[...]" />

E-Learning dan Kurikulum Berbasis Kehidupan Langkah Awal UM Kembangkan Pusat Iptek Nasional

Prof. Dr. Hariyono, M.Pd
Prof. Dr. Hariyono, M.Pd

Wawancara dengan Wakil Rektor I UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., Terkait Pengembangan UM sebagai Pusat Unggulan Iptek Nasional Dalam Bidang Inovasi Pembelajaran.

Sebagai sebuah perguruan tinggi yang terkenal mencetak calon-calon guru yang berbakat dan terampil di bidangnya, Universitas Negeri Malang (UM) bertekad untuk mengembangkan diri sebagai pusat unggulan iptek nasional. Pengembangan iptek nasional ini lebih dikhususkan ke dalam bidang inovasi pembelajaran.

Prof. Dr. Hariyono, M.Pd
Prof. Dr. Hariyono, M.Pd

Selama 61 tahun berkecimpung dalam dunia pendidikan, UM telah banyak mengembangkan inovasi pembelajaran. Dengan banyaknya inovasi pembelajaran yang telah dikembangkan, sudah sepantasnya bila UM menjadi sebuah pusat unggulan dalam mengembangkan pembelajaran. Hasil dari inovasi yang dikembangkan selama ini telah banyak menjadi rujukan dalam berbagai institusi pendidikan di negeri ini.

Kaitannya dengan usaha yang dilakukan oleh UM dalam mewujudkan pengembangan pusat unggul-an iptek nasional dalam inovasi pembelajaran, Wakil Rektor I UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyampaikan bahwa ada banyak strategi dan inovasi yang telah dikembangkan. “Melalui kajian para pimpinan UM di bidang akademik, semua telah sepakat untuk menerjemahkan lebih lanjut tentang The Learning University. Ada dua karakteristik yang ada dalam The Learning University tersebut. Karakteristik itu adalah UM sebagai tempat sumber belajar dan UM sebagai organisasi belajar. Baik sebagai sumber dan organisasi belajar ini perlu kita ejawantahkan dan kita wujudkan dalam bentuk kurikulum. Kurikulum yang ingin kita kembangkan di UM adalah kurikulum yang berbasis kehidupan,”ujarnya di awal wawancara.

“Memang terdapat perdebatan dalam hal ini. Ada orang yang mengatakan kurikulum berbasis kehi-dupan tersebut diperkenalkan dan dikembangkan oleh teman-teman vokasi. Tapi setelah kita telusuri lebih jauh tentang hakikat pendidikan, setiap proses pendidikan hakikatnya adalah untuk mengatasi kehidup-an. Sehingga pendidikan dan proses belajar itu notabene untuk mengantisipasi kehidupan”, urainya.

“Kurikulum berbasis kehidupan ini konsekuen de-ngan kehidupan/peradaban di abad 21, dimana pengetahuan memiliki posisi yang dominan. Profesi sudah tidak bisa lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, dimana banyak profesi tidak lagi linier dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari. Demikian pula dinamika kehidupan tidak lagi hanya bisa diatasi dengan multi disiplin. Pembelajaran yang berdimensi interdisipliner/transdisipliner menjadi sebuah unggulan,” terangnya.

“Kita harus sadar bahwa proses belajar yang diandalkan pada penguasaan materi untuk menyiapkan profesi tertentu, harus kita revisi. Hal ini tidaklah relevan lagi, karena di abad 21 ini dapat bermunculan profesi-profesi baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, dan profesi-profesi lama tidak terjadi lagi. Percepatan teknologi dan pengembangan pendidikan ini memerlukan kesigapan dari kita. Kesigapan kita adalah bukan apa yang kita kuasai, tetapi sesuai dengan konsep The Learning University tersebut, bagaimana kita dapat belajar dengan cepat,”himbaunya.

Lebih lanjut Dosen Sejarah FIS UM ini mengungkapkan cara belajar cepat agar menjadikan mahasiswa dan alumni UM menjadi lebih efektif, cekatan, dan memiliki ketepatan.

