pembelajaran yang dilakukan secara sistematis dan terus-menerus akan memiliki multiplayer effect bagi bidang-bidang lainnya. Efek yang demikian itulah yang semestinya terus disadari oleh semua pihak dan terutama oleh guru, dosen, siswa, dan mahasiswa untuk terus berbenah, mengingat efektnya yang begitu luas. Proses dan hasil belajar yang berkualitas, utamanya karena inovasi belajar dan pembelajaran, akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan. Lebih lanjut, sumber daya manusia yang berkualitas akan berdampak pada kinerja bangsa, kesejahteraan warga bangsa, dan eksistensi bangsa Indonesia dalam kancah percaturan Indonesia di dunia.

Prasyarat dan Target Inovasi Belajar dan Pembelajaran

Prasyarat untuk melakukan inovasi belajar dan pembelajaran adalah adanya kreativitas dan penelitian yang terus-menerus. Kemauan untuk berubah, dan “kebebasan” untuk berkreasi juga merupakan bagian dari prasyarat yang lain. Adanya kreativitas memungkinkan seseorang mampu melihat sisi lain atau sisi baru dari yang tidak dilihat oleh orang lain. Kemampuan yang demikian itu, sangat diperlukan bagi seseorang untuk melakukan penelitian. Adanya kreativitas memungkinkan penelitian menghasilkan temuan baru, seputar inovasi belajar dan pembelajaran. Bila tanpa kreativitas, penelitian hanya akan mengulang-ulang penelitian sebelumnya atau hanya pindah lokasi atau berganti sumber data. Penelitian yang demikian tidak akan menghasilkan inovasi belajar dan pembelajaran.

Target inovasi belajar dan pembelajaran. Seluruh komponen dan tahapan belajar dan pembelajaran dapat dijadikan sasaran penelitian dan inovasi. Siswa, guru, bahan dan sumber belajar, interaksi belajar-mengajar, media dan asesmen pembelajaran semuanya dapat dijadikan sasaran inovasi belajar dan pembelajaran. Sementara itu, tahapan pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi pembelajaran juga dapat dijadikan sasaran inovasi belajar dan pembelajaran. Targetnya adalah ditemukan atau dikembangkannya inovasi belajar dan pembelajaran berdasarkan (serangkaian) penelitian yang dilakukan secara bersungguh-sungguh. Kadar keinovatifan temuan dan hasil inovasi itu tentu relatif. Setidaknya ada tiga jenjang yang menggambarkan temuan riset untuk melakukan inovasi belajar dan pembelajaran. Tiga jenjang itu adalah benar-benar baru, modifikasi besar, dan modifikasi kecil. Modifikasi di sini merujuk pada temuan atau karya lama yang dimodifikasi disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Adapun ruang lingkupnya untuk jangka menengah (3-5 tahun ke depan) seperti pada tampilan berikut.

Strategi Menuju Inovasi Belajar dan Pembelajaran

Adapun bidang-bidang penelitian yang lebih rinci yang akan digarap selama tiga tahun ke depan (2017—2019) dijelaskan berikut.

Bidang Penelitian
1. Studi Funamental model pengembangan profesional ke pegembangan kapabilitas dengan pendekatan “belajar berbasis kehidupan”.
2. Trans-discipline based curriculum dengan fokus topik:
a) Fleksibilitas dan perluasan kurikulum (extended curriculum) transdisiplin (lintas bidang antar prodi, antar fakultas, antar perguruan tinggi), dan integrasi MOOCs ke dalam kurukulum program studi.
b) Pola konvergensi keilmuandalam roses inovasi bidang studi.
c) Transversal compentency (jenis kecakapan abad-21).
d) Entreorenuership-based learning.
e) Perluasan inovasi model belajar transdisiplin STEM.
f) Pola interaksi belajar kesebayaan dalam jaringan.

3. Multiple Learning resources dengan fokus topik:
a) Pengembangan sumber belajar berbasis TIK yang menorong otonomi belajar.
b) Pengembangan sumber belajar transdisiplin untuk inovasi bidang studi.
4. IT Fusion in curriculum and learning dengan fokus topik:
a) Perluasan inovasi blended learning.
b) Perluasan inovasi online courses dan open online course berbasis kehidupan dan bersifat friendly
5. Learner’scharacteristic dengan fokus topik:
a) Perilaku mahasiswa daam penggunaan sumber belajar.
b) Preferensi belajar mahasiswa.
c) Self-Concept dan kebutuhan pengembangan diri mahasiswa menghadapi masa depan.
6. Learning strategies and approach dengan fokus topik:
a) Riset dan pengembangan model, desain, dan atau skenario belajar berbasis kehidupan untuk pengembangan kapabilitas mahasiswa.
b) Riset dan pengembangan model manajemen sumber belajar berbasis kehidupan untuk pengembangan kapabilitas .
c) Riset dan pengembangan desain model pembeajaran dan project based learning .
d) Riset dan pengembangan model pembelajaran bioteknologi untuk masyrakat.
e) Riset dan pengembangan cultural responsive learning ( pembelajaran berbasis kearifan lokal) dengan unggulan: (a) program internasionalisasi bahasa indonesia, BIPA UM, dan (b) pembudayaan moral Pacasila dalam konteks kehidupan global.
Strategi menuju inovasi belajar dan pembelajaran. Pelibatan mahasiswa dalam penelitian dan pengembangan perlu terus dilakukan. Gencarnya kiprah KBK juga bagian dari strategi menuju inovasi belajar dan pembelajaran yang semakin kuat. Upaya yang sporadis sungguh tidak menguntungkan. Perkuliahan dan pengabdian kepada masyarakat berbasis riset juga menjadi gerakan. Agenda rutin tahunan, misalnya bersamaan dengan ulang tahun lembaga (dies natalis), yang berupa kegiatan hibah kompetitif penelitian, penulisan artikel hasil penelitian, penulisan buku berbasis penelitian, baik untuk dosen maupun guru juga akan dilakukan. Juga akan diadakan majalah “Membangun Budaya Riset dan Inovasi Pembelajaran”.

Mulai 2017 dengan dukungan pendanaan Islamic Development Bank (IDB), penelitian yang mengarah pada inovasi belajar dan pembelajaran mulai dilakukan. Satu paket dengan pendanaan IDB tersebut juga disiapkan dana research grant untuk 66 judul yang akan dikerjakan selama tiga tahun mulai 2017. Selain itu, juga dikembangkan Reseach Concortia yang dikelola di setiap perguruan oleh empat perguruan tinggi (Untirta, Unej, Unmul, dan UM), UM memilih fokus learning innovation. Lebih lengkapnya, untuk mencapai inovasi belajar dan pembelajaran, dengan pendanaan dari IDB, mulai 2017 di UM dilaksanakan pengembangan kurikulum, pengembangan staf, research grant, dan research concortia , sebagaimana tergambar pada tampilan visual berikut:

SKEMA RESEARCH
Manajemen Inovasi Belajar dan Pembelajaran

Manajemen inovasi belajar dan pembelajaran sangat penting untuk mewujudkan UM sebagai pusat unggulan inovasi pembelajaran. Tanpa manajemen yang baik, kreativitas, hasil penelitian, inovasi, dan bahkan produk karya yang telah dihasilkan hanya akan tercecer dan bahkan sulit dicari jejaknya ketika ketika gagasan, temuan dan produk hasil inovasi diperlukan atau dikembangkan lebih lanjut. Manajemen inovasi itu, sekurang-kurangnya terdiri atas (1) dokumentasi terpusat dan terpadu, (perlu diciptakan unit pusat dokumentasi dan publikasi karya ilmiah inovatif), (2) dilakukan kegiatan meta-analisis dan/atau meta-sintesis secara sistematis dan berkelanjutan atas hasil-hasil penelitian yang telah dicapai selama ini, (3) dilakukan hilirisasi hasil-hasil penelitian menjadi model atau prototipe dan bahkan produk unggulan, (4) dilakukan gelar karya inovatif milik dosen dan mahasiswa setiap tahun secara terus-menerus, dan (5) perlunya dibangun majalah “budaya riset dan inovasi pembelajaran”. Majalah ini untuk mewadahi bagaimana proses membangun budaya penelitian dan inovasi pembelajaran dilakukan di UM. Perbedaan dengan jurnal, majalah ini untuk memuat proses dan praktik-praktik baik yang telah dilakukan oleh semua pihak dalam membangun budaya penelitian dan inovasi pembelajaran, sedangkan hasil penelitian dan inovasi pembelajaran dimuat dalam jurnal ilmiah yang telah tersedia baik di dalam maupun di luar negeri.

Inovasi Belajar dan Pembelajaran Ke Depan

UM akan berusaha dan terus berusaha melalui serangkaian penelitian untuk menjadi Pusat Unggulan Inovasi Pembelajaran. Usaha itu diawali dengan melakukan meta-analisis dan meta-sintesis hasil-hasil penelitian pendidikan yang telah dilakukan dosen dan mahasiswa selama ini. Hasil meta-analisis dan meta-sintesis itu untuk tahap pertama (2016) berupa buku-buku inovatif berbasis penelitian yang diolah dari sejumlah penelitian dosen dan mahasiswa. Usaha itu akan terus dilakukan sampai berhasil dirumuskan simpul-simpul keunggulan penelitian yang dapat dijadilkan basis untuk melakukan inovasi belajar dan pembelajaran.

Pada 2017 dan tahun-tahun berikutnya, meta-analisis dan meta-sintesis akan terus dilakukan dan semakin terfokus. Lebih lanjut, penelitian baru akan lebih terfokus untuk menghasilkan inovasi belajar dan pembelajaran. Penelitian-penelitian yang dapat dijadikan landasan untuk menemukan inovasi belajar dan pembelajaran akan semakin diutamakan, sebagaimana yang dipaparkan dalam penjelasan hibah penelitian di atas.

Pilihan menjadi pusat unggulan inovasi belajar dan pembelajaran bagi UM sudah tepat. Selama ini, belum ada LPTK yang secara serius menggarap perihal belajar dan pembelajaran sebagai arus besar penelitian dan pengembangan institusinya. Oleh karena itu, setelah 2019, yakni setelah pendanaan IDB berakhir, penelitian dan pengembangan mengenai belajar dan pembelajaran perlu terus dilanjutkan. Apabila dikerjakan secara konsisten dan bersungguh-sungguh, UM sebagai pusat unggulan belajar dan pembelajaran benar-benar terwujud bukan hanya untuk level nasional tetapi juga internasional.

Sumbangkan Pemikiran dan Ilmu Pengatahuan untuk Kemajuan Bangsa

Dua Belas Guru Besar Baru UM

Para Profesor Universitas Negeri Malang (UM) yang tidak henti-hentinya, untuk menyumbangkan karyanya sebagai bukti didikasinya kepada Bangsa dan Negara. Salah satu cara Profesor berpartisipasi mendorong percepatan kemajuan bangsa dengan hasil penelitian, dan hasil pemikirannya.
Pemberdayaan UMKN Berbasis Kearifan Lokal.

Prof. Dr. Heri Pratikto, M.Pd

Prof. Dr. Heri Pratikto, M.Pd

Prof. Dr. Heri Pratikto, M.Pd., ini tergolong seseorang yang konsen terhadap perkembangan UMKM yang ada di Indonesia. Beliau melakukan penelitian berjudul” Pembelajaran Kewirausahaan dan Pemberdayaan UMKM Berbasis Kearifan Lokal untuk Penguatan Ekonomi.

Kita telah mengatahui bahwa, sebagai sasaran membahananya praktik liberalisasi Asia Pasifik 2020. Negara-negara ASEAN telah menetapkan tahun 2015 sebagai tahun berlakunya era-MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Indonesia di era-MEA akan memberikan peluang, dan tantangan yang sama-sama beratnya. Saat Ini peluang Indonesia, di era MEA dapat memberikan peluang untuk memperluas cakupan ekonomi, bisa mengurangi biaya transaksi perdagangan, meningkatkan daya tarik investor, dan pariwisata.

Sedangkan tantangannya adalah infrastruktur Indonesia masih lemah. Kualitas SDM masih rendah, dan dukungan UMKM juga masih rendah. Pembangunan kewirausahaan, dan UMKM menjadi sektor yang sangat strategis bagi penguatan, dan daya saing Indonesia.

Memeparhatikan peluang dan tantangannya, maka pengembangan model pembelajaran , dan pemberdayaan UMKM berbasis kearifan lokal menjadi lebih penting. Strategi ini sangat relevan dibandingkan jika UMKM yang harus berkilblat pada dunia barat. Implementasinya, perguruan tinggi mempunyai peran strategis mendorong tumbuhnya wirausahawan baru,melalui penerapan model pembelajaran kewira usahaan yang efektif, dan meningkatkan pemberdayaan UMKM melalui pembentukan Klinik Bisnis. Klinik bisnis ini berfungsi memberikan layanan konsultasi bisnis, informasi bisnis, advokasi, dan pendampingan pelatihan binis.

Pancasila Sabagi Guiding Principle.

Prof. Dr. Suko Wiyono, S.H. M.Hum

Prof. Dr. Suko Wiyono, S.H. M.Hum

Prof. Dr. Suko Wiyono, S.H. M.Hum. mengemukakan hasil penelitiannya tetang Cita Hukum Pancasila dalam Pembentukkan Peraturan Perundangi-undangan dan pengujiannaya. Beliau memaparkan, bahwa posisi Pancasila adalah sebagai Cita Hukum ( rechtside), merupakan refleksi dari renungan yang berdasarkan atas perjuangan untuk membangun tatanan hukum yang nilai-nilai luhur bangsa. Bertumpu pada pemikiran Positif Pancasila sebagai cita hukum yang diidialkan dalam membengun sistem hukum nasional. Karya ilmiah saya fokus pada kajian pencerminan Pancasila dalam fungsinya sebagai guiding principle, dan meta kaidah yang berfungsi menjadi morma prilaku yang bersifat evaluatif.

Kajian penelitian ini mencakup tiga pokok bahasan. Pertama, Fungsi Cita Hukum Pancasila sitem Hukum Nasional. Kedua, Fungsi Cita Hukum Pancasila dalam refleksi asas-asas hukum pembentukan peraturan perudang-undangan. Ketiga, Fungsi Cita Hukum Pancasila sebagai pengujian paraturan perundang-undanngan. Intinya, Pancasila yang dirumuskan dalam Pembukaann UUD 1945 adalah Pancasila dalam tatanan hukum yang merupakan landasan formal dari sistem hukum Nasional.

Pengembangan Science Spirituality.

Prof. Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd. M.Si

Prof. Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd. M.Si

Prof. Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd. M.Si., memaparkan hasil penelitian yang berjudul ”Biologi sebagai Sumber Belajar untuk Generasi Masa Kini, dan Masa Mendatang yang Berintegritas dan Berperadapan Tinggi. Penelitian ini menekankan dengan teknik molekuler. Hal ini sangat penting apa bila terjadi kebuntuan dengan pendekatan Morfologi sebagaimana yang di contohkan di dunia pertanian, peternakan, kedokteran, forensik dan lain-lain.

Berdasarkan data dari hasil penelitian selama sembilan tahun tentang keragaman genitik kerbau lokal. Data ini memberikan informasi bahwa perlu ada kewaspadaan terhadap keragaman genetik kerbau lokal yang semakin lama semakin menurun.

Keunggulan penanda molekuler microsatellite ini diminati lembaga-lembaga lain untuk dikembangkan. Sekarang ini bekerjasama dengan Balitbang Kabupaten Malang, Pemprov Jabar untuk mengembangkan gen kembar. Lebih dari itu, semua hal yang terkait pembelajaran biologi sumber belajar memiliki integritas, dan bermartabat namun openminded. Untuk mengemas keterpaduan itu, harus ada integrasi antara materi, metode mengajar, dan penanaman nilai spiritual maka wajib dikembangkan science spirituality.

Penemu Enam Ratus Empat Puluh Tiga Senyawa Baru

Prof. Drs. Effendy, M.Pd., Ph.DProf. Drs. Effendy, M.Pd., Ph.D

Prof. Drs. Effendy, M.Pd., Ph.D

Prof. Drs. Effendy, M.Pd., Ph.D. telah mendedikasikan diri kedunia penelitian, dan bangsa terbukti telah menghasilkan 643 publikasi karya ilmiah. Beliau namanya tercatat pada CSD ( Cambridge Structural Database) di Cambridge Crystallographic Data Centre, Cambridge United Kingdom. Cambridge Structural Database Cambridge Structural. Database adalah pusat data internasional yang memuat daftar ilmuan yang telah mempublikasi minimal 500 struktur senyawa baru dalam jurnal-jurnal internasional terindeks. Keberhasilan mempublikasikan 643 struktur senyawa baru merupakan pencapaian prestasi yang patut diperhitungkan di dunia internasional. Habibie Award di bidang Ilmu Dasar Kimia telah diraih pada tahun 2012.

Penelitian berjudul ”Efek Subtituen terhadap Basicity Berdasarkan Data Kristalografi,” yang paling menarik dalam penlitian ini adalah data sistem molekul yang ditunjukan dengan gambar roket, dari data tersebut dapat dilihat senyawannya. Apabila senyawanya seperti suatu atom, maka senyawa yang di peroleh itu biasanya mempunyai sifat antileokimia, dan anti jamur.

Perjuangan Intelektual melalui Rehabilitasi Pendidikan Ekonomi

Prof. Dr. Wahjoedi. M.E

Prof. Dr. Wahjoedi. M.E

Prof. Dr. Wahjoedi. M.E., mengemukakan penelitiannya yang barjudul ”Merehabilitasi Pendidikan Ekonomi, Memperkuat Jati Diri Perekonomian Indonesia”. Penelitian ini berawal dari keprihatinannya dengan kondisi pendidikan ekonomi kapitalis, dan lberalis. Hal ini tentu tidak mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang memiliki begitu banyak mengandung nilai-nilai humanis. Sudah saatnya kelompok akademisi melakuan perjuangan intelektual di bidangnya masing-masing.

Selama ini pendidikan ekonomi seringkali berada suasana sadar dalam ketidaksadaran. Pendidikan ekonomi yang diberikan para pendidik telah mengarahkan anak didik untuk memiliki perilaku ekonomi pasar yang kapitalis, liberalis, dan meninggalkan nilai-nilai Pancasila, dan UUD 1945. Pedidikan ekonomi kita sudah seharusnya memberikan porsi yang lebih besar ke arah penanaman nilai-nilai yang berjati diri bangsa.

Anak-anak Sering Mengucapkan Kata-kata Kotor.

Prof. Dr. Yazid Busthomi, S.Pd., M.A

Prof. Dr. Yazid Busthomi, S.Pd., M.A

Prof. Dr. Yazid Busthomi, S.Pd., M.A., terinfirasi waktu masih anak-anak mengucapkan kata-kata kotor, dan mendapat hukuman dari Ibu. Beliau menulis penelitian dengan judul ” (Men-Ter) Jerat Kata-Kata Kotor”. Sebagai ayah, saya kesulitan untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan anak mengapa kata-kata tertentu dikategorikan kotor atau tidak. Contohnya kata “asem” mungkin untuk masyarakat Jawa Tengah ini menjadi kata kotor. Namun ada sebagian mengagapnya wajar. Kata “asem” jika diucapkan dengan nada keras/kesal akan berubah menjadi kata kotor. Akan tetapi kalau diucapkan dengan nada rendah/atau dalam kondisi biasa dalam kontek kalimat biasa, dan wajar sebagai mana mestinya, tidak menjadi kata kotor. Contohnya , Ambilkan buah asem yang sudah masak. Kata asem dalam kalimat ini tidak posisi untuk mengumpat. Kata asem sebagainama buah, sehingga kata asem dianggap wajar/tidak kotor.

Luasnya keberadaan kata-kata kotor tidak berbanding lurus dengan mudahnya menjelaskan permasalahan-permasalahan tentang kata-kata kotor. Namun masalahnya, usaha orang tua untuk meluruskan perkataan kotor, justru mengundang anak untuk menggunakan kata-kata tersebut.

Perlunya Pengembangan Keterampilan Bahasa Arab.

Prof. Drs. Muhaiban

Prof. Drs. Muhaiban

Gagasan perlunya pengembangan ketrampilan berbicara bahas Arab, dari keinginan meningkatkan kemampuan anak dalam ketrampilan berbahasa Arab. Prof. Drs. Muhaiban, memeberikan sumbangan Ilmu serta pemikirannya melalui pidato pengukuhan guru besar dengan judul “Pembelajaran Bahasa Arab untuk Anak ”ALA (Al Arabyyah Lil Athfal). Pembelajaran ALA pada satuan pendidikan tingkat dasar dan prasekolah. Selama ini terbatas pada tujuan mengajarkan ketrampilan membaca Al-Qur’ an, dan menulis huruf Arab.

Perlu ada pengembangan ke arah pembelajaran kemampuan dasar bahasa Arab. Pengembangan kemampuan belajar bahasa Arab harus didukung oleh peningkatan kemampuan dan kopetensi guru pengajar. Terutama kemampuan pedagogis yang menyangkut penguasaan aspek-aspek pembelajaran, penguasaan kurikulum, pemahaman karakteristik anak . Kopetensi profesional yang terkait dengan penguasaan materi serta ketrampilan berbahasa Arab.

Alasannya meneliti permasalahan tersebut, pengabangan pendidikan bahasa Arab untuk anak, karena kemampuan penyerapan anak. Ada tepatah Arab kuno yang mengatakan belajar pada waktu kecil seperti mengukir di atas batu. Saya tertarik kepada anak mereka memiliki daya serap yang masih tinggi. Apa yang anak-anak serap itu tidak mudah hilang.

Matematika Tidak Selalu tentang Hitung- Menghitung.

Prof. Drs. Purwanto, PhD

Prof. Drs. Purwanto, PhD

Prof. Drs. Purwanto, mengemukakan hasil penelitiannya yang berjudul “Argumen Valid”. Argumen Valid menelaah tetang matematika tidak salalu hitung-menghitung. Matematika tidak selamanya penuh dengan angka, dan kegiatan hitung-menghitung . Berargumen-pun sebenarnya terdapat unsur-unsur matematika didalanya, tanpa disadari secara sistematis sebenarnya manusia menerapkan ilmu matematika.

Balajar matematika tidak hanya belajar operasi aljabar atau hitungan saja, tetapi juga belajar menggunakan argumen yang mana argumen argumen tersebut harus valid. Suatu argumen merupakan susunan peryataan. Untuk mengetahui apakah suatu pernyataan itu valid atau tidak, perlu mengetahui dulu bentuk argumennya. Apabila hasilnya semiua premis benar, maka kesimpulannya juga benar. Suatu argumen valid juga bentuknya juga valid.

Hal yang paling penting untuk diketahui dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Bisa memahami tentang argumen yang valid, dan yang tidak, otomatis itu cara untuk membentuk pola berpikir secara sistematis. Selain itu, juga melatih anak berargumentasi dengan baik.

Kurang Jalanya Reformasi Pendidikan di Daerah.

Prof. Dr. Drs. Muhammad Zainuddin, M.Pd

Prof. Dr. Drs. Muhammad Zainuddin, M.Pd

Prof. Dr. Drs. Muhammad Zainuddin, M.Pd, mengemukakan hasil penelitiannya tentang “ Kurangjalannya Reformasi Pendidikan di Daerah”. Beliau menemukan pelaksanaan reformasi di dunia pendidikan di era otonomi daerah ini masih terbilang semu. Pelaksanaan reformasi di katakan semu karena peran komite sekolah sekedar memenuhi mekanisme prosedural, dan kurang dilibatkan dalam kerangka substansial.

Dalam penelitiannya yang berjudul” Reformasi Pendidikan di Era Otonomi Daerah”, ditemukan belum terbangunnya transparansi, dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan di era otonomi daerah. Masih belum ada keterbukaan untuk publik . Padahal dalam meningkatkan mutu pendidikan perlu mendapat bantuan dari masyarakat. Bantuan masyarakat bisa berupa material, pemikiran-pemikiran maupun kontral pelaksanaan program-program yang dijalankan daerah.

Kurangnnya perhatian dalam peningkatan mutu pengajar juga menjadi sorotannya. Banyak sekolah, lembaga berlomba-lomba untuk membangun sarana dan prasana belajar yang lebih bagus. Akan tetapi tidak untuk meningkatkan tenaga pengajarnya. Beliau menyampaikan perumpamaan sederhana untuk mengritisi pelakaksanaan reformasi di era otonomi daerah. Misalnya jika ada orang suka sekali pada burung. Ketika ia pergi ke pasar hewan, apa yang akan dilihat burung apa sangkarnya?. Tentu burungnya” ungkap Zainuddin.

Kepala Sekolah Ujung Tombak Kualitas Pendidikan

Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, MPd

Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, MPd

Pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Antara lain melalui program sertifikasi guru, pengembangan keprofesian berkelanjutan, hingga pengembangan kurikulum baru. Namun secara konsep, kebijakan tersebut hasilnya masih belum terbukti meningkatkan mutu pendidikan secara optimal.

Hal ini yang menjadi pemikiran Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, MPd yang dituangkan dalam penelitian berjudul “Pembinaan Profesi Kepala Sekola”. “Sebagai pimpinan tertinggi di sekolah, Kepala Sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang bertanggung jawab penuh untuk menggerakkan semua sumber daya sekolah, termasuk mengoordinasi pelaksanaan pendidikan di sekolah,” ungkap Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM itu.

Menurutnya, pembinaan profesionalisme kepala sekolah yang efektif, tidak hanya ditekankan pada prosedur, tapi juga prosesnya. “Harus lebih didasarkan pada pengalaman, interaksi intrapersonal, keaktifan belajar, pembentukan sikap, perilakudan ketrampilan nyata dalam memimpin sekolah.” Pengembangan mandiri tersebut, harus selalu dikembangkan secara continue agar mutu pendidikan sekolah semakin baik.

Sentuh Kesadaran Siswa Untuk Tingkatkan Semangat Belajar.

Prof. Dr. Ali Imron, MPd

Prof. Dr. Ali Imron, MPd

Sekolah-sekolah yang berbasis religi (agama) menjadi fokus perhatian Prof. Dr. Ali Imron, M.Pd., MSi. Mengangkat tema “Manajemen Mutu Sekolah Dasar Berbasis Religi”, salah satu Guru Besar UM ini menyoroti perkembangan sekolah-sekolah yang berbasis agama. Hasilnya, SD yang berbasis religi menjadi pilihan orang tua saat ini. “Sekolah berbasis religi sekarang banyak yang bermutu. Tidak hanya menjadi pilihan para orang tua, tapi juga digandrungi anak-anak,” ungkapnya.

SD berbasis agama, memiliki komitmen mutu kuat yang diwariskan oleh pendiri, pengola, dan pendidik sebelumnya. Nilai-nilai itu selanjutnya dilestarikan, diteruskan, serta diperkuat para pengola dan pendidik penerusnya.

Jika dikaitkan dengan kurikulum 2013 (K13) yang sedang gencar dilakukan pemerintah, manajemen mutu pengelola SD berbasis religi, menurut pemikirannya sangat cocok. “ Ada dua pekerjaan besar pada manajemen mutu SD berbasis religi, yakni mutu akademik dan nonakademik atau pendukung akademik. Kadua hal tesebut sangat cocok jika dikaitkan dengan kurikulum 2013”, jelasnya

Namun yang terpenting, adalah mengondisikan guru agar bisa menyentuh kesadaran terdalam dari siswa. “Jika para tenaga pengajar bisa menyentuh kesadaran terdalam mereka, seperti menemukan hal menarik dalam sebuah pembelajaran, pasti siswa akan tertarik dengan mata pelajaran mereka,” papar Ali.

Teknologi Bisa Jadi Media Konseling Belajar.

Prof. Dr. Nur Hidayah, MPd.

Prof. Dr. Nur Hidayah, MPd.

Zaman yang serba online menjadi latar belakang penelitian Prof. Dr. Nur Hidayah, MPd., dengan judul Cyber Conceling Cognitive Behavioral Peluang Konselor Berdaya Saing di Era MEA, fokus penelitian ini lebih kepada para konselor. Tujuannya untuk bisa mengimbangi perkembangan zaman dan mencari ide baru dalam kegiatan konseling.

“Konseling dangan system face to face sekarang mulai kurang diminati. Hal itu sudah terlihat sejak 2007 lalu.” Penyebabnya , karena jam pelajaran di sekolah semakin padat, sehingga waktu untuk bertatap muka dalam konseling berkurang. ”Nah, dari sini saya memikirkan bagaimana caranya agar siswa masih bisa berkonsultasi dengan konselor tanpa terbatas jarak dan waktu,” jelasnya.

Menurut Nur Hidayah, penggunaan teknologi oleh siswa saat ini juga menjadi poin penting dalam penerapan cyber conceling. “ Saya melihat ponsel saat ini juga semakin canggih. Itu menjadi pemicu ide saya, bagaimana jika penggunaan teknologi diaplikasikan dalam kegiatan konseling. Jadi sekaligus meminimalisasi kegiatan kurang positif dari penggunaan ponsel oleh pelajar,” tandasnya. (bud)

 

Tags, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Prof. Dwidjoseputro sosokcerdas dan bijaksana

Prof. Dr. D. Dwidjoseputro, M.Sc. Sosok Guru dan Guru Besar Biologi Sesungguhnya

Oleh: Ibrohim, Utami Sri Hastuti, dan Endang Suarsini

Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang

Prof. Dwidjoseputro sosokcerdas dan bijaksana

Prof. Dwidjoseputro sosokcerdas dan bijaksana

Biologi dulu lebih populer dengan sebutan ilmu hayat. Suatu cabang ilmu pengetahuan (sains) yang memfokuskan kajian pada objek makhluk hidup, mulai dari jasad renik sampai pada manusia. Banyak siswa yang menyukai Biologi karena kajiannya bersangkutan dengan hal ikhwal kehidupan manusia, mulai dari persoalan makan, kesehatan, struktur anatomi dan fisiologi, sampai dengan perkawinan dan dihasilkannya keturunan dalam sebuah keluarga. Namun sebaliknya, juga banyak siswa yang tidak menyukai Biologi karena memiliki kesan/anggapan bahwa ilmu pengetahuan ini banyak menuntut sisw/mahasiswa menghafalkan banyak istilah. Mengapa terjadi hal yang demikian? Apakah hal ini disebabkan oleh sifat objek kajiannya ataukah oleh cara/metode guru dalam mengajarkannya?

Bagaimana seharusnya sosok guru Biologi yang ideal, yang mampu membelajarkan siswa bukan hanya sekedar aspek pengetahuan Biologi tetapi dapat melahirkan saintis muda, dengan sikap, pemahaman dan keterampilan sains yang memadai, yang akan menjadi modal mereka menjadi ilmuan Biologi (biolog) muda atau menjadi guru Biologi. Prof. Dwidjoseputro telah mempratikkan dan mengamalkannya selama menjadi dosen di Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang (dulu IKIP Malang), yakni sejak Tahun 1954. Bagaimana pemikiran-pemikiran cerdas dan bijaksana serta sosok pribadinya? uraian berikut akan mencoba menggambarkanya meski sangat terbatas.

 SAINTIS, ARTIS, DAN MANUSIA RELIGIUS

Dalam membelajarkan dan menyadarkan mahasiswa tentang Biologi sebagi sains yang tidak hanya konsep, Prof. Dwidjoseputro dalam pidato pengukuhan guru besarnya pada tahun 1973, memberikan ilustrasi yang sangat gamblang. “Bunga itu indah”, itu adalah ungkapan bahasa seorang seniman (artis), sebagai gambaran getaran jiwanya ketika melihat sebuah bunga, bukan ungkapan seorang saintis. Kalau toh seorang saintis mengungkapkannya, ia mengucapkannya bukan sebagai seorang saintis melainkan sebagai seniman. Indah atau tidak indah tergantung pada manusia yang menilainya, dan penilaian itu sangatlah subyektif. Ukuran yang mantap, objektif dan mutlak untuk ini tidak ada. Keindahan tidak dapat dirangkum dalam suatu definisi ataupun suatu formula. Seorang religi mengagumi kekuasaan Tuhan melaui keindahan bunga dan manfaatnya bagi keberlanjutan keturunan jenis makhluk hidup. Religi pun hanyalah sekedar bahasa dari sekelompok manusia yang getaran jiwanya lain dari pada seorang saintis atau seorang artis. Kagum akan keagungan alam dan menikmati keindahaanya itulah jiwa artis. Kagum akan keagungan alam semesta dapat menyebabkan manusia berlutut dan bersyukur kepada Yang Maha Khalik, itulah manusia religius. Kagum akan keagungan alam dan mencari keteraturan (orde, sistem) dalam semrawutnya fenomena-fenomena alam yang dihadapinya, itulah jiwa seorang saintis.

Pendidikan dan pembelajaran Biologi semestinya lebih menumbuhkan sikap-sikap seorang saintis (biolog), tentu juga disertai pemahaman dan keterampilan sains yang memadai untuk menumbuhkannya menjadi seorang ilmuan muda. Sudah kah ini terjadi atau dilakukan oleh guru-guru sains (Biologi) di Indonesia saat ini? Di samping itu, selain menjadi seorang saintis dengan kekaguman untuk menyelediki alam semesta, seorang saintis juga dapat memiliki jiwa religious dan juga artis pada kadar tertentu.

MENJADI AHLI BIOLOGI MURNI ATAU BIOLOGI TERAPAN?

Biologi kini telah berkembang sangat pesat dengan dorongan teknologi. Biologi juga memberikan sumbangan dalam pengembangan berbagai bidang teknologi yang terkait dengan Biologi terapan, seperti kedokteran, pertanian, dan sejenisnya. Prof. Dwidjoseputro mengingatkan kita semua, bahwa di negara kita Indonesia ini, para ilmuan Biologi murni belum mendapatkan penghargaan secara material yang sama dengan mereka yang mempelajari dan mengembangkan terapannya, seperti dokter, ahli pertania dan sejenisnya. Namun perlu diingat bahwa seorang ilmuan Biologi memberikan sumbangan yang sama besar dengan para pengembang Biologi terapan. Dorongan yang paling kuat bagi seorang penuntut ilmu adalah kegemarannya menuntut ilmu, dan upah yang berharga baginya adalah kepuasan yang ia peroleh apabila ia berhasil menemukan suatu kebenaran (ilmiah). Dalam kaitan ini, Prof. Dwidjoseputro juga mengingatkan bahwa masih dibutuhkan banyak ahli Biologi yang konsisten untuk mengembangkan Biologi dalam kontek memecahkan persoalan dan mengembangkan potensi sumberdaya alam hayati yang berlimpah di Indonesia demi kesejahteran masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat mengharapkan lahirnya biolog-biolog muda setelah generasinya, yang akan menekuni berbagai bidang Biologi di Indonesia, guna memberikan sumbangan dalam meningkat kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui potensi sumberdaya alam hayatinya.

PERAN BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI DALAM MENGUBAH PANDANGAN DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT

Disadari atau tidak, Biologi memiliki peran yang sangat besar dalam nengubah pandangan dan pikiran masyarakat Indonesia dalam upaya meningkatkan kesejateraan hidupnya. Sebagai contoh, dalam kaitan menyikapi perkembangan dan pertumbuhan penduduk Indonesia yang demikian pesat pada era tahun 1970-an, Prof. Dwidjoseputro mengutip teori dan hipotesis dari Thomas Robert Malthus (1766–1834) yang terkenal dan sekaligus banyak ditentang ilmuan lain, yang mengkhawatirkan akan nasib umat manusia karena melihat gejala menanjaknya pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan pertambanhan sandang pangan. Penduduk Indonesia, tercatat sekitar 60,5 juta pada tahun 1930, menjadi 81,5 juta tahun 1955 (Sensus RI pertama), dan menjadi 122 juta pada tahun 1973 (saat Prof Dwidjoseputro menyampaikan pidatonya pengukuhan guru besarnya), dan diperkirakan mencapai 280 juta tahun 2000. Berkat sumbangan ilmu Biologi dan terapannya dalam mengembangkan teknik kontrasepsi, jumlah penduduk Indonesia bisa ditekan di bawah 250 juta sampai tahun 2014 ini.

Dalam konteks “hubungan aspek ekologi dan pembangunan”, Prof. Dwidjoseputro menggambarkan betapa pentingnya lingkungan bagi kehidupan dan perkembangan individu. Iklim yang berbeda-beda, jenis tanah yang berbeda-beda, memiliki populasi yang berbeda pula. Jika kita membatasi diri pada sebagian dari “ekologi manusia” saja maka akan sering dijumpai ungkapan “Sebenarnya si Anu itu orang baik, akan tetapi ia menjadi demikian (tidak baik) karena lingkungannya”. Dengan kata lain, ubahlah lingkungan, dan ia akan menjadi manusia yang lain. Inilah prinsip yang dianut dalam rumah (lembaga) pemasyarakatan. Demikian juga dalam konteks pendidikan era sekarang ini, maka sesungguhnya tugas guru adalah menciptakan lingkungan yang kondusif agar sikap, pengetahuan dan keterampilan siswa berkembang ke arah positif.

Dalam prinsip ekologi, dinyatakan bahwa aspek lingkungan mempengaruhi makhluk hidupnya. Diterapkan oleh Prof Dwidjoseputro dalam pandangannya tentang pendidikan. Beliau merujuk Teori Konvergensi Stern (1930), seorang ahli Psikologi, yang menyatakan bahwa bahwa dasar maupun ajar sama-sama pentingnya bagi berhasilnya pendidikan. Tanpa dasar, pengajaran yang betapapun baiknya tidak akan berhasil, tanpa ajar, dasar yang bagaimana pun baiknya tidak akan berhasil. Dalam Genetika (ilmu keturunan), dasar disebut genotipe, ajar identik dengan faktor-faktor luar atau milieu, dan hasilnya disebut fenotipe. Lebih jauh Prof. Dwidjoseputro, melukiskan dengan Jajaran Genjang Daya berikut ini.

Jajaran Genjang daya Genotipe adalah konstanta, milieu dapat berubah-ubah (variable). Sisi yang menggambarkan milieu dan arahnya boleh berlainan; perubahan itu menyebabkan berubahnya jajaran genjang. Maka perubahan milieu mengakibatkan perubahan fenotipe; dengan kata lain fenotipe adalah fungsi dari milieu

Bertolak dari teori konvergensi ini, maka Biologi mempunyai dua tugas, yang pertama ialah menyehatkan lingkungan dalam arti seluas luasnya, seperti memperindah lingkungan, mencegah pencemaran (pollution), sanitasi dan sebagainya. Tugas yang kedua memperbaiki genotipe dengan memperhatikan hukum-hukum Genetika yang akan dijelaskan berikut ini.

Menurut Prof. Dwidjo, Genetika atau ilmu keturunan merupakan cabang Biologi yang besar sumbangannya dalam usaha-usaha untuk menghilangkan takhayul dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Sebagai contoh, dalam kalangan kaum awam masih berlaku anggapan bahwa “anak seorang dalang pastilah menjadi dalang, anak dokter mesti menjadi dokter”. Sangat boleh jadi anak-anak tersebut mempunyai warisan Biologis dari ayah mereka, akan tetapi warisan Biologis itu hanya dapat ditunaikan (terjadi) jika ada pendidikan dan pengajaran yang sesuai (lingkungan). Dalam Biologi, khususnya ilmu Genetika, diketahui bahwa warisan Biologi tersebut bukan dari ayah semata, dan ibu bukanlah sekedar wadah saja. Anak adalah hasil dari penyatuan sperma (dari ayah) dan ovum (dari ibu) yang masing-masing membawa konsep tersendiri. Fusi antara keduanya menghasilkan suatu konsep baru, suatu “blue print” yang membayangkan (mewujudkan) arsitektur baru dan tertentu. Selanjutnya Prof. Dwidjoseputro menyatakan bahwa pengembangan “bule print” selama 9 bulan dalam kandungan ibu itu pada ghalibnya suatu rentetan proses sebab akibat menurut pola (gen) yang sudah ada dalam zigot. Walaupun demikian, bisa terjadi penyimpangan, yaitu jika ibu mengalami kelainan peoses fisiologi karena sakit, kekurangan makanan, dan sebagainya.

Namun demikian di sisi lain, Prof. Dwidjoseputro menegaskan bahwa Biologi tidak dapat membuktikan, bahwa telinga cacat dari bayi yang lahir ada hubungannya dengan ayah yang pernah melukai telingan seekor binatang ketika sang ibu sedang mengandung. Belum ada penelitian yang mengkaji hubungan antara sifat-sifat yang temurun dengan hari dan bulan kelahiran seorang manusia baru. Saintis tidak apriori menolak atau menerimanya sebelum ada pembuktian yang mantap. Genetika eksperimental telah membuktikan bahwa hanya sifat dasar (genotipe) lah yang menurun (Weismann, 1834-1914), dan bukan sifat-sifat yang diperoleh (dari pengaruh lingkungan) seperti yang diutarakan oleh Lamarck (1744–1829).

Menurut Prof. Dwidjo, Biologi memberikan sumbangan dalam upaya “memuliakan” atau memperbaiki keturuan. Upaya manusia memperbaiki keturunan suatu bangsa telah dilakukan oleh bangsa Yunani kuno dalam memuliakan (ras veredeling) bangsanya, yaitu dengan meniadakan yang lemah dan yang cacat. Usaha semacam itu juga dilakukan oleh Jerman sebelum Perang Dunia II dalam cita-citanya membangun “bangsa tuan” (Herren Volk) yang terdiri atas “übermensh”. Pemuliaan keturunan dalam dunia pertanian, peternakan, dan perikanan sudah lazim dilakukan untuk menghasilkan bibit-bibit unggul yang akan meningkatkan kualitas dan jumlah produksi. Sesungguhnya Pemuliaan esensinya adalah permainan dengan gen. Genetika molekuler ini berkembang setelah Watson and Crick (1953) menemukan model struktur DNA (Deoxyribose Nucleic Acid), hingga saat ini telah berkembang genetic engineering yang luar biasa.

PERAN BIOLOGI DALAM BIDANG SISTEMATIKA MAKHLUK HIDUP

Apa manfaat lain dari mempelajari Sistemati (Biosistematik) atau Taksonomi dalam Biologi? Prof. Dwidjoseputro menggambarkannya sebagi berikut. Kita tidak mempunyai catatan tentang bahasa apa yang digunakan oleh Adam untuk berkomunikasi dengan Hawa, pun kita tidak mempunyai data mengenai bagaimana sepasang manusia yang pertama ini menyebut tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan yang ada di sekitar mereka. Walaupun bahasa belum sempurna, di sekitar Adam dan Hawa pasti ada berbagai makhluk hidup lain yang berbeda-beda, seperti ada pohon, semak, perdu, rerumputan, hewan besar, hewan kecil dan lain sebagainya. Manusia saat ini dihadapkan oleh bayangan banyak jenis tumbuhan, hewan bahkan jasad renik yang harus dikenali dan dikomunikasikan dengan manusia yang lain karena suatu kepentingan. Terpaksalah manusia harus memberi nama pada apa yang dilihat dan dimaksudkannya. Itulah yang disebut dengan klasifikasi. Karena pengklasifikasian tidak acak-acakan, akan tetapi menurut suatu atauran tertrntu, menurut suatu sistem, maka klasifikasi disebut juga sistematik. Karena dalam sistematik ini ada pengelompokan menurut tingkat-tingkat (takson), maka digunakan istilah taksonomi untuk penggolongan makhluk-makhluk hidup tersebut. Untuk menggampangkan komunikasi antar bang-bangsa maka dibuat suatu ketentuan pemberian nama jenis makhluk hidup dengan dua kata (binomenklatur; binomial nomenklatur). Nama depan menunjukkan genus dan nama belakang menunjukkan spesies/jenis, seperti padi (Oryza sativa).

Dalam bidang mikroBiologi, yang merupakan salah satu cabang Biologi, yang ditekuninya Prof. Dwidjoseputro menyatakan bahwa di Indonesia masih sangat diperlukan banyak ahli-ahli Mikrobiologi yang dapat mengungkap kekayaan mikroba Indonesia sebagai Negara tropis yang besar di dunia. Selama ini penemuan berbagai antibiotik dari mikroba yang sangat berguna untuk pengobatan berbagai penyakit masih didominasi oleh ahli-ahli Biologi dari Negara barat, yang tentunya saja mereka mengekplorasinya dari jenis-jenis makhluk hidup di sekitar mereka. Sementara di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati belum banyak diungkap. Sebagai contoh sederhana Prof. Dwidjoseputro mengungkapkan suatu kepercayaan masyarakat desa yang percaya bahwa luka dapat disembuhkan dengan kotoran lembu atau kerbau. Hal ini dapat menjadi titik tolak penelitian yang mungkin mewujudkan “tambah emas”. Bagi seorang saintis yang terpenting bukan emasnya tetapai penemuanna yang bermanfaat.

Uraian di atas merupakan gambaran keluasan wawasan Prof. Dwidjo dalam khasanah perkembangan Biologi, dan sekaligus pemikirannya tentang peran Biologi dalam meningkatkan peri kehidupan masyarakat.

 PERJUANGAN MENUJU PUNCAK KARIR AKADEMIK

Prof. Dr. D. Dwidjoseputro seorang guru besar Biologi yang mengawali karirnya sebagai dosen di Jurusan Biologi FKIE IKIP Malang pada tahun 1954 setelah lulus dari B-1 Ilmu Hayat Semarang-Bandung 1953. Beberapa tahun kemudian Dwidjoseputro muda berangkat studi ke Amerika Serikat dan mendapat gelar “Bachelor of Sacience (B.Sc.)” dari “George Peabody College for Teachers of Vanderbilt University (Nashville, Tennessee, USA)” pada tahun 1959. Dua tahun kemudian Dwidjoseputro mendapatkan gelar “Master of Science (M.Sc)” dari “Vanderbilt University (Nashville, Tennessee, USA)”, tepatnya pada tahun 1961. Sepulang dari menyelesaikan studi masternya dan kembali ke kampus, Dwidjoseputro mendapatkan kepercayaan memimpin IKIP Malang dari tahun 1963 sampai 1966. Seusainya menjadi rektor beliau berangkat studi lagi ke Vanderbit University dan meraih gelar doctor dalam bidang Biologi (Ph.D.) pada tahun 1969. Tidak lama setelah menyelesaikan studi doktornya, dengan karya penelitian dan pengajarannya, Dwidjoseputro memperoleh gelar puncak akademiknya dan dikukuhkan sebagai guru besar Biologi pada tahun 1973. Perjalanan karir akademik yang sangat cepat, menggambarkan beliau adalah sosok guru atau dosen yang sangat tekun dan bersungguh-sungguh dalam belajar dan bekerja.

SOSOK SEORANG GURU DAN DOSEN BIOLOGI IDEAL

Bagaimana sosok Dwidjoseputro mengajarkan Biologi kepada para mahasiswanya dituturkan oleh beberapa mahaiswanya beikut ini. Prof. Dwidjoseputro mengampu Mata kuliah MikroBiologi, Mikologi, Fitopatologi dan Fisiologi Tumbuhan. Bapak Dwidjoseputro, demikian kami biasa menyebut nama beliau, merupakan Guru Besar yang patut menjadi teladan bagi kami, para mahasiswanya. Sifat-sifat beliau yang ramah, sabar, displin, tertib, dan telaten dalam membimbing para mahasiswanya sangat membantu dalam kegiatan belajar mengajar, baik teori maupun praktikum. Walaupun ada asisten yang membimbing praktikum, beliau turut memberikan pengarahan agar teori dan praktikum saling menunjang. Beliau juga sekali waktu hadir pada saat kegiatan praktikum dan memantau aktifitas praktikan. Beliau mampu membuat materi perkuliahan yang rumit menjadi sangat mudah dipahami oleh mahasiswanya. Kami selalu terkenang dengan kebiasaan beliau yang selalu tepat waktu pada setiap memberi materi perkuliahan. Beliau menyapa mahasiswanya dengan ramah dan selalu bersikap adil dalam kegiatan belajar mengajar, tidak pernah membeda-bedakan mahasiswa yang pintar maupun yang kurang pintar.

Menurut Prof. Dwidjoseputro, seorang guru harus bersedia dan mampu membimbing semua siswa, baik siswa yang pintar dan cepat memahami materi pelajaran maupun siswa yang kurang pintar dan kurang cepat memahami penjelasan guru atau membaca buku. Bapak Dwidjoseputro menyampaikan kepada kami bahwa “guru yang pandai ialah guru yang menguasai ilmu dan mampu membimbing siswa yang kurang pandai sehingga berhasil lulus dengan nilai yang baik”. Menurut beliau bila seorang guru berhasil membimbing siswa yang pandai sehingga lulus dengan baik, itu sebenarnya bukan gurunya yang pandai, melainkan siswanya yang memang sudah pandai. Apabila direnungkan, memang tugas guru cukup berat apabila harus mendampingi dan membimbing siswa yang kurang mampu dalam bidang akademik sehingga lambat dalam memahami materi pelajaran. Guru harus sabar dan telaten sehingga dapat mengantarkan siswanya menuju keberhasilan. Namun hal ini sudah menjadi konsekuensi dari tugas seorang pendidik. Seorang dosen juga harus mampu melakukan hal yang sama kepada para mahasiswanya, hal ini juga dilakukan oleh Bapak Dwidjoseputro.

Penulis pada saat mengikuti kuliah MikroBiologi yang diampu oleh beliau sangat terkesan pada sikap beliau sebagai seorang dosen yang patut diteladani. Pada suatu ketika Bapak Dwidjoseputro memberi tugas membaca buku teks Mikrobiologi, menerjemahkan, dan menjelaskan hasil terjemahan materi yang telah dipilihkan oleh beliau pada pertemuan minggu berikutnya. Salah satu teman kami ada yang kurang mampu menerjemahkan kalimat bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Beliau dengan sabar dan telaten menjelaskan cara menerjemahkan kalimat yang benar sambil duduk di samping teman tersebut dan membantu serta membimbingnya sampai dapat memahaminya. Sungguh hal ini merupakan sikap seorang dosen yang sangat terpuji dan patut diteladani.

Bapak Dwidjoseputro juga telah mendidik kami agar bersikap kritis dan mampu menjelaskan fenomena yang terdapat di lingkungan sekitar kita. Dalam buku “Pengantar MikroBiologi” yang ditulis oleh beliau tertulis kalimat pada halaman depan “Alam Semesta Penuh Rahasia”. Di dalam kalimat yang beliau tulis tersebut sebenarnya terdapat filsafat yang tinggi. Alam semesta yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT untuk tempat hidup semua makhluk hidup berisi banyak sekali hal-hal yang harus diteliti sehingga dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia.

Pada suatu ketika dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Mata kuliah Mikologi, penulis bersama-sama teman sekelas dan Bapak Dwidjoseputro pergi ke hutan Coban Rondo, Batu. Kami diberi tugas melakukan observasi terhadap jamur-jamur yang tumbuh di hutan, keanekaragaman, ciri-ciri morfologi, serta habitatnya. Kami melakukan tugas tersebut dengan gembira didampingi oleh beliau sambil melakukan tanya jawab tentang materi kegiatan observasi tersebut. Melalui kegiatan ini, konsep-konsep yang beliau jelaskan pada saat kuliah lebih dapat kami pahami. Kegiatan belajar mengajar yang beliau terapkan ini merupakan metode belajar yang bersifat kontekstual, dimana kami melakukan pengamatan secara langsung keanekaragaman jamur, ciri-ciri dan habitatnya.

Gambar 2. Foto Prof. Dwijoseputro bersama para mahasiswanya pada saat kegiatan KKL di Hutan Coban Rondo, Batu.

Foto Prof. Dwijoseputro bersama para mahasiswanya pada saat kegiatan KKL di Hutan Coban Rondo, Batu

Foto Prof. Dwijoseputro bersama para mahasiswanya pada saat kegiatan KKL di Hutan Coban Rondo, Batu

Keterangan:

Deret belakang dari kiri ke kanan: Musyafar, Prof. Dwijoseputro, Hawa Tuarita, Utami Sri Hastuti. Deret depan dari kiri ke kanan: Herawati Susilo, Eko Sri Sulasmi.

Pada tahun berikutnya, Bapak Dwidjoseputro juga mengadakan kegiatan KKL Mata kuliah Mikologi untuk mahasiswa angkatan adik kelas penulis. Kegiatan KKL dilakukan di pabrik jamur merang Wonosobo. Para mahasiswa peserta KKL diberi tugas melakukan pengamatan secara langsung tentang proses budidaya jamur merang, mulai dari penyiapan media tanam untuk jamur merang, cara menanam, memelihara, sampai dengan memanen dan menjualnya. Melalui kegiatan belajar yang didampingi oleh beliau ini, maka materi perkuliahan menjadi mudah difahami dan tetap diingat, karena kami diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan secara langsung, sehingga dapat memahami dan menyimpulkan secara tepat.

Prof. Dwidjoseputro adalah juga sosok dosen yang sangat mahir atau ahli dibindang ilmu yang ditekuninya, khususnya bidang mikroBiologi. Pada saat dulu memberi kuliah, beliau menjelaskan satu persatu secara mendetail isi materi dalam buku, dengan runut sambil sebentar menutup mata menjelaskan secara morfologi bentuk sel bakteri, jamur, siklus hidupnya lengkap dengan gambarnya. Kami sangat mengagumi kepakaran beliau tentang ilmu yang dimilikinya karena di saat kami membuka buku mikologi yang membahas keanekaragaman jamur yang terdiri dari 5 kelas, banyak famili, apalagi lebih dari seratus spesies yang tersebar di bumi ini. Beliau begitu mudahnya menjelaskan secara detail dengan membawa sebatang kapur (a chalk) berdiri di depan papan tulis (blackboard) untuk memperjelas uraiannya. Secara runut satu persatu spesies dijelaskan mulai dari gambar morfologinya, siklus hidupnya, pergantian generasinya, dan sebagainya tanpa ada kesalahan. Benar saja ternyata penulis buku teks yang digunakan tersebut adalah beliau sendiri Prof. Dwidjoseputro.

Beliau juga menceritakan adanya perubahan pengelompokan jamur akan mengubah nama spesiesnya. Sebagai contoh adalah jamur oncom. Mula-mula, jamur ini digolongkan sebagai Deuteromycota dengan nama Monilia sitophila. Namun, ketika beliau melakukan penelitian dengan menumbuhkan jamur tersebut di berbagai media tumbuh, ternyata tumbuhlah spora yang ada di dalamnya. Spora ini yang akhirnya dikenal dengan askuspora, sehingga jamur oncom dapat melakukan reproduksi seksual dan menghasilkan askus. Oleh beliau jamur oncom dimasukkan ke dalam Ascomycota dan namanya diganti Neurospora sitophila.

Memang, pola mengajar dengan menjelaskan dan ceramah seperti ini barangkali sudah kurang sesuai dengan perkembangan zaman dan perubahan filososfi dan paradigm konstruktivisme dalam pendidikan dan pembelajaran. Namun demikian, cerita di atas menegaskan bahwa seorang dosen yang mengajarkan bidang ilmu tertentu harus mengusai dan menjadi pakar sekaligus penelitinya. Hal ini penting agar ada di antara mahasiswa yang dapat mencontoh kepakarannya dan meneruskan pengembangan ilmu di bidang tersebut.

 

PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DI KELAS

Prof. Dwidjoseputro senantiasa menyisipkan pendidikan karakter secara tidak langsung pada saat kegiatan belajar mengajar. Beliau selain datang tepat waktu pada jam kuliah, juga selalu memenuhi janji kepada kami, para mahasiswanya. Sebagai contoh, suatu ketika seorang teman penulis mengajukan suatu pertanyaan kepada Bapak Dwidjoseputro. Pada waktu itu beliau belum dapat menjawabnya dan beliau berjanji untuk mencari jawabannya serta akan menyampaikannya pada pertemuan selanjutnya. Pada pertemuan yang berlangsung seminggu kemudian, beliau menyampaikan jawaban atas pertanyaan teman penulis tersebut, padahal teman penulis tersebut telah lupa dengan pertanyaannya. Sikap yang dicontohkan oleh Bapak Dwidjoseputro tersebut merupakan karakter yang perlu dimiliki oleh setiap orang, terutama guru atau dosen dalam hal kesediaannya untuk menepati janji.

Pada kesempatan lain, kami ingat saat teman kami terlambat masuk kelas, ternyata alasannya masih belum selesai mengerjakan tugasnya padahal semalaman sampai tidak tidur mengerjakannya. Akibatnya teman tersebut di kelas tidak konsentrasi, sebentar ijin ke luar kelas alasan ke kamar kencing tapi ternyata sambil merokok. Begitu masuk kelas ketahuan aroma mulut baru merokok, ditanya oleh Pak Dwidjo “apakah Saudara merokok?” dia tidak bisa mengelak dan jawabannya “iya Pak, saya ngantuk”. Penulis ingat setelah mendengar jawaban teman tersebut, beliau tampak sangat peduli dengan keadaan teman kami ini. Beliau menghentikan diskusi kelas, dan beliau justru menasihati kami se kelas, dan berbicara panjang-lebar sekitar tentang perilaku mahasiswa yang sedang studi. Intinya, yang penulis rasakan adalah beliau dengan ikhlas merelakan waktu jam pertemuan hari itu digunakan untuk lebih menekankan pentingnya pendidikan karakter dibentuk sejak dini. Ketulusan beliau menasehati peserta didiknya tampak pada wajah yang ikhlas, suaranya tetap lembut, dan tidak sedikitpun ada bentakan ataupun menampakkan kemarahan. Beliau tetap menampilkan peran seorang pendidik profesional memberi nasehat kepada kami sambil menorehkan sebatang kapur ke papan tulis menuliskan kalimat bijak di papan tulis sebagai berikut: never put off until tomorrow what you can do today. Beliau setelah itu juga menanyakan artinya kepada kami sekelas. Namun, kami terdiam semua, entah karena kami memang tidak bisa atau mungkin karena kami merasa bersalah dengan tingkah laku teman kami sehingga hanya mendengarkan dan memperhatikan semua nasehat beliau. Beliau nampak maklum, nasehat tetap dilanjutkan dan arti kalimat tersebut dijelaskan. Arti kalimat tersebut: jangan menunda sampai besok, apa yang dapat kamu kerjakan hari ini. Begitulah pelajaran berharga yang dapat dipelajari dari beliau.

BUDAYA MENELITI DAN MENULIS

Dalam mengembangkan budaya penelitian, Prof. Dwidjoseputro banyak bercerita pengalaman penelitian dan mengaplikasi postulat Koch satu persatu sampai para mahasiswa mengerti, hafal dan dapat mempraktikkan tahapannya. Pada saat selanjutnya, para mahasiswa diberi tugas mengaplikasikan sendiri saat kuliah Mikologi, yaitu menerapkan penelitian untuk mengidentifikasi penyebab penyakit pada beberapa tanaman. Pertama, dicatat gejala kelainannya dan diiris jaringannya yang sakit. Kedua, diisolasi mikroorganismenya dengan menanamnya pada media tumbuh. Ketiga, hasil isolasinya mikroba dikembalikan ke tanaman yang sehat lagi sehingga muncul gejala yang sama dengan tanaman semula.

Kami para mahasiswa senantiasa diajak mendiskusikan hasil penelitian, banyak contoh cerita beliau yang intinya senantiasa memotivasi mahasiswa untuk belajar melakukan metode ilmiah yang benar. Sewaktu kuliah Mikologi, kami diajak kuliah kerja lapangan (KKL) ke lokasi pembuatan tempe di daerah Sanan, Malang, juga ke pabrik produksi jamur merang yang produksinya diekspor ke luar negeri yang berlokasi di Wonosobo. Sambil membimbing dengan akrab di perjalanan beliau menceritakan segala sesuatu kejadian dengan melihat langsung dan membahasnya seolah sebagai pemandu wisata, sehingga tanpa disadari justru model pembelajaran yang beliau terapkan inilah yang membawa kami menjadi sangat terkesan dengan pemodelan seorang pembimbing Mata kuliah mikologi yang mumpuni. Beliau terkadang menyisipkan materi pendidikan yang disebutkan sebagai metode belajar inkuiri-diskoveri yang sarat dengan kalimat filosofi.

Beberapa karya ilmiah yang berupa buku atau hasil penelitian telah dipublikasikan, anatar lain: Dasar-dasar MikroBiologi untuk Perguruan Tinggi (1962), Pengantar Genetika untuk Perguruan Tinggi (1965), Pengantar Fisiologi Tumbuhan untuk Perguruan Tinggi (1962, 1970, 1973), Sari Ilmu Kesehatan untuk SMA (1955, 1966, 1972), Repetitor Tubuh Manusia untuk SMA (1957, 1966, 1973), Ilmu Hayat untuk SMP (1971), Biologi SMA (1972), dan beberapa artikel dalam majalah dalam dan luar negeri, seperti: Microbiological studies of Indonesia fermented foodstuffs (Mycopathologia et Mycologia Applicata; Vol. 41, Fase 3-4, 1970). Selain itu beliau juga aktif sebagai anggota dan pengurus lembaga ilmiah, seperti: Sigma Xi, Perhimpunan Biologi Indonesia, Torrey Botanical Club, dan American Institute of Biological Science.

PROF. DWIDJOSEPUTRO IN MEMORIAM

Setelah mengabdi dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, Prof. dwidjoseputro wafat tahun 1990. Kami para sejawat dosen dan mahasiswa merasa sangat kehilangan sosok seorang guru besar yang ramah, sabar, displin, tertib, telaten dan patut menjadi teladan bagi kita semua. Beliau telah berhasil mendidik kami dengan baik sehingga menjadi pendidik yang professional. Kini para anak didik beliau telah melanjutkan tugas beliau menjadi guru atau dosen di berbagai instansi di seluruh Indonesia. Penulis telah mendapat banyak ilmu dan bekal sikap baik yang dicontohkan oleh beliau, baik semasa menjadi mahasiswa, kemudian penulis ditunjuk oleh beliau untuk menjadi asisten, dan sekarang menggantikan beliau menjadi salah satu dosen MikroBiologi di Jurusan Biologi FMIPA UM dan telah meraih Guru Besar di bidang MikroBiologi juga. Semoga sikap-sikap baik yang telah beliau contohkan dapat kita teladani dalam melaksanakan tugas kita sebagai pendidik. Terimakasih kepada Prof. dwidjoseputro yang telah berjasa memberikan ilmu, mendidik, dan memberi teladan yang baik kepada para anak didiknya. Kami akan melanjutkan tugas dan pengabdian beliau.

Sumber:

Disarikan dari naskah Pidato pengukuhan guru besar Prof. Dr. D. Dwidjoseputro, M.Sc., tanggal 22 September 1973, dan pengalaman para penulis sebagai mahasiswanya.

VISI STRATEGIS ‘GURU’ UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Oleh: Apif Miptahul Hajji, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D

Mengakselerasi Daya Saing dan Memperkuat Kemandirian

Untuk mengakselerasi perkembangan Universitas Negeri Malang (UM) menuju peningkatan daya saing internasional, diperlukan strategi pencapaian yang tepat. Strategi tersebut meliputi penguatan daya saing nasional, regional, dan kemudian internasional. Untuk memantapkan langkah tersebut, Rektor UM telah mencanangkan sebuah visi strategis masa kepemimpinan empat tahun ke depan (2015-2019) yang disebut sebagai Visi ‘GURU’.

GURU merupakan akronim dari kata ‘ung(gu)lan dan (ru)jukan’. Akronim tersebut mengacu pada visi strategis UM sebagai perguruan tinggi yang unggul dan menjadi rujukan. Akronim tersebut juga memiliki makna yang sangat mendalam dan strategis, baik ditinjau dari mandat, branding name, maupun dari visi dan arah perkembangan UM. Terkait dengan perannya sebagai LPTK, kata GURU sangat sejalan dengan mandate UM untuk mendidik dan menghasilkan guru. GURU juga menjadi salah satu pilar dari branding name UM sebagai ‘the Learning University’, yaitu identitas UM sebagai learning resource. Dalam perspektif visi dan arah perkembangan UM, akroinim GURU juga bermakna tempat berguru. Pada masa kepemimpinan empat tahun ke depan, dengan semangat visi GURU tersebut, sasaran minimal yang harus dicapai adalah mantapnya daya saing UM pada tingkat nasional dan regional. Dengan semangat GURU pula, pada tahun 2019 nanti UM diharapkan sudah menjadi perguruan tinggi rujukan dan unggulan di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Singkat kata, visi strategis GURU untuk tahun 2015-2019 harus mampu ‘Mewujudkan UM sebagai GURU Indonesia dan Asia Tenggara’.

Read More

Nyepi dalam Perspektif Pendidikan

Oleh I Nengah Partaimg_2617a

Nyepi merupakan salah satu tonggak sejarah dalam peradaban manusia yang meletakkan Fondasi Kedamaian, Kerukunan, Keharmonisan sebagai pilar kehidupan berbangsa. Melalui momen Nyepi ini, maka kehidupan beragama yang merupakan salah satu dimensi kehidupan perlu terus dipelihara, ditingkatkan, dan dikembangkan.

Untuk tujuan itu, maka Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang melalui Pusat Pegembangan Kerukunan Beragama (P2KB) Bidang Kerohanian Hindu melaksanakan seminar dengan Tema “Penggalian Nilai-Nilai Karakter, Pendidikan, dan Kebangsaan berdasar Ephos Mahabharata”.  Secara spesifik, tujuan dari seminar ini adalah; (1)  Mengembangkan formulasi yang ilmiah dalam penghayatan nilai-nilai agama sehingga tercipta suasana kehidupan yang berkesimbangan,(2) Mengembangkan perspektif penghayatan ke-Tuhan-an di era modern, sehingga tercipta masyarakat yang bersatu dalam keanekaragaman, dan (3) Menggali nilai-nilai ke-Tuhan-an yang dapat menjadi pilar dalam mengawal tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Acara ini dibuka oleh Ketua LP3 (Dr. Sulton, M.Pd) mewakili Rektor. Dalam sambutannya, Dr. Sulton, M.Pd menekankan tiga hal, yaitu; (1) kehidupan beragama tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk ritus-ritus keagamaan, (2) agama yang diyakini/dianut harus secara signifikan dapat menuntun manusia untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, (3) komunikasi/dialog keagamaan dalam kontek akademik dan dengan pendekatan ilmiah dalam lingkungan kampus perlu dikembangkan karena ini dapat mencegah masuknya paham radikal.

Read More

Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial