Category Archive Profil

Anton, Penggagas Smart Traffic Sign Games

Penulis: Salsabila Indana Zulfa

Anton Agus Setiawan, Merupakan alumni Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang (UM)

Jika berpendidikan adalah ibadah, maka berprestasi adalah dakwah sepenggal kata yang mengubah cara berpikir Anton Agus Setiawan yang saat ini telah menyandang gelar Sarjana Pendidikan itu. Anton adalah wisudawan berprestasi non-akademik pada wisuda ke-98 Universitas Negeri Malang. Berawal dari keinginan untuk membahagiakan dan meninggikan derajat kedua orang tuanya, Anton mulai termotivasi untuk menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di UM. Pada tahun 2017, Anton mulai bertekad untuk memberikan hadiah terbesar kepada orang tuannya, yaitu dengan ia berdiri di atas podium Pilmapres bersama kedua orang tuanya untuk menerima penghargaan. 

Read More

Mahasiswa UM Duta Anti Narkoba Kota Malang 2019

Malang. Prestasi UM terus menerus datang silih berganti. Mahasiswa mahasiswi tak pantang menyerah menggapai mimpi. Seorang mahasiswa UM, Liga Fernando baru saja meraih Juara 2 Duta Anti Narkoba Kota Malang 2019 pada Sabtu (06/04) di Auditorium Multikultural, Universitas Kanjuruhan Malang. Kompetisi yang digelar oleh BNN Kota Malang diikuti ratusan peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa se-Kota Malang.

Berawal dari kegemarannya aktif dalam beroganisasi di kampus, Liga termotivasi untuk terjun langsung mengabdi pada masyarakat. Duta Anti Narkoba Kota Malang 2019 merupakan salah satu wadah yang tepat baginya. Mengingat saat ini isu – isu  narkoba tengah hangat diperbincangkan oleh masyarakat. Disamping itu juga, angka pengguna narkoba terus bertambah setiap tahunnya, namun masyarakat masih diam karena kurangnya pengetahuan akan narkoba. Berangkat dari motivasi tersebut, Liga ingin berkontribusi dengan memberikan informasi, melalui penyuluhan dan sosialisasi untuk menekan jumlah pengguna narkoba khususnya di Kota Malang.

Pada saat berkompetisi, berbeda dengan kontestan lainnya yang hanya terfokus bagaimana cara pemberantasan dan penanggulangan narkoba, Liga tampil konsisten dengan mengangkat isu-isu narkoba pada anak-anak. “Dari awal itu mulai tes tahap pertama sampai karantina aku fokus dengan isu yang aku angkat yaitu anak – anak, karena saat ini narkoba sudah dikemas dengan cara yang lebih inovatif seperti di dalam kue-kue, coklat dan lain sebagainya.” Ujarnya.

Setelah menyabet juara 2 di ajang Duta Anti Narkoba Kota Malang 2019, Liga berharap agar kedepannya ia mampu menjalakan amanah dan tugas – tugas yang diberikan. “Aku ingin kita semua mampu mencapai cita-cita Indonesia Emas pada 2045. Jadi, mulai saat ini ayo kita siapkan anak – anak Indonesia dari sekarang agar mereka nanti tidak terjerumus pada narkoba. Sehingga, mereka dapat berkontribusi dalam pembangunan bangsa.” Tandasnya dengan mantap.

Pewarta : Salsabila Esya Kusdianti – Internship Humas UM

Luar biasa!! Mahasiswa UM Juarai PHAC 2019

Makassar. Berprestasi tiada henti harus selalu digaungkan oleh mahasiswa, termasuk salah satunya tim dari Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Universitas Negeri Malang (UM). Tim yang terdiri dari Fitri Khalimiah & Robi Aturrohmah (Kesehatan Masyarakat/2016) dan Zainur Ridho Wahyu Ismail (Kesehatan Masyarakat/2015)menjuarai Public Health Award Competition (PHAC) 2019. Kegiatan ini mengangkat tema “Menjawab Tantangan Polemik Kesehatan Dengan Kacamata Ungu“. Acara ini diselenggarakan pada tanggal (1-2/3) yang bertempat di Kampus II Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makasar.

Acara yang diselenggarakan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) menjadi serangkaian acara dari Munas (Musyawarah Nasional) 2019 yang diadakan setiap dua tahun sekali setelah sebelumnya diadakan di Universitas Airlangga pada tahun 2017. Acara ini bertujuan meningkatkan kemampuan di bidang karya tulis ilmiah dalam melihat permasalahan kesehatan yang ada disekitar, sehingga diharapkan kepekaan dari mahasiswa dapat meningkat.

Sebanyak 15 Finalis dari seluruh Indonesia berkumpul untuk memperebutkan juara dalam PHAC 2019Tim UM mempresentasikan karyanya tentang kepedulian generasi muda terhadap permasalahan penyakit tidak menular khusunya penyakit stroke dan solusi yang aplikatif dalam menangani permasalahan penyakit ini. Akhirnya, UM berhasil menjuarai lomba LKTI ini dengan diikuti juara 2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, juara 3 Universitas Sumatera Utara (USU), juara favorit Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Zainur Ridho Wahyu Ismail menjelaskan bagaimana pengalamannya ke UMI Makassar.

“Makassar menyenangkan, butuh proses panjang sampai bisa disini. Hasil tidak akan menghianati usaha, selama ada kesempatan sekecil apapun itu lakukan yg terbaik dan berjuanglah” ujar mahasiswa asal Situbondo ini.

Pewarta           : Nuri Riskian – Internship Humas UM

M. Faikar, Harumkan UM di Bulgaria

Muhamad Faikar Mustafidz Al Habibi menerima gelar kehormatan saat mengikuti IMC ke 23 di Bulgaria

Muhamad Faikar Mustafidz Al Habibi menerima gelar kehormatan saat mengikuti IMC ke 23 di Bulgaria

Harapan Muhamad Faikar Mustafidz Al Habibi mengharumkan nama Indonesia terwujud sudah. Faikar mempersembahkan Honorable Mention bersama empat wakil dari peruruan tinggi Indonesia lainnya, dalam International Mathematics Competition (IMC) ke-23, yang dilaksanakan di Kota Blagoevgrad-Bulgaria pada tanggal 25-31 Juli 2016.

“Tentunya, Saya sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam ajang IMC. Saya sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik, walaupun hanya Finish sebagai Honorable Mention”, papar putra sulung pasangan Akhmad Munir dan Istiqomah ini menjelaskan pengalamannya.

Lebih lanjut, Mahasiswa semester enam Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UM ini menyampaikan perjuangannya berkompetisisi menye-lesaikan soal-soal aljabar, geometri, analisis, dan kombinasi bersama sekitar 320 mahasiswa dari lima puluh negara.

“Perlombaan diselenggarakan selama dua hari. Pada hari pertama mengerjakan lima soal dalam waktu lima jam. Bisa dibayangkan tingkat kesulitannya”, tambah pria penghobi catur dan rubiks cube ini.

Sebelumnya, dalam ajang Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ONMIPA-PT) yang diselenggarakan 23 s.d 27 Mei 2016 lalu, Mahasiswa kelahiran Sidoarjo, 2/2/1995 meraih perunggu. Kemudian dari hasil seleksi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ditjen Belmawa Kemenristek Dikti), dirinya lolos dan ditunjuk sebagai wakil Indonesia dalam percaturan IMC ke-23, bersama sembilan mahasiswa lainnya dari lima perguruan tinggi, yaitu UGM, ITB, UI, UM, dan UNAIR.

Pelaksanaan Olimpiade Nasional MIPA sendiri melalui proses tiga tahap. Tahap pertama (09 Februari s.d 07 Maret 2016) peserta Olimpiade menjalani seleksi di perguruan tinggi masing-masing, tahap kedua dilakukan seleksi di wilayah/regional.

“Keberhasilan ini tidak mungkin Saya dapatkan tanpa dukungan usaha, dan doa dari keluarga, buah bimbingan para dosen, dan dukungan dari civitas akademika UM, serta tentunya merupakan kehendak Allah SWT” ungkap bangga pria relegius ini

IMC merupakan salah satu kompetisi matematik yang bergengsi di dunia. Kompetisi ini telah dilaksanakan selama 23 tahun dengan peserta lebih 200 institusi dari 50 negara.

Penulis : Suhardi

Alumni UM Sukses Pasarkan Hasil Penelitian

Namanya Sutikno. Guru yang berpenampilan kalem hobi meneliti ini lulusan IKIP Malang. Pria tiga anak ini mempunyai ketertarikan mengembangkan probiotik untuk dikomersialkan, ternyata hasilnya luar biasa. Hal inilah yang mengantarkan dia menjadi pengusaha sukses di Malang.

Sutikno, S.Pd., M.M

Sutikno, S.Pd., M.M

Saya bekerja sebagai Guru, disela-sela bertugas sebagai guru saya tidak berhenti berinovasi dalam hal apapun. Ketika saya belum seperti sekarang ini, dulu tidak pernah bekerja hanya satu macam, atau tidak hanya mengajar saja. Saya selalu mempunyai pekerjaan sampingan.Pada akhirnya saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melakukan penelitian di bidang probiotik. Untuk menghasilkan probotik itu, jalannya cukup berliku.

Saya mulai penelitian tahun 2003, kemudian pertengahan tahun 2003 sudah menghasilkan produk tetapi masih belum stabil. Kemudian saya teruskan sampai dua tahun, baru produk itu layak untuk dijual.

Perkembangan selanjutnya, saya memasarkan sendiri produknya, sepulang saya mengajar senin sampai Sabtu. Sabtu sore saya memasarkan sendiri ke Tulungagung dan Minggu sore saya kembali lagi ke Malang. Begitu seterusnya, jadi saya bekerja tujuh hari dalam seminggu. Syukur alhamdulillah di Malang ini ada orang yang berminat untuk membeli produk saya, disitulah omset saya makin hari makin meningkat. Omsetnya sekarang sudah cukup besar sehigga dapat menambah penghasilan yang cukup lumayan bagi kami.

Hal yang penting bagi saya bahwa, “dalam hidup ini kita harus selalu berusaha jangan hanya berpikir satu bidang usaha saja, akan tetapi bidang bidang yang lain juga. Mainset sukses itu harus dimiliki oleh setiap lulusan Perguruan Tinggi, khususnya UM Perguruan Tinggi yang berbasis pendidikan.” Mereka kalau hanya mengandalkan penghasilan dari mengajar saja, mungkin kehidupannya tidak jauh berbeda dengan guru-guru yang lain.

Saya mempunyai kepekaan di bidang penelitian, dalam pengembangan diri saya mengikuti seminar-seminar. Seminar-seminar yang saya ikuti seperti; seminar entrepreneur, pemberdayaan diri, dan seba-gainnya. Usaha saya yang tidak pernah lelah itu meningkatkan kemampuan, dan pada akhirnya membuahkan hasil.

Hasilnya sekarang ini, saya mampu membiayai dua orang anak yang masih kuliah. Anak yang pertama kuliah di Universitas Brawijaya semester tiga, yang kedua kuliah di Australia juga semester tiga. Karena anak saya ini lahirnya hapir bersamaan selisih satu tahun, yang satunya mengikuti program akse-lerasi lulusnya bersama. Anak yang satu lagi masih kelas dua SMAN 3 Malang.

Berdasar pengalaman ini, saya mengajak para lulusan UM semuanya saja, jangan hanya mengandalkan penghasilan dari mengajar saja. Akan tetapi waktu yang dimiliki digunakan semaksimal mungkin, untuk hal yang luar biasa, bisa melakukan penelitian, menulis buku, atau mencoba entrepreneur.

Memanfaatkan sela-sela waktu kerja di sekolah, tentu masih ada waktu untuk mengembangkan diri. Kalau para alumni UM melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan pasti memberi jalan, asalkan jangan putus asa. Ibarat jalan ada rintangan batu kerikil. Apabila usaha kita jatuh bangkit lagi sampai akhirnya anda meraih sukses.

Seperti yang dikatakan Andiwongso “suskes adalah hak saya, saya pun begitu“ sukses adalah hak saya sehingga kalau saya mau semuanya bisa diwujud. jadi kalau saya mau berhasil harus berusaha. Saya bangun lebih pagi dari pada orang lain dan saya bekerja lebih keras, itu kuncinya.”

Bagi adik-adik yang masih kuliah, ketika masih menempuh studi, sudah harus memikirkan apa saja yang akan anda lakukan setelah lulus. “Jangan hanya tex book oriented, atau hanya memepelajari ilmu murni. Pelajarilah ilmu yang praktis guna mendukung kehidupan kita, untuk mencapai kesejahteraan.

Kalau kita hanya belajar ilmu itu saja maka, pengalaman terbatas. Kalau kita mempelajari ilmu yang praktis, dan menerapkannya, maka Saudara bisa mejadi pengusaha yang bisa menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kita dan orang lain.

Produk saya probiotik ini bermanfaat bagi industri tambak udang, industri ikan air tawar, juga industri peternakan ayam. Dengan menggunakan probiotik ini, kesehatan dari hewan-hewan yang dipelihara bisa terjamin dan bisa panen lebih baik.

Udang yang dipelihara di tambak ini rentan terhadap kematian karena serangan penyakit penyakit. Akan tetapi dengan menggunakan probiotik ini kematian dapat dicegah. “Oleh karena itulah saya mengajak para lulusan UM untuk berusaha, jangan hanya bertumpu menjadi pengajar atau bekerja di satu bidang saja, akan tetapi berfikirlah ke bidang lain yang lebih menantang.”

Sukses itu berawal dari impian. Impian yang jelas, sejelas mungkin. Tulislah impian itu dalam urutan prioritas yang penting bagi anda. Tulislah impian-impian anda dalam kertas kemudian kejarlah mimpi itu dan jangan berhenti berusaha dan berdoa. “Berdoalah dan yakinlah Tuhan akan mengabulkan permintaan anda.”

Penulis: Budiharto

Etatok Rindang Karjo, S.KomEtatok Rindang Karjo, S.Kom

Berkarya untuk UM dan Bangsa

Etatok Rindang Karjo, S.Kom
(Juara I Tenaga Kependidikan Berprestasi UM)

Semangat dan motivasi yang tinggi dalam bekerja sebagai tenaga kependidikan pada Subag Akademik dan Evaluasi dalam Biro Akademik Kemahasiswaan Perencanaan Informasi dan Kerjasama (BAKPIK) Universitas Negeri Malang adalah hal utama yang terlihat dari seorang Etatok Rindang Karjo. S.Kom. Pria yang lahir di kota Malang pada 6 Februari 1971 memulai pendidikannya di bangku kuliah dan lulus pada tahun 2001 dengan menyandang gelar Sarjana Komputer.

Berbagai macam bidang pekerjaan pernah ditekuninya mulai dari bidang developer, konsultan hingga menjadi tenaga kependidikan Universitas Negeri Malang pada tahun 2000. Memulai mengabdikan diri sebagai Tenaga kependidikan (Tendik) pada awal karir nya sebagai pelaksana di Fakultas Sastra pada tahun 2000 hingga 2006 kemudian berlanjut sebagai pembantu Pimpinan Fakultas Sastra dan Subbag Pendidikan dan Evaluasi pada tahun 2006-2007 dilanjutkan sebagai pembantu Pimpinan pada Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pengajaran (LP3) Universitas Negeri Malang (UM) tahun 2012 serta kembali bekerja sebagai pembantu Pimpinan dalam Subbag Akademik dan Evaluasi pada 2013 hingga sekarang menjadikan Etatok sebagai Tendik yang matang dalam bidang pekerjaannya.

Pria yang menikah pada tahun 2002 dan kini dikaruniai dua orang anak yang kini duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Taman Kanak-Kanak (TK) ini memiliki beberapa riwayat dalam proses pendidikan dan pelatihan yang telah diikutinya, mulai dari Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Gol II tingkat Jawa Timur tahun 2000, Pendidikan dan Pelatihan Administrasi Akademik Angkatan I di Pusbangtendik Sawangan Depok tahun 2013, Pelatihan Web Design Full Package bertempat pada INIXINDO Surabaya tahun 2007 hingga memperoleh Sertifikat Lulus Ujian Nasional Keahlian Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tingkat dasar yang diberikan oleh Universitas Diponegoro tahun 2014 membuat seorang Etatok mantap dalam melangkahkan kakinya sebagai Tendik Berprestasi tingkat UM.

Ketika ditanya oleh reporter Swara Pendidikan saat wawancara, bagaimana etos kerja, integritas diri dan peranan sosial dalam kerjasama dan komunikasi sebagai tenaga kependidikan, Etatok sebagai seorang tenaga kependidikan profesional Universitas Negeri Malang (UM) menjawab dengan lugas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh reporter, “Dalam hal etos kerja yang biasa saya lakukan, terlebih dahulu mengenali diri sendiri kemudian mengasah kelebihan yang dimiliki dan memperkecil kelemahan dengan bercermin dengan orang sekitar lingkungan, mempelajari hal-hal baru yang dapat meningkatkan kemampuan demi mempermudah pekerjaan serta melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati sehingga dapat memperlancar pelayanan terhadap pimpinan, dosen, karyawan yang membutuhkan pelayanan saya di Subbag Akademik dan Evaluasi dengan target pekerjaan untuk menyelesaikan segala macam pekerjaan dengan sebaik-baiknya, sebisa mungkin mencari cara yang mudah, cepat, dan tepat”. Selanjutnya Etatok sebagai seorang tenaga kependidikan profesional yang telah mengabdikan diri selama 15 tahun ini pun menambahkan. “Dalam hal integritas diri, saya selalu bertanggung jawab dengan segala macam hal yang telah saya lakukan. Demikian juga jika diberi tugas oleh pimpinan saya harus bisa menyelesaikan dan mengerjakan sesuai dengan yang diperintahkan dengan cara yang benar serta ketepatan waktu yang selalu saya perhatikan. Kemudian dalam konteks peranan sosial, dalam setiap melaksanakan pekerjaan saya akan selalu berhubungan dengan orang lain/rekan kerja sehingga membutuhkan komunikasi yang baik serta kemampuan khusus dalam berkoordinasi. Saya adalah seorang yang sangat mudah dalam menjalin kerjasama dengan rekan kerja sehingga dalam kegiatan-kegiatan tertentu saya selalu menjadi koordinator”. Meskipun dalam pekerjaannya sehari-hari ada beberapa kendala dasar yang dirasakan Etatok sebagai tenaga kependidikan, seperti infrastruktur atau fasilitas yang kurang lengkap dalam melakukan pekerjaan. Namun, hal tersebut tidaklah dijadikan kendala yang menjadi penghambat dalam menyelesaikan sebuah tugas melainkan dijadikan sebagai tantangan tersendiri bagi Etatok untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, mudah, dan tepat.

Lakukan yang terbaik untuk UM dan bangsa adalah sebuah statement lugas dan tepat yang dilontarkan oleh seorang Etatok sebagai Tendik berprestasi UM dalam wawancaranya bersama reporter Majalah Swara Pendidikan terkait dengan prestasinya sebagai Juara I tenaga kependidikan Universitas Negeri Malang (UM) tahun 2015. Rasa bahagia dan bangga yang dirasakan Etatok sebagai peraih juara I tenaga kependidikan UM serta berhasil terpilih dari ratusan bahkan ribuan Tenaga Kependidikan lainnya di UM menjadi motivasi tersendiri bagi dirinya untuk terus mempertahankan etos kerja yang dimilikinya saat ini agar terus meningkatkan semangat kerja pada hari-hari selanjutnya.(Ozy)

 

Tags,

Prof. Dr. Supartinah Pakasi

Impian Supartinah Pakasi: Mewujudkan Manusia Indonesia yang Pancasilais dan Berkemampuan Membangun Tanah Air Melalui Pendidikan Dasar

Oleh: Abdus Syukur Ghazali

Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Prof. Dr. Supartinah PakasiBertolak dari keprihatinan terhadap rendahnya mutu pendidikan, yang menurut Ibu Pakasi dipicu oleh sistem pendidikan Belanda yang menginginkan iuarannya adalah manusia yang “tunduk, patuh, setia, dan taat kepada majikan, khususnya pendidikan dasar, Supartinah Pakasi merasa tertantang untuk melakukan suatu usaha mengenai hal ini. Keprihatinan tersebut menjadi embrio bagi lahirnya SD Laboratorium IKIP, sekarang bernama SD Negeri Percobaan 1 Malang, yang didirikan oleh Prof. Dr. Supartinah Pakasi pada tahun 1968. Tahun 1973 berubah nama menjadi Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) dalam binaan IKIP Malang. Kemudian turun SK Mendikbud No. 027/V/1986, yaitu tentang pengelolaan sekolah yang melaksanakan perintisan pendidikan dialihkan pengelolaannya kepada Kantor Wilayah Propinsi Jawa Timur.

SD Laboratorium IKIP Malang sejak berdirinya sampai sekarang secara berturut-turut dikepalai oleh:

Prof. Dr. Supartinah Pakasi, SD Lab IKIP Malang (8 Tahun) 1968-1973

Drs. Samsul Arifin, SD PPSP (5 Tahun) 1973–1976

Dra. Tatik Romlah, SD PPSP (5 Tahun) 1976–1980

Dra. Sidik Wantjana, SD PPSP (5 Tahun) 1980–1987

Drs. S.K.Y. Darsana, SDN P 1 (6 Tahun) 1987–1995

Titit Sunasita, S.Pd. SDN P (6 Tahun) 1995–2002

Mutini, S.Pd SDN P 1 2002–sekarang

Kemudian turun SK Mendikbud No. 0707/P/1986, tentang penegerian SD Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Malang, menjadi SD Negeri Malang dalam binaan Kanwil Depdikbud Propinsi Jatim.

Tahun 1987, turun SK Mendikbud No. 0757/O/1987, tentang penegerian 4 (empat) SD propinsi Daerah Istimewa Yokyakarta (DIY) dan perubahan keputusan Mendikbud No. 0326/0/1978 dan No. 0707/P/1986, SD Negeri Malang menjadi SD Negeri Percobaan Malang dalam binaan Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Timur.

Selanjutnya, dengan berlakunya OTODA, SDN Percobaan di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Malang. Keputusan Walikota Malang No. 138 tahun 2004 tanggal 17 Maret 2004, tentang penetapan perubahan kelembagaan SD Negeri Percobaan menjadi SD Negeri Percobaan 1 Kota Malang.

SD Laboratorium IKIP Malang, oleh kalangan luar, lebih dikenal sebagai Sekolah Laboratorium Ibu Pakasi (SLIP) karena sekolah ini dipimpin oleh Prof. Dr. Supartinah Pakasi. Sekolah yang didirikan pada tahun 1967 yang dimulai dari pendirian Taman Kanak-kanak dan pendidikan dasar. Sekolah ini disebut juga SD 8 tahun karena memberikan pendidikan dasar setingkat SMP dalam waktu delapan tahun. Sekolah ini menarik perhatian baik pendidik dari dalam dan luar negeri.

Namun apa yang telah dibangun Ibu Pakasi harus diberhentikan tahun 1974 karena harus mengikuti program baku pemerintah dalam bentuk Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP). Sedangkan proyek ini belum pernah dipastikan berhasil atau tidak, namun Ibu Pakasi harus menenggelamkan usahanya yang bertahun-tahun nyata keberhasilannya dan teruji efektivitasnya. Hal ini merupakan intervensi yang berlebihan dari pemerintah dan patut disesalkan.

***

Berdirinya SD Laboratorium IKIP Malang dipicu oleh munculnya kebutuhan kultural dan keperluan akan adanya orang-orang yang cakap untuk membangun tanah air. Prof. S. Pakasi merasa memperoleh dorongan yang sangat kuat untuk memperbaiki mutu sekolah-sekolah yang ada, terutama pendidikan dasar. Kebangkitan bangsa sesudah berakhirnya penjajahan tiga setengah abad lamanya menuntut adanya filsafat pendidikan yang mempunyai otensitas untuk mewujudkan cita-cita dan aspirasi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bebas dan merdeka yang memiliki filsafat hidup dan filsafat pendidikan yang asli Indonesia.

Oleh karena filsafat hidup bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka pendidikan di Indonesia mestinya berasaskan Pancasila sistem pendidikan dibangun harus memasukkan semua nilai Pancasila, yaitu: (1) Ketuhanan yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab; (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakiIan, dan (5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

PERLUNYA PEMUSATAN USAHAKEPADAPENDIDIKAN DASAR

Dengan tegas Prof. S. Pakasi, Ph.D. menyatakan bahwa hingga kini Indonesia gagal menyadari besarnya dampak nilai pendidikan dasar yang diperoleh anak (elementary schooling) serta pengaruh-pengaruhnya “berdaya-resap” (persuasive) kuat terhadap pertumbuhan ekonomi. Pengaruh-pengaruh tersebut terlihat dengan jelas baik di negara-negara berpenghasilan tinggi maupun berpenghasilan rendah. Hasil-hasil penelitian oleh Hanson, Schoup serta kawan-kawan dan Klinov–Maiul menunjukkan bahwa kesempatan kerja (learning opportunities) bagi orang-orang yang tidak menyelesaikan pendidikan 8 tahun di negara-negara berpendapatan tinggi memang kurang sekali. Akan tetapi di negara-negara berpenghasilan rendah jumlah keuntungan (rate of return) yang diperoleh dari usaha menyelesaikan pendidikan 6 tahun ternyata besar, jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan itu. Jumlah keuntungan ini di Venezuela dalam tahun-tahun 1957–1958 mencapai 80-100 persen setahun. Juga terdapatlah praanggapan bahwa bagi negara-negara ini “hasil” (payoff) terbaik dari pendidikan, dipandang dari segi pendapatan dan pendidikan, ialah pendidikan yang lebih baik dan lebih banyak.

Data statistik dari Dep. P dan K (Kompas, 1 April 1972), menunjukkan bahwa di tahun tersebut terdapat 12.805.000 murid pada sekolah-sekolah dasar, sedangkan anak-anak berusia sekolah berjumlah 22.430.000 orang. Berarti dari anak-anak berusia sekolah hanya 50% lebih sedikit yang bersekolah, dan dari jumlah ini 60-70% putus sekolah sebelum mencapai kelas VI.

Prof. S. Pakasi meyakini bahwa peranan guru Indonesia menjadi sangat penting di masa pembangunan negara dan bangsa ini. Guru diharapkan tidak hanya menjadi guru kelas yang efektif, melainkan juga sebagai seseorang yang berani meninggalkan tradisi-tradisi dan nilai-nilai masa kini dan masa lampau yang merintangi kemajuan pribadi dan kemajuan bangsa. Guru hendaknya memprakarsai perbaikan dan perubahan bilamana perbaikan dan perubahan diperlukan untuk menyelesaikan tugas nasional. Karena itu, kesadaran bertanggung jawab, keberanian, daya cipta, sifat luwes (flexibility), kerja sama kelompok dan kepemimpinan mesti dirangsang dan dikembangkan. Guru hendaknya didorong untuk mempraktekkan teori, untuk mengembangkan kekuatan berfikir yang produktif dan menggunakan intelektualitasnya secara fungsional.

Hal penting yang selalu ditekankan oleh Ibu Pakasi ialah tentang perlunya perubahan sikap guru terhadap anak didiknya, bahwa guru hendaknya menyadari bahwa tugasnya ialah menuntun anak mencapai pengembangannya yang optimal, sekalipun ada kekuatan-kekuatan dalam dan luar yang menentang. Guru hendaknya juga memelihara kesanggupan dan keinginan anak untuk mengembangkan upaya-upaya yang baik demi kemajuan tanah airnya. Pada waktu yang sama, guru hendaknya juga menyadarkan anak bahwa ia hidup dalam suatu masyarakat dunia dan dalam persahabatan antara bangsa-bangsa. Singkatnya, guru SD Indonesia harus bersifat militan dan tekun terhadap tugasnya. Apa pun rintangannya, ia mesti selalu ingat bahwa tanggung jawabnya adalah memberikan pertolongan kepada anak untuk menemukan jalan hidupnya sebagai warga negara yang sehat, berguna dan hidup layak.

ALASAN PERLUNYA PERUBAHAN BAGI PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA

Prof. Supartinah Pakasi melihat paling sedikit ada dua fungsi pendidikan dasar di Indonesia. Pertama, sebagai penyelenggara, baik pendidikan akhir maupun pendidikan persiapan. Kedua, sebagai tempat pengembangan sumber daya manusia (agency for human resource development), karena 60-70 persen dari murid-murid akan putus sekolah.

Ketika melihat lebih dekat SD di Indonesia, kita dengan segera melihat bahwa pelaksanaan program pendidikan masih didasarkan pada filsafat pendidikan dan psikologi belajar yang lama. Lingkungan belajar tidak merangsang dan menantang murid. Dinding kelas hampir tandus, dan jika ada gambar pada dinding, biasanya gambar itu tergantung terlalu tinggi bagi anak sehingga tidak dapat dinikmatinya, dan jarang sekali gambar itu diganti dengan gambar lain. Macam tempat duduk murid dan penyusunannya di kelas merupakan tanda bahwa disiplin yang keras yang berlaku di kelas. Pemakaian alat-alat bantu-mengajar dan belajar (instructional materials) lebih banyak dilihat sebagai pemborosan waktu daripada ditanggapi sebagai usaha untuk mempermudah terjadinya tanggapan dan pengertian (percepts and concepts), pengembangan ketrampilan motorik dan penguatan (reinforcement) perilaku sosial pada anak. Kurikulum sekolah merupakan daftar mata pelajaran yang dipenggal-penggal menjadi beberapa bagian, bersifat intelektual dan dalam pelaksanaannya meletakkan titik berat pada penguasaan sejumlah fakta. Mata pelajaran terlalu banyak diajarkan untuk kepentingan mata pelajaran itu sendiri dan bukan sebagai ilmu, sebagai teknik atau sebagai kebudayaan. Tidak banyak perhatian diberikan kepada pengembangan sikap ilmiah anak, kepada pengembangan kemampuan untuk mempergunakan ilmu dan ketrampilan yang telah diperoleh, dan kepada pengem-bangan nilai-nilai intelektual, sosial dan kultural.

Bukanlah bahan pelajaran yang disesuaikan dengan anak, melainkan si anak yang mesti menyesuaikan diri dengan bahan pelajaran. Bahan yang akan dipelajari anak sudah ditetapkan secara ketat, dan dibagi-bagi menurut tahun-tahun ajaran.

Kondisi Anak Didik sebelum SD Lab

Ibu Pakasi melihat bahwa ada kesalahan bersikap Guru terhadap siswa. Guru selama ini hanya mempunyai perhatian terhadap mata pelajaran atau bahan-bahan pelajaran, tetapi guru tidak sadar akan peranan murid dalam proses mengajar dan belajar. Hampir seluruh usaha mengajar ditujukan kepada pengembangan intelek saja, pengembangan emosional dan sosial seakan-akan dibiarkan saja untuk berlangsung dengan sendiri tanpa campir tangan guru. Si anak tidak dipandang sebagai individu yang khas, unik. Semua anak dalam kelas dipandang sama tanpa memperhitungkan latar belakang sosial–ekonominya, kemampuan-kemampuan dan potensi-potensinya, pengalaman-pengalamannya yang lampau, dan keadaan lingkungan tempat ia hidup dan tumbuh, anak ditempatkan di kelas I, kelas II, kelas III. Kemajuan anak diukur dengan keberhasilannya untuk memenuhi norma-norma kelas. Konsep tentang perbedaan-perbedaan individual, walaupun dikenal oleh kalangan guru, tidak pernah dikaitkan dengan pekerjaan mengajar.

Guru SD dan Cara Mengajar sebelum SD Lab

Karena kekurangan buku pelajaran guru terpaksa menggunakan sebagian besar waktunya untuk mengajari menuliskan bahan pelajaran di papan tulis, yang akan disalin oleh murid untuk dihafal. Tidak adanya buku penuntun bagi guru dan kurangnya pengetahuan guru tentang mengajar dan tentang nilai dari alat-alat pembantu mengajar menyebabkan pekerjaan menghafal dan berlatih pada pihak murid menjadi inti dari proses pendidikan di SD sebelum era SD Lab. Juga, pengetahuan guru tentang perkembangan anak tidak memadai dan pengetahuannya tentang teori belajar terlalu bersifat teoretis, sehingga pengetahuan tidak dapat digunakannya dalam prosedur-prosedurnya mengajar.

Di dalam proses belajar mengajar, ada pengetahuan dipindahkan kepada murid, akan tetapi tidak cukup ia mempersiapkan murid-murid untuk suatu masyarakat yang cepat sekali berubah, suatu gejala yang menyolok dalam dua dasawarsa akhir ini di Indonesia. Pekerjaan mengajar sebagian besar ditujukan kepada menghafal tanpa berfikir. Menghafal itu memang diperlukan, akan tetapi lebih banyak yang hendaknya dikerjakan oleh guru untuk menjadikan fakta-fakta yang dihafal itu menjadi suatu latar belakang yang berguna untuk pemecahan persoalan-persoaIan dengan cara yang efektif (Problem-based Learning). Banyak sekali dari fakta-fakta yang dihafal itu terletak terlalu jauh dari pengalaman-pengalaman seharihari dan tidak relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masa depan.

Guru tidak cukup berkemampuan untuk membawa murid kepada prestasi tertingginya. Kehidupan sekolah tidak cukup merangsang dan menantang kegairahan anak untuk belajar. Di dalam seluruh kehidupan sekolah, gurulah yang paling penting dan paling aktif, karena ialah yang memikirkan, Ia yang merencanakan dan Ia yang menetapkan. Belajar dan bertumbuh dipaksakan (imposed) dari luar oleh kekuatan-kekuatan luar, sehingga tidak ada yang dapat dikatakan tumbuh dengan wajar dan spontan pada anak.

Dalam keadaan seperti ini, mengherankan bahwa kebanyakan anak-anak di Indonesia pendidikannya, kurang dari semestinya. Menurut pendapat kami, satu di antara persoalan-persoalan besar yang dihadapi Indonesia sekarang ialah pendidikan dan latihan guru sekolah dasar.

Pengembangan Sumber-sumber Daya Manusia (human Resource Development)

Definisi tentang pengembangan sumber daya manusia terdapat dalam buku Harbison dan Meyers “Education, Manpower and Economic Growth”, berbunyi sebagai berikut: “…proses memperbesar jumlah pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan dari semua manusia dalam sebuah masyarakat”.

Prof. Supartinah mengembangkan sumber-sumber daya manusia: (1) Pendidikan formal tingkat pertama (“First level education”) atau pendidikan di Sekolah Dasar, (2) latihan dalam lingkungan perusahaan (on the job training), (3) pengembangan diri sendiri (selfdevelopment), (4) memperbaiki program-program kesehatan dan memperbaiki gizi dalam makanan, hal-hal yang memperbesar daya kerja manusia, diukur baik dengan “manhours” (“jumlah” pekerjaan dilakukan oleh satu orang dalam satu jam) maupun dengan seluruh pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manusia selama hidupnya. Dengan menggunakan definisi Harbison dan Meyers tentang pengembangan sumber-sumber daya manusia, dapatlah pendidikan dasar di Indonesia melaksanakan bagiannya dalam pendidikan anak-anak bangsa Indonesia ke arah pengembangan sumber-sumber daya manusia.

Adakah SD Kita Bekerja Menuju Tujuan-tujuan Pendidikan Kita?

Jikalau tujuan pendidikan adakah merealisasikan semua potensi-potensi yang ada pada anak untuk menjadikan dia seorang manusia dan warganegara yang efektif dalam pekerjaannya, mempunyai rasa tanggung jawab dan bersedia memikul tanggung jawab serta bersikap demokratis, hendaknya sekolah merupakan tempat yang khusus, yakni tempat untuk tumbuh dan berkembang, bagi anak. Adakah kepada anak di tempat ini diberikan kesempatan untuk berkembang sejalan dengan sifat-sifat dasarnya, dengan kemampuannya, minat-minatnya dan dengan kecepatan (rate) perkembangannya? Adakah kita memberikan kesempatan kepada kepribadiannya untuk berkembang dengan sehat melalui hubungan-hubungan yang konstruktif dengan orang-orang lain atau dengan kelompok? Adakah kita memberikan kepada anak perasaan bahwa ia diterima oleh teman-temannya atau termasuk dalam kelompok bersama-sama dengan teman-temannya? Adakah kita memenuhi keinginannya untuk diakui dan dihargai sebagai manusia?

Jikalau kita menginginkan anak menjadi manusia yang hidup dan berpedoman pada asas-asas demokrasi, adalah kita mengajarkan kepadanya apa arti kebebasan dan bagaimana menggunakan kebebasan? Adakah kita mengajarkan anak berfikir secara ilmiah dan kritis, agar dapat ia membuat pilihan yang baik dan mengambil keputusan yang baik untuk kemudian dapat memikul tanggung jawab terhadap pilihan dan keputusannya sendiri? Adakah kita mengajarkan anak untuk mendahulukan kepentingan-kepentingan kelompok dari kepentingan diri sendiri?