“Cara untuk belajar cepat ini yang perlu kita kembangkan bukan penguasaan materi bahan ajar atau penguasaan profesi tertentu, tetapi yang perlu kita kembangkan adalah kapabilitas mahasiswa UM. Sehingga nantinya yang bersangkutan ketika sudah lulus dapat menyesuaikan diri dengan perubahan ilmu pengetahuan, perubahan teknologi, perubahan pendidikan, bahkan perubahan kehidupan sosial budaya. Yang bersangkutan dapat efektif, memiliki kecekatan, ketepatan, dan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dasar tersebut,” ungkapnya.

“Langkah pertama yang akan kita kembangkan dalam proses inovasi belajar iptek di UM adalah merubah mindset. Dalam bidang keilmuan, agar ilmu pengetahuan yang banyak tersebut dapat dikuasai, mahasiswa tersebut harus dapat menjadi ilmu pengetahuan. Dengan menjadi ilmu pengetahuan tersebut dia akan terus mengembangkan diri, memperbarui diri. Sehingga nantinya secara psikologis mahasiswa dan alumni UM, kita harapkan memiliki motivasi internal yang kuat. Karena kreatifitas tidak semata-mata ditentukan oleh fasilitas. Tapi yang paling utama justru dorongan atau dukungan internal dari yang bersangkutan. Hal inilah yang akan coba kita kembangkan,”lanjutnya.

“Hal ini sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara, bahwa dalam proses belajar yang diajarkan dulu adalah bagaimana kita, dapat berfikir merdeka. Berfikir merdeka ini menjadi kebutuhan bagi kita, karena dengan munculnya sosial media dan teknologi visual yang begitu kuat, informasi dapat kita peroleh dengan cepat dan banyak. Tetapi ketika dia tidak memiliki kemampuan berfikir merdeka maka mahasiswa tersebut tidak dapat memilah, mana informasi yang bermanfaat dan informasi yang kurang bermanfaat,”tuturnya.

“Berfikir kiritis menjadi suatu hal yang sangat penting bagi mahasiswa kita, untuk menciptakan kemampuan berfikir yang bebas. Dengan critical thinking tersebut maka akan memungkinkan yang bersangkutan untuk kreatif. Kreatifitas tersebut tidak akan tumbuh maksimal bila yang bersangkutan tidak dapat melakukan kolaborasi,”ungkapnya.

“Pembangunan konteks kolaborasi itulah kreatifitas yang bersangkutan akan muncul, dan dari sana kita berharap mahasiswa dan alumni-alumni UM, tidak gagap dalam menghadapi situasi yang baru. Langkah langkah yang kita lakukan sedang diarahkan kesana”, harapnya.

Lebih jauh Doktor Ilmu Sejarah UI tahun 2004 ini mengungkapkan bahwa operasional akademik yang ada di UM akan dibangun dan dikembangkan menuju kurikulum yang berbasis kehidupan dan pembelajaran berbasis E-Learning.

“Operasional akademik yang ada di UM akan kita bangun dan kembangkan berdasarkan kurikulum yang berbasis kehidupan. Secara teknis kita juga mendorong beberapa dosen dan khususnya LP3 mulai tahun lalu untuk mengembangkan pembelajaran E-Learning. E-Learning ini akan menjadi bagian dari Massive Open Online Course (MOOC). Jadi MOOC ini adalah sebuah inovasi proses belajar yang memungkinkan banyak pihak untuk dapat mengakses sumber belajar tersebut,” katanya.

“Dalam kaitannya dengan aktifitas tridharma perguruan tinggi yang kita lakukan bersama, antara pendidikan, penelitian dan pengabdian menjadi se-suatu yang saling terkait. Sehingga seorang dosen yang melakukan pengajaran dapat memanfaatkan hasil dari penelitian yang dilakukan, dan atau hasil pengabdiannya. Sehingga dosen-dosen tersebut kita dorong supaya kolaboratif tidak hanya bersifat wacana saja, maka dalam tiap penelitian dan pengabdian yang dilakukan oleh dosen harus mulai melibatkan mahasiswa. Mahasiswa dapat mulai terlatih sekaligus kita dapat menggabungkan unsur dalam proses pembelajaran yaitu dosen, mahasiswa, dan bahan ajar. Ketiga unsur tersebut haruslah kita lihat sebagai identitas yang hidup dan terus berkembang. Dengan konsep ini seorang dosen harus mengubah konsep mengajarnya, harus memperbarui cara mengajar dalam proses pembelajaran tersebut,” lanjutnya.

“Dalam proses pembelajaran tersebut sebenarnya yang paling penting bukanlah penguasaan materi, tetapi bagaimana dosen dapat memfasilitasi, memotifasi, agar mahasiswa memiliki kepercayaan diri untuk belajar. Kita sadar bahwa kita menyukai atau membenci pelajaran tidak dimulai dari materi pelajaran tetapi pada sikap dosen dalam proses penyampaian materi,” terangnya.

“Dalam hal ini yang menjadi kunci utama bahwa perkembangan teknologi telah berjalan cepat, bahkan perkembangan teknologi robot juga pesat, tapi kehadiran seorang guru/dosen dalam kelas harus dapat memotivasi dan memfasilitasi bagaimana anak dapat senang dengan topik-topik yang dikaji dalam bidangnya,”sambungnya.

“Dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang pertama kali dibongkar adalah mindset/pola pikir. Dosen datang ke kelas bukan semata-mata menyampaikan materi, tetapi harus dapat membangun bagaimana mahasiswa mulai senang belajar. Proses belajar juga kehidupan, konsekuensinya pembelajaran yang berbasis kehidupan tidak bisa dilepaskan dari pendidikan karakter. Bila kita lihat dalam proses pendidikan itu dosen/guru yang pandai menarik perhatian akan memberikan peluang kepada mahasiswanya untuk senang pada pelajarannya. Bila mahasiswa senang pada pelajarannya otomatis akan cinta juga pada pelajaran tersebut. Dengan cinta pelajaran tersebut akan menumbuhkan kreatifitas. Dalam proses kreatifitas tersebut sangat dimungkinkan ditemukannya penemuan-penemuan baru. Sehingga logika attention/ perhatian, like, cinta, kreatif, dan inventif dapat menjadi satu kesatuan,” ceritanya.

“Mahasiswa yang hadir ke kampus bukan untuk mendengarkan informasi dari dosen, namun bagaimana dia berdiskusi dengan teman dan dosennya. Dalam hal ini tentunya dibutuhkan metodologi pembelajaran yang baik. Saat ini kita telah mengembangkan program pekerti, dimana dosen yang mengikuti pelatihan ketrampilan interaksional itu kita kembangkan. Sehingga nanti dalam proses pembelajaran inovasi dan pemikiran baru tidak hanya disampaikan oleh dosen tetapi bisa berasal dari mahasiswa maupun dari proses saat mahasiswa tersebut belajar. Dalam melakukan penelitian ini, sesuai keputusan rektor sudah ditetapkan agar dosen dalam melakukan penelitian juga melibatkan mahasiswa, disesuaikan dengan kelompok bidang keahlian yang ada. Hasil penelitian selain jadi laporan penelitian, dapat menjadi karya ilmiah berindex internasional dan memperkaya bahan ajar di kelas. Pola ini nantinya dapat kita terapkan dalam proses pengabdian masyarakat,” harapnya.

“Konsekuensi dari kondisi ini adalah UM akan mencoba menerapkan bahwa mata kuliah wajib maksimum 70% dimana idealnya 60%, yang 30–40% adalah mata kuliah pilihan. Mata kuliah pilihan ini boleh tidak diambil dari prodi yang bersangkutan, tetapi boleh diambil dari prodi lain yang relevan dengan karya akhir yang bersangkutan, baik berupa skripsi/tesis, desertasi,” cetusnya

“Sebagai contoh bila ada mahasiswa ilmu sejarah ingin meneliti dan mempelajari karya sastra di awal abad 21, dia boleh mengambil mata kuliah yang relevan di Fakultas Sastra. Sebaliknya mahasiswa yang kuliah di jurusan teknik mesin dapat belajar mengambil mata kuliah di prodi biologi, karena hakikatnya biologi mempelajari tentang organism kehidupan, Bukankah mesin biasanya meniru aliran dari organism kehidupan. Termasuk mahasiswa jurusan arsitektur ingin menulis skripsi arsitektur tradi-sional dapat mengambil kuliah di jurusan pendidikan sosiologi yang salah satu materinya adalah sosiologi antropologi sehingga dia dapat memiliki pengetahuan bahwa ilmu arsitek masih memiliki keterkaitan dengan jurusan lain,” contohnya.

“Hal inilah yang relevan dengan pengenalan kita akan hakekat ilmu. Atau yang biasa disebut Nature Of Science (NOS) karena hakekatnya ilmu pengetahuan tidak akan muncul diruang yang kosong. Ilmu selalu muncul dari masalah dan masalah itu muncul setelah dipertanyakan. Contoh sederhananya adalah setiap orang tahu bahwa sebuah benda akan jatuh bila tidak dipegang sehingga kelapa/apel bisa jatuh. Pertanyaannya adalah mengapa yang mempermasalahkan oleh Isac Newton? Karena dengan pertanyaan tersebut Newton mengetahui bahwa hal tersebut terjadi bukan karena fenomena alam, melainkan karena ada hukum-hukum alam yang berlaku yang dirumuskan menjadi teori gravitasi,”lanjutnya.

“Hal-hal seperti inilah yang akan kita dorong kepada mahasiswa, sehingga ketika mahasiswa belajar hal yang terpenting bukan memperoleh pengetahuan sebanyak banyaknya melainkan dapat memperta-nyakan apa yang ada dalam ilmu tersebut, sehingga dapat ditemukan mekanisme kreativitas baru. Hal ini lah yang akan kita kembangkan di UM,”tegasnya.

“Selain menerjemahkan The Learning University, kita sedang berproses mengembangkan kurikulum berbasis kehidupan dan dalam bidang IT kita juga mencoba mengembangkan pembelajaran berbasis E-Learning yang merupakan bagian dari MOOC. Harapannya mendatang masyarakat khususnya mahasiswa UM dapat belajar kapan saja dan dimana saja. Konseku-ensinya mendatang tatap muka pembelajaran di UM tidak hanya berlangsung secara konvensional melainkan juga memberikan ruang kepada warga UM untuk pembelajaran yang E-Learning,” harapnya.

“E-Learning yang kita kembangkan ini ketika seorang dosen mengunggah materi pembelajaran, dia tidak hanya mengunggah saja, melainkan juga menyediakan beberpa waktu untuk berinteraksi, berdialog dengan mahasiswanya. Sehingga harus ada kesepakatan dan pemberitahuan sebelumnya dari dosen kepada mahasiswanya terkait jadwal diskusi dan tanya jawab seputar materi yang diunggah oleh dosen. Konsekuensinya mahasiswa dan dosen akan sepakat untuk hadir dalam website yang telah ditentukan dalam jam yang dijadwalkan walau masing-masing dari mereka berbeda tempat. Dengan diskusi dan proses belajar yang dilaksanakan melalui jaringan tersebut menjadikan kita dapat mengontrol topik-topik yang dibahas mahasiswa dan dosen dalam kelas,”jelasnya.

“Bila proses pembelajaran secara konvensional biasanya kita tidak dapat mengontrol topic apa saja yang disampaikan oleh dosen,khusunya yang bersifat interaktif. Selama ini yang kita perhatikan hanya jumlah kedatangan dosen dan topik/materi yang disampaikan apa. Terkadang ditengah-tengah topic tersebut dosen bercerita tentang hal-hal yang tidak relevan dengan topik yang dibahas. Bila kita menggunakan aplikasi E-Learning ini kita dapat mengetahui proses interaksi dalam kelas. Pertanyaan yang diajukan dan jawaban yang diberikan dapat kita pantau karena semua hasil diskusi dalam E-Learning dapat direkam. Proses pembelajaran seperti inilah yang menjadi peluang bagi kita untuk dapat mengembangkan lebih jauh proses E-Learning menjadi sebuah kebutuhan,”pungkasnya.

Penulis : Kautsar Saleksa

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*