Jika anak itu hendak menjadi manusia yang sadar akan tanggung jawabnya terhadap kesejahteraan bangsa dan tanah air, adakah kita mengajarkan kepadanya untuk bekerja sama dengan orang lain, menerima dan memikul bersama tanggung jawab untuk memperbaiki hidup bangsa? Jika kita menghendaki anak peka terhadap persoalan-persoalan sosial, adakah kita di dalam kelas dan sekolah meletakkan dasar bagi usaha pengembangan hubungan-hubungan manusiawi? Adakah kita mengajarkan kepada anak bagaimana menikmati hidup, belajar dan bekerja dengan orang-orang lain? Jika kita menghendaki anak jadi sadar, bahwa ia hidup dalam masyarakat dunia dan sadar bahwa dalam masyarakat ini persahabatan merupakan hal yang amat penting, adakah kita dengan sengaja menanamkan padanya pengertian dan sikap positif terhadap bangsa-bangsa lain?

SD LAB IBU PAKASI

Ibu Pakasi mendirikan SD Laboratorium IKIP Malang dengan dituntun oleh konsep-konsep dan nilai-nilai di bawah ini:

  • konsep tentang anak sebagai makhluk Tuhan,
  • konsep tentang anak sebagai individu yang unik (unique), mempunyai sifat-sifat yang khas bagi dirinya,
  • konsep tentang kemajuan (dalam studi) yang berlangsung terus menerus (continuous progress),
  • konsep bahwa pendidikan merupakan suatu proses sosial, mengingat bahwa, pertama, anak lahir tidak berdaya, kedua, bahwa ia lahir dengan berbagai macam kebutuhan, dan ketiga bahwa ia bersifat kooperatif, dan organismenya sangat plastis serta dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor di dalam lingkungan hidupnya,
  • konsep tentang pentingnya pertumbuhan bahasa bagi keseluruhan dari per-kembangan anak dan bagi perkembangannya yang lebih tinggi, konsep bahwa anak harus dididik sampai perkembangannya optimum tercapai,
  • konsep bahwa anak hendaknya dididik untuk menjadi warganegara yang baik, dan menjadi orang dewasa yang menjalankan hidupnya dengan, berpegang pada Pancasila, konsep bahwa anak hendaknya memasukkan ke dalam jiwanya nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat yang lebih luas,
  • konsep tentang adanya kebutuhan pada manusia akan suatu prestasi yang tinggi (need of high achievement),
  • konsep tentang kebebasan berdisiplin,
  • konsep bahwa “proses-proses kelompok” (group processes) mempunyai nilai dalam usaha belajar,
  • konsep tentang nilai kerja (the value of labour),
  • konsep tentang identiflkasl dalam pendidikan, melalui suatu pandangan dan penghargaan yang sehat tentang diri sendiri,
  • konsep bahwa manusia mempunyai rasa tanggung jawab terhadapkepentingan bersama,
  • dan konsep tentang pentingnya hubungan antara manusia.

Akan tetapi bagaimana melaksanakan atau mewujudkan konsep-konsep dan nilai-nilai ini dalam kelas merupakan persoalan pertama dan terbesar yang kami hadapi di dalam tahun-tahun pertama berdirinya sekolah laboratorium.

Persoalan kedua yang terpaksa diatasi oleh Ibu Pakasi ialah bagaimana mengusahakan supaya guru mendapat pengertian tentang “konsep baru” dalam pendidikan. Bagi guru, pemahaman ini berarti bahwa tugasnya bukanlah mengajarkan mata pelajaran, melainkan mengajar anak tidak mengajarkan bahan pelajaran, melainkan mengajarkan pengetahuan, pengertian, apresiasi, nilai, dan sikap kepada anak, dengan maksud agar anak memperoleh kesanggupan untuk bekerja guna perkembangannya lebih lanjut.

Persoalan ketiga yang dihadapi oleh Ibu Pakasi ketika mendirikan SD Lab ialah bahwa realisasi konsep-konsep dan nilai-nilai ini tidak dapat dilaksanakan tanpa menyelesaikan persoalan-persoalan lain yang menyangkut seluruh proses pendidikan. Dengan kata lain, bahwa hanya dengan suatu pendekatan yang komprehensif dapatlah tujuan itu dicapai.

Oleh sebab itu, eksperimen yang dikerjakan oleh Prof. Supartinah bukanlah hanya “sepotong” eksperimen saja, misalnya, suatu eksperimen untuk mengetahui apakah suatu cara (metoda) tertentu tentang pekerjaan membagi dalam berhitung akan lebih berhasil atau tidak. Eksperimen yang dijalankan itu akan melibatkan semua komponen yang mempengaruhi seluruh proses pendidikan, dan melibatkan seluruh sekolah. Eksperimen ini sampai bulan Agustus 1973, sudah berjalan lima tahun sejak bulan Januari 1968, dan bergerak maju sampai proses penilaian, perbaikan (revision) dan penghalusan (refinement).

Prof. Supartinah mengakui bahwa eksperimennya dijalankan atas dasar asumsi-asumsi tanpa menggunakan sebuah “control group” khusus. Namun, hasil-hasil eksperimen dapat dilihat dengan jalan membandingkan sekolah laboratoriumnya dengan sekolah-sekolah lain yang “tidak mengalami pembaharuan dan perbaikan”.

CIRI KHAS SD LAB IBU PAKASI

Kebebasan yang Berdisiplin

Ibu Pakasi menjalankan SD Lab dengan disiplin. Beliau meyakini bahwa tanpa disiplin tidak ada pekerjaan dapat diselesaikan, tidak ada usaha dapat dijalankan, tidak ada perilaku manusia dapat diramalkan dan tidak ada keamanan bagi makhluk manusia dapat dijaga (safeguard). Oleh karena itu, di dalam pendidikan anak-anak kita, martabat dan harkat manusia, aktivitas-aktivitas mendidik dituntun dan diarahkan pada kebebasan berdisiplin (disciplined freedom), suatu kebebasan yang di dalamnya dimasukkan (incorporate) disiplin.

Untuk mewujudkan keyakinannya tersebut, Ibu Pakasi melihat bahwa satu-satunya cara untuk mengusahakan agar anak dapat menjunjung tinggi disiplin semacam ini ialah menciptakan situasi belajar dan situasi kerja yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengalami disiplin ini dan bertindak atau berbuat seperti kita menghendaki anak itu berbuat.

Untuk mencapai kondisi berdisiplin, Sekolah Laboratorium menciptakan hal-hal seperti tersebut di bawah ini

  • Peta disiplin (discipline chart)

Peta ini berfungsi sebagai petunjuk untuk perilaku yang benar. Ia merupakan sebuah daftar yang memuat hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh anak. Daftar ini disusun bersamasama oleh semua guru.

  • Studi bebas

Studi bebas diharapkan dapat berfungsi sebagai alas untuk mengembangkan kemampuan mengarahkan diri (selfdirection), mendisiplinkan diri (selfdiscipline), menguasai diri (selfcontrol), menolong diri dengan kekuatan sendiri (selfhelp), mengandalkan diri (selfreliance) dan menyibukkan diri (selfactivity). Di kelas-kelas tinggi studi bebas terutama digunakan untuk mengembangkan daya inisiatif, memperbesar kemampuan diri (individualability) dan mengembangkan kesanggupan bekerja dalam kelompok. Dalam studi bebas murid bekerja mandiri atas prakarsa dan tanggung jawab sendiri. Ia bebas memilih aktivitas atau pekerjaan yang akan ia lakukan.

  • Perpustakaan

Untuk membangkitkan hasrat membaca dan cinta kasih akan buku, Ibu Pakasi percaya bahwa anak dan buku harus dipertemukan secepat mungkin dalam kehidupan anak di sekolah. Mulai di kelas I, terutama dalam tiga atau empat bulan pertama ketika si anak berada dalam proses belajar membaca, bahan bahan bacaan khusus (reading charts) dikembangkan atau disusun oleh guru untuk menyokong proses terjadinya kepandaian membaca. Usaha ini dijalankan untuk memperkaya pengalaman-pengalaman belajar anak dan menantang kemampuannya untuk mengatasi kesulitan dalam menghadapi huruf-huruf dan asosiasi-asosiasi baru. Sangat mengagumkan melihat betapa cepat berlangsungnya proses belajar membaca ini, disebabkan oleh kegiatan-kegiatan belajar tersebut. Anak-anak gemar sekali menghadapi perkataan perkataan baru dan membacanya dengan kekuatan sendiri. Mereka gemar bekerja menggunakan “lemari huruf” untuk menyusun perkataan-perkataan mereka sendiri. Dengan demikian belajar membaca dan mengeja merupakan suatu kegembiraan bagi anak-anak ini, dan dengan demikian pula kemampuan membaca dan mengeja diperkuat (reinforced). Jelaslah kiranya bahwa kegiatan-kegiatan belajar ini mempunyai pengaruh yang baik terhadap disiplin anak dan sikapnya terhadap sekolah dan hal belajar.

Kebiasaan mendapatkan buku dan membaca, setelah menyelesaikan tugas dengan kebiasaan ini SD Lab ingin mengajarkan kepada murid-murid bagaimana memanfaatkan waktu senggang.

  • Lingkungan belajar yang “kaya”

Banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan oleh anak dan menyebabkannya jadi amat sibuk, sehingga tidak ada peluang baginya untuk menjadi jemu dan nakal yang menimbulkan masalah bagi guru. Ia bebas untuk menetapkan sendiri apa yang akan ia kerjakan, tetapi sekali ia memilih haruslah “melekat” pada kegiatan yang dipilihnya sampai pekerjaannya selesai. Guru akan membantu bilamana bantuannya diperlukan, sehingga anak tidak perlu menjadi ragu-ragu dalam membuat pilihan.

Hal tersebut di atas ini dijalankan dengan maksud mengajarkan kepada anak pengertian dan penghargaan terhadap kebebasan. Hal yang diyakini oleh Ibu Pakasi ialah bahwa hanya apabila anak pada usia muda mulai belajar menghargai kebebasan dan belajar memanfaatkan kebebasan yang ia peroleh, dapatlah ia memahami arti, bahwa kebebasan bukanlah surat izin, melainkan “ada kebebasan, ada tanggung jawab”.

Pengelompokan murid menurut prestasi (achievement grouping) dan kemajuan terus menerus (continous progres). Prof Supartinah percaya bahwa tidak ada dua orang anak yang sama dan bahwa tiap anak mempunyai sifat-sifatnya yang khas, SD Lab tidak mengajar anak-anak sekelas sebagai satu kelompok, khususnya karena diketahui bahwa perbedaan-perbedaan tidak hanya ada antara dua orang anak (perbedaan–perbedaan inter–individual), melainkan terdapat juga bentuk perbedaan-perbedaan prestasinya dalam berbagai mata pelajaran (perbedaan-perbedaan intra–individual).

Ruang kelas memberikan juga kesempatan kepada anak-anak untuk bekerja dan belajar bersama-sama di dalam sebuah kelompok karena cukup banyaklah hal yang dapat dikerjakan bersama, banyak alat belajar dipakai bersama, dan banyak situasi “dialami” (share) bersama. Ruang untuk bergerak dan bermain tersedia. Berkomunikasi dibolehkan, asal tidak mengganggu anak-anak lain.

Pengalaman-pengalaman di dalam kelompok mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan sosial, oleh karena anak mendapat kesempatan untuk menunjukkan harganya atau harkatnya dan merasakan dirinya “penting”. Ia merasa terhisap dan terpakai di dalam kelompok, karena sumbangannya diterima dan diakui oleh kelompok. Anak belajar berdisiplin, belajar memaksakan disiplin kepada diri sendiri untuk menyelesaikan bagiannya dalam tugas bersama yang merupakan tanggung jawab seluruh anggota kelompok. Ini merupakan disiplin yang dikembang kan sendiri oleh anak demi kepentingan kelompok, tetapi juga demi kepentingan dan kepuasan pribadi sebagai anggota kelompok.

Alat-alat Pelajaran

Alat-alat pelajaran disusun sendiri dengan cara yang mudah dan murah. Cara memakai alat-alat itu sederhana, tetapi dilihat dari segi fungsi sangat efektif, dan bagi murid dan guru banyak memberikan “ganjaran” (rewarding). Dengan menggunakan alat-alat itu mudah sekali anak mendapat pengertian dan menangkap konsep, dan ia memperoleh kesempatan untuk berlatih sebanyak ia butuhkan, tanpa menghalangi kemajuan kelas atau kelompok. Karena banyaknya variasi dalam alat-alat ini dan adanya banyak tingkat perkembangan, si anak sempat berganti-ganti kegiatan dan dengan demikian tidak mudah menjadi jemu.

Ada pula alat-alat yang dapat dipakai oleh regu, dan apabila regu-regu sudah terlibat terjadilah suasana bersaing yang menyebabkan kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan dan menantang.

Perpustakaan

Tiap kelas mempunyai perpustakaan sendiri. Di sinilah buku dan murid dipertemukan. Perpustakaan telah menjadi sumber kegembiraan bagi murid dan suatu bagian yang penting dari pada kurikulum sekolah laboratorium. Anak-anak makin lama makin menjadi sadar tentang pentingnya peranan perpustakaan dalam pendidikan mereka. Mereka telah mengerti bahwa buku adalah sumber ilmu pengetahuan dan kawan di waktu luang.

Anak-anak SD Lab gemar sekali membaca buku komik, akan tetapi dengan bertambahnya apresiasi mereka terhadap buku yang baik, nampaklah bahwa membaca buku komik berkurang. Akan tetapi SD Lab tetap menyadari bahwa tidak semua buku komik buruk. Yang menyebabkan keprihatinan kami ialah bahwa membaca buku komik dapat menimbulkan keengganan membaca buku yang baik, karena membaca buku baik memakan waktu dan memerlukan konsentrasi. Telah diusahakan untuk memperkecil minat anak terhadap buku komik dengan maksud untuk menjaga agar kegemaran dan ketrampilannya membaca tidak akan kehilangan nilai sosialnya dan nilai kulturalnya.

Ibu Pakasi yakin bahwa kegiatan-kegiatan perpustakaan ini telah memainkan peranan penting dalam pertumbuhan bahasa anak-anak SD Lab. Karena kegiatan-kegiatan ini juga kualitas majalah dinding telah menjadi lebih baik dan makin lama makin banyak murid menyumbangkan “artikel” mereka kepada majalah sekolah “Derap”, suatu majalah bulanan yang seluruh kegiatan produksinya berada di tangan murid-murid.

Lima tahun action research menunjukkan bahwa perpustakaanlah yang merupakan modal (asset) yang paling berharga bagi sekolah laboratorium dan potensi paling besar untuk melayani kebutuhan-kebutuhan individual anak dan mendorong kemajuan yang berlangsung terus menerus, serta merangsang kemauan dan usaha untuk mencapai prestasi yang tinggi. Dapat dikatakan bahwa tanpa perpustakaan tak banyak dapat dikerjakan guna menjaga kemajuan anak terus menerus dan mencapai pertumbuhan yang paling tinggi baginya (ultimate growth).

Studi bebas

Dengan studi bebas diinginkan supaya hal-hal berikut dapat tercapai:

  • Karena banyak sekali aktivitas yang dapat dijalankan oleh anak, maka ia bebas untuk memilih. Akan tetapi ia hanya dapat memilih bila ia mengetahui apa yang hendak ia kerjakan. Jadilah belajar mengarahkan diri, menjadi selfdirective. Bila anak telah memilih, ia musti mengikatkan diri pada aktivitas pilihannya, dan ia musti menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum selesai tidak boleh ia meninggalkan pekerjaan. Jadi anak belajar memusatkan perhatian, belajar berkonsentrasi, belajar menghadapi dan mengatasi kesulitan-kesulitan. Dengan cara-cara ini anak belajar mengendalikan diri: menolong diri.
  • Anak-anak belajar menyesuaikan diri dengan tuntutan keadaan. Ia harus menunggu, karena alat yang ingin ia pakai kebetulan sedang dipakai anak lain. Pada peristiwa lain ia menghentikan bacaannya untuk sementara guna memberikan kesempatan kepada teman untuk membaca buku yang sedang ia pakai. Jadi anak-anak mengetahui bahwa tidak boleh mereka memonopoli alat-alat belajar. Mereka harus menggunakan bersama alat-alat itu mereka harus memperhatikan dan mengindahkan kebutuhan dan keinginan anak lain. Jadi kepekaan sosial dikembangkan.

Bagi Ibu Pakasi, telah terbukti bahwa studi bebas mempunyal arti yang penting sekali dalam pembentukan kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai dan sikap sebagai modal (assets) bagi kepribedian anak dan dalam membantu anak menjadi manusia sebagaimana kita kehendaki. Hasil-hasil pendidikan yang ada hubungannya dengan perangai anak (behavioral outcomes) mungkin nampak sebagai hal-hal yang remeh, tetapi kami percaya bahwa atas dasar konsep-konsep inilah anak-anak akan membangun konsep-konsep dan nilai-nilai sosial yang matang.

  • Kemajuan terus menerus (continuous progress) dan Pengelompokan menurut prestasi (achievement grouping).

Untuk melayani perbedaan-perbedaan individual yang terdapat di antara murid-murid sebuah kelas, murid-murid pada sekolah laboratorium dibagi dan ditempatkan ke dalam tiga kelompok: ke kelompok I, murid-murid yang cepat, ke kelompok II, yang sedang, dan ke kelompok III, murid-murid yang lambat dalam belajar. Pengelompokan hanya dijalankan untuk pelajaran-pelajaran bahasa: membaca, bahasa dan dikte (menulis tepat) dan pelajaran-pelajaran berhitung: berhitung angka, berhitung soal dan mencongak.

–  Bekerja dalam kelompok sebagai sarana untuk memperoleh sikap kepekaan terhadap orang lain.

Murid-murid kami harus belajar bekerja dengan kekuatan sendiri (independently) untuk memelihara kepercayaan dan andalan terhadap diri sendiri. Masing-masing dari mereka harus mengenal diri, harus mengenal kemampuan-kemampuannya, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya untuk memperoleh konsep tentang diri sendiri dan kesediaan untuk menerima diri sendiri. Hanya apabila kita mengenal diri sendiri dapatlah kita mengenal dan memahami orang lain. Dan hanya apabila kita mengenal diri sendiri dapatlah keadaan menerima diri mempermudah usaha kita dalam berurusan dengan orang lain dan membantu kita dalam mengidentifikasi diri dengan orang lain. Akan tetapi gambaran tentang diri sendiri, positif atau negatif, tergantung pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam bergaul dengan orang lain.

Maka untuk memperoleh pengalaman seperti ini perlu sekali bahwa anak-anak belajar bekerja sama dan belajar bersama-sama dengan anak-anak lain. Di dalam kelompok mereka harus meninjau suatu persoalan dari berbagai sudut dan belajar mempertimbangkan dan menerima pendapat orang lain. Dengan jalan demikian mereka belajar berfikir dan bertindak secara demokratis. Dalam pekerjaan kelompok kita mengharapkan anak-anak dapat mengembangkan suatu kepekaan terhadap orang lain dan permintaan-permintaan atau tuntutan-tuntutan orang lain. Mereka belajar berfikir bahwa pendapat dan inisiatif tidak selalu berasal dari mereka, dan menyadari bahwa ada pula “suara orang lain”. Juga diharapkan dari mereka bahwa, apabila mereka menjadi dewasa, pikiran mereka akan lebih lentur (flexibel), mereka lebih bersikap terbuka terhadap hal-hal baru, pendapat-pendapat baru, inovasi, singkatnya mereka lebih bersikap terbuka terhadap perubahan. Dilengkapi dengan sikap “other-directedness”, kebutuhan akan suatu pencapaian atau prestasi yang tinggi akan menjadi sumber bagi perkembangan optimal mereka.

Dengan mengambil bagian dalam pekerjaan kelompok si anak belajar memikul tanggung jawab terhadap bagiannya di dalam seluruh tugas kelompok. Tanggung jawab ini diperlukan sebagai pendorong untuk bekerja sebaik mungkin. Hanya apabila seluruh anggota kelompok bekerja sebaik mungkin, dapat diharapkan bahwa hasil pekerjaan kelompok akan baik dan memberikan kepuasan dan kesenangan. Di sinilah anak-anak belajar dengan serempak menghargal hal bekerja dalam kelompok dan menghargai nilai atau harkat dan pentingnya individu.

  • Kenaikan kelas otomatik (automatic promotion)

Sejak tahun 1970 digunakan kenaikan kelas otomatik di kelas I, II dan III. Retensi (retention; peristiwa tidak naik kelas) mulai dijalankan di kelas IV. Kebijaksanaan ini kami jalankan lebih banyak untuk kepentingan anak-anak yang lambat dalam belajar dari pada anak-anak sedang dan cepat.Kami merasa bahwa hasil belajar yang rendah berasal dari berbagai sumber. Satu di antaranya ialah I.Q. rendah, sedangkan kini I.Q. dianggap sebagai dasar yang lemah untuk memperkirakan hasil belajar anak. Menahan anak di kelas I, II, dan II merupakan suatu hal yang sedapat mungkin hendaknya dihindarkan.

Metodologi Mengajar

Di sekolah laboratorium diusahakan supaya anak meninggalkan teknik belajar yang dalam bahasa asing disebut “rote learning”, yaitu menghafal bahan-bahan pelajaran secara mekanis, “tanpa berpikir”. Ini tidak berarti, bahwa murid samasekali tidak lagi menghafal. Jiwa manusia memerlukan fakta-fakta tertentu dalam keadaan siap sedia, yang segera mesti dapat diingat untuk dapat dipakai sebagai bahan berfikir. Fakta-fakta itu meski dihafal oleh anak satelah ia memahami artinya. Diusahakan agar murid terlibat dalam proses belajar, dalam arti bahwa ia berlaku aktif, dan untuk ini guru menciptakan situasi belajar yang memungkinkan keterlibatan murid itu.

Untuk mencapai tujuan ini kami berusaha mengajarkan kepada guru bagaimana menggunakan metoda-metoda yang menyokong

  • usaha belajar melalui struktur (bahan pelajaran),
  • pembentukan sikap ilmiah, terutama dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam,
  • pengembangan kecakapan memecahkan persoalan-persoalan, usaha memperoleh konsep
  • penemuan dan pemeliharaan minat dan bakat dalam bidang-bidang bahasa, kesenian, pendidikan jasmani, kerajinan tangan,
  • pembentukan (instillment) kebiasaan-kebiasaan belajar yang baik untuk digunakan dalam studi lebih lanjut,
  • pengembangan ketrampilan-ketrampilan akademik dalam usaha “belajar untuk mengetahui bagaimana (manusia) belajar” (learning how to learn).

Guru (berketrampilan) khusus untuk matapelajaran Kesenian, Pekerjaan Tangan, Musik, Pendidikan Jasmani dan Bahasa Inggris

Kami berpendapat, bahwa, dengan menggunakan guru-guru berketrampilan khusus (specialized teachers) untuk matapelajaran kesenian, pekerjaan tangan, musik, pendidikan jasmani dan bahasa Inggeris, hasil dan pekerjaan (performance) yang lebih baik dapat dicapai dalam mata pelajaran tersebut. Di sekolah laboratorium kami guru-guru khusus mengajarkan mata pelajaran tersebut.

–  Pengajaran Bahasa

Berdasarkan asumsi-asumsi yang dinyatakan di bawah ini telah disusun sebuah metoda belajar membaca dan menulis. Sekaligus diajarkan membaca dan menulis karena membaca dan menulis merupakan dua aspek dari satu persoalan.

Asumsi-asumsi yang dimaksud ialah:

  • metoda yang baik dapat mempercepat proses belajar membaca dan menulis.
  • kemampuan membaca mempermudah pertumbuhan bahasa.
  • kemampuan membaca dan penguasaan bahasa merupakan dasar belajar lebih lanjut.

Metoda yang tersebut di atas itu disusun tahun 1967, bernama “Belajar Membaca dan Menulis dengan I’in dan A’an” dan sejak tahun 1968 dipakai di kelas I SD Lab. Metoda itu telah membuktikan kebenaran asumsi-asumsi yang dipakai untuk menyusunnya.

Hal-hal tersebut di bawah ini menunjang pengajaran-pengajaran bahasa:

  • Intensifikasi penggunaan perpustakaan terdapat di semua kelas, dan di kelas VI, VII dan VIII penggunaan perpustakaan terintegrasi dengan seluruh pengajaran bahasa.
  • Tes perpustakaan diberikan untuk meneliti, mengevaluasi dan membimbing bacaan murid.
  • Kesalahan-kesalahan yang dibuat murid-murid dalam tes per-pustakaan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa kami dikumpulkan dan digolong-golongkan. Berdasarkan kesalahan-kesalahan ini telah disusun sebuah daftar yang memuat kurang lebih 300 pokok (items), yang kami pakai untuk pembuatan-pembuatan tes diagnostik untuk SD Lab.

–  Pengajaran Berhitung/Matematika.

Dapat dikatakan bahwa pengajaran berhitung di SD di Indonesia terdiri atas penghafalan fakta-fakta dan cara-cara pemecahan hitungan soal. Murid dilatih bekerja dengan angka dan bilangan dan melakukan prosedur-prosedur pengerjaan pokok (fundamental operations) dalam berhitung, tetapi pada umumnya pelaksanaan prosedur-prosedur ini berlangsung dengan cara mekanis, karena tidak didasarkan pada pengertian tentang mengapa demikian, dan harya pada penghafalan fakta tentang bagaimana caranya.

Berdasarkan asumsi bahwa struktur pengertian dan konsep dapat memperlancar usaha belajar tentang berhitung dan penguasaan prosedur-prosedur dalam berhitung, telah kami susun buku-buku teks untuk dipakai oleh murid-murid SD Laboratorium kami guna mencapal tujuan-tujuan pengajaran berhitung.

Usaha selanjutnya untuk menjadikan pengajaran berhitung lebih berarti (meaningful) bagi anak telah mendorong Ibu Pakasi untuk “memodernisasi” metode matematika dengan jalan memasukkan asas-asas utama matematika modern ke dalam buku-buku teks. Asas-asas ini disampaikan dengan suatu cara tertentu sehingga guru-guru bahkan tidak sadar bahwa mereka berurusan dengan konsep-konsep baru.

–  Pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam

Pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD di Indonesia untuk sebagian besar terdiri atas kegiatan-kegiatanmenghafal fakta dan pada umumnya gagal dalam usaha mengembangkan sikap ilmiah pada anak serta menanamkan kesadaran tentang hubungan anak dengan dunia fisik.

Dalam mengajarkan ilmu pengetahuan slam pada Sekolah Laboratorium kami guru-guru berpegang pada sebuah buku tuntunan, berjudul “Pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada TK dan SD kelas I, II dan III”, yang kami susun berdasakan teori Bruner tentang hal belajar melalui struktur.

Atas dasar hal-hal yang disebut berikut ini, yaitu, pertama, asumsi bahwa usaha belajar itu berlangsung melalui pengertian tentang struktur materi pelajaran, kedua, penggunaan pola penyusunan kegiatan-kegiatan belajar yang berbentuk spiral, dan ketiga, penggunaan pendekatan ekologis dalam menentukan pokok-pokok atau unit-unit bahan pelajaran yang akan diajarkan, kami berharap bahwa tujuan pengajaran ilmu pengetahuan alam akan dapat dicapai.

Dengan menggunakan pendekatan struktural dalam mengajar ilmu pengetahuan alam, bahkan anak kelas I SD dapat memperoleh pengertian tentang struktur dunia fisik yang mengelilinginya. Dengan jalan eksplorasi, diskusi, mempelajari gambar-gambar dan mengerjakan ekiperimen-eksperimen sederhana dapatlah anak melihat komponen-komponen dari suatu susunan teratur atau struktur dunia fisik. Apa yang mula-mula kacau dan membingungkan berdikit-dikit menjadi tersusun atau sistematis.

Di dalam ruang kelas terdapat “sudut Ilmu Pengetahuan Alam”, dipelihara sendiri oleh murid-murid. Ada benda (makhluk) hidup di dalamnya. Benda hidup ini dimaksudkan untuk membangkitkan jiwa positif terhadap suka memelihara lingkungannya.

–  Ilmu Pengetahuan Sosial

Dalam bidang pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial inovasi yang dikerjakan oleh Sekolah Laboratorium kami amat terbatas. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya bahan pelajaran untuk murid, terutama di kelas-keles lebih tinggi. Namun kami beranggapan, bahwa mengajarkan IPS masih dapat diperbaiki, dan oleh sebab itu kami menyediakan petunjuk-petunjuk atau penuntun bagi guru agar dapat ia memikirkan dan merencanakan bentuk kegiatan-kegiatan belajar serta menjadikan pengajarannya lebih banyak mengandung arti bagi anak.

Ada terkandung maksud untuk menjalankan “unit teaching”, suatu bentuk metodologi yang indah karena ia banyak, melibatkan anak ke dalam proses mengajar dan belajar, tetapi hal ini masih menunggu pelaksanaan.

Mengenai kualitas dapat dikatakan, bahwa pengajaran IPS pada Sekolah Laboratorium kami sedikit lebih rendah dari pada pengajaran-pengajaran bahasa, berhitung, ilmu pengetahuan alam dan kesenian.

Kami memasukkan ke dalam kurikulum IPS apa yang dalam bahasa asing disebut “current events” untuk kelas VI, VII dan VIII, agar murid-murid dapat mengikuti gerak zaman.

–  Pengajaran Kesenian/Keralinan Tangan, Musik dan Pendidikan Jasmani

Pengajaran dalam bidang-bidang ini dipegang oleh guru-guru yang mendapat didikan khusus untuk memberikan pengajaran ini (specialized teachers). Dengan demikian diharapkan adanya perbaikan hasil pengajaran pada pihak murid, pula dengan pengharapan bahwa bakat dan minat dapat dibangkitkan dan dipelihara.

–  Bahasa Inggris

Disebabkan oleh keluhan yang banyak terdengar tentang penguasaan bahasa Inggris oleh mahasiswa pada perguruan tinggi, kami memberikan pengajaran bahasa Inggris mulai dari kelas III, tanpa mengganggu pengajaran bahasa Indonesia. Pengajaran bahasa Inggris diberikan tiga jam seminggu oleh seorang guru berijazah sarjana muda bidang pengajaran bahasa Inggris.

–  Pekerjaan Rumah

Pekerjaan rumah merupakan bagian dari kurikulum mulai dari kelas I. Pekerjaan rumah, sekalipun hanya berlangsung sepuluh menit bagi anak yang muda sekali usianya dimaksudkan sebagai sarana untuk membentuk kebiasaan belajar, dengan harapan bahwa kebiasaan ini menjadi suatu kebutuhan.

–  Kerapian dalam Pekerjaan Tulis

Murid-murid kami berikan kesadaran bahwa, kerapian dalam semua pekerjaan tertulis sangat diperlukan. Untuk menolong murid mengusahakan kerapian dalam tulisannya, di kelas-kelas rendah mereka menggunakan buku tulis bergaris horisontal dan vertikal (chequered).

Kami berharap bahwa kerapian yang diperoleh dalam pekerjaan menulis dapat berpindah ke prilaku anak.

GURU-GURU

Salah satu dari komponen-komponen yang menentukan berhasil tidaknya pendidikan pada sebuah sekolah ialah guru. Guru SD Lab berijazah SPG, yang pada waktu memulai pekerjaan pada SD laboratorium, mempunyai pengalaman kerja yang bervariasi antara 0 dan 6 tahun.

Mereka mempunyai keinginan besar untuk belajar, tetapi terialu banyak yang mesti mereka pelajari pada tahun-tahun permulaan. Pekerjaan mereka berat, karena hampir tidak ada bahan-bahan tertulis yang dapat mereka pakai sebagai pegangan, kecuali satu dua buku tentang bagaimana mengajarkan suatu matapelajaran. Pekerjaan berat ini ditambah lagi dengan gaji yang terlalu rendah untuk menjadi dorongan kuat guna berusaha memperoleh hasil yang baik dalam pekerjaan. Tidak dapat kami mengharapkan dari mereka suatu “performance” profesional yang bermutu tinggi, karena tidak sanggup mereka berbuat demikian. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh untuk menolong mereka agar dapat diharapkan hasil dari pekerjaan mereka ialah memenuhi ketubuhan-kebutuhan mereka yang berkaitan dengan pekerjaan mereka.

Sebagai guru mereka membutuhkan pimpinan, pimpinan yang cakap dan jujur. Sebagai manusia mereka membutuhkan :

  • seorang kepala sekolah yang menaruh perhatian terhadap mereka.
  • seorang kepala sekolah yang mengerti bahwa mereka membutuhkan pengakuan, penerimaan dan penghargaan,
  • perasaan telah berhasil, telah mencapai suatu prestasi, rasa puas dan bangga.
  • suatu tantangan dan kesempatan untuk belajar, untuk mencobakan, untuk membuat kesalahan dan mengalami kegagalan bila perlu,
  • tuntunan, kecaman yang positif dan koreksi,
  • penilaian, teguran, pujian,
  • pertolongan dalam mengembangkan keyakinan bahwa mereka mampu melaksanakan dan menghasilkan suatu pekerjaan yang baik,
  • pengalaman pertumbuhan profesional,
  • keyakinan bahwa kepala sekolah bekerja juga untuk kepentingan dan kesejahteraan mereka,
  • suatu suasana kerja yang hangat, mengandung pengertian, kasih dan kerja sama.

Jika saja kepala sekolah mau memperhatikan, bahwa guru-guru merupakan makhluk manusia yang mempunyai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan serta kebutuhan-kebutuhan, guru-guru akan bersedia melakukan segala sesuatu yang diperlukan bagi pendidikan untuk mencapai suatu hasil yang berarti.

Untuk memperbaiki kecakapan mengajar guru-guru, SD Lab mengusahakan adanya pertumbuhan profesional pada mereka dengan menyusun beberapa buah tulisan, yaitu:

  • Buku tuntunan mengajar guru
  • Buku tuntunan mengajarkan membaca dan menulis permulaan, berhitung, IPA, bahasa
  • Brosur-brosur tentang studi bebas, pengelompokan murid menurut prestasi, kenaikan kelas otomatis, perpustakaan, arti alat-alas pengajaran, dll.
  • Brosur-brosur tentang pembaharuan pendidikan dan pengajaran pada sekolah laboratorium kami dan tentang keadaan pendidikan pada masa ini.
  • Kurikulum SD 8 tahun, dilengkapi dengan silabus.

Perkumpulan Orang Tua Murid Dan Guru (POMG)

POMGSD Lab adalah:

  • kerja sama yang baik antara sekolah dan POMG. Campur tangan POMG dalam persoalan-persoalan teknis mengenai pendidikan tidak dibenarkan.
  • Tidak dibenarkan orang tua menyediakan pengajaran tambahan bagi anak mereka oleh guru, baik guru Sekolah Laboratorium maupun guru dari luar.
  • Jika guru Sekolah Laboratorium memberikan pengajaran tambahan, tidak boleh ia meminta bayaran dari orang tua untuk hal ini. Pemberian pengajaran tambahan hendaknya berlangsung atas inisiatif guru sendiri. Biasanya hal seperti ini berlaku dengan anak-anak yang dipindahkan dari sekolah lain.
  • Orang tua diberi nasihat untuk mengikuti kebijaksanaan sekolah dalam hal menjaga disiplin dan ketertiban.
  • Orang tua diharapkan membantu sekolah dalam hal mengawasi anak-anak sehubungan dengan studi mereka.
  • Orang tua diharuskan mengevaluasi dengan sungguh-sungguh perkembangan prilaku anak-anak mereka, seperti dinyatakan dalam buku laporan kemajuan belajar. Dengan tindakan demikian, SD Lab berusaha mengadakan penyesuaian antara pandidikan di sekolah dan pendidikan di rumah.
  • Orang tua dinasehati untuk menghadiri pertemuan-pertemuan POMG dengan tetap. Semacam hukuman diberikan kepada mereka yang tiga kali berturut- turut tidak menghadiri pertemuan, misalnya berbentuk penolakan permintaan bagi anak berikut untuk menjadi murid Sekolah Laboratorium.
  • Orang tua dilibatkan dalam hal pengambilan suatu ketetapan tertentu, misalnya, ketika akan memasukkan pengajaran bahasa Inggris ke dalam kurikulum.
  • Laporan tentang kemajuan belajar diberikan tiga kali dalam setahun. Buku laporan disampaikan kepada orang tua dalam suatu pertemuan antara orang tua dan guru kelas. pertemuan ini memberikan kesempatan kepada orang tua untuk berbicara dengan guru kelas tentang hal belajar anak. Setelah pembicaraan dengan guru kelas selesai, diadakan pertemuan POMG untuk membicarakan hal-hal tertentu mengenai pendidikan di Sekolah Labora torium.
  • Orang tua murid-murid kami mengambil bagian dengan cara aktif dalam usaha-usaha untuk memperlancar berlangsungnya kegiatan-kegiatan kurikulum ekstra.

Kami percaya bahwa hanya bilamana ada anggapan sebagai pasangan (partner) sekolah dari pihak orang tua terdapatlah kepastian bahwa pendidikan yang diperoleh anak di sekolah dapat mempengaruhi pendidikan di rumah, bahwa pendidikan di rumah dapat dicocokkan dengan pendidikan di sekolah.

EVALUASI

Evaluasi eksternal

Suatu evaluasi yang bersifat resmi (formal) tidak pernah dibuat. Beberapa pejabat Unesco, Bank Dunia dan UNDIP beserta rombongan pernah datang mengunjungi Sekolah Laboratorium dan beberapa dari sekolah-sekolah proyek Ibu Pakasi. Demikian juga dilakukan oleh pejabat Unicef. Sudah beberapa kali diadakan survey yang berlangsung dua hari lamanya, tetapi laporan resmi tentang hasil survey tidak pernah kami terima, kecuali sebuah laporan mengenai survey yang dibuat oleh Dr. Beeby (Unesco).

Ibu Supartinah Pakasi percaya bahwa pengunjung-pengunjung dari luar negeri mempunyai pendapat yang bersifat positif sekali terhadap Sekolah Laboratorium. Ribuan pengunjung (guru, penilik sekolah, pejabat pemerintah, mahasiswa, dosen perguruan tinggi, berasal dari seluruh pelosok tanah air datang untuk melihat sekolah “in operation” dan untuk berbicara dengan kami. Banyak datang berkunjung untuk satu hari, tetapi ada yang datang untuk beberapa hari guna belajar, dan ada yang datang untuk dua minggu guna mengadakan observasi, studi, diskusi dan “belajar”. Dan pengunjung-pengunjung masih saja mendatang, ada yang untuk kedua atau ketiga kali.

Bagi Ibu Pakasi kedatangan pengunjung yang begitu banyak merupakan indikasi bahwa guru Indonesia mempunyai sikap terbuka terhadap inovasi pendidikan. Mereka ingin sekali belajar dan melakukan percobaan, tetapi fasilitas dan tuntunan yang sangat mereka butuhkan, tidak ada bagi mereka.

Evaluasi internal

Karena dalam mengajar digunakan pengelompokan murid menurut prestasi, maka berhubungan dengan ini di Sekolah Laboratorium lebih banyak diadakan evaluasi dari pada di Sekolah lain. Program pengajaran dan kemajuan murid mesti dievaluasi terus menerus. Jika tidak demikian kelompok-kelompok akan hilang, terlebur menjadi satu.

Juga di dalam banyak tugas kepada sekolah terdapat unsur-unsur evaluasi, seperti misalnya, di dalam hal memeriksa persiapan guru sehari-hari, mewawancarai guru-guru, memeriksa pekerjaan tertulis murid-murid, mengadakan pertemuan dengan guru-guru secara mendadak (“on the spur of the moment”) untuk membicarakan persoalan yang dihadapi murid berdasarkan laporan guru, memberikan bimbingan, individual bilamana hal ini diperlukan, memeriksa (checking) tes umum dan hasilnya (tes ini mengenai semua mata pelajaran dan diberikan tiga kali setahun, masing-masing selama sepuluh hari), mengobservasi “performance” dan perilaku murid dalam kegiatan-kegiatan akademik dan non-akademik. Semua hal ini memberikan kepada kami suatu pandangan atau pendapat tentang program pengajaran dan keadaan sekolah pada umumnya.

Jikalau ada hal-hal yang, menurut pendapat kami, tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka diadakan revisi atau peninjauan kembali, dan guru diberikan pertolongan untuk membuat koreksi yang diperlukan. Setelah revisi dijalankan, mesti diadakan peninjauan kembali.

Suatu indikator yang menunjukkan bahwa sekolah kami “is doing a good job” ialah pernyataan-pernyataan orang tua dan kepuasan yang mereka perlihatkan, terutama mereka yang mempunyai anak di Sekolah Laboratorium, dan minat besar masyarakat di luar IKIP Malang untuk memasukkan anaknya ke Sekolah Laboratorium.

Evaluasi yang paling tepat dan sah (valid) dapat dilihat dalam tahun 1974 nanti apabila lulusan yang pertama dari program 8 tahun (SD 5 th + SMP 3 th) akan duduk di kelas IX Sekolah Menengah Pembangunan (SMA) IKIP Malang. Suatu penilaian tentang ada tidaknya murid-murid dari SD Lab memenuhi harapan-harapan pendidikan. Hanya dapat dikatakan wajar apabila mereka berada lebih tinggi dibandingkan dengan murid-murid sekolah lain yang tidak mengalami pembaharuan pendidikan.

SUMBER RUJUKAN

Hadi Miyarso, Yusuf. Pendidikan Alternatif Di Indonesia. http://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/09/12/pendidikan– alternatif-di-indonesia/

Pakasi, Soepartinah. 1980. Pembaharuan Pendidikan Dasar: “Action Research” Selama 5 Tahun Pada SD Laboratorium IKIP Malang. Jakarta: PT Bhratara.

Pakasi, Soepartinah. 1981. Anak dan perkembangannya: pendekatan psiko-pedagogis terhadap generasi muda. Jakarta: Gramedia. http://search.lib.ums.ac.id/cgi-bin/koha/opac-detail.pl?biblionumber=5021

Pakasi, Soepartinah. A Proposed national elementary education program for Indonesia. Tidak Diterbitkan, Perpustakaan Universitas Indonesia.

Pendidikan Dasar Laboratorium UM. 2011. Sekolah Nasional Bertaraf Internasional.  http://www.laboratorium-um.sch.id/sejarah2.html

SD Negeri Percobaan 1 Malang.2012. https://id-id.facebook.com/ permalink.php?story_fbid=280997998619967&id=280992058620

 

Prof. Samsuri Sebagai begawan linguistik

Profesor Samsuri: Begawan Linguistik dari IKIP Malang

Oleh: A. Effendi Kadarisman

Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

 

Buku “Berbagai Aliran Linguistik Abad XX” ini ditulis agar ahli kita dalam ilmu bahasa tidak dogmatis dan menjadi ilmuwan yang picik, yang menganggap teorinya paling benar (Samsuri 1988: xi).

 I cut off my name into two parts: Sam and Suri. Most people would say, “Hi Sam”. A few others would greet me, “Good morning, Mr. Suri” (dari catatan kuliah 1981).

Prof. Samsuri Sebagai begawan linguistik

Prof. Samsuri Sebagai begawan linguistik

Pada Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia (KIMLI) I, yang diselenggarakan di Batu pada bulan November 2009, di awal prosiding yang dibagikan kepada peserta kongres ada rubrik “Wartamerta”, Obituari, yang ditulis oleh Profesor Anton Moeliono. “Masyarakat Linguistik Indonesia dalam waktu yang berdekatan ditinggalkan pakar linguistiknya yang terkemuka” (hlm. xxxi). Keempat pakar itu semuanya wafat pada tahun 2009: Profesor Samsuri, Profesor Asim Gunarwan, Profesor Amran Halim, dan Profesor Soenjono Dardjowidjojo. Mereka layak diberi julukan “pendekar bahasa”, karena “keempat guru besar itu selalu berhati-hati dalam kata dan tulisannya. Ciri bersama lain yang mereka miliki ialah peluang menyelesaikan studi doktornya di Amerika Serikat dan mengabdikan ilmu pengetahuannya demi maslahat kalangan yang luas: pemerintah, rekan setara, mahasiswa, dan anak buah” (ibid.). Belum sampai dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 25 Juli 2011, Profesor Anton Moeliono, yang juga pendekar bahasa, menyusul mereka menghadap Tuhan yang Pengasih.

Kini, menyambut Lustrum Universitas Negeri Malang XII, selayaknya kita mengenang Pak Samsuri (saya merasa lebih akrab menyebut beliau demikian) sebagai salah satu pakar ilmu bahasa di tanah air. Untuk menghemat rujukan, ada baiknya tulisan ini diawali dengan menyebutkan sepuluh karya penting beliau.1 Karya pertama adalah The Phonology of Javanese (1958), tesis master beliau di Universitas Indiana, Bloomington. Tujuh tahun kemudian, disusul oleh karya kedua, An Introduction to Rappang Bugenese Grammar (1965), disertasi beliau di universitas yang sama. Setelah mendapatkan gelar Ph.D, beliau kembali ke Indonesia, ke Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS), IKIP Malang. Setahun kemudian, beliau menjabat Dekan FKSS (1966-1969). Berikutnya, beliau memangku jabatan Rektor IKIP Malang (1970-1974). Dalam periode itu, beliau memperoleh gelar guru besar di bidang linguistik, dan menyampaikan pidato pengukuhannya pada tahun 1972. Karya ilmiah ketiga ini berjudul “Memilih Kerangka Acuan Tata-bahasa Bahasa Indonesia”. Kesibukan beliau sebagai pemimpin dan administrator perguruan tinggi menyisakan sedikit waktu untuk meneliti dan menulis. Baru empat tahun kemudian, setelah lengser dari rektorat, beliau menerbitkan Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah (1978). Karya keempat ini merupakan buku penting bagi para bahasawan dan mahasiswa Jurusan Linguistik di Indonesia. Buku ini membahas tata-bunyi, tata- kata, dan tata-kalimat, dengan latihan yang sangat intensif di bidang fonologi dan morfologi. Tujuh tahun kemudian muncullah Tata Kalimat Bahasa Indonesia (1985) sebagai karya kelima, yang menggunakan kerangka acuan gado-gado dengan aroma transformasi generatif yang kental. Pada “Prawacana” dinyatakan bahwa buku tata- kalimat ini adalah buku pertama, yang akan disusul oleh buku kedua dan ketiga, tata- kata dan tata-bunyi bahasa Indonesia. Tahun 1988 muncullah buku kedua yang dijanjikan, Morfologi dan Pembentukan Kata. Pada tahun itu juga, karya keenam ini disusul karya ketujuh, Berbagai Aliran Linguistik Abad XX (1988). Buku kajian teori ini merupakan hasil studi pustaka yang mendalam, yang dilakukan Pak Samsuri di Universitas Negara Bagian Ohio selama tiga bulan, Juli sampai dengan Oktober 1986. Ketiga karya terakhir berupa artikel: “Referensi dan Inferensi di dalam Wacana” (1990), “Kemampuan Pembicara Bahasa Jawa: Suatu Studi Permulaan” (1993), dan “Pengaruh Bahasa Indonesia pada Pemakaian Unggah-ungguh Bahasa Jawa” (1994).

Sayang sekali, sepuluh karya-tama tersebut tidak bisa saya temukan semuanya, untuk kemudian dirangkum dan diulas secara singkat dan sekaligus digunakan sebagai bahan rujukan bagi tulisan kecil ini. Karena dikejar tenggat (dead line) dan hanya tiga buku plus tiga artikel yang bisa ditemukan, “resensi” ilmu bahasa Pak Samsuri terpaksa bertolak hanya dengan enam karya tersebut. Demi penghematan dan kemudahan, tiga buku yang akan saya ulas dipangkas judulnya menjadi Analisis Bahasa, Tata Kalimat, dan Aliran Linguistik, sedangkan tiga artikel terakhir dipangkas dengan sedikit perubahan menjadi “Studi Wacana”, “Kemampuan Pembicara BJ” dan “Pengaruh BI pada BJ”. Dalam mengutip keenam sumber ini, baik secara langsung maupun tak langsung, saya hanya menyebut tahun penerbitan masing-masing: 1978, 1985, 1988, 1990, 1993, dan 1994. Pada daftar pustaka di akhir tulisan ini, tahun penerbitan Analisis Bahasa dicantumkan (1978 [1985]), yang berarti bahwa buku ini terbit pada tahun 1978, tetapi kopi yang saya gunakan sebagai rujukan adalah cetakan 1985. Jadi, halaman yang saya rujuk adalah versi 1985.

Sebagai begawan linguistik, Pak Samsuri adalah salah satu pilar penyangga kebesaran dan ketenaran IKIP Malang, beliau memasuki masa purnabakti tahun 1990, atau sembilan tahun sebelum IKIP Malang berubah nama menjadi Universitas Negeri Malang (UM). Pada pemikiran linguistik dan pribadi Pak Samsuri, ada empat hal yang menarik untuk dikaji: (1) sikap ilmiah, (2) upaya ikut membakukan bahasa Indonesia, (3) merengkuh linguistik-makro dan menengok kembali bahasa Jawa, dan (3) sisi humanistik dari kehidupan beliau.

SIKAP ILMIAH: KRITIS, KONTEMPORER, DAN PEDULI

Setiap ilmuwan dituntut bersikap kritis. Tanpa sikap ini ia hanyalah sarjana- semu. Sikap ini nampak jelas pada diri Pak Samsuri, yang secara eksplisit menolak dogmatisme (1988: xi), yang mengakibatkan ilmuwan bahasa mengkaji objek penelitiannya dengan kacamata kuda. Sikap kritis, anti-dogma, dan anti-katak- dalam-tempurung ini seirama dengan pandangan Sampson (1980: 10): the greatest danger in scholarship, and perhaps especially in linguistics, is not that the individual may fail to master the thought of a school but that a school may succeed in mastering the thought of the individual (Bahaya terbesar dalam keilmuan, dan mungkin terutama di bidang linguistik, bukanlah kegagalan seorang sarjana dalam menguasai gagasan sebuah aliran linguistik, melainkan keberhasilan sebuah aliran linguistik dalam menguasai atau memerangkap pikiran seorang sarjana.) Kata-kata tajam dari Sampson ini merupakan sindiran terhadap para bahasawan muda, yang di era 1970-an menjadi pengikut fanatik Chomsky dan suka bersikap “sok jagoan”. Sikap sok jagoan para pengagum Chomsky ini juga diungkap oleh Newmeyer (1986: 40), yang prihatin terhadap para mahasiswa Amerika yang ilmunya baru seujung-kuku tetapi sering kehilangan sopan-santun sewaktu berdebat dengan dosen-dosen senior mereka, yang masih setia menganut aliran neo-Bloomfieldian. Jadi, sikap si-katak- berlagak-lembu ini rupanya merata di seluruh dunia.

Pak Samsuri juga kritis terhadap penggunaan kosakata yang “mencemari” bahasa Indonesia, baik yang berasal dari bahasa daerah maupun bahasa asing (1985: 22). Bila diperlukan untuk mengisi kekosongan konsep dalam bahasa Indonesia, kosakata itu dapat diterima, misalnya masuknya kata-kata menyumbangkan, menangani, sarana, usaha patungan, dan unggul dari bahasa Jawa. Tetapi, jika sudah ada kosakata bahasa Indonesia yang mapan, kosakata dari bahasa daerah tidak diperlukan, seperti belasungkawa untuk berkabung, blak-blakan untuk terus terang, dan tuna-susila untuk pelacur. Tentu saja pendapat beliau ini memicu perdebatan, terutama untuk contoh terakhir. Rupanya eufemisme atau penghalusan makna mendorong munculnya bentuk-bentuk bersaing dengan kosakata yang telah ada: tuna-karya vs. penganggur, tuna-netra vs. buta, tuna-rungu vs. tuli, tuna-wicara vs. bisu, dan banyak ungkapan lain yang menggunakan kata “tuna”. Seandainya ikan “tuna” mengerti bahasa Indonesia, ia pasti menyesal bernama demikian.

Kosakata asing, terutama dari bahasa Inggris, juga mendesakkan diri ke dalam bahasa Indonesia. Jakarta dilanda perasaan rendah diri (1985: 109), sehingga lebih menyukai nama atau istilah bahasa Inggris: Jakarta Convention Hall, Jakarta Fair, Shopping Center Anu. Tiga dasawarsa kemudian kota-kota lain tak mau ketinggalan, dan muncullah Cirebon Town Square (Citos), Surabaya Town Square (Sutos), dan Malang Town Square (Matos). Mungkin hanya Jombang yang tidak bersemangat menggunakan nama serupa, karena Jombang Town Square akan disingkat “Jotos”. Di sebuah stasiun TV juga banyak acara bertema bahasa Inggris: Headline News, Prime Time, Today’s Dialogue, Wide Shot. Apakah ini juga gejala rasa rendah diri, atau karena keinginan go international? Sejumlah nama produk untuk kesehatan juga demikian: fatigone (fatigue gone = rasa-lelah punah), gazero (gas zero = udara- busuk nol), dan pain kila (ucapan logat British dari pain killer = penghilang nyeri). Nama-nama dengan bahasa Inggris ini semua terkait dengan pemasaran, dan nama barang atau jasa yang dijual memang harus menarik minat pembeli. Riverside Estate, kata almarhum Pak Soenjono dalam sebuah rubrik “Bahasa” di Tempo, tentu jauh lebih memikat daripada Perumahan Pinggir Kali. Ketika kepentingan bisnis mendesakkan diri, apakah kemurnian bahasa Indonesia harus mengalah dan menyisih? Ini pertanyaan yang menarik dan perlu dijawab oleh para ahli sosiolinguistik.

Nama-nama gedung dan penghargaan pemerintah dengan bahasa Sansekerta juga dikritik oleh Pak Samsuri. Orang Belanda suka memungut kata-kata dari bahasa Latin atau Yunani Kuno, dan orang Indonesia meniru mereka dengan memungut kata-kata dari bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. Ini mencerminkan jiwa kerdil dan juga sikap merendahkan bahasa nasional (1985: 22 dan 109-10). Ironisnya, dari nama-nama bangunan yang terdengar anggun seperti Bina Graha (Rumah Pembina) dan Manggala Wana Bhakti (Bakti-setia Pasukan Penjaga Hutan), para mantan penghuninya kemudian diragukan kejujurannya. Benarkah mereka raja dibya lan satria tama (raja sakti dan kesatria utama), atau narendra myang prawira cidra (raja dan perwira pendusta)? Nama mentereng juga digunakan untuk penghargaan provinsi, kotamadya, atau kabupaten terbaik: Parasamya Purnakarya Nugrana (Hadiah untuk Karya-terbaik yang Dilaksanakan Bersama-sama). Benarkah prestasi itu diraih melalui kerja-sama yang jujur? Sering beredar isu bahwa penghargaan itu diterima lewat tawar-menawar di bawah meja. Ada pengalaman menarik. Jika pulang ke Kediri (selatan), saya selalu lewat Blitar. Di beberapa tempat terpampang semboyan: Hurup Hambangun Praja. Apa arti ungkapan ini? Atas penjelasan Profesor A. Syukur Ghazali, saya baru tahu maknanya: Bersemangat Membangun Wilayah. Pertanyaannya kemudian: semboyan ini mengajak rakyat untuk membangun wilayah, atau pamer bahwa pemerintah yang hebat adalah penguasa yang berbicara kepada rakyatnya dengan bahasa yang tidak mereka mengerti?

Selain kritis, Pak Samsuri juga seorang bahasawan kontemporer. Semasa hidupnya, beliau selalu mengikuti perkembangan teori linguistik mutakhir. Ini sudah nampak sewaktu beliau menyelesaikan program doktor di Universitias Indiana. Disertasi beliau, An Introduction to Rappang Bugenese Grammar, selesai ditulis pada tahun 1965. Disertasi ini menggunakan “teori transformasi” sebagai acuan teoritis (1978: 80), padahal teori ini baru dituangkan secara tuntas oleh Chomsky dalam Aspects of the Theory of Syntax, yang terbit tahun 1965 juga. Ini menunjukkan betapa up-to-date pemikiran linguistik Pak Samsuri pada awal karier ilmiahnya. Setelah beliau kembali ke Indonesia, dan menekuni profesi linguistik dengan mengajar dan meneliti, beliau masih sering melakukan surat-menyurat langsung dengan Chomsky, untuk minta penjelasan tentang hal-hal yang pelik dalam linguistik generatif (komunikasi lisan dengan Profesor Moh. Adnan Latief, September 2014). Sikap kontemporer dan up-to-date beliau juga terbaca pada Analisis Bahasa, yang bab terakhirnya, Bab 25, berjudul “Lahirnya Semantik Generatif”. Buku ini terbit tahun 1978, dan Semantik Generatif adalah aliran radikal yang berumur pendek: muncul di akhir 1960-an dan punah di akhir 1970-an. Artinya, sewaktu Analisis Bahasa itu terbit, Semantik Generatif, menurut The Linguistics Wars karya Harris (1995), sedang melakukan “perang” habis-habisan melawan Gramatika Generatif, sebelum akhirnya tumbang di ujung dasawarsa itu. Pada tahun terakhir pengabdiannya di IKIP Malang, beliau tetap aktif mengikuti perkembangan linguistik mutakhir, dan hasilnya adalah “Studi Wacana” yang terbit tahun 1990.

Sikap terpuji ketiga adalah sikap peduli. Pak Samsuri sangat peduli terhadap pembaca bukunya dan bahasawan lain, terhadap bahasa Indonesia, terhadap hubungan bahasa dengan sastra, politik, dan ilmu pengetahuan, dan juga terhadap pengajaran bahasa. Orang besar adalah orang yang memiliki kepedulian yang besar. Pembahasan berikut akan mencermati kepedulian besar ini, dan mengulas cakupannya dengan singkat satu-persatu.

Kepedulian Pak Samsuri terhadap pembaca bukunya nampak pada bahasa yang digunakan: jernih dan runtut, sehingga mudah dibaca dan dipahami. Untuk memudahkan pemahaman konsep de Saussure tentang kata-kata sebagai “arbitrary signs”, misalnya, beliau menjelaskannya dalam Analisis Bahasa sepanjang tiga halaman (1978: 10-14), dengan memberikan banyak contoh dan paparan yang gamblang. Maka peminat linguistik pemula akan mudah memahami konsep tersebut. Beliau juga peduli terhadap para bahasawan lain, dengan mendorong mereka untuk terus berkarya sesuai dengan teori yang dikuasai dan dianutnya, sehingga berbagai teori tentang bahasa Indonesia akan muncul sebagai bunga- rampai yang indah dan saling melengkapi (1985: ix-x).

Terhadap bahasa Indonesia, beliau menunjukkan rasa cinta dan kepedulian yang besar. Pada tahun 1960, lima tahun sebelum meraih gelar Ph.D. di bidang linguistik, beliau telah mengemukakan konsep pembaharuan ejaan bahasa Indonesia (Badudu 1984: 44-46). Gagasan ini menjadi salah satu cikal-bakal bagi munculnya Ejaan yang Disempurnakan (EYD), yang mulai berlaku tahun 1972. Tata Kalimat beliau terbit tahun 1985, mendahului Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI), yang terbit pertama kali tahun 1988, bersama Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)—dalam rangka Kongres Bahasa Indonesia V. Beliau juga anggota tim penyusun TBBI. Ini adalah langkah besar bagi kemajuan bahasa Indonesia, lewat upaya pembakuan yang secara resmi diprakarsai oleh pemerintah Indonesia, lewat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Upaya ini terkait langsung dengan politik bahasa—catatan tambahan yang penting dicantumkan di sini. Dibandingkan dengan bahasa nasional atau bahasa resmi di banyak negara (misalnya Malaysia, Filipina, India, dan negara-negara kecil di benua Afrika), bahasa Indonesia memiliki posisi politis yang sangat beruntung (1978: 27-31). Di seluruh penjuru tanah air, tidak ada kelompok masyarakat yang menolak, memusuhi, atau membenci bahasa Indonesia. Tambahan lagi, kosakata bahasa Indonesia telah tumbuh begitu pesat. Selama paroh-kedua abad kedua puluh, melalui rekayasa bahasa, telah terjadi “ledakan jumlah kosakata” yang begitu besar dalam konteks modernisasi, politik pembangunan, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Samuel 2005 [2008]: 250-51, 392). Hasilnya, bahasa Indonesia kini dapat digunakan sebagai alat komunikasi yang memadai dalam semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Terkait dengan perkembangan bahasa Melayu di Asia Tenggara (meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam), optimisme juga terasa begitu tinggi, sehingga Profesor James Collins (1998 [2011]), pakar dialektologi Melayu, meramalkan bahwa di masa depan bahasa Melayu—dengan sekitar 300 juta penutur di tahun 2020—layak menjadi salah satu bahasa dunia.

Kembali ke akhir tahun 1970-an, Pak Samsuri prihatin terhadap keberaksaraan dalam bahasa Indonesia, terutama di dunia akademik. Walaupun sebagai alat komunikasi lisan bahasa Indonesia telah begitu mapan, penggunaannya sebagai bahasa ilmu pengetahuan masih sangat compang-camping. Ini terlihat dari sangat sedikitnya (pada waktu itu) buku-buku ilmu pengetahuan yang ditulis dalam bahasa Indonesia. “Jika Pemerintah tidak lekas-lekas mengambil langkah-langkah untuk memperbanyak buku-buku di dalam bahasa Indonesia, kami takut … kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia akan terhambat sekali, karena kenyataan bahwa sarjana- sarjana kita pada umumnya sukar sekali mengerti buku-buku di dalam bahasa asing” (1978: 31).

Dalam membahas hubungan antara bahasa dan sastra, pandangan Pak Samsuri (1978: 24-26) mirip dengan gagasan Sapir (1921: 221-31). Setiap bahasa bersifat relatif, masing-masing memiliki wujud bunyi, struktur kata, dan struktur kalimat yang khas. “Since every language has its distinctive peculiarities, the innate formal limitations—and possibilities—of one literature are not quite the same as those of another” (Karena setiap bahasa memiliki sifat atau fitur yang khas, keterbatasan dan juga kemungkinan bentuk intrinsik dari setiap sastra tidak pernah sama dengan sastra yang lain, hlm. 222.) Misalnya, sastra Jawa, sastra Indonesia, sastra Arab, dan sastra Inggris berbeda satu sama lain, karena kekhasan struktur dari masing-masing bahasa yang menjadi medium setiap sastra tersebut. Ini berakibat pada sulitnya penerjemahan karya sastra, terutama puisi. “Poetry by definition is untranslatable,” kata Jakobson (1959 [1992]: 151). Pak Samsuri, mengutip Groce, juga menyetujui pendapat Jakobson ini, “suatu [karya] sastra tidak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain”, meskipun tetap ada perkecualian. Bahkan tidak sedikit karya sastra yang berhasil diterjemahkan dengan baik dari satu bahasa ke bahasa lain. Contoh yang diberikan oleh Pak Samsuri adalah puisi “Nisan”, karya Chairil Anwar, yang diterjemahkan dengan cantik oleh Burton Raffel ke dalam bahasa Inggris (1978: 25). Keunikan atau keanehan wujud bahasa pada karya sastra, menurut tinjauan linguistik, pada akhirnya berpulang pada pertanyaan Jakobson (1960 [1987]), “What makes a verbal message a work of art?” (Apa yang menjadikan pesan verbal sebuah karya sastra?) Jawaban Jakobson, sebagai penyair-bahasawan, lebih bersifat struktural daripada substansial. Dia tidak mengupas “isi” karya sastra, melainkan memaparkan “bentuk”nya. Untuk itu, ia mengajukan “fungsi puitik”: selalu ada bentuk khas yang ditonjolkan oleh setiap bahasa demi mencapai tujuan estetik yang dimaksudkan.

Bagaimana hubungan antara linguistik dan pengajaran bahasa? Sebagai bahasawan, Pak Samsuri (1978: 40-44) percaya bahwa metode-dan-praktik pengajaran bahasa ditentukan atau paling tidak dipengaruhi oleh perkembangan linguistik. Meskipun secara formal, linguistik sinkronik baru muncul di awal abad kedua-puluh, “ilmu bahasa” pada wujudnya yang masih tradisional telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Pengajaran bahasa Sansekerta di India sebelum tarikh masehi dipengaruhi oleh tata-bahasa karya Panini. Pengajaran bahasa Yunani Kuno tidak lepas dari pandangan Plato dan Aristoteles tentang hakikat dan arti bahasa. Di zaman abad pertengahan, pengajaran bahasa di negara-negara Eropa difokuskan pada pengajaran bahasa Greko-Latin sebagai bahasa ilmu pengetahuan, mengikuti semangat “Pencerahan”.

Bagaimana pula pengajaran bahasa Indonesia di Indonesia? Pertanyaan yang diajukan Pak Samsuri: “Apakah tujuan pengajaran bahasa nasional itu? Apakah tujuannya mengetahui TENTANG bahasa itu, ataukah tujuannya mempertinggi kemahiran murid-murid dalam MEMEPERGUNAKAN bahasa itu?” (1978: 41, huruf besar pada teks asli). Secara implisit, pertanyaan ini merupakan kritik terhadap praktik pengajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah, yang lebih mengutamakan pengetahuan tentang bahasa daripada keterampilan berbahasa. Padahal yang kedua inilah yang lebih penting, karena ia langsung terkait dengan kegunaan praktis. Lewat pengajaran bahasa Indonesia dengan tujuan-dan-praktik yang benar, siswa akan mampu “menyusun kalimat yang baik, terang dan jelas”. Mereka juga mampu “mengemukakan buah pikiran dengan kalimat-kalimat yang pendek, tegas, dan jelas, dan tidak membingungkan”. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan mampu menyampaikan pidato singkat, jelas, dan santun pada acara- acara perpisahan, ulang tahun, perkawinan, dan sebagainya. Mereka juga mampu menggunakan bahasa tulis dengan efektif: dapat menulis surat atau menyusun laporan dengan logika yang lurus dan bahasa yang jernih (1978: 42). Singkatnya, pengajaran bahasa yang berhasil adalah pengajaran yang pada akhirnya melahirkan manusia yang beradab dan berbudaya melalui tindak-tutur dan bahasanya.

MEMBAKUKAN, BUKAN MEMBEKUKAN BAHASAINDONESIA

Ungkapan cantik “membakukan, bukan membekukan bahasa” ini saya pinjam dari Dr. Sudaryanto (1991: 1-2), pakar linguistik dan dosen Pascasarjana Universitas Widya Dharma, Klaten, dan penyunting utama buku Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Seperti sikap Pak Sudaryanto terhadap bahasa Jawa, Pak Samsuri juga percaya bahwa upaya membakukan bahasa Indonesia bukan berarti membekukannya. Bahasa adalah fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang secara dinamis, mengikuti perkembangan masyarakat penuturnya. Dinamika bahasa Indonesia nampak jelas pada dua hal: bahasa sebagai ungkap-verbal kebudayaan dan bahasa sebagai wahana pengembangan ilmu dan teknologi (1985: 5-29).

Bahasa Indonesia dan kebudayaan Indonesia merupakan produk abad kedua puluh, dan keduanya tumbuh secara perlahan. Ketika para pendiri bangsa “bersumpah” pada 1928 bahwa mereka “menjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”, yang ada waktu itu baru gagasan besar, bukan “bahasa nasional” yang siap-pakai (Foulcher 2000: 378-81). Bahasa Melayu yang dipilih dan dinamakan “bahasa Indonesia” saat itu masih harus dibina, dikembangkan seluruh potensinya untuk menjadi bahasa nasional. Begitu pula kebudayaan Indonesia. Ia masih berupa embrio di zaman kolonial Belanda dan Jepang, dan baru muncul secara penuh bersama proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Ketika Indonesia merdeka, identitas nasional diperlukan. Maka kebudayaan yang mencakup aspek kehidupan spiritual dan material di seluruh tanah air adalah kebudayaan Indonesia, dan ungkap-verbal kebudayaan ini adalah bahasa Indonesia. Di antara ratusan bahasa daerah dan puluhan bahasa Indonesia logat yang digunakan sebagai alat komunikasi intra-etnis di seluruh penjuru nusantara (1985: 24-27), diperlukan bahasa Indonesia baku sebagai alat komunikasi antar-etnis—bahasa yang bisa digunakan dan dipahami oleh seluruh warga bangsa Indonesia.

Potret kebahasaan kita dapat disebut diglosia: bahasa Indonesia hidup berdampingan dengan bahasa daerah setempat di semua wilayah di tanah air. Bahasa daerah lazim digunakan sebagai alat komunikasi antar-anggota keluarga dan intra–etnis, dan sebagai bahasa ritual dan upacara adat. Sejumlah bahasa daerah memiliki sastra-tinggi, yang telah berumur ratusan tahun dan menjadi kebanggaan lokal. Sastra-tinggi ini bukan hanya berupa sastra-tulis, melainkan juga memiliki watak kelisanan yang kental. Maka di berbagai daerah—seperti di Aceh, Padang, Sunda, Jawa, Bali, dan Makassar, misalnya—sastra-tinggi itu juga memberi inspirasi dan sekaligus tampil sebagai sastra-lisan (verbal art) atau sastra-pentas (poetic performance). Dengan kata lain, bahasa dan sastra daerah juga berfungsi memelihara kesenian dan kebudayaan daerah. Sebaliknya, bahasa Indonesia diperlukan sebagai bahasa administrasi pemerintahan dan bahasa pengantar di dunia pendidikan. Dengan sifat alaminya yang terbuka, demokratis, sederhana, dan mudah dipelajari (1985: 14), bahasa Indonesia layak dikembangkan menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara bahasa daerah lebih bersifat statis-emotif, bahasa Indonesia bisa digali potensinya dan diarahkan menjadi wahana kebudayaan yang lebih rasional, kreatif, dan produktif. Ini adalah ciri utama kehidupan modern. Hanya dengan memenuhi persyaratan ini, bahasa Indonesia layak menjadi bahasa abad industri dan pasca-industri (1985: 11-12).

Maka buku Tata Kalimat ditulis demi membantu terwujudnya bahasa Indonesia baku, sebagai alat komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia dan sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat objektif dan universal. Rancang bangun buku ini, yang didukung oleh Analisis Bahasa dan Aliran Linguistik, menunjukkan kepakaran Pak Samsuri di bidang ilmu bahasa, dalam dua hal: (a) dalam pemilahan dan pemilihan ancangan teoritis, dan (b) dalam memaparkan struktur bahasa Indonesia sebagaimana digunakan oleh penuturnya.

Memilah dan Memilih Ancangan Teoritis

Pada “Prawacana” untuk Tata Kalimat, seperti telah disinggung di depan, Pak Samsuri menyatakan bahwa ini adalah buku pertama dari “tiga serangkai”, yang akan segera diikuti oleh buku kedua dan ketiga, yaitu Tata Kata dan Tata Bunyi (1985: ix, 42). Untuk rencana besar memaparkan dan menjelaskan Tata Bahasa Indonesia, diperlukan kerangka teoritis. Teori mana yang digunakan?

Landasan teoritis merupakan pijakan penting bagi bahasawan untuk menata kerangka berpikir, mendapatkan kedalaman analisis, dan mengarahkan hasilnya agar memiliki kegunaan teoritis dan praktis yang jelas. Ketiga buku yang digunakan sebagai rujukan utama tulisan ini menunjukkan pentingnya memahami teori bahasa. Sub-bab “Sejarah Singkat Ilmu Bahasa” dalam Analisis Bahasa (1978: 71-84) dan “Pendekatan Analisis Bahasa” dalam Tata Kalimat (1985: 29-42) meringkas dan menyarikan berbagai teori linguistik yang terkenal. Kedua sub-bab ini kemudian dikembangkan secara penuh menjadi sebuah buku Berbagai Aliran Linguistik Abad XX (1988), yang dalam tulisan ini dipangkas menjadi Aliran Linguistik. Buku ini bertolak dengan menengok kembali studi bahasa selama abad kesembilan-belas, dan kemudian memasuki abad kedua-puluh dengan memaparkan 9 aliran (schools) yang sangat berpengaruh: (1) Aliran Swiss, (2) Aliran Praha, (3) Ilmu Bahasa Fungsional, (4) Aliran Kopenhagen, (5) Aliran Strukturalisme di Amerika, (6) Aliran London, (7) Strukturalisme Amerika, (8) Tatabahasa Generatif Transformasi, dan (9) Perkembangan Ilmu Bahasa sesudah Semantik Generatif. Butir (5) dan (7) nampak mirip, namun isinya berbeda. Butir (5) membahas teori linguistik Franz Boas dan Edward Sapir, sedangkan butir (7) mengupas teori bahasa pasca-Bloomfield dan teori tagmemik Kenneth Pike.

Penjelajahan yang intens terhadap sembilan teori linguistik tersebut membuat Pak Samsuri memiliki pemahaman yang mendalam, pandangan yang terbuka, dan sikap yang toleran terhadap setiap teori yang ada. Untuk menganalisis kalimat, kata, dan bunyi dalam bahasa Indonesia, teori mana yang paling sesuai? Untuk menjawab pertanyaan ini, beliau mengajukan tiga kriteria: kesederhanaan, kehematan, dan ketuntasan analisis dan pemerian merupakan ukuran untuk menilai setiap teori yang ada (1978: 264-67). Berdasarkan tiga kriteria ini, ternyata tidak ada sebuah teori-utuh yang langsung bisa digunakan. Karena itu, beliau “meramu sendiri” sebuah ancangan teoritis (1985: 38-42). Untuk menganalisis bunyi bahasa Indonesia, beliau memadukan teori Praha dan teori pasca-Bloomfield. Kedua teori ini saling mengisi, karena yang pertama terlalu njelimet dalam tata-bunyi, dan yang kedua terlalu global. Perpaduan yang tepat antara keduanya akan menghasilkan pendekatan yang sesuai. Untuk tata-kata, teori pasca-Bloomfield telah memadai. Ini mengingatkan kita bahwa era keemasan aliran Bloomfieldian memang disebut sebagai “the decades of phoneme and morpheme” (Harris 1995: 31), atau dasawarsa fonem dan morfem. Namun, untuk tata-kalimat, teori pasca-Bloomfield tidak bisa diandalkan. Teori ini terlalu dangkal untuk dapat menjelaskan bagaimana kalimat dasar bisa diderivasi menjadi beraneka-ragam kalimat turunan. Untuk itu, yang paling sesuai adalah teori transformasi generatif. Namun, Pak Samsuri juga tidak mengadopsi teori ini seutuhnya, beliau menggunakan teori ini dengan sangat hati-hati—seperti akan dijelaskan kemudian.

Jadi, pendekatan analisis yang digunakan oleh Pak Samsuri adalah “pendekatan eklektik”, atau pendekatan gado-gado. Memang ada dua jenis gado-gado: gado-gado jalan-lurus (enlightened eclecticism) dan gado-gado jalan-sesat (misguided eclecticism). Yang pertama mengambil berbagai unsur dari beberapa teori yang benar-benar dipahami, kemudian diramu menjadi pendekatan baru yang memadai dan hasil analisisnya akan memuaskan. Yang kedua merupakan sikap dan tindakan coba-coba, siapa tahu nanti akan ada hasilnya (Hammerly 1982: 24-25). Ketika Pak Samsuri meramu sendiri pendekatan analisisnya, tentu saja beliau memilih pendekatan eklektik jalan-lurus.

Sifat Alami Kalimat Bahasa Indonesia

Setiap bahasa memiliki sifat khas masing-masing, dan ini nampak jelas pada strukturnya. Kalimat bahasa Indonesia memiliki struktur yang khas, dan analisis bahasa yang benar harus mampu menampilkan sifat alami ini. Inilah yang telah dilakukan Pak Samsuri dalam Tata Kalimat. Meskipun beliau menggunakan teori transformasi generatif, beliau tidak “memaksa” kalimat bahasa Indonesia untuk mematuhi teori ini. Meminjam istilah Comrie (1989: 1-5), pendekatan Tata Kalimat lebih bersifat data-driven daripada theory-driven, atau lebih mengutamakan “apa kata data” daripada “apa kata teori”. Maka yang beliau lakukan bukan adopsi, melainkan adaptasi terhadap teori sintaksis Chomsky (1965). Ada dua modifikasi penting yang beliau lakukan: (i) data introspektif digabung dengan data lapangan, dan (ii) struktur kalimat bahasa Indonesia dipaparkan secara objektif sesuai dengan watak aslinya.

Data Introspektif dan Data Lapangan

Dalam tradisi Chomskyan, data yang dianalisis untuk menguji keabsahan kaidah tata-kalimat cukup diperoleh dari data lingual yang ada dalam diri peneliti, yang disebut “data instrospektif”. Mari kita simak perangkat contoh yang diberikan dalam Tata Kalimat (1985: 64).

(1) a. Anak itu / makan kacang

  1. Anak itu / makan kacang / dengan lahapnya
  2. *Anak itu / dengan lahapnya

Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita bisa “merasakan” bahwa (1.a) dan (1.b) adalah kalimat yang “baik”, sedangkan (1.c) kalimat yang “janggal”. Dalam sintaksis generatif, “merasakan” berarti ‘menentukan status gramatikal atau tak- gramatikal’, “baik” berarti ‘gramatikal’, dan “janggal” berarti ‘tak-gramatikal’. Setiap penutur bahasa Indonesia memiliki pengetahuan intuitif seperti ini, yang istilah resminya adalah kompetensi bahasa. Dan tujuan linguistik generatif adalah memaparkan dan menjelaskan hakikat kompetensi bahasa. Untuk ini, cukuplah data lingual diperoleh dari diri peneliti sendiri. Maka, linguistik generatif terkadang diejek sebagai “armchair linguistics”, yang terjemahan bebasnya “linguistik kursi goyang”. Data cukup diperoleh dari kepala sendiri, sambil duduk bergoyang, peneliti tidak perlu repot mengumpulkan data lapangan.

Namun, Pak Samsuri melakukan lebih dari itu, beliau menggabungkan data instrospektif dan data lapangan. Ini tidak main-main. Data lapangan beliau kumpulkan dari 16 kota atau “pusat kebudayaan” di tanah air: Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Pontianak, Banjarmasin, Ujung Pandang (sekarang Makassar), dan Manado. Data lapangan berupa data lisan dan data tulis. Data lisan diperoleh melalui rekaman. Di setiap kota dilakukan rekaman selama 9 jam terhadap percakapan dua informan (mahasiswa, dosen, asisten peneliti) atau lebih. Ada dua macam percakapan: intra-etnis menggunakan bahasa Indonesia logat, dan antar-etnis menggunakan bahasa Indonesia baku. Total rekaman lebih-kurang 150 jam, dan secara selektif ditranskripsikan. Sedangkan data tulis dikumpulkan dari berbagai buku dan karangan, fiksi dan non-fiksi, yang ada di setiap kota sejak tahun 1940-an sampai dengan awal tahun 1980-an. Dari setiap karya tulis dipilih secara acak 200 kalimat. Data tulis yang terkumpul lebih-kurang 5000 kalimat.

Dalam Tata Kalimat, data introspektif dan data lapangan ditampilkan sesuai dengan langkah-langkah analisis, untuk menunjukkan berpuluh tipe struktur frasa dan beratus tipe struktur kalimat. Penggunaan data lapangan merupakan bagian utama dari tradisi Bloomfieldian, dan data introspektif (pada waktu itu) merupakan tradisi baru dalam aliran Chomskyan. Gabungan keduanya dapat dipandang sebagai upaya memaparkan de langue (bahasa) dalam paradigma Saussurean. Di sini pendekatan eklektik Pak Samsuri nampak semakin jelas: beliau menggabungkan unsur-unsur dari teori Chomsky, Bloomfield, dan de Saussure.

Struktur Kalimat Bahasa Indonesia

Ada dua watak khas pada struktur kalimat bahasa Indonesia: kelenturan urutan kata atau flexibility of word order, dan predikat yang tidak selalu berupa frasa verba. Kelenturan urutan kata ditunjukkan dalam Tata Kalimat (1985: 64-66), dengan mengulangi kalimat (1.b) sebagai “kalimat dasar” (kernel sentence) bersama 5 kalimat turunannya: (1.b) – (1.f).

  • Anak itu / makan kacang / dengan lahapnya
    1. Anak itu / dengan lahapnya / makan kacang
    2. Makan kacang / anak itu / dengan lahapnya
    3. Makan kacang / dengan lahapnya / anak itu
    4. Dengan lahapnya / anak itu / makan kacang
    5. Dengan lahapnya / makan kacang / anak itu

Kelenturan urutan kata dalam bahasa Indonesia ini bukan hal baru, dan juga bukan pertama kali ditunjukkan oleh Pak Samsuri. Hal ini telah dibahas dalam buku sintaksis yang jauh lebih tua, Kaidah Bahasa Indonesia I karya Slametmuljana (1957: 17-23). Yang baru dalam Tata Kalimat ialah pendekatan yang digunakan dan pemaparan yang diberikan. Pak Samsuri bukan hanya menunjukkan adanya kelenturan urutan kata itu, melainkan juga menjelaskan bagaimana kalimat dasar itu berubah menjadi berbagai kalimat turunan melalui kaidah transformasi.

Tabel 1. Kaidah Transformasi: dari Kalimat Dasar ke Kalimat Turunan
Kalimat Dasar Kalimat Turunan
 (2.a) FN + FV + FAdv à (2.b) FN + FAdv + FV

(2.c) FV + FN + Fadv

(2.d) FV + FAdv + FN

(2.e) FAdv + FN + FV

(2.f) FAdv + FV + FN

Kalimat dasar (2.a) terdiri atas 3 komponen: FN (frasa nomina anak itu), FV (frasa verba makan kacang), dan FAdv (frasa adverbia dengan lahapnya). Perubahan urutan kata dari (2.a) ke (2.b) – (2.f) ditunjukkan melalui penggunaan kaidah transformasi pada Tabel 1. Menurut teori probabilitas, jika ada 3 komponen, maka kemungkinan urutannya ada 6, yang diperoleh dari 3 X (3-1). Pada butir (2), enam kalimat dengan urutan yang berbeda itu semuanya gramatikal. Ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki kelenturan urutan kata yang sangat tinggi. (Dalam bahasa Inggris, hanya kalimat seperti (2.a) yang gramatikal, The boy is eating peanuts greedily, urutan kata seperti pada lima kalimat lainnya tak- gramatikal.)

Kaidah transformasi tersebut bukan hanya menunjukkan bagaimana kalimat dasar berubah menjadi kalimat turunan, melainkan juga menyajikan secara persis. Berapa jumlahnya dan bagaimana urutan kata masing-masing. Presisi yang tinggi ini bisa dicapai berkat penggunaan formula X Y, yang disebut re–write rule dan bersifat matematis.Menurut Lyons (1978: 59), di sinilah kehebatan Chomksy. Teori linguistiknya sangat mentalistik, karena bertujuan menjelaskan hakikat kompetensi bahasa yang ada dalam pikiran penuturnya. Namun, ia mampu menjabarkan kompetensi tersebut dengan jelas dan tuntas berkat rumus matematis yang diciptakannya.

Selanjutnya, mari kita cermati predikat kalimat dalam bahasa Indonesia. Setelah beredar di kalangan akademisi dan masyarakat luas hampir seperempat abad, buku Tata Kalimat mendapatkan pujian dari Pak Anton Moeliono (2009: xxxi).

Buku sintaksis ini membawa angin segar dalam wawasan tata kalimat kita. Berbeda dengan teori yang dianut pakar bahasa Eropa dan Amerika, yang menyatakan predikat kalimat selalu verba atau salah satu kopula, Samsuri berpendirian bahwa predikat dalam kalimat Indonesia dapat berwujud frasa verba, adjektiva, nomina, numeralia, dan proposisi. Contohnya, Korupsi merajalela (V), Restoran itu istimewa (A), Aku warga kota (N), Tanah Ali tiga hektare (Num), Cerita itu tentang Dewa (P).

“Angin segar” yang melegakan itu berhembus berkat kreativitas Pak Samsuri, yang berpendapat bahwa teori sintaksis generatif perlu disesuaikan dengan watak bahasa Indonesia. Menurut versi aslinya, hanya ada satu formula kalimat: SàNP + VP (Chomsky 1957: 26-27), formula ini dibaca every sentence consists of an NP subject and a VP predicate. Formula ini sepenuhnya benar untuk kalimat bahasa Inggris. Setiap subjek adalah frasa nomina, dan setiap predikat adalah frasa verba, baik verba utama (misalnya, Harry left) maupun kopula (misalnya, Harry is a lawyer). Untunglah Pak Samsuri mengadaptasi formula ini, dan mengubahnya sesuai dengan sifat alami struktur kalimat bahasa Indonesia. Formula kalimat (K) dengan lima jenis predikat berbeda, seperti yang telah disebutkan Pak Anton di depan, ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Struktur Kalimat Bahasa Indonesia

No. Formula Kalimat Contoh
1 K ->> FN + FN Anak itu murid SMP
2 FN + FV Perempuan itu membeli sepatu
3 FN + FA Orang itu malas sekali
4 FN + FNum Pegawai kantor itu hampir tigapuluh orang
5 FN + FP Anak kami di Bandung

Hanya formula (2), KàFN + FV (Perempuan itu membeli sepatu), yang sepadan dengan SàNP + VP. Keempat formula lainnya merupakan formula baru, yang diperlukan untuk kalimat dengan predikat non-verba. Mungkin timbul pertanyaan: sesungguhnya, bukankah terdapat kopula adalah yang menghubungkan subjek FN dengan predikat non-verba? Mari kita lakukan uji-sintaktik untuk menjawab pertanyaan ini.

  • Anak itu adalah murid SMP
  1. *Orang itu adalah malas sekali
  2. *Pegawai kantor itu adalah hampir seratus orang
  3. *Anak kami adalah di Bandung

Hasil uji-sintaktik menunjukkan bahwa kalimat (3.a) saja yang berterima. Dari segi struktur maupun makna, hadirnya adalah merupakan pemborosan. Tanpa kopula, makna kalimat ini sudah jelas. Sebaliknya, kalimat (3.b), (3.c), dan (3.d) tidak dapat disisipi oleh adalah. Artinya, hadirnya kopula ditolak oleh ketiga kalimat ini. Jadi, watak dasar predikat kalimat bahasa Indonesia terbagi menjadi dua: verba dan non- verba. Predikat non-verba meliputi FN, FA, FNum, dan FP.

Namun, perlu dicatat bahwa kalimat berpredikat verba merupakan tipe paling dominan. Tata Kalimat membahas kalimat dasar dengan struktur FN + FV lebih dari 40 halaman, sedangkan keempat tipe lainnya dibicarakan kurang dari 10 halaman. Nampaknya istilah kata kerja sebagai padanan verba benar-benar membuat sebagian besar kalimat “bekerja” lebih keras. Dengan kata lain, formula S NP VP adalah rumus mutlak dalam bahasa Inggris, tetapi hanya merupakan rumus dominan dalam bahasa Indonesia.

Karena acuan utama Tata Kalimat adalah teori generatif, pembahasan transformasi (perubahan kalimat dari struktur batin ke struktur lahir) menyita lebih dari separoh buku, atau lebih dari 200 halaman. Ini meliputi transformasi yang menghasilkan kalimat turunan tunggal, kalimat sematan, kalimat rapatan, transformasi fokus, dan transformasi khusus. Transformasi kalimat berita menjadi kalimat tanya telah dibahas pada beberapa bagian buku ini (1985: 252-53, 286-89, 447-50). Namun, ada yang belum dibahas secara tuntas, yaitu kalimat tanya yang menggeser kata tanya apa dan siapa dari posisi objek ke awal kalimat.

  • Ia mengirimkan paket itu kemarin.
  1. Apa yang ia kirimkan j kemarin?
  • Mereka menemui ketua panitia di ruang sidang.
  1. Siapa yang mereka temui j di ruang sidang?

Dalam sintaksis generatif, istilah j (jejak) merupakan padanan dari t (trace) dalam bahasa Inggris, yang melambangkan “jejak” atau posisi yang ditinggalkan oleh unsur kalimat yang bergeser ke depan. Pada kalimat tanya (4.b) dan (5.b), pergeseran apa dan siapa ke awal kalimat mengakibatkan dua hal: munculnya yang setelah kata tanya, dan perubahan verba dari bentuk aktif (meN-) ke bentuk semi-pasif (Kaswanti Purwo 1989: xiii).3

Transformasi ini dibahas oleh Cole et al. (2005) dengan menggunakan teori generatif mutakhir, Teori Minimalis. Mereka berpendapat bahwa transformasi ini mengubah kalimat verbal (4.a, 5.a) menjadi kalimat nominal (4.b, 5.b). Kalimat (4.b), misalnya, mereka analisis sebagai berikut:

  • [Apa]FN [yang ia kirimkan j kemarin]FN

Ini adalah kalimat nominal, yang terdiri dari FN1 dan FN2. FN1 adalah predikat yang digeser ke depan, dan FN2 adalah klausa adjektiva tanpa pokok nomina (a noun head).

Menururt hemat saya, analisis ini terlalu teoritis. Bila kita menggunakan teori generatif klasik (Chomksy 1957 dan 1965), seperti yang digunakan Pak Samsuri, perubahan dari (4.a) menjadi (4.b) dapat dijelaskan dengan formula berikut:

  • FN1 + meN-V + FN2 + Fadvà(b) – KT = kata tanya
  1. FN1 + meN-V + KT + Fadvà(c)
  2. KT + yang + FN1-V + j + Fadv

Ada dua langkah transformasi: (a)à(b)à(c). Pada langkah (b), FN2 paket itu berubah menjadi KT apa. Pada langkah (c), ada tiga peristiwa sintaktik: KT bergeser ke depan meninggalka jejak j, yang muncul setelah KT, dan verba aktif meN-V berubah menjadi FN1-V. Dengan formula ini, pergeseran KT ke awal kalimat serupa dengan wh-movement dalam bahasa Inggris, dan kalimat aktif berubah menjadi semi- pasif.

Tentu saja kasus transformasi seperti (4.a, 5.a) menjadi (4.b, 5.b) masih merupakan topik terbuka, yang layak untuk dikaji dan diperdebatkan lebih lanjut. Sintaksis bahasa Indonesia masih memerlukan penelitian intensif untuk menuju tata- bahasa baku tanpa menjadi beku.

Tata Kalimat yang telah diulas singkat ini adalah buku pertama dari “tiga serangkai” karya Pak Samsuri tentang “tata-bahasa Indonesia”. Buku kedua, Morfologi dan Pembentukan Kata, dinyatakan terbit tahun 1988 (badanbahasa.kemdikbud.go.id). Sayang, buku tata-kata ini tidak bisa ditemukan. Buku ketiga, tata-bunyi, juga direncanakan untuk ditulis (1985: ix, 42), tetapi tidak ada beritanya setelah itu. Maka, ulasan saya tentang sumbangan akademik Pak Samsuri terhadap upaya pembakuan bahasa Indonesia terbatas pada bidang sintaksis. Namun, seperti dinyatakan oleh Pak Anton Moeliono, Tata Kalimat telah membawa angin segar bagi sintaksis bahasa Indonesia, karena buku ini memaparkan struktur kalimat bahasa Indonesia sebagaimana digunakan oleh para penuturnya. Mendengarkan, mencermati, dan mengikuti “apa kata data” ternyata lebih mencerahkan daripada setia-dan-fanatik terhadap “apa kata teori”.

MERENGKUH LINGUISTIK-MAKRO DAN MENENGOK KEMBALI BAHASAJAWA

Seperti telah disebutkan di depan, ketiga karya terakhir Pak Samsuri adalah “Studi Wacana” (1990), “Kemampuan Pembicara BJ” (1993), dan “Pengaruh BI pada BJ” (1994). (Sekedar mengingatkan pembaca, BI kependekan dari bahasa Indonesia, dan BJ kependekan dari bahasa Jawa.) Ketiga karya tahun 1990-an ini menunjukkan bahwa Pak Samsuri juga memberikan perhatian serius terhadap studi bahasa dalam-konteks, baik konteks wacana maupun konteks sosio-kultural. Pada bagian berikut, “Studi Wacana” diulas sebagai upaya merengkuh linguistik-makro, sedangkan “Kemampuan Pembicara BJ” dan “Pengaruh BI pada BJ” disarikan sebagai upaya menguak kembali struktur internal dan fungsi sosial bahasa Jawa.

Dari Linguistik-mikro ke Linguistik-makro

Aliran Linguistik menyarikan dan menyajikan sembilan teori besar. Namun, semua teori bahasa ini berada dalam wilayah linguistik-mikro, yang satuan analisisnya terbatas pada kalimat. Linguistik-mikro adalah linguistik bebas- konteks, dan makna yang dibahas terbatas pada makna kata dan kalimat. Ini berbeda dengan linguistik-makro, atau linguistik dalam-konteks. Makna yang dibahas ditentukan oleh konteks. Implikasi dari studi bahasa dalam-konteks ialah penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Menurut Lavandera (1988), linguistik- makro meliputi empat sub-disiplin: pragmatik (dengan konteks antar-penutur), analisis wacana (dengan konteks tekstual), sosiolinguistik (dengan konteks sosial), dan etnolinguistik (dengan konteks kultural). Terkadang terjadi tumpang-tindih antara sosiolinguistik dan etnolinguistik, sehingga muncullah konteks sosio–kultural.

Meskipun Aliran Linguistik tidak membahas teori-makro, benih-benih linguistik­–makro telah nampak dalam Tata Bahasa. Salah satu kekurangan teori generatif, dan sekaligus juga kelebihannya, ialah sikap-abai terhadap konteks, dan dengan demikian juga terhadap bahasa sebagai alat komunikasi. Melihat kekurangan ini, Pak Samsuri menyatakan, “kami ingin memasukkan aspek komunikasi dalam peristiwa bahasa” (1985: 40-41). Dalam bahasa lisan, komunikasi terjadi antar penutup dalam bahasa tulis, komunikasi terjadi antara penulis dan pembaca. Dalam sebuah percakapan yang melibatkan dua mitra tutur, peristiwa bahasa dapat ditampilkan pada Diagram 1.

negosiasi makna

Diagram 1. Negosiasi Makna dalam Percakapan

Diagram 1 ini saya sarikan dari penjelasan Pak Samsuri (1985: 41) tentang negosiasi makna yang terjadi antar-penutur. Makna dalam pikiran penutur A disampaikan melalui ungkapan, atau tuturan, yang kemudian didengar dan dipahami oleh penutur B, sehingga makna yang sama tertangkap oleh pikiran penutur B. Demikian pula ketika penutur B menanggapi apa yang telah diucapkan oleh penutur A, ia pun menyampaikan makna lewat ungkapan yang dipahami dan diterima oleh penutur A. Proses negosiasi makna dalam sebuah percakapan menyerupai snow–balling, salju yang menggelinding dan membesar. Setiap tuturan menciptakan konteks baru untuk tuturan berikutnya. Keseluruhan wacana yang dihasilkan oleh sebuah percakapan memiliki kepaduan (coherence), yang diciptakan bersama oleh dua penutur. Sedangkan untuk wacana yang dihasilkan oleh monolog atau karangan- tunggal, kepaduan diciptakan oleh seorang penutur atau penulis (Thornsbury 2005: 35-83).

“Referensi dan Inferensi di dalam Wacana”, karya Pak Samsuri yang terbit di jurnal Linguistik Indonesia (1990), berada dalam dua sub–disiplin sekaligus: analisis wacana dan pragmatik. “Studi Wacana” ini mengkaji bagaimana makna tersampaikan dari penutur kepada petutur, atau dari penulis kepada pembaca. Di antara aspek-aspek penting wacana dan kewacanaan adalah konteks, konteks, kohesi, koherensi, keterbacaan, implikatur, dan pra-anggapan (1990: 55). Dua yang terakhir ini dekat dengan referensi dan inferensi, rujukan-tersurat dan rujukan-tersirat. Dari “Studi Wacana” ini, tiga topik-kecil saja yang dikupas: (i) berkurang tanpa salah- paham, (ii) metafora lokal-kontekstual, dan (iii) menangkap yang tersirat dari yang tersurat. Contoh-contoh yang saya gunakan di sini tidak selalu persis dengan contoh dalam artikel.

Apakah yang dimaksud dengan berkurang tanpa salah paham? Makna yang diungkapkan penutur secara umum dipahami dengan benar oleh pendengar, meskipun aspek rincinya tidak tersampaikan.

  • Biasanya ayah membaca koran di beranda (1990: 57)

Bila saya mendengar tuturan ini dari seorang kawan, yang ayahnya tidak saya kenal dan rumahnya tidak saya ketahui, maka makna yang saya tangkap adalah orang tua laki-laki kawan saya itu kebiasaannya membaca surat kabar di teras-depan rumahnya. Pemahaman saya ini benar. Sementara itu, informasi yang dimiliki kawan saya jauh lebih banyak dan lebih rinci. Dalam kalimat (8), “biasanya” merujuk pada waktu pagi, antara jam 7 dan 8, “ayah” merujuk pada laki-laki tua, berusia 70 tahun, berambut putih, kegemarannya memakai sarung dan kaos oblong putih, “membaca” merujuk pada kegiatan mencermati artikel-artikel tentang politik, budaya, olah raga, dan kesehatan, “koran” merujuk pada Kompas, dan “di beranda” merujuk pada kursi rotan di teras depan rumah yang penuh dengan tanaman hias.

Bagi penutur, kalimat (8) adalah intisari dari berpuluh-puluh informasi rinci yang melingkupi setiap kata utama (content word) di dalamnya. Bagi pendengar, kalimat itu sekedar informasi umum yang bersifat global. Tentu saja “global” dan “rinci” ini juga tergantung pada pengalaman dan pengetahuan pendengar. Bagi orang yang sering bepergian naik pesawat terbang, ketika mitra tutur mengucapkan “bandara Cengkareng”, ia bukan hanya menangkapnya secara global, melainkan juga mampu membayangkan luasnya bandar udara itu, megahnya bangunan-bangunan di sana, bagaimana antre mendapatkan boarding pass, dan seterusnya. Singkatnya, makna sejati dari sebuah tuturan atau kalimat sering merupakan inti dari jaringan informasi yang sangat luas.

Selanjutnya, bahasa sehari-hari tidak lepas dari metafora atau perlambang. Ketika seseorang mengumpat, Dasar kambing!, kejengkelannya yang memuncak telah membinatangkan orang yang diumpat bodoh dan tidak tahu aturan. Sebaliknya, penggunaan metafora bisa juga berisi pujian.

  • Karim itu Chairilnya jurusan kita (1990: 59)

Panggunaan “Chairilnya” dalam kalimat (9) menyatakan bahwa Karim sangat berbakat menulis puisi. Ini adalah metafora lokal-kontekstual. Chairil Anwar adalah penyair angkatan 1945, yang sebagian sajaknya, seperti “Aku” dan “Krawang Bekasi”, hampir selalu diajarkan kepada siswa SLTP di seluruh Indonesia. Jadi makna “Chairilnya” dalam tuturan (9) bisa langsung dipahami berkat pengetahuan dasar pendengar tentang sastra Indonesia. Karena itu, untaian dua kalimat (10) membingungkan.

  • Karim itu Chairilnya jurusan kita. Lukisannya sering dipajang di sini.

Kalimat pertama bisa dimengerti, tetapi tidak ada hubungan yang relevan dengan kalimat kedua. Bagaimana mungkin seorang penyair memamerkan lukisan? Kalimat (11) mungkin juga tidak jelas maknanya, tetapi dengan alasan yang berbeda.

  • Karim itu Whitman-nya jurusan kita

Siapa itu Whitman? Jika pendengar adalah mahasiswa Amerika yang sudah lancar berbahasa Indonesia, maka ia akan langsung mengerti. Walt Whitman (1819-1892) adalah penyair Amerika terkenal, penulis Leaves of Grass, yang hidup pada abad kesembilan belas. Bagi orang Indonesia, metafora ini bukan lokal dan tidak kontekstual, sehingga maknanya tidak jelas.

Terakhir, kehalusan budi manusia sering terungkap lewat makna tersirat, terutama jika penutur berupaya untuk tidak menyinggung perasaan pendengar (1990: 61). Saya punya contoh favorit. Bayangkan seorang dosen sedang mengajar, sementara di koridor para mahasiswa gaduh luar biasa, dan kemudian terjadi dialog berikut:

  • A: Maaf, Dik, saya sedang mengajar.

B: Oh, tidak usah minta maaf, Pak. Silakan terus mengajar.

Secara harfiah, makna kedua tuturan ini saling terkait. Tetapi, jawaban tersurat yang diberikan oleh B tidak gayut dengan makna tersirat yang dimaksudkan oleh A. Pada ujaran A ada bagian-bagian yang tersembunyi, ditandai cetak miring berikut. Jika semuanya diungkapkan, akan kita dapatkan tuturan panjang (13).

  • Maaf, Dik, jangan gaduh. Tolong semuanya diam. Saya sedang mengajar. Karena kalian gaduh, saya dan mahasiswa saya di kelas tidak bisa konsentrasi.

Tentu saja, dalam kenyataan, tidak ada mahasiswa yang menjawab dengan ujaran penutur B (12). Semua penutur normal pasti memiliki kemampuan pragmatik, sehingga mampu menangkap makna tersirat dari penutur A(12).

Apa yang dapat kita simpulkan dari ketiga uraian singkat di atas? Setiap penutur bukan hanya memiliki kompetensi bahasa (Chomsky 1965), melainkan juga kompetensi komunikatif (Hymes 1972) serta “pengetahuan umum” yang diperlukan untuk berwacana dengan penutur lainnya. Ia bukan hanya mampu membedakan mana kalimat yang gramatikal dan tak-gramatikal, melainkan juga mampu menangkap maksud mitra tutur, baik yang tersurat maupun tersirat, dan juga makna yang terungkap lewat perlambang lokal kontekstual.

Rindu Kampung: Menguak Kembali Bahasa Jawa

Apa yang dimaksud dengan “rindu kampung”? Tesis master Pak Samsuri, karya-tama beliau yang pertama, adalah The Phonology of Javanese (1958). (Sayang, tesis ini tidak bisa ditemukan untuk diulas.) Karya-karya penting selanjutnya yang beredar luas di tanah air adalah tentang linguistik umum dan linguistik bahasa Indonesia. Setelah tiga-puluh lima tahun, nampaknya beliau rindu kampung dan menengok kembali linguistik bahasa Jawa. “Kemampuan Pembicara BJ” (1993) mencermati struktur internal bahasa Jawa sebagai kompetensi bahasa penuturnya, dan “Pengaruh BI pada BJ” (1994) mengamati perubahan bahasa Jawa, baik pada struktur internalnya maupun fungsi sosialnya sebagai sarana komunikasi pada era kehidupan modern.

Perbedaan Bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris nampak mencolok pada adanya tingkat tutur: ngoko, madya, dan krama, atau ‘rendah, sedang, dan tinggi’ (Poedjosoedarmo et al. 1979). Namun, untuk menyederhanakan pemaparan, Pak Samsuri menyetujui pendapat Pak Sudaryanto (1991) dan membagi tingkat tutur menjadi dua macam saja: ngoko dan krama. Dari berpuluh-puluh ribu kosakata bahasa Jawa, jumlah kata yang memiliki bentuk ngoko dan krama tidak lebih dari seribu. Tetapi kontras antara ngoko dan krama selalu muncul sangat jelas karena semua kata sarana (pronomina, preposisi, kata-sambung, kata-penunjuk, kata-tanya) dan sebagian besar afiks berfrekuensi tinggi selalu memiliki bentuk ngoko (N) dan krama (K), seperti nampak pada contoh (14) dan (15).

  • Ini buku siapa?
  • N: Iki buku-ne sapa?
  1. K: Menika buku-nipun sinten?

Kalimat bahasa Indonesia (14) memiliki padanan (15.a) dan (15.b) dalam bahasa Jawa, N dan K. Nomina buku memiliki bentuk N dan K yang sama, tetapi dua kata sarana dan afiks yang menyertainya dalam (15.a) dan (15.b) memiliki bentuk N dan K yang berbeda: iki : menika, -ne : -nipun, sapa : sinten. Maka tuturan K selalu berbeda secara mencolok dari tuturan N, sehingga keduanya dapat dipandang sebagai kode yang berbeda. Dalam sebuah percakapan, dimana penutur bahasa Jawa beralih dari bentuk N ke K atau sebaliknya, peristiwa tutur ini dapat dianggap sebagai alih kode (Poedjosoedarmo et al. 1979: 37-43). Dengan kata lain, bentuk N dan K mirip dengan “dua bahasa” yang berbeda.

Dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, yang tak memiliki tingkat tutur berjenjang, pengucapan dan pemahaman ujaran cukup melibatkan tiga komponen bahasa: semantik, sintaksis, dan fonologi. Tetapi untuk bahasa Jawa, harus ditambahkan komponen pragmatik (1993: 411-13). Mengapa? Dalam setiap komunikasi verbal, penutur bahasa Jawa selalu mempertimbangkan siapa mitra tuturnya—dari segi usia, status sosial, dan tingkat keakraban. Masing-masing faktor ini dipecah lagi. Usia bisa lebih tua, sebaya, atau lebih muda. Status sosial bisa lebih tinggi, sederajat, atau lebih rendah. Tingkat keakraban bisa tak kenal, sekedar kenal, dan akrab. Persilangan antara sub-sub faktor inilah yang kemudian menentukan pemilihan tingkat tutur: N atau K. Misalnya, untuk kalimat bahasa Indonesia (16.a), jika ditujukan kepada adik, digunakan tuturan (16.b), tetapi jika ditujukan kepada ayah, digunakan tuturan (16.c).

  • Harganya berapa?
  1. N: Regane pira?
  2. K: Reginipun pinten?

Jadi, istilah “pragmatik” digunakan oleh Pak Samsuri tidak dalam pengertiannya yang umum. Karena penutur bahasa apa pun, dalam setiap percakapan, selalu menggunakan kompetensi pragmatik-nya untuk menghasilkan tuturan yang santun. Menurut hemat saya, beliau menggunakan istilah ini dalam pengertian yang lebih khusus: “sosio-pragmatik” dan “etno-pragmatik”. Yang pertama merujuk pada faktor-faktor sosial seperti yang dikemukakan oleh sosiolinguistik, yang kedua merujuk pada faktor sosio-kultural, terutama pada kesantunan khas Jawa, yang dikaji oleh etnolinguistik. Ini nampak pada “Telaah Pustaka” (1993: 406-08). Di sini muncul nama antropolog Malinowski (1956), yang menyatakan bahwa tuturan dan situasi-tutur saling terkait erat, sehingga makna tuturan selalu ditentukan oleh situasi-tutur, dan juga nama ahli semiotika Umberto Eco (1976), yang menyatakan bahwa bahasa sebagai sistem tanda pada hakikatnya merupakan sistem tata-nilai dan tingkah-laku.

Hal baru yang dikemukakan oleh Pak Samsuri adalah “wacana objektif” dan “wacana subjektif” (1993: 407-08, 1994: 183-86). Wacana objektif adalah wacana yang tidak melibatkan mitra tutur dan/atau orang ketiga yang dihormati, wacana ini merujuk pada “sesuatu di luar sana” yang menjadi topik pembicaraan. Wacana ini memunculkan bentuk N jika ketakziman terhadap mitra tutur tidak diperlukan, dan bentuk K jika ketakziman diperlukan. Kalimat bahasa Indonesia (17) memiliki padanan (18.a) dan (18.b) dalam bahasa Jawa (1994: 183).

  • Gunung Semeru di Jawa Timur itu tinggi sekali.
  • N: Gunung Semeru ing Jawa Wetan iku dhuwur banget.
  1. K: Gunung Semeru ing Jawi Wetan menika inggil sanget.

Sebaliknya, wacana subjektif melibatkan mitra tutur dan/atau orang ketiga yang dihormati. Dengan mempertimbangkan tingkat keakraban dan ketakziman terhadap mitra tutur, selain bentuk N dan K, muncul pula bentuk ngoko alus (NA) dan krama alus (KA), kata alus berarti halus. Kalimat bahasa Indonesia (19) memiliki empat padanan dalam bahasa Jawa: N, K, NA, dan KA(1994: 184).

  • Kamu kemarin pergi ke mana?
  • N: Kowe dhek wingi lunga menyang endi?
  1. K: Sampeyan kala wingi kesah dhateng pundi?
  2. NA: Panjenengan dhek wingi tindak menyang endi?
  3. KA: Panjenengan kala wingi tindak dhateng pundi?
Tabel 3. Perubahan Kata/Frasa dari N ke K, NA, dan KA
Bahasa Indonesia Ngoko Krama Ngoko Alus Krama Alus
Kamu Kowe sampeyan panjenengan panjenengan
kemarin dhek wingi kala wingi dhek wingi kala wingi
Pergi Lunga kesah tindak Tindak
ke mana menyang endi dhateng pundi menyang endi dhateng pundi

 

Untuk memudahkan penjelasan, perubahan kata dari bentuk N menjadi K, NA, dan KA dicantumkan pada Tabel 3. Dari N ke K, perubahan koweàsampeyan dan lungaàkesah menyarankan ‘ketakziman sedang’. (Lambang anak panah [à] berarti ‘menjadi’.) Sedangkan dari N ke NA/KA, perubahan koweàpanjenengan dan lungaàtindak menyarankan ‘ketakziman tinggi’. Secara sintaktik, hubungan ketakziman antara pronomina kedua dan verba pada (20.b, c, d) adalah hubungan predikatif. (Hubungan lain [tanpa contoh di sini] adalah hubungan atributif dan posesif.) Perhatikan pula bahwa pada perubahan dari N ke K dan KA, semua kata berubah, sedangkan dari N ke NA, hanya pronimina kedua dan verba-predikatif yang berubah, adverbia dhek wingi ‘kemarin’ dan menyang endi ‘ke mana’ tidak berubah. Penggunaan NAmenyarankan ‘ketakziman tinggi’ dan ‘keakraban’.

Dari pembahasan singkat tentang empat tingkat tutur bahasa Jawa ini, apa yang dapat kita simpulkan? Ada tiga hal. Pertama, keempat tingkat tutur tersebut tidak berbeda secara sintaktik, tetapi hanya berbeda secara leksikal. Perbedaan leksikal itu menyarankan adanya tiga tingkat ketakziman: 0 “nol”, sedang, dan tinggi. Kedua, dalam tindak-tutur yang ditentukan oleh wacana objetif atau subjektif, kata- kata dengan tingkat ketakziman yang berbeda itu dipilih dari poros paradigmatik dan diproyeksikan pada poros sintagmatik, sehingga menghasilkan tingkat tutur tertentu. Ketiga, kesantunan Jawa telah menghasilkan sistem leksikal yang kompleks pada poros paradigmatik, dan sistem proyeksi yang kompleks pula pada poros sintagmatik. Akibatnya, pemerolehan bahasa Jawa sebagai bahasa pertama merupakan proses psikologis yang sangat rumit. Walhasil, tidak mengherankan jika generasi penutur bahasa Jawa hari ini pada umumnya tidak fasih menggunakan bahasa ibu mereka. Inilah yang ditelaah dengan cermat pada bagian akhir “Pengaruh BI pada BJ” (1994: 189-91).

Pada awalnya, seperti telah disinggung di depan, upaya menjadikan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi kehidupan modern telah mengakibatkan terjadinya ledakan jumlah kosakata yang begitu besar. Ketika bahasa Jawa digunakan dalam konteks yang sama, kosakata baru bahasa Indonesia itu pun kemudian diserap secara masif oleh bahasa Jawa. Mari kita simak kutipan dari Panyebar Semangat (23 Mei 2009: 38) berikut (cetak miring ditambahkan), beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

  • Penyakit kronis iku bisa awujud artritis, radang usus besar, kolesterol, anemia, hipertensi lan hipotensi, stres, obesitas, lan sapanunggalane.
  • Penyakit kronis itu bisa berupa artritis, radang usus besar, kolesterol, anemia, hipertensi dan hipotensi, stres, obesitas, dan lain sebagainya.

Kalimat (21) yang dikutip dari majalah mingguan berbahasa Jawa itu terdiri dari 18 kata, dan 12 di antaranya adalah kata pinjaman dari bahasa Indonesia, yang hampir semuanya (kecuali penyakit dan radang usung besar) diserap dari bahasa asing (Inggris). Bagi penutur non-Jawa pun, makna kalimat (21) langsung bisa ditebak dan kemungkinan besar dapat dimengerti. Secara fonologis, iku dekat dengan itu, bisa awujud dekat dengan bisa berwujud, lan dekat dengan dan, lan sapanunggalane bisa ditebak dari konteks, dan sebagainya.

Pengaruh ledakan leksikal dan serapan tamak itu tidak terlalu penting. Yang lebih penting dan diulas secara tajam adalah penyusutan yang drastis dari penggunaan tingkat tutur krama. Subjek penelitian yang digunakan oleh Pak Samsuri adalah 60 keluarga Jawa di kota Surabaya dan Malang. Suami-isteri dari semua keluarga itu, rata-rata berusia sekitar 60 tahun, adalah penutur bahasa Jawa yang fasih menggunakan keempat tingkat tutur: N, K, NA, dan KA. Pada waktu putera-puteri mereka masih kecil, mereka dibesarkan dan dididik menggunakan keempat jenis tingkat tutur tersebut. Namun, setelah anak-anak itu dewasa, bekerja, dan berkeluarga–sebagian besar tinggal jauh dari Surabaya atau Malang, mereka tidak lagi menggunakan bahasa Jawa krama. Dengan kedua orang tua, mereka menggunakan NA, dan bahkan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia.

Apa komentar Pak Samsuri? Beliau mengambil sikap sebagai pengamat yang objektif. Tidak ada penyesalan atau keluh-kesah terhadap menyusutnya penggunaan bahasa Jawa krama. Bahkan beliau merujuk pada “Gerakan Jawa Dwipa” (di bawah arahan R. Tjokrosoedarmo di Surabaya pada tahun 1920-an), yang menganjurkan agar tingkat-tutur bahasa Jawa yang berjenjang itu dihapus, dan cukup digunakan satu tingkat tutur saja, yaitu ngoko (1994: 189-91). Nampaknya, dengan pesatnya kemajuan zaman dan datangnya kehidupan modern, cita-cita dari gerakan demokratisasi bahasa Jawa itu akhirnya tercapai juga. Hanya tingkat tutur N dan NA yang digunakan oleh mayoritas penutur bahasa Jawa, dan ini digunakan berdampingan erat dengan bahasa Indonesia. Tentu saja, setelah dua-puluh tahun berlalu, hasil penelitian ini perlu dikaji ulang: seperti apa penggunaan bahasa Jawa di Surabaya dan Malang saat ini?

Dari “Studi Wacana” dan “Penelitian Bahasa Jawa” tersebut, kita tahu bahwa sampai di ujung karier ilmiahnya, Pak Samsuri tetap seorang bahasawan kontemporer dan berpikiran terbuka. Beliau tekun mengikuti perkembangan linguistik mutakhir dan cermat mengamati kehidupan bahasa Jawa di bawah bayang- bayang bahasa Indonesia. Selama lebih dari empat-puluh tahun beliau menekuni fonetik, fonologi, morfologi, dan sintaksis cabang-cabang penting dari linguistik- mikro. Namun, ketika sejak tahun 1970-an studi bahasa semakin meluas dan mencakup berbagai jenis konteks, beliau pun tidak segan keluar sejenak dari linguistik-mikro dan melongok ke serambi linguistik-makro. Kerinduan beliau “pulang kampung” dengan menguak kembali kehidupan bahasa Jawa bukan kerinduan untuk bernostalgia, melainkan untuk mengambil potret bahasa Jawa hari itu—seperti apa adanya. Dari awal hingga akhir, beliau percaya bahwa bahasa adalah alat komunikasi, dan beliau percaya pada adanya wacana transaksional (1990: 55). Dengan kepercayaan itu, beliau telah menyampaikan seluruh pengetahuan linguistiknya kepada kita dengan bahasa yang jernih dan semangat ilmiah yang mencerahkan. Mengutip Tempo, semua karya beliau “enak dibaca dan perlu”. Karena suka humor, seandainya masih ada di antara kita, beliau akan menjawab, “Seperti tempe, enak dibacem dan perlu.”

SISI LAIN KEHIDUPAN PAK SAMSURI

Dari Pak Anton Moeliono, Pak Samsuri mendapatkan gelar kehormatan “pendekar bahasa”. Tetapi, seperti terbaca pada judul resensi ini, saya lebih suka menyebut beliau “begawan linguistik”. Dalam bahasa-gaul, “pendekar” adalah akronim untuk pendek dan kekar. Dalam pewayangan, pendekar lebih mengacu pada tokoh perkasa seperti Bima atau anaknya, Gatutkaca. Gambaran tentang Pak Samsuri agak jauh dari itu. Beliau lebih mirip dengan Abiyasa, begawan di Wukir Retawu. IKIP Malang, kini UM, juga mirip dengan padepokan sang begawan itu, karena dikelilingi enam gunung: Semeru, Bromo, Welirang, Arjuna, Kawi, dan Kelud. Ini bukan argumentasi tentang gelar mana yang lebih cocok, tetapi sekedar menjelaskan selera pilihan pribadi.

Julukan “pendekar” maupun “begawan” sama-sama menyarankan kehebatan beliau. Pak Samsuri unggul bukan hanya sebagai ilmuwan, melainkan juga sebagai pemimpin. Ketika beliau menjabat Dekan FKSS (1965-1970) dan Rektor IKIP Malang (1970-1974), saya belum menjadi mahasiswa di kampus ini. Namun kedua jabatan penting itu jelas menunjukkan bahwa beliau juga handal sebagai administrator dan pemimpin perguruan tinggi. Kepeloporan beliau juga menonjol dalam membina ilmu bahasa. Beliau adalah salah satu pendiri Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI), yang langsung terpilih sebagai ketuanya yang pertama, dan tugas itu diembannya selama enam tahun (1975-1981). Selain itu, beliau juga pernah menjadi anggota Steering Committee bagi Regional English Language Center (RELC), SEAMEO di Singapura (1967-1972), sebagai wakil (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) Indonesia. Artinya, kepemimpinan dan keahlian beliau juga diakui di kawasan Asia Tenggara.

Saya merasa beruntung pernah diajar oleh Pak Samsuri. Humor yang dikutip di awal tulisan ini saya catat sewaktu beliau mengajar Cross-cultural Understanding pada tahun 1981. Di kelas itu, ada kawan mahasiswa yang menulis makalah dengan judul “My Alternation in Using Indonesian and English”. Kata beliau, “kalau judulnya my alternation …, Anda kan nlungsungi” (berganti kulit seperti ular). Humor lain yang saya ingat ialah sewaktu mengikuti Penataran Prajabatan tahun 1984. Ketika beliau telah masuk ruang dan siap memberikan ceramah, semua petatar berdiri tegak dengan sikap sempurna dan Ketua Kelompok berbicara tegas dan keras, “Kami peserta Prajabatan siap mengikuti penataran hari ini. Laporan selesai”. Dengan santai beliau menjawab, “Terus la apa?” (Terus ngapain?). Semua peserta pun tertawa terpingkal-pingkal. Jawaban itu mengisyaratkan bahwa beliau tidak menyukai disiplin militeristik dibawa ke dalam dunia akademik. Kemudian, di awal ceramah tentang GBHN, beliau mengutip, “Garis-garis Besar Haluan Negara adalah Haluan Negara dalam Garis-garis Besar …, lalu berkomentar, Padha ae karo ora omong apa-apa” (Sama saja dengan tidak bicara apa-apa). Ini kritik beliau terhadap verbalisme—omong besar dan penggunaan bahasa yang boros dan sia-sia.

Menjelang tamat Program S1, sewaktu melewati Gedung H1, beberapa kali saya melihat Pak Samsuri datang untuk mengajar di Fakultas Pascasarjana (sekarang Program Pascasarjana) naik sepeda jengki warna biru metalik. Sepeda itu disandarkan pada dinding gedung di sebelah timur H1. Alangkah sederhananya Profesor Samsuri, Ph.D., sang pakar linguistik yang mantan Dekan dan mantan Rektor. Tidak ada post-power syndrome, juga tidak berpura-pura bersahaja. Itulah beliau, yang menjalani kehidupan asketik, tak silau pada kemewahan duniawi, dan tampil apa adanya. Semua yang terbaik telah beliau berikan kepada IKIP Malang, kepada kita semua murid-muridnya, dan kepada semua pencinta bahasa dan ilmu bahasa di tanah air. Kita semua yakin bahwa saat ini “di sana” beliau juga tidak mengidap post-worldly life syndrome. Semua yang harus ditunaikan telah beliau kerjakan sebaik-baiknya.

The day is done and the darkness

Falls from the wings of the Night

As a feather is wafted downward From

an eagle in his flight

 

Hari telah usai dan kegelapan

Jatuh dari sayap Gelap-malam

Seperti sehelai bulu jatuh melayang

Dari sang garuda yang jauh terbang4

Sang garuda, sang begawan linguistik, telah terbang jauh meninggalkan kita. Di sini terhampar senyap dan harap. Di luar hari telah gelap, Pak Sam, guruku. Hari telah malam, “Selamat malam”.

Catatan

1 Keempat karya Pak Samsuri yang tidak dapat saya temukan tercatat pada dua sumber: (1) “Sedikit tentang Pengarang Buku Ini” pada halaman terakhir (507) Tata Kalimat Bahasa Indonesia (1985), dan (2) Samsuri dalam rubrik “Tokoh” pada laman badanbahasa. kemdikbud.go.id.

2Terhadap Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B), yang memprakarsai upaya pengembangan dan pembakuan bahasa Indonesia pada zaman Orde Baru, ada dua kritik, dari pakar studi budaya (cultural studies) Ariel Heryanto dan sastrawan Alif Danya Munsyi. Melalui laporan penelitiannya, Language of Development and Development of Language: the Case of Indonesia, yang diterbitkan sebagai manuskrip Pacifics Linguistics seri-86, Ariel Heryanto (1995: 38-52) menyoroti kinerja P3B secara kritis—dalam konstelasi politik Orde Baru. Bahasa Indonesia berkembang sangat pesat, terutama lewat penambahan kosakata dan istilah baru, yang jumlahnya ribuan atau bahkan puluhan ribu. Namun, pada saat itu ada dua kekuatan besar yang berhadap-hadapan: pemerintah otoriter vs. rakyat yang menginginkan kebebasan berpendapat, dan politisi-birokrat vs. ilmuwan- bahasawan. Pada antagonisme pertama, pemerintah ingin mengontrol pikiran masyarakat dengan bahasa-kekuasaan. Pada antagonsime kedua, politisi-birokrat memiliki dan menyukai bahasa-kekuasaan mereka sendiri, sedangkan bahasawan- ilmuwan berupaya keras mengembangkan bahasa Indonesia menjadi sarana-utuh yang mampu sepenuhnya mengungkapkan gagasan keilmuan dan teknologi modern yang super-kompleks.

Manuskrip Ariel Heryanto terbit tahun 1995, di akhir era Orde Baru. Pada zaman reformasi, P3B berubah nama menjadi Pusat Bahasa (tahun 2000), dan kemudian berganti lagi menjadi Badan Bahasa (tahun 2010). Perubahan nama ini mestinya juga menunjukkan adanya perubahan kebijakan pemerintah dalam upaya pengembangan bahasa Indonesia selanjutnya. Dengan demikian, tesis Ariel Heryanto tersebut perlu dikaji ulang, dengan mengajukan pertanyaan: pola pengembangan bahasa Indonesia model Orde Baru tersebut berlaku sampai kapan? Kemudian, adakah perubahan yang signifikan? Apa hasilnya? Bagaimana pula rencana dan proyeksi ke depan?

Kritik Alif Danya Munsyi, nama samaran Remy Sylado, disampaikan melalui tulisannya “Bahasa Kita Bukan Hanya Diurus Sarjana Bahasa” (1996 [2005]). Kritik ini lebih pedas daripada kritik Ariel Heryanto. Munsyi mencemooh P3B sebagai “Pusat Pembinasaan dan Pembingungan Bahasa” dan mengejek bahasa yang “baku cenderung kaku lalu tak laku” (hlm. 4). Bagi seorang “munsyi”, atau sastrawan- bahasawan, bahasa yang “indah dan tepat” lebih menarik daripada bahasa yang “baik dan benar”. Panduan terakhir ini berarti ‘santun dalam penggunaan’ (sesuai dengan kaidah pragmatik dan sosiolinguistik), dan ‘benar menurut aturan tata-bahasa’ (terutama aturan ejaan dan kaidah morfo-sintaktik). Ini urusan “sarjana bahasa”, kata Munsyi. Sementara pada panduan pertama, “indah” berarti mengikuti dorongan-dorongan estetik, dan “tepat” berarti mewujudkan penalaran yang jernih sambil menggali seluruh potensi kreativitas berbahasa. Selanjutnya ia memberikan ulasan, komentar, dan krtik terhadap ejaan bahasa Indonesia yang digunakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi pertama, cetakan ketiga (1990). Menurut pendapat saya, kritik pedas tersebut merupakan ungkap-verbal khas seorang sastrawan, yang telah menggelembungkan licentia poetica menjadi licentia linguistica. Kritik ini layak didengar, dan aspek yang konstruktif layak menjadi landasan kebijakan pengembangan bahasa Indonesia, kini dan di masa mendatang.

3 Istilah “semi-pasif” saya gunakan untuk memudahkan pemahaman. Istilah asli yang digunakan Profesor Bambang Kaswanti Purwo (1989: xiii) adalah “pasif tak- naratif”. Dalam buku Serpih-serpih Telaah Pasif Bahasa Indonesia yang beliau sunting banyak istilah lain untuk “semi-pasif” (tidak dipaparkan di sini) yang dikemukakan oleh para peneliti konstruksi pasif dalam bahasa Indonesia.

4 Puisi penutup tulisan ini adalah bait pertama dari “The Day is Done”, sajak karya Henry Wadsworth Longfellow (1807-1882), yang dimuat dalam antologi 101 Great American Poems (hlm. 8-10), suntingan The American Poetry and Literary Project (1998), dan diterbitkan oleh Dover Publications, Inc. Terjemahan bait tersebut ke dalam bahasa Indonesia oleh saya sendiri, penulis resensi ini.

Ucapan Terima Kasih

Saya sangat berterima kasih kepada tiga insan budiman. Pertama, Ibu Katharina Endriati Sukamto, Ph.D., Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia, telah membantu memberikan informasi lengkap tentang Profesor Anton M. Moeliono dan karya ilmiah terakhir Profesor Samsuri. Kedua, Pak Wahyu Widodo, M. Hum., bahasawan muda jenis-langka dan kolega di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang, telah bermurah hati meminjamkan karya-karya penting Profesor Samsuri, mencarikan informasi tentang jejak-ilmiah beliau plus berbagai rujukan mutakhir, dan membaca-cermat draf awal resensi ini serta memberikan saran-saran perbaikan yang sangat berharga. Tanpa rujukan mutakhir yang melimpah dari Pak Wahyu, daftar pustaka tulisan ini akan nampak ketinggalan zaman. Bahkan ketika draf awal resensi ini telah tandas-tuntas, Pak Wahyu masih menemukan dua karya terakhir Profesor Samsuri. Maka clean draf itu saya bongkar, dan dua karya tersebut saya rangkum dan saya sisipkan. Ketiga, Bapak Drs. Bambang Tribagjo Prawirayuwono, M.Psi., Dip. UCLES, guru bahasa Inggris senior SMAN 1 Malang dan pakar-atque– pemelihara budaya Jawa, telah menjadi narasumber penting untuk ungkapan- ungkapan bahasa pedalangan dan Jawa Kuno serta nama sejumlah tokoh dunia wayang. Bantuan yang tulus dan tiada putus dari ketiga insan budiman tersebut sangat membantu saya dalam proses penulisan “resensi” ini. Segala kekurangan dalam tulisan ini adalah tanggung jawab saya pribadi.

Daftar Pustaka

Badudu, J. S. 1984. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima. Chomsky, Noam. 1957. Syntactic Structures. The Hague: Mouton.

Chomsky, Noam. 1965. Aspects of the Theory of Syntax. Cambridge, Massachusetts: The MIT Press.

Cole, Peter, Gabriella Hermon, dan Yassir Nasanius Tjung. 2005. How Irregular is WH in situ in Indonesian? Dalam Studies in Language 29-3: 553-581. New York: John Benjamins Publishing Company.

Collins, James T. 1998 [2011]. Bahasa Melayu Bahasa Dunia: Sejarah Singkat. (Terjemahan dari Malay, World Language: A Short History.) Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia,

Comrie, Bernard. 1989. Language Universals and Linguistic Typology (second edition.) The University of Chicago Press.

Foulcher, Keith. 2000. Sumpah Pemuda: the Making and Meaning of a Symbol of Indonesian Nationhood. Asian Studies Review, Volume 24 Number 3 September 2000: 378-410.

Hammerly, Hector. 1982. Synthesis in Language Teaching: An Introduction to Languistics. Blaine, W.A., U.S.A.: Second Language Publication.

Harris, Randy Allen. 1995. The Linguistics Wars. New York/Oxford: Oxford University Press.

Hymes, Dell. 1972. On Communicative Competence. Dalam Prides, J. B. & Holmes, J.(eds.). Sociolinguistics (pp. 269-85). Harmondsworth: Pinguin.

Jakobson, Roman. 1959 [1992]. On Linguistic Aspects of Translation. In Schulte, Rainer & Biguenet, John (eds.). Theories of Translation: An Anthology of Essays from Dryden to Derrida. Chicago and London: The University of Chicago Press.

Jakobson, Roman. 1960 [1987]. Linguistics and Poetics. Dalam Pomorska, K. & Rudy, S. Roman Jakobson, Language in Literature, pp. 62-94. Cambridge, Mass., London, England: The Belknap Press of Harvard University Press.

Kaswanti Purwo, Bambang (ed.). 1989. Serpih-serpih Telaah Pasif Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Lavandera, Beatriz R. 1988. The Study of Language in its Sociocultural Context. Dalam Newmeyer, Frederick J. (ed.). Linguistics: The Cambridge Survey, vol. IV: Language: The Socio-cultural Context, pp. 1-13. Cambridge: Cambridge University Press.

Lyons, John. 1978. Chomsky. Fontana Modern Masters Series. London: Fontana- Collins.

Moeliono, Anton M. Kepergian Empat Pendekar Bahasa (Wartamerta). Dalam Prosiding Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia (KIMLI) 2009.

Panjebar Semangat No. 21, 23 Mei 2009.

Poedjosoedarmo, Soepomo, Th. Kundjana, Gloria Soepomo, dan Alip Suharso. 1979. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Samuel, Jerome. 2005 [2008]. Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? Pemodernan Kosakata dan Politik Peristilahan. (Terjemahan dari Modernisation lexical et politique terminologique: Le cas de l’Indonesien.) Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Samsuri. 1978. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Samsuri. 1985. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Jakarta: Sastra Hudaya.

Samsuri. 1988. Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Samsuri. 1990. Referensi dan Inferensi di dalam Wacana. Linguistik Indonesia, Tahun 8 No. 2, Desember 1990: 56-65.

Samsuri. 1993. Kemampuan Pembicara Bahasa Jawa: Suatu Studi Permulaan. Dalam Kridalaksana, Harimurti (ed.). Penyelidikan Bahasa dan Perkembangan Wawasannya. Jakarta: Masyarakat Linguistik Indonesia.

Samsuri. 1994. Pengaruh Bahasa Indonesia pada Pemakaian Unggah-ungguh Bahasa Jawa. Dalam Sihombing, Liberty P., Multamina R. M. T. Lauder,

  1. Pamela Kawira, dan Nitrasattri Handayani (ed.). Bahasawan Cendekia: Seuntai Karangan untuk Anton M. Moeliono. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia & Internusa.

Sampson, Geoffrey. 1980. Schools of Linguistics. Stanford: Stanford University Press.

Sapir, Edward. 1921. Language: An Introduction to the Study of Speech. San Diego, New York, London: Harcourt Brace Jovanovich, Publishers.

Slametmuljana. 1957. Kaidah Bahasa Indonesia I. Jakarta: Penerbit Djambatan. Sudaryanto (ed.). 1991. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: Duta

Wacana University Press.

Thornbury, Scott. 2005. Beyond the Sentence: Introducing Discourse Analysis.

Oxford: Macmillan.

Whitman, Walt. 1892 [1958]. Leaves of Grass. New York: New American Library.

Prof. Nuril Huda, M.A., Ph.D.: Mengutamakan Mutu dan Publikasi Karya Ilmiah Serta Kepemimpinannya yang Selalu Dikenang

Oleh: Ali Saukah
Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra

Mendorong Perlunya Acuan Penulisan Karya Ilmiah

Pak Nuril Huda meninggal 13 tahun yang lalu akan tetapi jejak-jejaknya masih saya rasakan seolah-olah beliau masih hidup. Betapa tidak, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (PPKI) yang sekarang masih tetap digunakan sebagai acuan untuk menulis karya ilmiah (dalam versi Edisi kelima, 2010) bagi para mahasiswa dan dosen UM adalah cetusan gagasan orisinal Pak Nuril Huda. Saya masih ingat beliau merasa prihatin mengamati perbedaan pendapat antara para dosen pembimbing yang muncul mengenai tata cara menulis skripsi, tesis, dan disertasi sehingga mahasiswa bimbingan yang menjadi korban.Perbedaan pendapat itu membuat mahasiswa bingung, mana yang harus diikuti.Bahkan, perbedaan pendapat itu terkadang masih terbawa di meja ujian tesis atau disertasi sehingga mengurangi waktu ujian untuk menanyakan hal yang lebih substansial.

Dengan hadirnya PPKI sejak edisi pertamanya tahun 2003, perbedaan pendapat yang membuat mahasiswa bingung seperti itu sangat jarang terjadi lagi, jika tidak bisa dikatakan tak ada lagi sama sekali. Keberadaan satu acuan resmi yang dianut untuk penulisan karaya ilmiah (skripsi, tesis, disertasi, artickel, makalah, dan laporan penelitian) sungguh memberikan dampak yang luar biasa bagi sivitas akademika suatu perguruan tinggi. Pedoman “PPKI” yang sebetulnya berlaku secara resmi untuk UM saja ternyata juga digunakan oleh perguruan tinggi lain yang belum memiliki Pedoman sendiri. Buku PPKI tampaknya laris terjual di pasaran sehingga ada saja penerbit yang membajaknya dan dijual di toko-toko buku di luar lingkungan UM.

Sekarang ini selalu terdengar kata-kata “PPKI” disebut oleh dosen dan/atau mahasiswa saat bimbingan skripsi/tesis/disertasi. Andaikata dilakukan “polling”, saya prediksi hampir 100% dosen dan mahasiswa mengenal PPKI. Itu buah tangan Pak Nuril Huda! Saya sebagai penerusnya, setiap kali saya ditugasi melakukan koordinasi untuk revisi PPKI, terbayang oleh saya yang menugasi adalah Pak Nuril Huda, termasuk rencana merevisi PPKI Edisi Kelima sekarang ini.

Mendesain Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Inggris di Indonesia

Dalam Kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah, sudah sangat lazim diketahui bahwa belajar Bahasa Inggris adalah belajar berkomunikasi melalui kegiatan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Padahal sebelumnya, belajar Bahasa Inggris lebih dirasakan sebagai belajar membaca saja, karena memang sebelum Kurikulum 1994, pengajaran Bahasa Inggris lebih ditekankan pada kemampuan membaca saja. Perubahan kebijakan dalam pengajaran Bahasa Inggris dalam Kurikulum 1994 yang tidak lagi hanya menekankan pada kemampuan membaca itu juga berkat buah pemikiran Pak Nuril Huda melalui penelitiannya berupa survey nasional tentang pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia yang dilakukan pada tahun 1989-1990. Kurikulum-kurikulum berikutnya dalam mata pelajaran Bahasa Inggris sampai dengan kurikulum yang berlaku sekarang tetap melanjutkan kebijakan tersebut.

Buah pemikiran Pak Nuril Huda juga dapat dirasakan oleh para pemerhati perkembangan kurikulum pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia dari waktu ke waktu. Pada saat sedang maraknya kemunculan pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa, muncul pula istilah pendekatan “kebermaknaan” sebagai pendekatan pengajaran Bahasa Inggris untuk Kurikulum 1994 yang sebetulnya mengadopsi konsep-konsep pendekatan komunikatif Munculnya istilah pendekatan kebermaknaan untuk pendekatan komunikatif dalam pengajaran Bahasa Inggris dalam Kurikulum 1994 didasarkan atas prinsip utama pendekatan komunikatif yang menekankan perlunya negosiasi makna dalam berkomunikasi menggunakan bahasa. Munculnya istilah tersebut juga bagian dari kontribusi buah pemikiran Pak Nuril Huda yang waktu itu dipercaya sebagai salah satu anggota Tim Inti Pengembang Nasional Kurikulum 1994 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Karena kesibukannya sebagai pimpinan IKIP Malang (sekarang UM), pada awal tahun 1990-an Pak Nuril menugasi saya untuk menggantikan kedudukannya sebagai anggota Tim Inti. Sebagai anggota Tim, pengganti beliau, saya merasakan betul bekas-bekas sentuhan buah pemikiran Pak Nuril Huda dalam pengembangan Kurikulum 1994.

Mendesain Pengembangan Jurnal Ilmiah

Banyak pihak, baik di UM maupun di luar UM, mengapresiasi keberhasilan UM yang pernah tercatat sebagai perguruan tinggi yang berhasil menerbitkan jurnal terakreditasi oleh Dikti paling banyak. Para pengelola jumal di UM, khususnya yang jurnalnya pernah terakreditasi, pasti tidak lupa dengan nama Pak Nuril Huda sebagai pimpinan yang secara langsung ikut “merevolusi” penerbitan jurnal ilmiah di IKIP Malang. “Oleh-oleh” berupa kebijakan penerbitan jurnal ilmiah di Indonesia yang dibawa oleh beberapa dosen UM pada tahun 1993-1994 (pada waktu masih IKIP Malang) dari Seminar Lokakarya Dikti tentang pengelolaan jumal ilmiah langsung ditindak-lanjuti oleh Pak Nuril Huda sebagai Pembantu Rektor I IKIP Malang.

Teman-teman di Fakultas Sastra mungkin ada yang tidak tahu bahwa jumal “Bahasa dan Seni” (yang sampai sekarang masih terakreditasi) dahulu bernama “Warta Scientia”. Karena “Warta Scientia” tidak mencerminkan substansi keilmuan artikel yang dimuatnya, maka menurut kebijakan barn Dikti harus diubah namanya menjadi “Bahasa dan Seni”. Revolusi nama seperti ini juga dilakukan pada jurnal­jurnal lain yang diterbitkan di IKIP Malang. Kebijakan Dikti yang lain tentang penerbitan jurnal ilmiah, yang pada waktu itu masih berupa rambu-rambu yang akhimya dituangkan dalam bentuk Instrumen Akreditasi Jurnal, juga langsung diadopsi di IKIP Malang pada tahun 1993-1994. Tampaknya kebijakan barn Dikti tentang penerbitan jurnal ilmiah di Indonesia tersebut sejalan dengan ide dan pemikiran Pak Nuril Huda sebagai akademisi yang aktif berperanan dalam kegiatan akademik di tingkat nasional maupun internasional. Kesejalanan pemikiran itulah yang mungkin mendorong Pak Nuril Huda mengambil langkah kebijakan yang bersifat komprehensif merespon kebijakan Dikti yang baru tersebut. Selain merevolusi sistem penerbitan jurnal di IKIP Malang, beliau juga menyiapkan sarana pendukungnya berupa pembentukan Tim Pengembang Jumal, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah yang juga mencakup bagaimana menulis artikel ilmiah untuk jurnal, dan penyelenggaraan seminar-lokakarya pengelolaan jumal di IKIP Malang. Jika ditelusur sejarahnya seperti itu, tercatatnya UM sebagai perguruan tinggi yang pernah menerbitkan jumal terakreditasi paling banyak juga karena buah pemikiran Pak Nuril Huda!

Pemikiran Pak Nuril Huda tentang perlunya diselenggarakan seminar­lokakarya tentang pengelolaan jurnal di IKIP Malang akhirnya diperluas jangkauannya dengan mengirimkan undangan secara terbuka kepada para peminat dari seluruh penjuru tanah air. Ternyata responsnya luar biasa. Sejak saat itu sampai dengan sekarang, jumlah peserta yang berminat hampir selalu melebihi alokasi tempat yang tersedia. Sampai dengan saat menjelang wafat, Pak Nuril Huda sebagai pimpinan lembaga tidak hanya memberikan pengarahannya kepada panitia dan fasilitator, akan tetapi juga terlibat langsung sebagai fasilitator dalam kegiatan seminar-lokakarya tersebut. Saya masih ingat, bahkan pada waktu beliau sudah dalam kondisi tidak sehat di sela-sela upaya berobat di Rumah Sakit Dr. Soetomo di Surabaya, beliau masih bersemangat menyajikan topik sebagai fasilitator seminar­lokakarya ini yang secara rutin diselenggarakan di Batu. Semangat itulah yang sampai sekarang tetap menginspirasi panitia dan fasilitator dalam menyelenggarakan seminar-lokakarya pengelolaan jumal.

 Mendorong Terbitnya Jurnal Himpunan Profesi Keilmuan

Jurnal Ilmu Pendidikan, yang lebih dikenal sebagai JIP, adalah jumal ilmiah dalam bidang pendidikan yang dilahirkan pada tahun 1994 oleh Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) dan kemudian dikelola di IKIP Jakarta oleh Prof. Dali S. Naga sebagai Ketua Penyuntingnya. Dua tahun kemudian, karena berbagai alasan, Prof. Dali S. Naga menyerahkan pengelolaan JIP kepada IKIP Malang.Pak Nuril Huda sebagai pimpinan lembaga tanpa ragu-ragu merespons secara positif penyerahan tanggung jawab pengelolaan JIP dari IKIP Jakarta untuk dikelola di IKIP Malang. Tampaknya ketidak-raguan Pak Nuril Huda dalam menerima tanggung jawab penerbitan JIP didasarkan atas prinsip yang selalu dipegang oleh beliau bahwa reputasi perguruan tinggi akan sangat ditentukan oleh karya-karya ilmiah yang dihasilkannya melalui penerbitan dalam bentuk buku dan jurnal ilmiah. Berkat sentuhan langsung maupun tidak langsung dari Pak Nuril Huda akhimya JIP berkembang menjadi jurnal ilmiah dalam bidang pendidikan yang menjadi acuan nasional terbukti dengan diperolehnya status terakreditasi dari Dikti dari sejak awal diberlakukannya sistem akreditasi jurnal ilmiah sampai sekarang.

Pak Nuril Huda sangat yakin bahwa JIP sebagai jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh himpunan profesi keilmuan dalam bidang pendidikan harus betul memperoleh perhatian dan dukungan para anggota komunitas himpunan dalam bidang pendidikan. Saya masih ingat, pada waktu ISPI dan pimpinan LPTK menyelenggarakan konferensi nasional dalam bidang pendidikan (KONASPI), Pak Nuril Huda berusaha sekuat tenaga melakukan “kampanye” untuk memperoleh perhatian dan dukungan para anggota himpunan bagi pengembangan dan keberlangsungan JIP sebagai jumal ilmiah dalam bidang pendidikan di Indonesia.

 

Aktif Memikirkan Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa Inggris

Di sela-sela kesibukannya sebagai pejabat di IKIP Malang dan UM, dari sejak jabatan yang diembannya di tingkat Jurusan sampai dengan puncak jabatan sebagai Rektor, Pak Nuril Huda juga sangat aktif dalam kegiatan akademik, selain mengajar dan membimbing, berupa kegiatan penelitian, dan penyajian hasil penelitian serta pemikirannya di forum nasional dan intemasional. Karya-karya ilmiahnya tersebar di berbagai terbitan ilmiah antara lain dalam Proceedings of the Eighth Institute of Language in Education International Conference 1992 (Hongkong), Learners and Language Learning, RELC Anthology Series 39, 1988 (Singapore), TEFLIN Journal, jurnal Warta Scientia, jurnal Bahasa dan Seni, jumal English Language Education, jurnal Forum Penelitian Kependidikan, Jurnal Ilmu Pendidikan (Indonesia). Pada tahun 1999, karya-karya ilmiah yang tersebar di berbagai terbitan ilmiah tersebut dihimpun dan diedit kembali menjadi sebuah buku yang berjudul “Language Learning and Teaching: Issues and Trends”, diterbitkan oleh Penerbit IKIP Malang. Kepakaran Pak Nuril Huda dalam bidang pendidikan Bahasa Inggris terlihat secara jelas dari karya-karya ilmiahnya seperti yang tercermin dalam judul buku tersebut, yaitu dalam bidang pembelajaran dan pengajaran bahasa secara umum, dan secara khusus dalam bahasa Inggris.

Dalam bidang pembelajaran bahasa Inggris, cakupan pemikiran Pak Nuril Huda cukup komprehensif, mulai dari pembahasan tentang bahasa Inggris yang dikuasai peserta didik sampai dengan bagaimana memperoleh pengetahuan tentang bahasa Inggris yang mereka kuasai. Topik-topik yang dibahas antara lain meliputi (1) karakteristik bahasa peserta didik yang ditinj au dari segi perkembangannya (learner language, interlanguage) dan dari segi kompetensi peserta didik dalam melakukan komunikasi menggunakan bahasa (communicative competence), (2) lingkungan kebahasaan yang berpengaruh terhadap penguasaan bahasa Inggris peserta didik, termasuk di dalamnya pengaruh bahasa yang digunakan oleh pendidik dalam berkomunikasi dengan peserta didik terhadap perkembangan bahasa peserta didik, (3) strategi pembelajaran yang digunakan oleh peserta didik dalam menguasai bahasa serta perlunya strategi pembelajaran diajarkan kepada peserta didik agar mereka lebih berhasil dalam menguasai bahasa Inggris, dan (4) metodologi penelitian yang dianggap sesuai digunakan untuk menggali pengetahuan tentang pembelajaran bahasa Inggris. Pak Nuril Huda membahas topik-topik tersebut berdasarkan telaah terhadap berbagai pemikiran dan hasil penelitian para pakar dalam bidang pembelajaran bahasa Inggris dan juga berdasarkan hasil penelitian Pak Nuril Huda sendiri.

Dalam bidang pengajaran bahasa Inggris, cakupan pemikiran Pak Nuril Huda juga cukup komprehensif, mulai dari fenomena yang terjadi dalam kelas sampai dengan bagaimana mengelola pengajaran bahasa di tingkat nasional dalam satu sistem pendidikan bahasa Inggris di Indonesia. Topik-topik tentang pengajaran bahasa Inggris yang dibahas oleh Pak Nuril Huda antara lain meliputi: (1) peranan kerja kelompok dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas, (2) implementasi pengajaran bahasa Inggris yang berbasis komunikatif yang dalam konteks di Indonesia juga disebut sebagai pendekatan kebermaknaan, khususnya pada waktu pelaksanaan Kurikulum 1994, (3) silabus yang dapat dikembangkan untuk mengajarkan bahasa Inggris di sekolah, (4) bahan pembelajaran bahasa Inggris, (5) pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar, (6) hasil survey tentang pengajaran bahasa Inggris di sekolah menengah di Indonesia, dan (7) pengelolaan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia dalam satu sistem mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Topik-topik tersebut dibahas secara lugas dan jelas oleh Pak Nuril berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukannya serta pemikiran sendiri yang kemudian dikaitkan dengan hasil telaah pemikiran para ahli dalam bidang pengajaran bahasa Inggris. Paparan pembahasan topik-topik tentang pengajaran bahasa Inggris tersebut memberikan gambaran kedalaman penguasaan Pak Nuril Huda terhadap konsep-konsep pengajaran bahasa Inggris serta kepedulian beliau terhadap pengajaran bahasa Inggris di Indonesia.

Dalam bidang pengajaran bahasa Inggris, cakupan pemikiran Pak Nuril Huda juga cukup komprehensif, mulai dari fenomena yang terjadi dalam kelas sampai dengan bagaimana mengelola pengajaran bahasa di tingkat nasional dalam satu sistem pendidikan bahasa Inggris di Indonesia. Topik-topik tentang pengajaran bahasa Inggris yang dibahas oleh Pak Nuril Huda antara lain meliputi: (1) peranan kerja kelompok dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas, (2) implementasi pengajaran bahasa Inggris yang berbasis komunikatif yang dalam konteks di Indonesia juga disebut sebagai pendekatan kebermaknaan, khususnya pada waktu pelaksanaan Kurikulum 1994, (3) silabus yang dapat dikembangkan untuk mengajarkan bahasa Inggris di sekolah, (4) bahan pembelajaran bahasa Inggris, (5) pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar, (6) hasil survey tentang pengajaran bahasa Inggris di sekolah menengah di Indonesia, dan (7) pengelolaan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia dalam satu sistem mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Topik-topik tersebut dibahas secara lugas dan jelas oleh Pak Nuril berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukannya serta pemikiran sendiri yang kemudian dikaitkan dengan hasil telaah pemikiran para ahli dalam bidang pengajaran bahasa Inggris.Paparan pembahasan topik-topik tentang pengajaran bahasa Inggris tersebut memberikan gambaran kedalaman penguasaan Pak Nuril Huda terhadap konsep-konsep pengajaran bahasa Inggris serta kepedulian beliau terhadap pengajaran bahasa Inggris di Indonesia.

Selain keaktifannya dalam meneliti, menulis, dan menyampaikan makalah dalam forum nasional dan intemasional, Pak Nuril Huda juga sangat aktif dalam berorganisasi memajukan mutu pendidikan bahasa Inggris di Indonesia dan di tingkat Asia Tenggara dalam forum TEFLIN, suatu organisasi profesi para pendidik bahasa Inggris di Indonesia, dan dalam forum RELC, suatu lembaga pusat bahasa Inggris yang bermarkas di Singapore yang dibentuk oleh Negara-negara ASEAN. Oleh karena itu,di kalangan akademisi yang menekuni bidang pendidikan bahasa Inggris, di Indonesia dan di Asia Tenggara, nama Pak Nuril Huda sebagai pakar dalam bidang pendidikan bahasa Inggris masih sangat melekat di hati.

 Penutup

Saya sangat yakin bahwa tulisan tentang pemikiran Pak Nuril Huda ini sangat tidak memadai untuk mewakili semua pemikiran Pak Nuril Huda. Namun, harapan saya, tulisan saya ini mengundang tulisan-tulisan dan rekan-rekan lain di UM yang dapat mengungkap pemikiran Pak Nuril yang belum terungkap. Pengungkapan semua pemikiran Pak Nuril akan dapat memberikan inspirasi bagi generasi penerus di UM, maupun generasi penerus para akademisi di Indonesia. Kepergian Pak Nuril Huda ke alam baka, pada saat beliau masih menjabat sebagai Rektor UM, sungguh suatu kehilangan yang sangat terasa, tidak hanya di kalangan warga UM akan tetapi juga di kalangan para akademisi khususnya dalam bidang pendidikan bahasa Inggris di Indonesia.

Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed. adalah sesepuh, guru, dan figur penting yang ikut mewarnai perjalanan perguruan tinggi UM

Prof. Drs. Saleh Marzuki, M.Ed. Peramu Metode Permainan Simulasi

Oleh: Supriyono

Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang

Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed. adalah sesepuh, guru, dan figur penting yang ikut mewarnai perjalanan perguruan tinggi UM

Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed. adalah sesepuh, guru, dan figur penting yang ikut mewarnai perjalanan perguruan tinggi UM

Bagi Fakultas Ilmu Pendidikan, bahkan bagi Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed. adalah sesepuh, guru, dan figur penting yang ikut mewarnai perjalanan perguruan tinggi UM. Beliau mengabdikan diri di lembaga ini mulai tahun 1973. Beliau memasuki masa purna tugas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada tanggal 11 Juli 2009.

Sepanjang karir yang dijalaninya sebagai dosen di UM, Pak Saleh (demikian biasanya para mahasiswa dan kolega memanggil) dikenal sebagai sosok yang memiliki karir jabatan struktural terbanyak dan terpanjang dalam sejarah UM, sekaligus memiliki karir akademik yang gemilang sampai memegang jabatan fungsional Guru Besar. Salah satu karya beliau yang cukup fenomenal adalah Permainan Simulasi sebagai salah satu metode pembelajaran yang terkenal, khususnya untuk pendidikan luar sekolah.

Pak Saleh adalah pakar dan aktor utama invensi permainan simulasi sebagai inovasi metode pembelajaran ini. Permainan Simulasi, lebih sering disingkat dengan akronim sebagai “Persimu” pernah demikian terkenal, ketika digunakan secara massal sebagai metode pembelajaran dalam Penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Dalam perkembangan selanjutnya Persimu menjadi lebih dikenal sebagai alat indoktrinasi dalam penataran P-4 pada zaman Orde Baru. Akibatnya, seiring dengan runtuhnya rezim Orde Baru dan surutnya program Penataran P-4, Persimu terkena dampak ikutan turut surut dan seperti tidak dikenal lagi pada era reformasi. Padahal secara substantif Persimu adalah metode pembelajaran yang steril dari kepentingan politik maupun kepentingan apapun lainnya kecuali kepentingan pembelajaran dan pendidikan. Ketika digunakan secara masif sebagai metode penataran P-4 di zaman Orde Baru, Persimu mengalami distorsi konsep, distorsi sejarah, dan distorsi aplikasi di lapangan.

Dalam rangka menyambut Lustrum UM ke-12 tahun 2014, invensi Persimu dan ketokohan Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed., pantas untuk dipentaskan kembali khususnya peran beliau dalam mengkreasikan metode permainan simulasi, dan peran beliau dalam ikut mengelola UM menuju kebesarannya. Secara akademik risalah ini ditulis dimaksudkan untuk mengingatkan kembali tentang roh Persimu sebagai metode pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran orang dewasa dan masyarakat dan sosok Pak Saleh sebagai aktor utama invensi Persimu beserta prestasi menajerial beliau untuk menjadi inspirasi bagi generasi penerusnya.

Ulasan ini juga terkandung maksud sebagai upaya meluruskan konsepsi teoritik, prinsip, dan sedikit sejarah kelahiran Persimu di Indonesia; di mana pada saat itu Persimu telah mulai mengalami distorsi, khususnya dalam hal pola penerapannya di lapangan maupun aspek sejarahannya. Pada saat itu, ada beberapa pihak yang menulis dan menerbitkan buku atau memberikan penjelasan tentang Persimu dengan mengabaikan fakta-fakta sejarah kelahiran maupun mengabaikan nilai normatif yang terkandung dalam Persimu itu sendiri. Dengan demikian, jati diri dan sejarah kelahiran Persimu yang sempat bias dapat diluruskan kembali, sehingga praktik Persimu yang tidak taat azas dapat dikoreksi. Hal ini juga berarti menegakkan citra Universitas Negeri Malang (UM) sebagai lembaga yang turut andil besar dalam mengembangkan metode Persimu. Pada saat ini, Persimu sudah sangat jarang dimainkan atau digunakan baik dalam konteks pembelajaran masyarakat (pendidikan nonformal dan informal) maupun dalam konteks persekolahan (pendidikan formal).

Pada zaman Orde Baru, secara kuantitatif penyebarannya Persimu sebagai suatu inovasi metode pembelajaran masyarakat mengalami peningkatan yang sangat pesat. Agar tidak menyimpang dari roh epistemologinya, upaya peningkatan desiminasi inovasi yang meluas ini tidak mudah pengendaliannya. Hal ini wajar terjadi, lebih-lebih bila para “pengendali” Persimu di lapangan kurang memahami filosofi, teori, konsep, dan prinsip-prinsip yang mendasari invensi dan inovasi lahirnya metode pembelajaran di Indonesia. Umumnya yang mereka tahu hanya bentuk konkretnya saja, sedangkan hal-hal di balik “beberan, kartu, dan kubus langkah Persimu” tersebut tidak diketahui secara jelas.

KILASAN SEJARAH DAN KOTEKS INOVASINYA

Sejarah Persimu di Indonesia dimulai sejak tahun 1974/1975, berawal dari kebijakan Rektor IKIP Malang waktu itu bapak Drs. M. Rosjidan, M. A. yang berkehendak mengakselerasikan tridharma perguruan tinggi di institut yang dipimpinnya. Tridharma perguruan tinggi merupakan merupakan tugas pokok yang harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang, artinya ketiga tugas itu harus ditumbuhkan bersama-sama walaupun mungkin intensitasnya yang berbeda sesuai dengan prioritas berdasarkan sumber dan kendala yang ada. Rektor berpandangan bahwa peningkatan bidang pendidikan dan pengajaran tidak terlepas dari peningkatan kemampuan tenaga pengajarannya, bukan saja di bidang ilmu pengetahuannya melainkan juga bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Kekayaan pengalaman tenaga pengajar pada kedua bidang tersebut akan memperbaiki mutu pengajarannya karena materi pengajaran yang terpadu dengan pengalaman lapangan akan menjadi sajian segar dan menarik.

Menyadari pentingnya penelitian dan pengabdian pada masyarakat maka pada tahun 1974 s.d. 1978, salah satu langkah manajerial yang diambil adalah dijalinnya hubungan kerjasama antara IKIP Malang dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan (BP-3K) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk mencari dan mengembangkan metode pendidikan kepada masyarakat yang efektif dan efisien. Melalui jalinan kerjasama tersebut rektor memberikan dorongan kepada staf pengajar baik senior maupun junior untuk aktif mengadakan penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

“Pada awal tahun 1975 saya selaku pimpinan IKIP Malang menugasi saudara Drs. M. Saleh Marzuki untuk memimpin percobaan permainan simulasi sebagai tindak lanjut seminar pendidikan nonformal di Ujung Pandang dan Batu dalam rangka mencari metode yang tepat guna, yaitu yang murah, mudah, luwes dan dapat menjangkau dengan cepat sasaran didik dalam jumlah besar atau secara massal. Kepadanya saya tugaskan juga untuk membentuk tim dengan cara memadukan tenaga dari IKIP Malang dan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Tim yang dibentuk pada waktu itu terdiri atas 4 orang dari IKIP Malang dan 5 orang dari Pemerintah Daerah, yang kemudian dikenal dengan Tim Tujuh” (Marzuki, 1988: viii).

Demikianlah kutipan kata sambutan Pak Rosjidan selaku Rektor IKIP Malang pada penerbitan buku Permainan Simulasi di Indonesia (Marzuki, 1988).

Sejarah invensi dan perkembangan Persimu dapat dipilah menjadi lima episode, yaitu: (1) tahap permulaan gagasan (2) tahap pengembangan model (3) tahap ujicoba (4) tahap diseminasi (5) tahap kulminasi dan (6) tahap distorsi.

Tahap Permulaan Gagasan. Persimu berangkat dari suatu kebutuhan terhadap perlunya mencari cara baru dalam bidang pendidikan nonformal di Indonesia, karena cara-cara yang bersifat konvensional tidak akan mampu mengatasi pendidikan secara luas atau masal kepada masyarakat. Adalah lembaga Pusat Inovasi dan Teknologi Pendidikan (Innotech), Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta yang pada saat itu tengah mencari cara atau metode baru yang efektif dan efisien dalam membelajarkan orang dewasa untuk berbagai tujuan dan kegiatan yang berkaitan dengan meningkatkan kecerdasan, perilaku dan kebiasaan hidup yang lebih baik, atau dengan kata lain pendidikan untuk pembangunan masyarakat. Dalam ciri yang lebih konkret, metode belajar yang dicari adalah metode yang mudah digunakan dan diproduksi, murah harga dan biaya penyelenggaraannya, penggunaannya luwes namun tujuan pengajaran dan pendidikannya tetap tercapai dengan baik.

Pada saat mencari alternatif pemecahan masalah-masalah pendidikan tersebut, BP-3K menjalin kerjasama dengan University of Massachusetts dan memperoleh bantuan dua orang konsultan, yaitu Prof. Dr. David R. Evan dan Dr. Arlen Etling. Beliau berdua menawarkan sejumlah pengalamannya beberapa tahun terakhir di Amerika Latin, diantaranya di Ekuador dalam bidang pengembangan bahan belajar untuk pendidikan nonformal, dengan harapan barang kali ada di antaranya yang dapat diterapkan atau diadaptasikan di Indonesia. Dengan kedatangan dua orang tersebut diskusi-diskusi mencari alternatif pendidikan yang bersifat massal dan tepat guna semakin intensif dan menarik. Berbagai model metode pembelajaran yang sempat ditimbang dalam diskusi menjadi alternatif solusi adalah fluency game (permainan lancar), self expression game (permainan ekspresi diri), dan simulation game (permainan simulasi).

Pak Saleh bersama Drh. Budihardjo (dari UGM) selaku counter part BP-3K dengan memanfaatkan dan belajar pada konsultan dari University of Massachusetts mengadakan analisis baik menyangkut analisis budaya, analisis individu (individual analysis) maupun analisis kemasyarakatan (social analysis) guna mengadaptasikan berbagai bentuk teknik belajar yang mereka perkenalkan dengan situasi masyarakat kita di Indonesia. Dengan demikian, penyesuaian ketiga macam teknik belajar tersebut mutlak diperlukan. Untuk itulah respon masyarakat terhadap penggunaan ketiganya perlu dipelajari dengan seksama. Seminar untuk mencari masukan- masukan dalam rangka mencari alternatif yang terbaik telah dilaksanakan masing- masing dua kali di Ujung Pandang dan dua kali di Malang pada akhir 1974 dan awal tahun 1975.

Tahapan Pengembangan Model. Pengkajian gagasan terjadi pada akhir tahun 1974 dan awal 1975 yang ditandai dengan penyelenggaraan seminar atau lokakarya pendidikan nonformal yang pertama untuk mematangkan ide mencari alternatif-alternatif pendidikan kepada masyarakat. Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai pelaksana lokakarya tersebut menyambut baik niat Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Lokakarya dipimpin oleh Drs. Soemitro yang bertindak sebagai Kepala Pusat Inovasi dan Teknologi, Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Hadir pada lokakarya itu dua orang konsultan dari USA yaitu Dr. David Evans dan Dr. Net Cooletta. Hasil lokakarya menyimpulkan bahwa berbagai metode nontradisional yang diperkenalkan oleh konsultan-konsultan itu masih perlu dikaji lebih lanjut untuk dapat dikembangkan di Indonesia.

Lokakarya pertama ini sampai pada kesimpulan bahwa metode-metode itu perlu dikaji lebih lanjut dan apabila mungkin akan dipergunakan sebagai metode yang dapat melengkapi metode yang selama ini telah biasa dilakukan oleh Badan Pengembangan Pendidikan Kabupaten (BAPPENKAB) Malang.

Tiga bulan kemudian yaitu pada Minggu ketiga bulan Januari (21 s.d. 23 Januari 1975) pengkajian dilanjutkan. Lokakarya kedua diadakan di Ujung Pandang. Berbeda dengan lokakarya pertama di mana kesempatan-kesempatan yang dicapai masih berupa ide-ide maka yang kedua ini sudah membicarakan bentuk konkret yang akan dilakukan. Bentuk metode yang akan dilakukan di Indonesia dan wujudnya permainannya masih perlu dibuat. Untuk menyiapkan lokakarya di Ujung Pandang inilah bapak Budihardjo, Etling, dan pak Saleh berangkat ke Ujung Pandang untuk membuat bahan belajar secara konkret. Masukan yang akan dibicarakan pada lokakarya ini adalah beberapa alternatif metode yang sudah siap untuk diperagakan di muka peserta.

Pada kesempatan lokakarya tersebut, para peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk mencoba menciptakan alat-alat, bahan-bahan maupun metode-metode yang bersumber dari permainan rakyat. Pada pembukaan lokakarya dipergunakan beberapa permainan yang sempat disiapkan sebelumnya oleh para penyaji. Drh. Budihardjo mendemonstrasikan Simulasi Gotong Royong, Arlen Etling memperagakan berbagai macam fluency game dan self expression game. Pak Saleh memperagakan Permainan Simulasi Bintang Anda.

Permainan Simulasi Bintang Anda terus dikembangkan oleh Pak Saleh bersama beberapa orang temannya di IKIP Malang dengan percobaan di Malang. Permainan Bintang Anda merupakan adaptasi dari Bario Game. Adaptasi ini dikemukakan oleh Dr. Arlen Etling konsultan dari University of Massachusetts. dalam bukunya yang berjudul “Collaboration for Materials Development” sebagai berikut:

By the opening, of the workshop Saleh had adapted the Bario Game. His Game became “Bintang Anda” meaning your star or your fortune. It focused on decisions necessary to cope with Indonesia Village life. (Etling, 1977: 16).

Permainan ini diberi nama Permainan Simulasi Bintang Anda untuk memberikan nama kepada berbagai macam permainan simulasi yang dikenal di dunia pendidikan. Perlu dijelaskan di sini bahwa nama Simulasi Bintang Anda setelah percobaan di Malang, masyarakat lebih senang meringkas nama itu menjadi Permainan Simulasi, sehingga istilah Bintang Anda menjadi kabur dan hilang. Bagi orang awam tentunya tidak menjadi soal, namun bagi para pendidik akan bertanya lagi, misalnya. simulasi yang mana.

Nama Bintang Anda pada permainan simulasi ini bukanlah suatu kebetulan melainkan melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertama, bahwa kejadian- kejadian yang dihadapi seseorang sepenuhnya atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa, namun demikian proses timbulnya tidak lepas dari perbuatan manusia sendiri, tidak sedikit kejadian yang menimpa diri seseorang adalah akibat dari pada kesalahan-kesalahan tangan manusia itu sendiri yang kemudian kurang disadarinya. Oleh karena itu, pesan-pesan dalam permainan simulasi merupakan gambaran kejadian dan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, maka tepatlah jika nasib mereka kadang-kadang karena hasil perbuatan sendiri. Kedua, bahwa nasib seseorang sebagian di antaranya dapat dikendalikan oleh orang yang bersangkutan. Jika ia mengalami kejadian yang kurang menguntungkan, boleh jadi hal tersebut karena kealpaannya sendiri. Misalnya jika seseorang mengalami sakit perut dan diare bisa saja karena kecerobohannya sendiri dalam cara makan dan minum yang kurang sehat. Itulah sebabnya kita perlu mengajarkan bagaimana cara mengendalikan diri dan lingkungannya secara lebih baik, sehingga terhindar dari kejadian yang tidak menguntungkan. Ketiga, bahwa “bintang”, di samping dapat ditafsirkan sebagai kekuatan Tuhan yang Maha Esa, sebagaimana lambang pada Garuda Pancasila, dapat pula ditafsirkan sebagai nasib dan kesempatan. Apa yang terjadi pada diri kita sebagian karena kita tidak memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Banyak orang berhasil karena mempunyai kesempatan dan pandai menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, begitu juga sebaiknya banyak yang mengalami kegagalan karena tidak memiliki dan tidak pandai menggunakannya.

Di antara permainan yang disajikan pada Lokakarya di Ujung Pandang ini, Permainan Simulasi Bintang Anda merupakan permainan yang lebih sederhana dan mudah dimainkan. Pada waktu peragaan di muka pejabat-pejabat Provinsi Sulawesi Selatan yaitu setelah Lokakarya, Permainan Bintang Anda yang berjudul Keluarga Berencana mendapat sambutan yang baik dari mereka. Warga masyarakat diajak untuk mencoba memainkannya sehingga mereka dapat merasakan dan menghayati permainan simulasi Bintang Anda tersebut. Permainan Bintang Anda untuk Keluarga Berencana dibuat khusus untuk peragaan di depan pejabat karena Simulasi yang diperagakan pada saat Lokakarya yang berjudul Keluarga Besar kurang sesuai atau dirasakan kurang menarik perhatian mereka.

Bermodal keberhasilan uji coba di Ujung Pandang, langkah pengembangan model dilanjutnya secara lebih intensif di Malang dengan dukungan kerjasama dengan BP-3K dan Pemerintah Kabupaten Malang. Pada bulan Januari 1975 diselenggarakan di Malang, untuk menjajakan ide dan contoh-contoh permainan ala Indonesia, yang sesungguhnya merupakan pengulangan saja. Sama halnya dengan di Ujung Pandang Lokakarya ini diprakarsai oleh BP-3K dan IKIP Malang sebagai tuan rumah. Lokakarya mengambil tempat di Selecta, Batu Malang. Acara Lokakarya persis dengan yang di Ujung Pandang. Tujuan utamanya adalah menjajakan ide dan teknik baru, serta ingin mengetahui reaksi para pejabat terhadapnya. Lokakarya diikuti oleh unsur-unsur IKIP Malang, IKIP Surabaya, Universitas Jember, Pemerintah Daerah Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Bidang Penmas Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur, Pendidikan Masyarakat Kota Madya dan Kabupaten Malang.

Tahap Ekperimentasi. Kegiatan berlangsung antara tahun 1975-1976 dan terbagi menjadi dua fase yaitu fase uji coba dan fase desiminasi terbatas. Setelah selesai lokakarya di Selecta Malang masing-masing peserta diharapkan mengadakan uji coba berbagai macam permainan yang pernah didemonstrasikan pada saat lokakarya. Peserta dari instansi pemerintah diperkirakan sulit untuk mengadakan uji coba karena alasan kesibukan rutin sesuai dengan program masing-masing, mereka menganggap bahwa tugas uji coba, tugas-tugas penelitian bukan kewenangannya. Harapannya untuk mengadakan upaya uji coba adalah perguruan tinggi yang turut serta pada lokakarya pertama dan kedua baik di Ujung Pandang maupun di Malang. Perguruan tinggi yang berpartisipasi adalah IKIP Ujung Pandang, IKIP Surabaya, Universitas Jember dan IKIPMalang.

Sambutan pertama datang dari Rektor IKIP Malang Drs. M. Rosjidan, M.A. yang menginginkan agar IKIP Malang meneruskan kegiatan uji coba. Rektor IKIP Malang, menunjuk Pak Saleh menjadi ketua tim percobaan permainan simulasi. Salah satu pesan rektor adalah agar memanfaatkan kerjasama IKIP Malang dan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Suatu hal yang patut dicatat di sini adalah bahwa dana untuk uji coba permainan simulasi di Malang adalah atas usaha pimpinan IKIP Malang. Sebagai pimpinan perguruan tinggi tentunya bukanlah sekedar mencarikan dana melainkan mengadakan pengarahan-pengarahan dan pemantauan pelaksanaannya. Tanpa ada pimpinan lembaga yang berkemauan keras untuk mengembangkannya, barangkali Permainan Simulasi tidak akan terwujud seperti sekarang ini.

IKIP Malang dan Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Malang memang sudah memiliki wadah kerjasama yaitu Badan Pembinaan Pendidikan Kabupaten (Bapenkab) Malang yang pada waktu itu diketuai oleh Drs. Kasmiran Woeryo. MA., dosen di Departemen Pendidikan Sosial FIP IKIP Malang. Sebagai salah satu realisasi kerjasama dibentuklah tim percobaan permainan simulasi yang terdiri atas unsur IKIP Malang dan unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Susunan timnya adalah Rektor IKIP Malang Drs. Rosjidan, M.A., Dekan FIP IKIP Malang Markus Pigawahi, M.Sc., dan Drs. Kasmiran Woeryo, M.A. sebagai tim pengarah/konsultan Drs. M. Saleh Marzuki sebagai Ketua Tim, Drs. Latief Ismail dan Drs. Djoko Sutarno sebagai Ketua I dan Ketua II, Drs. Basenang Siliwangi sebagai Sekretaris Tim, Laoh M. R., B.A. sebagai bendahara Tim, dan R. Sutijab, B.A. dan Sukarib sebagai anggota. Bapak Drs. Djoko Sutarno, Laoh M.R., B.A., R. Sutijab, B.A. dan Sukarib adalah pegawai di Pemda Kabupaten Malang, sedangkan nama-nama lainnya adalah dosen IKIP Malang. Dalam kegiatan lebih lanjut berhubung sesuatu hal tidak semuanya bisa aktif, sehingga lebih dikenal dengan sebutan tim tujuh, tim tujuh inilah yang aktif keluar masuk desa uji coba untuk memantau dan memantapkan jalannya uji coba.

Sebelum uji coba lapangan diselenggarakan, terlebih dahulu dilakukan uji coba terbatas dan semacam diskusi terfokus yang melibatkan mahasiswa di IKIP Malang terhadap model awal Permainan Simulasi Bintang Anda. Mahasiswa diminta memberikan masukan terhadap draf model. Selanjutnya, uji coba lapangan di Malang dilakukan di Desa Telogosari Kecamatan Ampel Gading Kabupaten Malang. Desa Telogosari ditetapkan sebagai tempat uji coba didasarkan pada kesepakatan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Beberapa alasan pemilihan yang dikemukakan antara lain Kecamatan Ampel Gading merupakan kecamatan binaan Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP), masyarakatnya relatif berpendidikan rendah, komunikasi dan transportasi relatif mudah, respons pimpinan desa cukup baik terhadap penelitian, dan mendapat restu/persetujuan pimpinan daerah. Romantika uji coba awal tidak perlu dituturkan di sini, walaupuan sesungguhnya dapat memberikan pengalaman berharga bagi mereka yang hendak berkecimpung dalam kancah pendidikan masyarakat dan penelitian sosial.

Uji coba berlangsung 6 bulan dan hasil-hasil monitoring, refleksi, dan evaluasi menjadi masukan bagi revisi demi revisi dilakukan sehingga permainan simulasi ini menghasilkan bentuk yang semakin sempurna. Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Malang H.R. Soewignyo belum juga menginginkan untuk disebarkan ke desa lain selain di Telogosari. Namun demikian, desakan masyarakat desa sekitar Telogosari sangat kuat untuk segera diizinkan menggunakan permainan simulasi. Mantri Polisi Ampel Gading (waktu itu mewakili kecamatan) sendiri belum berani mengizinkan tersebarnya permainan simulasi ke desa-desa lain. Desakan demi desakan berdatangan baik kepada tim peneliti, kepada Bappenkab, dan kepada Mantri Polisi Ampel Gading. Akhirnya, Bappenkab dan tim peneliti melaporkan kejadian itu kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Malang, untuk memohon ijin penyebarannya. Reaksi Bupati Malang sangat positif tetapi dengan syarat akan meninjau terlebih dahulu. Bagi tim peneliti tentunya kunjungan itu merupakan salah satu rangkaian kejadian penting dalam hal mana support seperti ini sangat diharapkan. Peninjauan dilaksanakan dan dengan penuh semangat pemegang keputusan ini langsung memutuskan malam itu juga supaya permainan simulasi ini ditularkan ke desa-desa sekitar Telogosari di wilayah Kecamatan Ampel Gading. Meskipun demikian Bupati menpersyaratkan agar dikendalikan dengan baik, jangan sampai berdampak negatif. Khususnya jangan sampai dimanfaatkan oleh kekuatan politik tertentu untuk kepentingan mereka atau kepentingan selain pembangunan.

Tahapan Diseminasi. Tahap ini ditandai dengan perluasan penyebaran Persimu ke beberapa wilayah Pembantu Bupati di Kabupaten Malang. Wilayah yang dimaksud adalah daerah Pembantu Bupati Bululawang dan Tumpang. Pada tahap ini diadakan pembenahan organisasi pembinaan yaitu dengan dibentuknya Satuan Tugas Pembinaan Permainan Simulasi tingkat Kabupaten dan tingkat Kecamatan. Pada tahap ini pula diadakan penilaian oleh Badan Peneliti dan Pengembangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, yaitu pada bulan Oktober 1977.

Diseminasi terus dilakukan sampai tahun 1980-an dengan wilayah diseminasi telah meliputi seluruh Kabupaten Malang. Peranan dinas-dinas dan instansi tingkat Kabupaten Malang pada masa itu mulai menonjol. Instansi yang merespon terlebih dahulu antara lain: Pendidikan Masyarakat, Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Departemen Pertanian, dan Departemen Kesehatan. Rupanya mulai terasa bahwa penyuluhan-penyuluhan yang dilakukannya betul-betul terbantu dengan adanya permainan simulasi ini.

Prestasi yang dicapai oleh tim percobaan permainan simulasi IKIP Malang dan Bappenkab Malang, di samping tersebar luasnya permainan di seluruh Kabupaten Malang, juga telah dihasilkan sejumlah petunjuk Pelaksanaan Permainan Simulasi (Juklak Persimu), berupa: (1) petunjuk umum, (2) juklak cara mengenalkan gagasan Permainan Simulasi, (3) cara melatih fasilitator, (4) cara menentukan topik dan isi, (5) cara membuat permainan simulasi, (6) cara memainkan dan berdiskusi, (7) cara membentuk dan membina kelompok belajar, (8) cara monitoring, (9) cara mempertemukan kebutuhan warga belajar dengan lembaga pelayanan, dan (10) cara menilai pelaksanaan simulasi. Terciptanya juklak-juklak tersebut atas inisiatif pusat Inovasi dan Teknologi BP-3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, lembaga ini berperan aktif sebagai promotor mulai dari awal sampai akhir.

Tahapan Kulminasi. Tahapan kulminasi adalah ketika Persimu digunakan sebagai salah satu metode penataran P-4 yang terjadi secara masif, sehingga implementasi metode Persimu menyebar ke seluruh Indonesia. Pak Saleh menyatakan bahwa penggunaan Persimu untuk penyebarluasan P-4 telah dilakukan tim pengembangan sebelum adanya keinginan BP-7 (Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Uji coba Persimu untuk pemasyarakatan P-4 telah dilakukan ketika uji coba dilakukan Desa Ketawang Kecamatan Gondanglegi. Bersamaan dengan saat penilaian lomba PKK tingkat Provinsi Jawa Timur di desa ini, maka permainan simulasi P-4 diperagakan dan disaksikan oleh yang terhormat Bapak Hari Soeharto, S.H. selaku Ketua BP-7 Jakarta Pusat. Pada awal tahun 1980 beberapa staf BP-7 Pusat Jakarta mengadakan peninjauan ke Malang dan bermaksud mempelajari kemungkinan digunakannya Permainan Simulasi untuk P-4. Dari hasil peninjauan itulah rupanya disimpulkan bahwa permainan Simulasi dapat membantu BP-7 dalam penyebarluasan P-4.

Dalam perkembangannya ternyata Simulasi P-4 cukup berhasil, efektif dan efisien sebagai media dan sarana mempercepat pemasyarakatan P-4 dan pesan-pesan pembangunan lainnya. IKIP Malang patut bangga karena permainan simulasi telah menjadi milik nasional bangsa Indonesia. Hasil eksperimentasi telah menghasilkan puluhan topik yang berkenaan dengan kegiatan pembangunan. Sesuai dengan sifatnya yang lentur, mudah, murah dan mudah diproduksi pada fase ini pengelolaan dan penyebarannya sudah menemukan polanya, sehingga pesan apa pun termasuk P-4 selama kontennya berangkat dari kejadian-kejadian masalah yang dihadapi masyarakat (community- juklak simulasi P-4. Karena pada tahapan ekperimentasi telah dihasilkan 9 juklak Persimu, maka menyusun juklak-juklak Simulasi P-4 bukan hal yang baru.

BP-7 dan BP-3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengambil inisiatif meminta tim IKIP untuk membuat juklak Permainan Simulasi P-4. Draft juklak Permainan Simulasi P-4 sebagai hasil pengalaman eksperimentasi selama lima tahun (1975-1980) kemudian disajikan pada seminar dan Lokakarya Permainan Simulasi P-4 di Pandaan, Jawa Timur.

Lesson Learn

Sebagai sebuah invensi metode pembalajaran, Persimu telah diterima dan berkembang di tengah masyarakat sebagai sebuah pilihan metode belajar yang efektif tertutama dalam membangkitkan kesadaran kritis masyarakat dan berpartisipasi dalam pembangunan. Rintisan invensi dan pengembangan Persimu sekaligus merupakan contoh implementasi pendekatan penelitian yang sekarang dikenal sebagai penelitian tindakan (action research) di Indonsia, di mana ada kolaborasi antara pejabat selaku penguasa wilayah yang mengambil keputusan, akademisi dari perguruan tinggi yang mengembangkan pilihan-pilihan model, dan praktisi pendidikan masyarakat yang mengimplemembtasikan keputusan di lapangan.

Bukan itu saja, proses penemuan Persimu juga memberikan inspirasi tentang pengembangan jaringan kerja perguruan tinggi dengan mitra kerja yang dibutuhkan untuk aktualisasi komponen Tri Dharma Perguruan Tinggi yang saling terkait, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat secara integral, padu, sinergis, koheren, dan produktif. Kita bisa melihat bagaimana Pak Saleh sebagai akademisi di perguruan tinggi memiliki komitmen yang jernih tentang kebodohan dan keterbelakangan sebagai masalah yang mengancam harkat kemanusiaan. Inilah panggilan jiwa seorang pendidik sejati, yaitu alasan memberantas kebodohan dan keterbelakangan menuju terwujudnya manusia paripurna (insan kamil) yang cerdas dan masyarakat adil makmur. Model kerjasama inilah yang semakin disadari sebagai strategi dalam pengembangkan ilmu sosial, pembangunan, dan pendidikan masyarakat.

Pelajaran lainnya adalah, betapa panjang proses penemuan rekayasa sosial (social enginering) yang perlu dilalui untuk mendapatkan sebuah pendekatan baru dan cara baru sampai dengan bentuk finalnya sebagai sebuah inovasi yang diterima di tengah masyarakat. Metode penelitian formal dengan pendekatan positivistik belum akan cukup menghasilkan temuan yang cocok dengan kebutuhan masyarakat, demikian pun dengan pendekatan penelitian naturalistik. Dalam kepentingan ini pendekatan penelitian tindakan (action research) menunjukkan relevansi dan kelayakannya bila yang dibutuhkan adalah solusi segera atas problematika nyata yang dihadapi masyarakat.

Secara imaterial Persimu adalah metode pembelajaran sebagaimana metode bermain peran (role playing), diskusi, curah pendapat, tanya jawab, demonstrasi, dan sebagainya. Pada mulanya kelahiran strategi pembelajaran ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu strategi atau lebih tepatnya teknik pembelajaran bagi orang dewasa. Dalam disiplin keilmuan pendidikan luar sekolah, membelajarkan orang dewasa berbeda asumsi, prinsip, dan caranya dengan pembelajaran bagi anak-anak dan remaja pada umumnya. Orang dewasa berbeda orientasi, tujuan, gaya, dan kapasitas belajarnya dibanding anak-anak dan remaja.

Persimu sebagai sebuah inovasi metode pembelajaran dalam pendidikan nonformal memiliki latar belakang dan alasan konseptualnya, asumsi-asumsi dan prinsip-prinsip yang melandasinya, dan prosedur operasional penerapannya di lapangan. Latar belakang terciptanya persimu sebagai alat dan metode pembelajaran masyarakat yang bersifat self instructional materials ini adalah bahwa: (1) proses belajar akan lebih berhasil dalam situasi dan suasana yang menggembirakan dan menyenangkan; (2) belajar sacara konvensional melalui ceramah, buku teks dan sejenisnya, sering dirasakan berat oleh orang dewasa; dan (3) perolehan pengalaman belajar melalui dialog, memiliki kebermaknaan dan pemahaman lebih mendalam. Mengenai hal ini persimu telah dapat memenuhi dan membuktikannya secara konkret di lapangan.

Di samping itu penggunaan Persimu sebagai alat dan metode pembelajaran masyarakat karena adanya keinginan untuk memeratakan dan memperluas jangkauan pendidikan kepada masyarakat, peningkatan taraf kualitas hidup dan kehidupannya. Pada saat Persimu dikembangkan, masih sangat banyak warga masyarakat yang sangat rendah tingkat pendidikannya, bahkan buta huruf atau lupa huruf. Bagi mereka penyuluhan pembangunan yang disampaikan melalui media cetak, lisan maupun elektronik, lebih-lebih yang menggunakan bahasa “asing” yang mereka tidak mengerti, atau bahasa Indonesia yang samar-samar mereka pahami, jelas sangat sulit mereka terima. Dengan Persimu, melalui penjelasan isi pesannya oleh fasilitator atau teman “bermain”nya siapa pun akan lebih mudah menangkap dalam situasi yang “santai” dan gayeng mereka akan terdorong untuk mengemukakan pemikiran kritisnya berdasarkan pengalaman nyata dan aspirasi yang mereka miliki.

Persimu juga merupakan jawaban atas adanya sifat–sifat takut menonjol, takut mengemukakan pendapat, pasif, skeptif, pasrah dan mengasingkan diri pada sebagian besar masyarakat pedesaan di Indonesia; padahal sikap-sikap tersebut kurang menunjang laju pembangunan nasional. Melalui latihan-latihan diskusi yang bersuasana “main-main” yang tidak menakutkan dan tidak menegangkan, yakni melalui Persimu, sikap-sikap tersebut diharapkan dapat terkikis. Dan terbukti persimu manjur mengobati kerawanan sosial itu. Terbukti kehadiran Persimu sangat manjur ketika digunakan sebagai alat dan media pembelajaran, guna menggugah kesadaran terhadap pembangunan dalam arti yang seluas-luasnya.

Ketika Persimu digunakan sebagai salah satu metode utama Penataran P-4 dan Penataran Industrial Pancasila, perkembangan persimu yang terakhir ini tidaklah dikatakan maju, bahkan bisa dinilai Persimu mengalami dekonstruksi. Bentuk konkret memang tidak banyak berubah, tetapi “semangat”-nya yang telah berbeda dari ketika dirancang dan lahir tahun 1975. Perkembangan Persimu ketika digunakan dalam penataran P-4 disamping menunjukkan hasil diseminasi inovasi yang berhasil, pada sisi lain menampakkan deklinasinya dari landasan epistemologi Persimu itu sendiri.

Penenerapan Persimu untuk P4 terjadi secara masih, merata hampir di setiap desa, bahkan ada dibentuk kelompok-kelompok pemain Persimu untuk kepentingan lomba dan untuk disuguhkan kepada para pejabat yang sedang bertamu ke desa-desa. Ada juga pimpinan desa dan wilayah yang menganggap Persimu adalah target program yang memiliki titik akhir atau tuntas. Cara bermain Persimu semakin bersifat formalitas, diformalisasi, dan birokratisasi. Untuk membuat perangkat Persimu harus ada ijin dari pejabat yang berwenang. Dengan demikian pengembangan perangkat keras Persimu cenderung menjadi kaku. Pada sisi lain kemampuan petugas teknik yang kurang memadai; kelemahan pesan; kurangya kelenturan pelaksanaan permainan; dan terjadinya aktifitas bersimulasi yang semu atau didramatisasi di beberapa desa dan instansi.

Melihat bahwa Persimu merupakan salah satu media dan metode pembelajaran, maka sudah saatnya untuk diadakan evaluasi secara sistematis untuk melihat segi-segi kelemahan praktik Persimu di lapangan semuanya demi efektivitas penyuluhan pembangunan, penyebaran dan pembudayaan P-4 khususnya, tetap menjadi harapan, bahwa Persimu mampu memenuhi fungsinya sebagai alat dan metode pembelajaran yang murah, mudah, dan massal, sehingga efektif dan efisien. Dengan sifatnya yang dapat membelajarkan sendiri dan yang lentur, Persimu akan tetap relevan dengan kebutuhan belajar seluruh lapisan masyarakat.

Untuk itulah akhirnya, menjadi tuntutan bagi para pemangku kajian kependidikan, praktisi pendidikan masyarakat, dan mereka yang memiliki komitmen terhadap pendidikan dan pengembangan masyarakat untuk menilai secara obyektif perkembangan praktik Persimu dewasa ini. Selanjutnya mengupayakan suatu reformulasi (perumusan ulang) dan melakukan pembenahan administratif dan subtantif, sehingga mekanisme pendidikan yang semula dirancang agar lentur dan self instructional tersebut dapat benar-benar terwujud dan berlangsung dinamis.

Satu catatan penting yang cukup relevan untuk dikemukakan bahwa sampai saat ini Persimu tidak memiliki atau belum diajukan hak kekayaan intelektualnya (HAKI). Situasi ini barangkali perlu menjadi perhatian pihak UM sebagai intitusi yang memiliki kebijakan awal mengekplorasi dan mengembangkan Persimu.

DOSEN BIROKRAT

Demikianlah, Pak Saleh (dan karyanya) memang perlu dikenang dan dihargai sebagai tokoh UM yang berprestasi secara akademik dan manajerial. Sebagimana telah ditulis di bagian awal, Pak Saleh dikenal sebagai sosok yang memiliki karir jabatan struktural terbanyak dan terpanjang sepanjang sejarah UM, sekaligus memiliki karir akademik yang gemilang sampai memegang jabatan fungsional Guru Besar. Di samping tugas fungsionalnya sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UM, sederet jabatan struktural pernah dijalaninya. Beliau merupakan satu-satunya dosen UM yang berpengalaman mengemban jabatan administratif sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (Biro AAK) tahun 1982-1987, sehingga pantas mendapat julukan sebagai “dosen birokrat”, karena setelah itu jabatan kepala biro selalu diemban oleh tenaga kependidikan (bukan oleh dosen lagi).

Julukan itu diperkuat dengan data demikian banyak jabatan atau tugas tambahan yang pernah diemban sepanjang karirnya sebagai dosen pegawai negeri sipil. Tercatat sejak memulai karir sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Sosial (nama lama dari Jurusan Pendidikan Luar Sekolah) FIP IKIP Malang pada tahun 1973, lebih dari sepuluh jenis jabatan struktural yang pernah diembannya di UM.

Jabatan struktural/tugas tambahan di internal UM yang pernah diemban pak Saleh adalah Sekretaris Jurusan Pendidikan Sosial (1973-1975), Ketua Jurusan Pendidikan Sosial (1975-1976 dan 1979-1980), Kepala Biro AAK (1982-1987), Sekretaris Program Studi Magister PLS, PPs (1990-2000), Kepala Pusat Pelayanan Masyarakat, LPM UM (1990-1993), Pembantu Rektor I UM (1994-1997), Dekan FIP UM (1997-1999), Pembantu Rektor I, UM (2000—2004 dan 2004—2007), Pejabat Rektor UM (2001-2002), dan Ymt. Pembantu Rektor III UM (28-05-2003 s.d. 01-09-2003). Dari sisi karir jabatan struktural ini, beliau tidak memangku jabatan struktural hanya pada masa dua tahun setelah usai menjabat Kabiro AAK, dan satu setengah tahun menjelang akhir masa tugasnya sebagai PNS.

Jabatan lain yang bersifat nonstruktural yang pernah diembannya adalah Project Director SEAMEO Regional Innotech Community Based Basic Learning Package Project, Malang Indonesia, (1978-1980). Di samping itu, ia merupakan anggota tim Pengarah Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia V (Oktober 2004), Anggota Tim Penyusun Buku Pengembangan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan Abad 21 (SPTK-2) Depdiknas (2002), Anggota Tim Penyusun Lesensi Pendidik, Ditjen Dikti, Depdiknas (2003), Anggota Tim Review Pedoman Pembelajaran Jarak Jauh, Dikti, Depdiknas (2004), dan Anggota Dewan Pakar Pendidikan Luar Sekolah Provinsi Jawa Timur (2003-2007). Anggota tim ad hoc Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk penyusunan Standar Pendidikan Nonformal yaitu Standar Isi Pendidikan Kesetaraan, (2006) dan Standar Pengelola Pendidikan Kesetaraan (2008).

Karena kesibukannya yang luar biasa sebagai pejabat struktural itulah hampir bisa dipastikan beliau kurang punya waktu untuk menyusun karya ilmiah yang dipublikasikan secara luas. Namun ternyata tidak demikian, masih cukup banyak karya ilmiah beliau yang terpublikasi dalam bentuk makalah, bahan ajar, laporan penelitian, atau artikel jurnal, baik di dalam maupun di luar negeri. Naskah- naskah karya ilmiah itulah yang telah mampu menghantarkan Pak Saleh meraih jabatan akademik puncak sebagai Guru Besar di UM pada tahun 2004.

Pak Saleh lahir tanggal 10 Juli 1944 di Pandanawu Pamekasan. Putra bapak Marzuki Puspateruna dan ibu Kutyani. Karena ibudanya wafat, Saleh kecil memiliki dua orang ibu sambung yang mengasuhnya yaitu ibu Mutiah (almarhumah) dan ibu Hj. Maisyaroh. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Negeri Bunder I, Pandanawu, Pamekasan pada tahun 1957. Pendidikan menengah ia selesaikan di Sekolah Guru B Pamekasan pada tahun 1961 dan Sekolah Guru A Pamekasan pada tahun 1964. Program sarjana jurusan jurusan Pendidikan Sosial ia selesaikan di IKIP Malang pada tahun 1971. Mendapatkan gelar Master of in Education (M.Ed.) dari University of Massachusetts, USA pada tahun 1982. Gelar guru besar dalam bidang Pendidikan Luar Sekolah ia peroleh pada tahun 2004.

Pendidikan nonformal yang pernah ia tempuh adalah (1) Inovation and Tekhnology of Educations (Manila, 1977); (2) Developing Lateracy Materials (Michigan, 1977); (3) Nonformal Education Materials Development (Michigan, 1978); (4) Rural Education and Non Formal Education (Equador, 1979); (5) English Language and Prientation Program (Boston, 1981); (6) Adult Continuting Education (Ottawa, 1981); (7) Sekolah Tinggi Staf Pemimpin Administrasi SESPA, Angkatan XIII, Lembaga Administrasi Negara (Jakarta, 1982); Training Tutor Akta 5 (Jakarta, 1983); dan Training bagi Pelatih Administrasi dan Manajemen Perguruan Tinggi (Jakarta, 1984).

Banyak buku dan model bahan belajar yang berhasil ditulis oleh Saleh Marzuki, berkaitan dengan Persimu, pendidikan nonformal, dan pengembangan paket belajar. Ia telah melakukan banyak kegiatan penelitian berkaitan dengan pembangunan masyarakat, pemanfaatan air sungai oleh masyarakat, pengembangan paket pembelajaran keaksaraan, kinerja dosen PGSD. Menyajikan makalah pada berbagai pertemuan ilmiah nasional dan internasional. Ia juga aktif dalam kegiatan pengabdian pada masyrakat. Tanda penghargaan yang ia peroleh adalah Penatar Nasional Simulasi P-4 BP7 Pusat, Penghargaan KB Lestari dari Gubernur Jawa Timur, dan Satya Lencana Karya Satya.

SUBJEKTIVITAS DAN PENGAKUAN

Sebagai penutup dan pertanggung jawaban akademik terhadap isi, perkenankan dalam kesempatan ini dikemukanan bahwa keberanian saya (penulis) menerima tugas menyusun tulisan tentang Pak Saleh sebagai bagian dari “Tokoh UM” dalam rangka Lustrum UM ke 12, dilandasi rasa hormat dan ungkapan terima kasih dari murid kepada guru yang senantiasa bersemayam dalam hati. Keberanian memberikan “opini” tentang pribadi, pikiran, dan karya beliau ini “terpaksa” saya lakukan untuk ikut menandai momentum Lustrum UM ke-12. Ungkapan pendapat ini hanyalah sebagian kecil saja dari apa yang ada pada kompleksitas pribadi Pak Saleh sebagai pribadi, kepala keluarga, sebagai dosen, dan pimpinan UM yang tidak bisa, dan tidak akan mampu saya ungkapkan seluruhnya.

Sebagian isi tulisan ini saya ambil dari dokumen cetak kertas berupa buku karya Pak Saleh berjudul Permainan Simulasi di Indonesia: Suatu Metode Belajar untuk Pembangunan Masyarakat, naskah Pidato Pengukuhan Guru Besarnya, dan sebagian yang lain adalah kesan pribadi interakasi saya dengan beliau. Demikianlah semoga paparan ini mampu menjadi bagian dari tugas menginspirasi bagi kemajuan UM ke depan.

Prof. H.M. Soedomo

Prof. H.M. Soedomo: Pembelajar yang Selalu Istiqomah Mengemban Tugas

Oleh: Supriyono

Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan

Prof. H.M. Soedomo

Prof. Drs. H.M. Soedomo, M.A., seorang guru besar UM, kala itu pernah mendapat tugas tambahan sebagai Asisten I Menko Kesra

Tanggal 27 Juli 1995 menjadi awal hari-hari yang sangat panjang dan mencemaskan bagi keluarga yang tinggal di Jl. Jakarta 44 Malang dan keluarga besar Universitas Negeri Malang (saat itu masih bernama IKIP Malang), ketika menerima kabar bahwa bapak Prof. Drs. H.M. Soedomo, M.A., seorang guru besar UM yang tengah mendapat tugas tambahan sebagai Asisten I Menko Kesra, mengalami kecelakaan speed boat di perairan Loh Liang Pulau Komodo Nusa Tenggara Timur. Sampai hari ini jasat Prof. H.M. Soedomo tidak berhasil ditemukan. Beliau hilang dalam menjalankan tugas negara sebagai Ketua Kelompok Kerja Warisan Dunia (Pokja Wardun) untuk memantau kelestarian Pulau Komodo sebagai Warisan Dunia (the World Heritages) di bawah UNESCO untuk katagori alam lingkungan.

Peninjauan itu beliau lakukan untuk memperoleh data lapangan dalam rangka menyusun program aksi agar Pulau Komodo tetap terdaftar sebagai warisan dunia dan tidak di-delisting oleh UNESCO. Kegiatan ini dinilai sangat penting oleh Pak Domo selaku Ketua Pokja Wardun Republik Indonesia sebagai sebuah peluang untuk mempertahankan status Pulau Komodo agar tetap terus diakui sebagai warisan alam dunia, dan agar tetap mendapatkan sumber-sumber daya dari Unesco dan menjadi kebanggaan bangsa.

Terlepas dari persoalan takdir dan nasib, kecelakaan tersebut menjadi bukti tersendiri akan sifat dan sikap Pak Domo (demikian biasanya para mahasiswa dan koleganya menyebutkan nama Prof. H.M. Soedomo, M.A.) yang terkenal pekerja keras, gigih, disiplin, percaya diri, kreatif, dan komited. Ketokohan Pak Domo patut diceritakan kembali dalam rangka menyambut Lustrum UM ke-12 tahun 2014. Ketokohan Prof. Drs. H.M. Soedomo, M.A., khususnya peran beliau dalam meletakkan dasar-dasar pengelolaan program pengabdikan kepada masyarakat ketika beliau menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) yang pertama, ketokohannya sebagai pendiri (founding father) Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, dan ketokohannya dalam pentas pendidikan nasional. Dan yang lebih lekat adalah sosok psiko–fisiknya yang selalu nampak segar (freshly), berenergi penuh, optimistis, dan ramah kepada setiap orang.

Mengenang peristiwa hilangnya Pak Domo ketika menjalankan tugas mulia tersebut, bagi pihak-pihak yang memiliki memori tentang beliau akan tergambar kembali dengan jelas karakter pak Domo sebagai dosen pegawai negeri yang disiplin, gigih, taat memegang janji, pekerja keras, dan pandai mengatur waktu. Sebagai dosen, naluri (passion) ke-guru-annya sangat tajam, kreatif, dan senantiasa efektif. Dalam hal membelajarkan (membuat situasi agar mahasiswanya mau belajar dan menjadi terpelajar) Pak Domo terkenal memiliki berbagai cara, baik yang dilakukan secara langsung olehnya maupun yang dilakukan dengan memanfaatkan orang dan pihak ketiga. Pak Domo adalah dosen UM angkatan atau generasi kedua, setelah generasinya pertama angkatan Prof. Adam Bachtiar (Rektor Pertama UM). Pak Domo mulai mengabdi sebagai dosen di UM (waktu itu tentu kelembagaan UM adalah sebuah fakultas FKIP dari Universitas Airlangga) tahun 1960, setelah lulus dari Fakultas Pedagogik Universitas Gajah Mada dan meraih gelarsarjana.

SETIAMEMENUHI JANJI

Sebagaimana dilaporkan oleh Harian Nusra (koran lokal NTT edisi 2 Agustus 1995) bahwa keberangkatan rombongan Pak Domo melalui jalur laut di petang hari itu sebenarnya sudah diperingatkan agar ditunda, karena sore hari, laut di sekitar perairan Selat Lintah dan Selat Molo di kawasan TN Komodo sebenarnya berbahaya karena sering muncul gelombang arus pusaran arus yang biasa disebut dengan gelombang kala-kala oleh nelayan setempat. Gelombang yang bisa memutar dan menyedot itu musimnya memang pada bulan Juli sampai Agustus di saat musim angin tenggara yang berhembus dari Samudera Indonesia dari sebelah Pulau Sumba.

Tetapi karena Pak Domo sudah punya janji dengan Dirjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Ir. Soemarsono untuk bertemu di Loh Liang pada malam harinya, agaknya sulit diurungkan kembali. Akhirnya mereka berangkat juga menaiki speedboat bernama “Wardun” berkekuatan 85 PK yang dikemudikan Yonas Ora, 29 tahun, pegawai TN Komodo. Ayah dari tiga anak yang sudah bekerja selama empat tahun di TN Komodo itu berada satu kilometer di belakang speedboat bernama  “Jagawana”  yang  berkekuatan  40  PK  yang  dikemudikan Suprayitno. Jagawana berada satu kilometer di depan membawa perlengkapan rombongan termasuk bahan bakar, logistik, dan pakaian, serta tas rombongan Prof. Soedomo. Kedua speedboat itu berangkat pukul 16.10 WITA.

Kedatangan Pokja Wardun ke TN Komodo maksudnya untuk mengadakan peninjauan atas permintaan Unesco. Makanya, selaku Ketua Pokja Wardun, Prof. Soedomo mengirimkan surat kepada Dirjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Departemen Kehutanan, Ir. Soemarsono untuk meminta izin beberapa staf di lingkungan Direktorat PHPA ikut dalam pemantauan ke TN Komodo dan TN Ujung Kulon. Surat itu bernomor B-588/K/MENKOKESRA/VII/1995 itu tertanggal 24 Juli 1995.

Dalam surat itu dimintakan izin keikutsertaan Drs. Johannes Subijanto, M.Sc. (Kepala TN Komodo), Ir. Yaya Mulyana (Kasubdit Taman Nasional dan Hutan Wisata), Ir. B.G. Resubun (Kepala Seksi Evaluasi Fungsi dan Potensi Taman Nasional), serta Ir. Agoes Sriyanto, M.Sc. (Kepala Taman Nasional Ujung Kulon). Pemantauan ke TN Komodo berlangsung pada Juli tahun 1995 sedangkan ke Ujung Kulon terjadwal pada bulan Agustus 1995 yang direncanakan masing-masing selama tiga hari lamanya.

Sebagaimana dilaporkan berbagai media yang meliput peristiwa nahas tersebut, prolog musibah itu adalah ketika UNESCO di Paris melalui program The World Heritage menetapkan Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Ujung Kulon menjadi warisan budaya dan warisan alam dunia (Wardun) pada tanggal 20 Desember 1991.Untuk mempertahankan statusnya sebagai Wardun, Unesco mempersyaratkan Pemerintah Indonesia harus memenuhi dan menjaga beberapa persyaratan di antaranya adalah keutuhan dan kelestarian lingkungan, penegakan regulasi, dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.

Setelah semuanya matang, akhirnya sebagian rombongan berangkat ke Taman Nasional Komodo yang terdiri atas Prof. Soedomo, Ir. Yaya Mulyana, Dra. Bernadette Hartati Sugardjito, M.Sc., Suryati, serta Miss Martha Klein dari the World Heritage UNESCO Paris. Hartati dan Suryati merupakan staf Taman Nasional dan Hutan Wisata yang berpusat di Bogor. Kelima orang ini tiba di kantor TN Komodo yang ada di Labuhan Bajo di ujung timur Pulau Flores pada hari Kamis 27 Juli 1995 pukul 14.30 WITA menaiki kapal laut Kilang Kamila.

Di labuhan Bajo, rombongan disambut oleh kolega mereka dari TN Komodo dan Kapolsek Komodo Letda. Pol. I Putu Ngurah. Setelah beristirahat makan siang sebentar dan berbincang-bincang, diputuskan hari itu juga akan berangkat menyeberang ke Loh Liang yang merupakan base camp utama TN Komodo di Pulau Komodo. Menurut kisah salah seorang staf TN Komodo, kebetulan saat itu juga hadir Dirjen PHPA Ir. Soemarsono di sana. Soemarsono singgah di Labuhan Bajo setelah mengikuti perjalanan Menteri Kehutanan Djamaloedin Soeryo Hadikoesoemo dari Timor Timur. Kedatangan Dirjen PHPA dengan helikopter Gatari milik Departemen Kehutanan itu juga hendak ke Pulau Komodo. “Tapi tujuan Pak Dirjen ke Pulau Komodo itu hanya untuk meninjau. Berbeda tugas dengan Pak Soedomo”, kata staf PN Komodo itu.

Rombongan tim Pokja Wardun lalu membuat janji dengan rombongan Dirjen PHPA untuk bertemu di Loh Liang. Dirjen Soemarsono lalu menaiki helikopternya terbang ke Pulau Komodo dan tiba di sana pada Kamis (27/7) pukul 16.00 sore. Sedangkan rombongan Pokja Wardun yang terdiri atas Prof. Soedomo, Ir. Yaya Mulyana, Dra. Bernadette Hartati Sugardjito, M.Sc., Suryati, Martha Klein, Ir. Tatang dari TN Komodo dan disertai Kapolsek Komodo Letda. Pol I Putu Ngurah dan stafnya A. Syahrir berangkat melalui laut.

Pada jam 16.00 Wita tanggal 27 Juli 1995 rombongan Prof. Soedomo beserta delapan anggota rombongan naik speedboat Wardun berangkat menuju Loh Liang. Di depannya berjarak satu kilometer telah terlebih dahulu berlayar speedboat Jagawana. Jumlah penumpang pada speed boat Wardun yang dinaiki Pak Domo adalah 9 orang (termasuk beliau), sedangkan speed boat Jagawana yang berangkat satu kilometer di depan mengangkut tas pakaian rombongan, BBM, dan logistik.

Sore itu, menurut Oman Rachman, petugas TN Komodo, udara cerah. Kedua speedboat itu pun melaju ke tengah samudera menuju base camp TN Komodo di Loh Liang yang berada di cerukan teluk di Pulau Komodo. Biasanya dari Labuhan Bajo ke Loh Liang ditempuh sekitar 1 jam 25 menit. Jagawana dan Wardun menderu melintasi pulau-pulau kecil Manggiatan, Papagarang Besar, Papagarang Kecil, dan Pulau Pengak. Tetapi setelah setengah jam perjalanan, di sebelah Barat Daya dekat Pulau Siaba Besar, Suprayitno ketika menoleh ke belakang, tidak nampak lagi speed boat Wardun. Suprayitno terperanjat, ia lalu memutar balik Jagawana.

Suprayitno mengitari lautan sekitarnya. Di tengah laut ia melihat beberapa tubuh mengapung meminta tolong. Ketika didekati rupanya temannya sendiri. Satu persatu Suprayitno mengangkat mereka ke Jagawana. Suasana saat itu mencekam dan histeris. Mereka masing-masing Martha Klein, Ir. Yaya Mulyana, Ir. Tatang, A. Syahrir, dan Yonas Ora. Suprayitno kemudian membuka komunikasi melalui radio ke Kantor TN Komodo di Labuhan Bajo yang juga segera menghubungi Dirjen Soemarsono yang telah tiba di Loh Liang. Tidak lama kemudian Kapal Budi Agung dari Labuhan Bajo datang membantu, membawa kelimanya menuju Labuhan Bajo. Setelah terombang-ambing selama 2,5 jam, barulah mereka tiba pukul 19.30 Wita. Mereka langsung dibawa ke Puskesmas Labuhan Bajo. “Keadaan mereka saat itu dalam keadaan histeris”, cerita Hamid, salah seorang perawat Puskesmas.

Rupanya,  tanpa  sepengetahuan  Suprayitno,  speedboat Wardun  terjebak gelombang kala-kala yang datang tiba-tiba memutar arus laut beserta angin kencang, sehingga Wardun terbalik dan lenyap bersama Prof. Soedomo, Dra. Bernadette Hartati Sugardjito, M.Sc., Suryati, dan Letkol. Pol. I Putu Ngurah. Saat itu juga pencarian dilakukan. Tapi pencarian itu sia-sia meskipun seluruh pihak dihubungi dan operasi pencarian besar-besaran dilakukan sampai hampir tiga minggu. Biasanya operasi pencarian korban kecelekaan laut dilakukan selama satu minggu saja. Pencarian melibatkan kapal perang TNI AL, KRI Nala dan dua helikopter dari Basarnas dan Ditjen PHPA (harian Surya 30 Juli 1995 dan Kompas, 2 Agustus 1995). Kelima orang yang ditemukan selamat tidak mengalami cedera yang berarti, sehingga hanya dirawat sehari saja. Hari Jumat (28/7) pukul 10.30 Wita, Martha Klein, dan Ir. Yaya Mulyana kembali ke Jakarta bersama Dirjen Soemarsono menaiki helikopter Gatari. Yonas Ora yang sudah bertugas selama empat tahun di TN Komodo kembali ke rumah dekat lapangan terbang Mutiara Labuhan Bajo. Duka datang menyelimuti.

Ketika peristiwa heroik itu terjadi, Pak Domo tengah menjalankan tugasnya sebagai Asistem I Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat bidang Pendidikan, Kebudayaan, dan Generasi Muda; yang sekaligus adalah Ketua Pokja Wardun.Pada saat itu di Indonesia ada dua alam lingkungan yang terdaftar sebagai Wardun, yaitu Pulau Komodo dan Taman Nasional Ujung Kulon di Propinsi Jawa Barat (sekarang masuk Propinsi Banten).

Kedatangan Prof. Drs. Soedomo, M.A. ke Taman Nasional di Pulau Komodo adalah untuk kepentingan dunia. Tapi takdir berkata lain: sampai kini hilang diterpa pusaran ombak kala-kala antara Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Peristiwa kecelakaan speedboat Jagawana di perairan Pulau Komodo tanggal 27 Juli 1995 tersebut beserta epilognya seolah menggugah kembali semua kenangan indah tentang sosok Pak Domo yang luar biasa.

Keteguhan hati Pak Domo untuk tetap berangkat menyeberang walaupun sudah diperingatkan akan ancaman bahaya di laut dan dalam keadaan badan yang mungkin sudah lelah, namun karena komitmennya terhadap tugas dan karakternya untuk memegang janji akan menemui Dirjan PHPA, memberi bukti sekali lagi bahwa Pak Domo adalah orang yang teguh pendirian dan komited terhadap tugas, serta disiplin waktu. Sekali lagi, terlepas dari persoalan takdir dan nasib, kecelakaan tersebut menjadi bukti tersendiri akan sifat dan sikap Pak Domo yang demikian.

GAMBARAN UMUM

Secara fisik, pada usia menjelang 60 tahun ketika kecelakaan itu terjadi, nampak sangat matang, badannya atletis walau cenderung agak gemuk, bobot tubuhnya sekitar 70 kg., tinggi badan 160an Cm, bentuk muka cenderung bulat, rambut lurus selalu tersisir rapi ke belakang, pakaian yang paling sering dikenakan ke kampus atau di tempat formal adalah baju safari. Bila berjalan tidak pernah pelan, selalu dengan kecepatan tinggi, seolah seperti mengejar waktu, pandangan matanya selalu lurus ke depan, namun selalu menyapa atau memberi senyum kepada setiap orang yang ditemui. Berbicaranya selalu mengesankan tegas, penuh percaya diri, jelas, dan memandang lurus pula kepada lawan bicaranya.

Berbagai stigma positif sering diungkapkan para kolega, mantan mahasiswa, maupun bawahannya, misalnya pegawai negeri yang disiplin, gigih, taat memegang janji, pekerja keras, dan pandai mengatur waktu.

Fisik pak Domo sangat prima, fit, dan selalu energik. Kebiasaan beliau untuk bangun pagi dan jogging setelah sholat subuh adalah kunci kebugaran tersebut, selain kebiasaan makan teratur dan terkontrol. Untuk kepentingan jogging itulah maka ke mana saja Pak Domo bebergian selalu membawa sepatu dan pakaian olah raga di dalam kopernya. Jogging adalah aktivitas rutin beliau. Aktivitas itu pula yang membuat ujung jarinya kejepit pintu gerbang Wisma Guru di Jakarta tempatnya bermukim selama berdinas di Jakarta sebagai Asisten I Menko Kesra. Diceritakan pada waktu itu, di bulan Juni tahun 1995, Pak Domo mau keluar kompleks wisma untuk jogging, karena satpam wisma belum siap membukakan pintu, pak Domo membuka sendiri pintu gerbang wisma tersebut. Gerbang itu berupa pintu geser yang terbuat dari besi. Entah bagimana mulanya, ketika tangan kanannya menarik pintu untuk ditutup kembali, tangan kirinya belum dilepaskan dari tiang pangkal pintu gerbang, akhirnya ujung jarinya tergencet daun pintu dan tiang pangkal. Tiga ujung jarinya terluka. Pada saat bertugas ke Pulau Komodo itu ujung jari yang terluka tersebut masih dibalut kain kassa, belumlah sembuh benar. Karena keteguhan tekad dan jiwa pengabdiannya yang sangat tinggi, pak Domo tetap berangkat menunaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Pak Domo lahir di Jember 16 Agustus 1935. Soedomo lahir dari keluarga guru SD di pedesaan. Kondisi yang dipiluti keterbatasan tidak menghalangi tekadnya untuk mencapai cita-citanya melalui sekolah. Jarak Jember ke Bondowoso dirasakan tidak terlalu jauh, terbukti ia bisa menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertamanya di “kota tape” Bondowoso. Jenjang ke tingkat SMA ditempuh di Malang di sebuah sekolah SMA Katolik St. Albertus. Dididik dengan disiplin yang tinggi, ternyata membuahkan hasil baginya. Ia mampu meraih gelar kesarjanaannya di Fakultas Paedagogik Universitas Gajah Mada pada tahun 1960. Pada tahun 1977 berhasil meraih gelar Master of Art in Education dari School of Education, Stanford University, California AS.

Pak Domo juga seorang ahli bidang Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat dan pernah menjadi partisipan SEAMEO Innotech Center tahun 1973. Di IKIP Malang, ia menaruh perhatian yang besar terhadap pengkajian dan pengembangan pendidikan Pancasila maupun pendidikan dalam pembangunan nasional dan kajian strategik pembangunan nasional jangka panjang. Prof. Soedomo juga membuat buku, diantaranya: Pengembangan Sistem Belajar Masyarat, Landasan Pendidikan dan PLS, dan buku Perubahan Pengembangan Masyarakat.

Jenjang karier lain yang pernah dijalani adalah menjadi ketua ahli pada Proyek Perencanaan 0Pendidikan Daerah Terpadu yang waktu itu lebih dikenal dengan istilah Propipda yang juga dikenal dengan cikal bakal bagi kelahiran Bagian Perencanaan Pendidikan Kanwil Depdikbud Jatim tahun 1974. Tahun 1980-1982 menjadi konsultan Proyek Pendidikan Kedesaan Miskin, yang merupakan salah satu proyek SEAMEO Innotech Center. Bahkan ia turut berperan dalam menyiapkan materi kemampuan perencanaan pendidikan daerah dan mutu pendidikan melalui proyek STEPPS Depdikbud.

Sejak tahun 1984 ia menduduki jabatan fungsional sebagai guru besar di IKIP Malang dan juga menjabat struktural sebagai ketua Lembaga Pengabdian pada Masyarakat. Sejak 30 Maret 1990 ia diangkat menjadi asisten Menkokesra bidang Kebudayaan, Pendidikan, dan Generasi Muda.

SANG PEMBELAJAR YANG KREATIF

Sebagai dosen, Pak Domo adalah pembelajar yang inspiratif. Satu slogannya yang sangat dikenal para mahasiswanya yang menjadi dosen adalah “berikan sepertiga saja, dua pertiganya biar dicari sendiri, dan mereka akan mendapatkan lebih dari satu”. Kalimat itu bermakna konstruktivistik, dosen tidak perlu memberi kuliah dengan berceramah, panjang lebar, atau memberi tahu atau mendemonstrasikan pengetahuannya kepada mahasiswa dengan berceramah, melainkan cukup memberikan kunci-kunci simpul pengetahuan dan arah belajar lanjutan yang harus ditempuh, agar mahasiswa kelak mendapatkan lebih banyak lagi ilmu pengetahuan dari proses pencarian melalui eksplorasi lapangannya sendiri. Pak Domo juga sangat menjaga keteladanan dalam mengajar maupun dalam pekerjaan lain. Dalam hal mengajar beliau selalu nampak “well prepare”. Ketika berangkat ke kampus UM dari rumahnya di Jl. Jakarta 44 Malang, Pak Domo selalu berjalan kaki dengan menenteng satu tas di masing-masing tangan kanan dan kirinya. Bahkan tidak jarang masih ada mahasiwa atau asisten beliau yang diminta tolong membawakan berkas-berkas lain di belakang beliau.

Di tengah kesibukannya yang luar biasa, mengajar selalu mendapat perhatian dari Pak Domo. Jadwal mengajar Pak Domo seringkali menjadi tidak reguler. Kapan pak Domo ada waktu luang maka beliau akan mamanggil ketua kelas agar memberi tahu teman-temannya bahwa pada hari ini jam ini Pak Domo akan mengajar. Dalam hal ini peran Ibu Soedomo sangat penting sebagai sekretaris pribadi beliau untuk meneleponi ketua kelas atau mengirim kurir kepada para ketua kelas atau mahasiswa tertentu agar mengatur pertemuan perkuliahan yang dijadwalkan Pak Domo.

Dalam hal membimbing penyusunan skripsi atau tesis Pak Domo punya jadwal dan tempat khusus. Jadwal waktu yang paling sering beliau sediakan adalah jam 06.00 pagi, tempat khusunya adalah di rumah beliau, di ruang kerja khusus sebelah kiri ruang tamu rumahnya. Pak Domo sudah punya cara khusus untuk para mahasiswa yang perlu dipanggil untuk dibimbing atau yang mengajukan jadwal konsultasi. Biasanya mereka akan dipanggil melalui telepon atau kurir agar datang ke rumahnya pada jam-jam tertentu.

Dalam cara memberikan bimbingan dan mengajar ini, citra beretos kerja yang tinggi pun melekat pada diri Pak Soedomo. Di sela-sela kesibukannya menjadi Asisten Menko Kesra maupun ketika masih menjadi Ketua LP2M IKIP Malang, beliau selalu menepati jadwal mengajar di kampus itu. Bahkan dilukiskan, di pagi hari sekali pun, misalnya baru beberapa menit tiba dari Jakarta, ia bersedia menerima mahasiswanya yang ingin konsultasi. Syaratnya hanya satu, tepati janji dan waktu.

Bimbingan skripsi atau tesis pada pagi hari biasanya beliau lakukan sehabis jogging. Dengan masih mengenakan pakaian olahraga beliau langsung duduk menerima bimbingan. Mahasiswa harus sudah siap di ruang kerja tersebut sebelum Pak Domo datang dari jogging, jangan sampai Pak Domo sudah datang dari jogging dan sudah tiba jadwalnya untuk bimbingan, mahasiswa belum datang. Bila ini terjadi Pak Domo akan memarahinya ketika ketemu mahasiswa itu dengan mengatakan “Kamu ini brengsek!”. Satu hal yang luar biasa adalah ketika menunggu Pak Domo datang dari jogging dan selama bimbingan di rumah beliau, selalu disediakan teh atau minuman lain dan kue oleh Bu Domo melalui pembantu rumah tangganya. Bahkan banyak mahasiswa yang ketika bimbingan itu diajak sarapan bersama di ruang makan rumah beliau dengan menu yang sebagaimana adanya yang biasa di-dahar (dimakan) oleh keluarga Soedomo. Sungguh sebuah perlakukan yang luar biasa dari dosen dan keluarganya kepada mahasiswa.

Apabila skripsi atau tesis telah rampung dan sudah siap maju ujian sidang, ada hal khusus pula yang dilakukan Pak Domo, yaitu meminta mahasiswa itu presentasi dan “diuji” dahulu oleh Pak Domo di ruang kerja di rumahnya itu. Biasanya dilakukan sehari atau dua hari menjelang ujian. Dari proses ujian pendahuluan itulah pak Domo memberikan arahan-arahan bagaimana mahasiswa harus tampil ketika ujian yang sebenarnya esok hari.

Sebagai dosen, naluri (passion) ke-guru-annya sangat tajam, kreatif, dan senantiasa efektif. Dalam hal membelajarkan (membuat situasi agar mahasiswanya belajar dan menjadi terpelajar). Pak Domo terkenal memiliki berbagai cara, baik yang dilakukan secara langsung oleh beliau maupun yang dilakukan dengan memanfaatkan orang dan pihak ke tiga.

Sebuah cerita menarik dituturkan oleh Drs. Sucipto, M.S. (saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan UM). Ketika menjadi mahasiswa S- 1 Jurusan PLS Pak Sucipta muda indekost di Kawasan Betek (Jalan Mayjen Panjaitan). Pada suatu pagi-pagi setelah subuh pintu kamar kosnya diketuk seseorang, ketika Pak Cip belum bangun. Ketika bangun dan membuka pintu ternyata sudah berdiri di situ Bapak Soedomo. Dengan nada tinggi (seolah marah) Pak Domo berujar, “Bagaimana republik ini bisa maju kalau jam sekian pemudanya masih tidur, ayo bangun sholat dan ikut Pak Domo lari pagi”. Setelah berujar begitu Pak Domo pergi melanjutkan jogging paginya. Esok pagi yang lain Pak Domo datang lagi ke tempat kos Pak Cip, tapi kali ini Pak Cip sudah bangun. Pak Domo mampir melintasi tempat kosnya lagi ketika jogging, dan kali ini Pak Domo membawa sesisir pisang untuk Pak Cip. Demikianlah Pak Domo memberi perhatian kepada mahasiswanya dengan sentuhan pendidikan. Sungguh indah untuk dikenang sebagai sebuah kearifan seorang guru membelajarkan dan mendidik mahasiswanya akan sifat dan karakter yang baik, bangun pagi, sholat, jogging, bersilaturahmi, dan berbelanja.

Ada lagi cerita unik tentang siasat Pak Domo membelajarkan dan membimbing mahasiswanya dengan cara yan berbeda dengan biasanya. Seorang mahasiswa prodi S-2 PLS dari praktisi tengah menyusun tesis. Setelah berkonsultasi berkali-kali dan diberi arahan, rupanya sang mahasiswa tidak sepenuhnya mampu memahami maksud dan arahan Pak Domo. Dan barangkali Pak Domo sudah cukup “jenuh” memberi arahan, maka sang mahasiswa dimintanya memfoto kopi draf tesisnya empat kali. Setelah foto kopi itu jadi dan diserahkan kepada Pak Domo, beliau bertanya siapakah nama atasan si mahasiswa, siapakah nama teman si mahasiswa yang studinya di jurusan bahasa, siapakah teman atau kenalan si mahasiswa yang telah bergelar master, dan siapakah nama mahasiswa lain sekelas si mahasiswa yang dipandang lebih mampu dari dirinya. Kepada keempat keloga sang mahasiswa Pak Domo menulis surat agar draf tesis si mahasiswa dibaca dan diberi masukan secara tertulis. Sang mahasiswa bimbingan diminta mengantarkan naskah draf tesis dan surat Pak Domo kepada nama-nama yang disebut tadi. Berdasarkan masukan-masukan para kolega itulah revisi tesis tersebut harus dilakukan oleh sang mahasiswa. Teknik inilah yang pada akhirnya disebut sebagai teknik delphie. Inilah salah satu trik menarik Pak Domo untuk membelajarkan mahasiswanya. Sebelum orang-orang menyebut metode delphie, Pak Domo sudah mempraktekannya dalam bimbingan tesis.

PERAN MANAJERIAL

Di internal UM, Pak Domo adalah Pendiri Jurusan Pendidikan Luar Sekolah pada tahun 1964 dengan nama Departemen Pendidikan Sosial, Ketua Jurusan, Ketua LPM UM yang pertama. Beliau pernah juga memegang jabatan sebagai Pembantu Rektor III. Perannya dalam merintis dan membesarkan jurusan PLS di UM sangat nyata dan akan selalu dikenang dan dihargai oleh generasi penerusnya. Berkat kerja kerasnya Jurusan PLS UM menjadi program studi yang cukup disegani di kalangan komunitas prodi sejenis di Indonesia. Dan pada tahun 1984 Jurusan PLS di UM atas arahan Pak Domo berhasil membuka Program Studi Strata 2 di Pascasarjana UM.

Ketika menjabat Ketua LPM, Pak Domo adalah peletak dasar manajemen, prinsip-prinsip, dan program aktulasiasi dharma pengabdian kepada masyarakat di perguruan IKIP Malang. Sebagai sebuah lembaga baru di internal UM, maka tugas pokok dan fungsi LPM masih perlu dikembangkan. Permasalahan tata kerja, nilai- nilai, program kerja, dan tata kelola LPM masih perlu diatur karena belum ada polanya. Demikian juga jaringan kerja dengan mitra terkait masih perlu dirintis dan dikembangkan. Dalam kapasitas pengembangan program kerja dan pengakuan kredit poin pengabdian kepada masyarakat bagi dosen, Pak Domo menggunakan istilah “melembaga” agar kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen dapat diakui kredit poinnya.

Karena kecerdasan, kerja keras, keterampilan sosial, dan keluwesan komunikasi yang dimiliki Pak Domo dalam masa jabatannya sebagai Ketua LPM IKIP Malang pada saat itu berhasil dijalin kerjasama dengan berbagai pihak dengan program kerjanya, termasuk rintisan program Hubungan Industrial Pancasila bersama Departemen Tenaga Kerja RI. Dalam pwengembangan metode Permainan Simulasi P4, bapak Drs. M. Soedomo. MA. pernah berperan sebagai ketua tim pengembangan ketika Persimu diamafaatkan uuntuk pemasyarakatan P4 pada tahun 1980 s.d 1981.

Dalam kapasitasnya sebagai sarjana Pendidikan Sosial/Pedogogiek, Pak Domo pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan dan Pengembangan Sosial Indonesia (ISPPSI). Ia juga pernah menjadi ketua I Himpunan Pekerja Sosial Indonesia Wilayah Jatim. Tidak mengherankan bila tahun 1974-1976 ia diberi kepercayaan menjadi staf ahli pada Proyek Pendidikan Pedesaan Miskin, yaitu salah satu proyek dari SEAMEO tahun 1980-1982. Bahkan pada Pelita IV-V ia mendapat peluang pada STEPPS Depdikbud.

Kesuksesan dalam menyelesaikan berbagai tugas karena hasil kerja keras dan kedisiplinan pria humoris ini, maka sejak tanggal 3 Maret 1990, ia mendapat kepercayaan untuk duduk mendampingi Menkokesra sebagai Asisten I Menkokesra sampai dengan status terakhirnya yang dinyatakan hilang dalam menjalankan tugas negara pada tanggal 15 Agustus 1995 (Harian Suara Merdeka, 21 Agustus 1995).

EPILOG

Apa yang bisa dipaparkan ini hanyalah sebagian saja dari sisi-sisi karir dan ketokohan Prof. Drs. H.M. Soedomo, M.A. Tentu apa yang bisa dipaparkan ini masih jauh dari demikian banyak sisi-sisi lain dari kompelksitas kehidupan beliau. Sebagai penutup dan pertanggung jawaban akademik terhadap isi, perkenankan dalam kesempatan ini dikemukanan bahwa keberanian saya (penulis) menerima tugas menyusun tulisan tentang Pak Domo sebagai bagian dari “Tokoh UM” dalam rangka Lustrum UM ke 12, dilandasi rasa hormat dan ungkapan terima kasih dari murid kepada guru yang senantiasa bersemayam dalam hati. Keberanian memberikan “opini” tentang pribadi, pikiran, dan karya beliau ini “terpaksa” saya lakukan untuk ikut menandai momentum Lustrum UM ke-12.Sisi-sisi lain Pak Domo sebagai pribadi, kepala keluarga, sebagai dosen, dan pimpinan UM tidak seluruhnya mampu dipotret dari satu sudut pandang orang se orang, dan juga tidak akan mampu diungkapkan seluruhnya.

Sebagian isi tulisan ini saya ambil dari dokumen kliping koran yang sempat terdokumentasi ketika musibah kecelakaan speedboat Pak Domo terjadi di perairan Pulao Komodo, naskah Pidato Pengukuhan Guru Besarnya, dan sebagian yang lain adalah kesan pribadi ketika sempat interakasi saya dengan beliau. Demikianlah semoga paparan ini mampu menjadi bagian dari tugas menginspirasi bagi kemajuan UM dan dunia pendidikan kita ke depan.

 

Ir. Rinanto Roesman: Promotor Studi Gerak Dan Waktu Kerja

Oleh: Waras Kamdi

Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang

Tatkala  Anda  membubuhkan  tanda  tangan  pada  secarik  kertas,  Anda melakukan gerakan yang secara berturut-turut: (a) angkut kosong, tangan menggapai pena di pangkuan pena; (b) candak, tangan memegang pena; (c) angkut isi, membawa pena ke atas kertas; (d) tempatkan, memposisikan pena di atas kertas; (e) pakai, membubuhkan tanda tangan; (f) angkut isi, kembalikan pena ke pangkuan pena; (g) lepaskan beban, lepaskan pena; dan (h) angkut kosong, tarik tangan kosong posisi semula. Semua gerakan tersebut terlalu biasa kita lihat, sehingga lepas dari perhatian kita. Akan tetapi, di mata orang yang sadar dan penaruh perhatian, serta tahu hakikat gerak dalam bekerja, keadaan itu menjadi lain. Setiap gerak kita dan waktu yang diperlukan untuk bergerak dalam menyelesaikan suatu tugas merupakan penentu efisiensi dan produktivitas kerja.Gerak tidak hanya berurusan dengan tenaga, akan tetapi juga berhubungan dengan iklim dan budaya, manajeman sumber daya manusia di tempat kerja, dan pendidikan.

Siapakah si penaruh perhatian itu? Beliau adalah Ir. Rinanto Roesman, seorang arsitek yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik di Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) IKIP Malang (sekarang Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang) hingga akhir hayatnya. Pak Rinanto, begitu panggilan akrabnya, memromosikan pelajaran gerak dan waktu kerja, sebagai bidang kajian untuk memperbaiki kualitas kerja manusia, kepada semua mahasiswanya. Lebih- lebih kepada mahasiswa FPTK yang memang disiapkan untuk menjadi calon pendidik di sekolah-sekolah menengah kejuruan maupun calon pengembang sumber daya manusia di perusahaan-perusahaan.Pendidik keterampilan psikomotorik tidak boleh salah dalam menanamkan pelajaran gerak dan waktu kepada murid-muridnya, karena keterampilan psikomotorik banyak berhubungan dengan gerakan-gerakan khusus, gerakan-gerakan yang efisien dan efektif.

Sosok yang dikenal serius, cermat, tetapi periang ini pernah menjabat dekan selama 15 tahun. Ketika marahpun kepada mahasiswanya masih menebar senyum. Dalam pengabdiannya di IKIP Malang, sebagai arsitek dan ahli struktur bangunan, ia telah menorehkan karya dan pikirannya dalam banyak hal. Kalau Anda sempat memperhatikan gedung-gedungkuliah di UM ini berjajar rapi seakan-akan berirama gelombang, dari arah selatan ke utara, berlarik-larik, tidak lain adalah wujud gagasan arsitektural Pak Rinanto yang dituangkan dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP)  IKIP  Malang  untuk  menciptakan  kenyamanan  gerak  penghuninya  agar menghasilkan efisiensi dan efektivitas kerja. Dalam konteks lain dicontohkannya fenomena sukses di India dalam mengaplikasikan studi gerak dan waktu dalam membuat denah pabrik yang mampu menghemat biaya. Dicontohkan pula di Inggris, perusahaan bisa menghemat jutaan poundsterling karena menerapkan studi gerak dan waktu dalam pabrik-pabriknya, dan mengurangi kebutuhan perluasan pabriknya. Sebagai pendidik keterampilan psikomotorik, Pak Rinanto mengahayati betul bagaimana belajar dan membelajarkan mahasiswa agar mahasiswa berkembang dengan  cara  yang  benar,  memiliki  kecakapan  gerak,  dan  menghargai  waktu. Mengapa penting mempelajari gerak dan waktu? Cara gerak yang baik akan memberi keuntungan   waktu   kerja.   Dalam   bekerja   menghasilkan   barang   atau   jasa, produktivitas diukur dalam besaran waktu, kerja adalah fungsi dari waktu. Karena itu, waktu memegang peranan dalam mengukur kerja yang mengisyaratkan kepada kita cara dan kualitas kerja seseorang.

Pak Rinanto mengamati gerak sebagai elemen terkecil kerja yang menentukan mutu dan produktivitas suatu pekerjaan. Setiap gerak karyawan dan mahasiswanya tidak pernah luput dari pengamatannya. Saya masih ingat, di suatu pagi saya mengahadap beliau di kantor untuk melakukan wawancara untuk sebuah opini di Tabloid Komunikasi. Pada saat yang bersamaan, beliau memperhatikan seorang karyawan yang sedang merapikan meja kerja beliau, menata tempat pena, tinta, alat penghisap tinta, block note, kotak arsip di atas meja, dan telepon. Semua perlengkapan itu ditatanya di sebelah kiri meja agar tampak rapi, menurut versi karyawan. Apa yang beliau katakan? “No no no…” Lalu beliau memberi contoh menata perlengkapan meja yang benar. Taruh tempat pena, tinta, alat penghisap tinta di sebelah kanan, sedangkan block note, kotak arsip, dan telepon di sebelah kiri. Sambil duduk di kursi kerja beliau memeragakan bagaimana kedua tangan (kiri dan kanan) begerak secara bersamaan dalam menggunakan semua perlengakapan di meja. Dengan begitu, efisiensi gerak dan produktivitas kerja kita meningkat. Banyak cara kerja kita, yang terasa baik-baik saja, ketika dicermati ternyata mengalami inefisiensi gerak dan boros waktu yang membuat produktivitas kerja kita rendah. Melalui kajian tentang gerak, kita bisa memperbaiki gerak anggota badan dengan cara-cara gerak baru, sehingga kualitas kerja, efisiensi, dan produktivitas kerja meningkat.

Gerakan yang serupa dengan tangan kita membubuhkan tanda tangan pada secarik kertas yang sangat sederhana itu, dapat kita jumpai pula dalam banyak pekerjaan besar yang melibatkan gerak alat-alat berat,di pelabuhan atau di tempat- tempat pembangunan gedung bertingkat untuk mengangkut barang atau material bangunan. Cara memosisikan alat, cara mengangkut, dan cara gerak yang ditempuh semua dikerjakan dengan efisien dan penuh perhitungan gerak dan waktu kerja.

MENGAPA GERAK ORANG INDONESIA CENDERUNG LAMBAN?

Perhatikan sepintas gerak pejalan kaki, atau gerak para pemain sepak bola, Anda akan segera menemukan perbedaan kecepatan gerakantara orang-orang Eropa atau Amerika dan orang-orang Indonesia. Gerak orang-orang Eropa dan Amerika lebih cepat daripada orang-orang Indonesia. Mengapa demikian? Pak Rinanto mempunyai tesis bahwa iklim memberi pengaruh terhadap gerak dan kultur bekerja manusia. Alam tropis yang serba panas menentang tubuh kita untuk melakukan gerak badan yang cepat, dan gerakan yang mengeluarkan banyak tenaga. Yang menyedihkan, jika dipaksa hingga mengeluarkan banyak keringat, badan menjadi lesu. Jika diteruskan, badan akan kehilangan cairan, dan kita semua tahu akan berakibat fatal. Berbeda dengan orang-orang yang hidup di negara-negara beriklim dingin, dengan empat musim dalam satu tahun, waktu musim mendapat perhatian, terutama berkaitan dengan pengadaan pangan melalui pertanian. Bulan-bulan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian sudah tertentu. Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bercocok tanam harus dijalankan agar pertanian memberi hasil. Demikian pula hasil panen harus diproses pada masa musim panen agar persediaan hasil panen bisa bertahan hingga musim panen berikutnya.

Pak Rinanto berkesimpulan bahwa efisiensi dalam menggunakan segala sarana untuk menangani produksi pangan, yang cara kerjanya dibatasi musim, menjadi cambuk untuk melaksanakan pekerjaan dengan efisiensi yang tinggi. Gerak dan waktu menjadi faktor yang sangat diperhitungkan dalam bekerja, karena orang tidak mau kehilangan masa musim berproduksi untuk mempertahankan hidup pada musim berikutnya. Cara-cara bekerja yang demikian itu menjadi kebiasaan, dan akhirnya kebiasaan menjadi satu terserap ke dalam kebudayaan. Oleh karena itu, Pak Rinanto menyarankan persoalan hawa panas, cara kerja, dan waktu yang merupakan faktor-faktor yang sangat berakibat dan penting, saling berkait seerat cincin-cincin rantai, dalam membangun budaya kerja yang produktif di negeri ini, perlu mendapat perhatian dan dicari pemecahannya. Persoalan waktu menjadi masalah pokok dalam pembicaraan mengenai kerja, bahkan mengenai kegiatan hidup, kebiasaan, dan akhirnya kebudayaan merupakan fungsi dari ruang dan waktu. Ruang dalam arti letak geografis negara dan kondisi tanah, dan waktu adalah besaran dimensi yang ditempati oleh waktu yang memberi ruang aktivitas manusia. Oleh karena itu, jangan keburu mengolok-olok bangsa kita sendiri yang acapkali dibilang berbudaya lamban, malas, kurang terampil, dan aneka sebutan sejenis. Ternyata, kondisi alam tropis yang kita miliki memberi andil mengapa “kecerdasan” gerak tubuh kita tidak “secerdas” gerak tubuh manusia yang hidup di negara-negara beriklim dingin, dengan empat musim berganti dalam setahun.

Berangkat dari tesis inilah Pak Rinanto mempromosikan pentingnya studi gerak dan waktu di negeri ini, mencari dan menemukan metode gerak yang tepat yang dapat menghemat waktu kerja, yang berarti pula meningkatkan efisiensi kerja, dan bagaimana pendidikan kerja dijalankan untuk menumbuhkan budaya kerja baru yang lebih produktif. Namun demikian, belum banyak ditemukan studi gerak dan waktu kerja dengan konteks iklim tropis Indonesia yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia. Semangat mengangkat kembali pemikiran Rinanto Roesman ini adalah mengingatkan para pembaca akan betapa pentingnya studi gerak dan waktu dalam ruang kajian pendidikan keterampilan psikomotorik, menemukan cara-cara kerja baru yang tepat untuk iklim Indonesia, dan membangun budaya kerja baru yang produktif. Apalagi, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Indonesia sedang menuju pada sistem penghargaan kerja berbasis pada kinerja (performance-based management) di hampir di semua sektor bisnis dan pemerintahan. Studi gerak dan waktu kerja mestinya menjadi isu “kece” di negeri beriklim tropis ini untuk mendukung performance-based management yang mulai dominan dalam sistem manajemen ketenagakerjaan di Indonesia. Program studi pendidikan kejuruan selayaknya  mengambil  bagian  pertama  dalam  studi  gerak  dan  waktu  kerja, menemukan cara-cara kerja baru yang tepat di negara beriklim tropis, ekonomi gerak, cara-cara mendidik tenaga kerja terampil menurut studi gerak dan waktu, dan pada akhirnya menciptakan budaya kerja baru yang lebih produktif.

MENGAMBIL MANFAAT DARI PENGALAMAN STUDI GERAK

Studi gerak dan waktu kerja dimulai sejak orang merasa perlu memperhatikan aspek bekerja dalam menghasilkan barang. Dalam proses produksi barang atau benda selalu melibatkan pekerjaan merencana dan membuat barangnya. Agar dalam bekerja dapat menggunakan waktu, tenaga, dan modal dengan sebaik-baiknya, cara bekerja harus diatur. Waktu memegang peranan yang sangat penting. Demikian juga, jumlah orang yang akan dipekerjakan direncanakan sebaik mungkin.

Pak Rinanto mengidentifikasi studi gerak dan waktu kerja meliputi tiga faktor, yaitu (1) penentuan secara ilmiah cara kerja yang cocok, (2) penetapan waktu yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu, dan (3) implementasi cara kerja dan perencanaan waktu dalam pelaksanaan pekerjaan. Faktor-faktor tersebut berbeda satu sama lain, akan tetapi tak terpisahkan dalam pelaksanaan pekerjaan produksi barang. Cara kerja tertentu dapat menentukan jumlah waktu yang digunakan, sebaliknya waktu yang digunakan dapat menjadi ukuran untuk membandingkan cara kerja yang berbeda.

Semua pekerjaan dilakukan dengan gerakan, baik pekerjaan berat maupun ringan. Pak Rinanto mengatakan jenis pekerjaan dapat berbeda, misalnya pekerjaan produksi barang di pabrik, pekerjaan mengangkut dan menumpuk barang di gudang, pekerjaan bertani, pekerjaan pembersihan kamar hotel, dan lain-lain, sarana dan tempat kerja juga dapat berubah dan berkembang, tetapi pekerjaan yang dilaksanakan semua dilakukan dengan gerakan anggota badan. Dengan demikian, melalui studi gerak dan waktu dapat dicari dan ditentukan cara kerja yang terbaik, dan dapat digunakan sebagai acuan untuk mengendalikan kegiatan. Prosedur mencari dan memilih cara kerja yang paling cocok untuk semua kondisi adalah sama, apapun barang yang dihasilkan dan sarana yang digunakan. Demikian pula, kita dapat meneliti usaha yang paling efektif yang dilakukan oleh manusia. Pengelolaan studi waktu kerja yang digunakan untuk suatu pekerjaan dan pengukuran waktu kerja sangat menentukan keberhasilan usaha. Dengan studi gerak dan waktu kerja, perusahaan akan mampu merencanakan dan mengontrol produksi dengan jalan koordinasi dan sinkronisasi bagian-bagian produksi yang terlibat, yaitu bahan, tempat kerja, cara kerja, alat, mesin, dan kebutuhan lainnya.

Pengamat yang tertarik pada pelajaran gerak dan waktu sering mencoba merekayasa gerak dalam suatu pekerjaan untuk memperoleh kemudahan dan kenyamanan kerja, dan mengurangi, bahkan jika mungkin menghilangkan, gerakan- gerakan yang canggung, melelahkan, dan tidak menghemat energi. Di dalam kuliah-kuliahnya tentang pelajaran gerak dan waktu kerja, Pak Rinanto sering mencontohkan percobaan Barnes (1980) tentang Papan Pasak. Instrumen percobaan ini terdiri atas satu papan pasak yang berlubang-lubang teratur, yang ke dalamnya dapat dipasangkan pasak-pasak. Percobaan papan pasak ini untuk mempelajari waktu yang diperlukan dalam memasang pasak dengan membandingkan kerja memasang pasak antara menggunakan satu tangan dan dua tangan. Gerakan tangan diamati pada keadaan pertama dan kedua (perhatikan gambar berikut).

keadaan

Pekerja yang berhasil baik tidak berarti berhasil melakukan pekerjaan yang paling berat, akan tetapi mereka yang berhasil memperhitungkan setiap gerakan dengan menggunakan cara yang baik. Dalam hal ini, yang menjadi tekanan pengamatan, bukan hanya soal waktu tersingkat yang digunakan untuk menyelesaikan percobaan, tetapi juga jumlah pekerjaan yang bermutu yang dapat diselesaikan dengan seekonomis mungkin. Kecepatan kerja yang terlalu besar tidakselalu merupakan pengganti cara kerja yang baik. Memasang pasak ke dalam lubang-lubang di papan keadaan I dikerjakan dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menggenggam pasak, sebagaimana sering kita lihat pada kebanyakan orang mengerjakan hal ini, memakan waktu 0,62 menit untuk mengisi penuh lubang-lubang. Jika dilakukan dengan gerakan simultan (keadaan II), kedua tangan bersama-sama, waktu yang diperlukan mengisi lubang-lubang hanya 0,41 menit. Keadaan II menggambarkan suatu usaha mengembangkan cara kerja yang baik, dengan menganalisis gerakan-gerakan tangan dan menerapkan prinsip-prinsip gerak ekonomis.

Dengan bentuk pasak yang ujung-ujungnya berbeda, satu ujung bersegi dan ujung yang bulat peluru, target percobaan tersebut adalah waktu tersingkat untuk mengisi papan dengan pasak ujung bulat peluru masuk lubang. Orang awam yang diminta memasukkan pasak secepat mungkin ke dalam lubang akan melaksanakan sebagaimana tampak dalam gambar keadaan I. Dengan cara ini, sebagian besar yang aktif adalah tangan kanan, sedangkan tangan kiri hanya memegang pasak alias tidak melakukan pekerjaan produktif. Lain halnya dengan pekerja yang menggerakkan kedua tangannya mengisi papan pasak seperti tampak dalam gambar keadaan II. Pekerja melakukan pekerjaan yang lebih produktif, karena pekerja telah menerapkan prinsip gerakan ekonomis.

Untuk lebih memahami gerak, gerakan kerja tersebut dapat dirinci berturut-turut: (1) angkut barang (candak pasak), (2) pilih (pasak) di antara yang ada di dalam kotak pasak dibantu dengan mata yang mencarikan pasak (pekerjaan mencari kemudian menemukan dan mencandak pasak tertentu disebut pilih), (3) candak (tutup ibu jari dengan jari-jari lain mengelilingi pasak), (4) angkut isi (bawa pasak dari kotak menuju lubang pada papan dan kemudian tempatkan pada lubang yang tepat, pasak dalam keadaan tegak dan sisi bulat peluru di bawah dan tempatkan, sementara), (5) tempatkan (permanen, pasak ditempatkan masuk ke dalam lubang baris tertentu), dan (6) angkut kosong (tangan ditarik ke posisi semula percobaan).Jika keadaan I dan keadaan II dibandingkan, keadaan II dapat dikatakan: (1) merupakan cara baru yang memperbaiki keadaan I, (2) tangan kiri dengan gerakan pegang (tahan) pasak dihilangkan, (3) tangan kiri dan kanan melakukan gerakan yang bermanfaat, (4) kedua tangan bekerja sama secara simetris mengambil dan menempatkan pasak, dan (5) ada penghematan sebanyak 34 proses waktu kerja.

Barnes (1980) menyarankan agar percobaan-percobaan semacam ini dimanfaatkan untuk menunjukkan keuntungan dari penerapan studi gerak dan waktu kerja. Pada tataran pekerjaan yang lebih kompleks studi gerak dan waktu kerja menjadi sangat bermakna bagi pengembangan prinsip-prinsip ekonomi gerak. Menurut Barnes, pekerja melakukan pekerjaan dengan tangan saja, atau menggunakan alat, mesin atau perkakas lain, secara prinsip ekonomi gerak lebih menekankan aspek gerak manusia. Pengembangan prinsip-prinsip ekonomi gerak juga sering dikaitkan dengan upaya mengurangi kelelahan. Prinsip-prinsip ekonomi gerak yang berhubungan dengan manusia, antara lain: (1) kedua tangan harus memulai dan menyelesaikan pekerjaan pada waktu yang sama, (2) kedua tangan tidak boleh menganggur pada waktu yang bersamaan, dan (3) gerakan-gerakan lengan harus dilakukan dalam arah yang bertentangan secara simetris dan harus diusahakan simultan. Ketiga aturan lintas gerak tersebut saling berhubungan dan dapat dipertimbangkan untuk digunakan kombinasi antar prinsip itu.

Ilmu pengetahuan dan teknologi makin bergerak konvergen. Disiplin ilmu dan teknologi satu sama lain saling mendekat, beritegrasi, dan melahirkan jenis-jenis pekerjaan baru yang makin rumit dan canggih. Selain rumit, proses industrinya diorganisasi dengan bagian-bagian yang melaksanakan pekerjaan khusus, dan satu sama lain saling bergantung. Oleh karena itu, mengembangkan dan mengambil manfaat studi gerak dan waktu adalah keniscayaan. Kebutuhan akan studi ini makin nyata akibat dari perkembangan prosedur kerja yang kompleks, alat-alat yang rumit, dan tuntutan menjalankan tugas dengan cerdas dan terampil.

PENGEMBANGAN METODE KERJA

Arah pikiran Pak Rinanto berikutnya adalah bagaimana mengembangkan metode atau cara kerja yang tepat untuk meningkatkan produktivitas kerja. Belajar dari pengalaman Andrew Ray (1965), Pak Rinanto mempelajari cara kerja untuk meningkatkan produktivitas kerja dari sejumlah bahan atau sumber tertentu tanpa penambahan investasi modal (kalaupun ada, sedikit). Tak beda dengan studi gerak dan waktu, studi kerja merupakan pengembangan teknik dan aplikasi gerak pada berbagai kegiatan. Kebanyakan orang berpendapat bahwa studi gerak dan waktu mengandung arti yang terbatas, sehingga studi kerja sering juga digunakan untuk memaknai studi gerak dan waktu dalam arti luas.

Oleh karena berada pada tataran praktis, studi gerak berhubungan langsung dengan tujuan peningkatan produktivitas kerja. Sasaran akhir dari studi kerja adalah menyederhanakan cara kerja dan mengembangkan cara kerja yang lebih ekonomis. Selain itu, studi kerja dapat mengukur atau menentukan jumlah waktu untuk melaksanakan cara kerja tersebut. Sasaran akhirnya adalah peningkatan produktivitas. Meminjam istilah Habibie, cara kerja yang tepat akan meningkatkan nilai tambah.

Studi kerja dapat dilakukan dalam perspektif luas, yang meliputi semua bagian, mengenai cara kerja, tata letak mesin dan peralatan, aliran bahan, dan lintas kerja tenaga kerja, termasuk di dalamnya adalah gerakan mikro. Pendek kata, studi kerja merupakan merupakan studi yang lebih komprehensif mengenai perilaku pekerja, tata letak meja kerja dan mesin, alat-alat dan perlengkapan pendukung lainnya, gerak anggota badan, dan posisi badan dalam melaksanakan tugas. Studi kerja juga mencakup studi lingkungan tempat kerja, bentuk badan, suhu dan tingkat kebisingan di sekitar tempat kerja, yang selama ini kita kenal dengan studi egonomik. Biasanya, studi kerja semacam ini didekati dengan studi gerak makro yang meliputi yang merekam secara rinci gerak cepat tangan dan lengan-lengan kita dalam bekerja. Dengan film dan gambar yang dihasilkan kamera, kita dapat menganalisis gerak-gerak mikro. Melalui studi kerja ini kita menemukan cara melaksanakan suatu pekerjaan yang paling tepat dan paling baik, dan paling mudah. Prosedur-prosedur kerja yang baru dapat ditemukan dan akhirnya dapat dikembangkan metode-metode kerja yang efisien dan efektif untuk meningkatkan produktivitas kerja. Di era manajemen  institusi  berbasis  kinerja  dan  di  era  pesatnya  pertumbuhan  jenis pekerjaan (job) baru dengan prosedur kerja yang makin rumit seperti sekarang ini, memromosikan kembali gagasan Pak Rinanto tentang studi gerak dan waktu terasa sangat  aktual.  Ini  isu  yang  kece,  tetapi  tak  banyak  mahasiswa  pascasarjana, khususnya mahasiswa program studi pendidikan kejuruan, yang menaruh perhatian dan menelitinya.

APAYANG DIHARAPKAN DARI PEMBELAJARAN KEJURUAN?

Sebagai tokoh perintis pendidikan kejuruan di IKIP Malang, dan menjadi dekan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan selama 15 tahun, tak mengherankan jika kepekaan Pak Rinanto terhadap hal-hal dasar mengenai pendidikan kerja sangat tinggi. Gagasan-gagasan pengembangan pendidikan kejuruan yang berbasis pada pengetahuan teori dan hasil riset mewarnai kebijakan- kebijakan beliau selama menjadi nahkoda FPTK. Bukti “wasiat” tentang ketekunan beliau mengawal pendidikan kejuruan ini ada. Saya mendapati secarik kertas surat yang ditujukan kepada para pembantu dekan dan para ketua jurusan di tahun 1980-an. Surat ini masih tersimpan rapi di file perpustakaan Bapak Drs. Heru Muryanto, yang pada saat itu beliau menjabat sebagai ketua jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.

Apa isi surat itu? Surat yang diketik beliau sendiri itu berupa ringkasan pola tindakan pembenahan manajamen bengkel sebagai pusat belajar dan berlatih kerja mahasiswa. Dengan gayanya yang khas, tanpa sedikitpun menampakkan nada “perintah”, apalagi nada marah, meski terselip rasa kurang puas beliau melihat perkembangan pengelolaan bengkel di jurusan yang juga belum kunjung baik, dalam surat itu beliau buatkan skema algoritmik pembenahan manajemen bengkel untuk meningkatkan kualitas bengkel. Skema pembenahan manajemen ini beliau buat berdasarkan hasil sejumlah riset di berbagai negara, dan teori-teori belajar motorik. Tampak jelas sekali visi beliau dalam pembenahan praktik pembelajaran keterampilan motorik hingga tataran mikro, karena beliau meyakini kualitas kerja orang dimulai dari kualitas belajar mereka, dan bengkel adalah tempat pertama mereka belajar bekerja yang baik. Beliau tidak mau terjadi kesalahan manajemen pembelajaran yang berakibat pada kesalahan tindakan belajar mahasiswa. Sekali mahasiswa belajar kerja dengan cara yang salah, tidak mudah kita melakukan perbaikan, begitu yang selalu disampaikan beliau di setiap kesempatan.

Beliau memandang, masalah pembelajaran kejuruan yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana cara melatih secara intensif banyak orang agar terampil per individu melakukan pekerjaan. Pendekatan yang harus diambil adalah cara antara yang dilakukan dengan magang atau pendidikan latihan perorangan dan cara-cara mendidik dan melatih dengan mengajar kelompok. Masalah lain yang tak kalah penting adalah bagaimana menyiapkan bakal instruktur atau pendidik di sekolah menengah kejuruan itu bisa mengembangkan, terbuka, dan berminat untuk melakukan hal itu. Sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi gerak, pembelajaran keterampilan psikomotor yang berhubungan dengan gerakan-gerakan khusus harus dilakukan dengan cara-cara yang tepat. Oleh karena itu, perlu ada dimensi lain yang perlu diajarkan kepada para calon instruktur atau guru sekolah menengah kejuruan, sehingga apa yang diharapkan dapat terjadi. Hal tersebut perlu mendapat perhatian khusus, sehingga dalam melatih calon instruktur atau guru sekolah menengah kejuruan dilakukan dengan cara, seperti dalam bahasa Jawa dikatakan “mowo- mowo”, kapan menekankan pada dimensi yang satu dan kapan menekankan dimensi yang lain, dan kapan mengombinasikannya; kapan menerapkan cara magang, kapan menerapkan cara berkelompok, dan kapan mengombinasikan keduanya.

Beliau mengritik metode mengajar yang selalu saja memberatkan pada penguasaan pengetahuan kognitif. Bukan berarti penguasaan pengetahuan tidak penting, akan tetapi, beliau prihatin dengan cara-cara mengajar psikomotorik kejuruan yang belum menyentuh aspek micro skills seperti gerak dan metode kerja yang efisien dan efektif. Masih harus ditemukan dan dikembangkan metode mengajar untuk menguasai kecakapan psikomotorik kejuruan teknik, seperti pertukangan, memasak, dan lain-lain. Lapangan pengembangan bidang metode mengajar kecakapan psikomotorik di negara kita masih terbuka lebar bagaikan lapangan yang masih perawan, belum dijamah secara sungguh-sungguh. Untuk menemukan metode yang cocok beliau menyarankan kajian-kajian serius, khususnya jika dikaitkan dengan iklim tropis yang panas dan lembab di negara kita.

Kegelisahan beliau tentang mutu pembelajaran kejuruan belum sepenuhnya terjawab hingga beliau wafat. Namun demikian, gagasan-gagasan arah pengembangan pendidikan kejuruan yang beliau tinggalkan, terutama tentang studi gerak dan waktu kerja, serta acara-cara pembelajaran kejuruan psikomotorik,telah memberikan kesadaran baru dan inspirasi bagi kita, lebih-lebih jika dikaitkan dengan perspektif kekinian. Perkembangan bidang-bidang kejuruan baru yang makin kompleks dan canggih menantang kita untuk meneruskan kajian-kajian tentang kecakapan psikomotorik ini, dan cara-cara pembelajarannya yang tepat. Kita menunggu akan hadirnya Rinantoian-rinantoian yang tekun mengembangkan gagasan-gagasan beliau dalam perspektif kekinian.***

Catatan:

Sebagian besar pemikiran Pak Rinanto ini dituangkan dalam buku karya beliau berjudul Keterampilan Psikomotor yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, 1988

Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial