[...]" />

Inovator Media Pembelajaran dari FMIPA UM

Drs. Winarto, M.Pd, mempresentasikan media pembela-jarannya saat pembelajaran TEQIP di Hotel Purnama Batu beberapa bulan yang lalu

Alat Peraga Pembalajaran dari Bahan Daur Ulang

Drs. Winarto, M.Pd.

Menyampaikan materi belajar tidak harus selalu menggu-nakan metode ceramah dengan tayangan layar LCD aja. Ada materi pembelajaran yang memang susah ditangkap oleh siswa apabila menggunakan metode ceramah, sehingga diperlukan alat peraga yang dapat membantu proses pemahaman siswa terhadap suatu peristiwa dengan baik.
Hal tersebut yang menginspirasi inovator dari FMIPA UM ini, untuk menciptakan karya inovasi dalam media pembelajaran. Ada hal yang menarik dalam pembuatan alat peraga tersebut, produk alat peraga bukan buatan pabrikan, namun di buat sendiri dengan bahan barang bekas yang sudah tidak dipakai.

Tujuannya agar para guru maupun dosen bisa membuat alat peraga sendiri dengan memanfaatkan barang bekas yang ada di sekitarnya. Biaya pembuatanya murah tidak membebani anggaran sekolah, sehingga memungkinkan untuk dibuat di sekolah yang berada di perkotaan maupun di pelosok .

Penggagas Media pembelajaran sederhana dan murah itu adalah Drs. Winarto, M.Pd., dosen Fisika Universitas Negeri Malang (UM). Hasil karyanya sangat bermanfaat untuk menunjang proses belajar mengajar di sekolah.

Ingin Aplikasikan di Dunia Nyata

generator

Dosen senior itu memberikan contoh cara mengoperasikan alat peraga di ruang laboratorium berukuran 6×8 meter itu. Dosen Fisika UM spesialis pembuat alat peraga pembelajaran Fisika dari bahan daur ulang yang sedang memberikan pelatihan pada guru SD se-Kota Batu.

“Ini kami sedang sharing dengan guru-guru SD di Kota Batu tentang cara membuat alat peraga yang menarik dan murah. Pembelajaran di kelas biar tidak membosankan, dengan demikian karya saya bisa dipakai dimasyarakat,” kata Winarto.

Pria kelahiran 10 Juli 1957 itu menceritakan, dia membuat alat peraga tersebut sejak delapan tahun lalu. Dia merasa prihatin dengan guru yang selalu bergantung pada alat peraga yang supermahal yang hanya mampu dibeli oleh sekolah-sekolah di perkotaan saja.

“Perkembangan teknologi memang harus diikuti, tetapi jangan sampai terlalu bergantung pada teknologi. Guru maupun dosen agar selalu berkreatif untuk menciptakan media pembelajaran sendiri, karena gurulah yang tahu persis tentang materi yang akan disampaikan dan alatnya,” tandas dosen Fisika UM tersebut.

Jelaskan Konsep Kerja Kapal Selam dengan Sedotan Bekas.

master plan pembelajaran

Menjelaskan kansep kapal selam bisa tenggelam apabila menggunakan metode ceramah agak sulit difahami, cara yang paling mudah dengan alat peraga. Dia kemudian mengambil botol bekas air mineral ukuran paling kecil. Kemudian Win memperagakan hukum Archimedes (jika suatu benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka benda itu akan mendapat tekanan ke atas yang sama besar dengan berat zat cair yang terdesak oleh benda tersebut) dengan botol tersebut.

Botol itu diisi dengan sedotan air mineral yang dipotong sekitar 4 sentimeter. Kemudian dibentuk menyerupai huruf ‘U’ dan diikat dengan klip kertas. Lalu dimasukkan ke dalam botol dan ditutup rapat-rapat dengan botol berisi air. “Anda bisa lihat sendiri kan saat botol ini ditekan. Sedotan tadi tenggelam dan ketika dilepas akan naik ke atas lagi. Konsep ini yang digunakan untuk kapal selam,” ujar pria asal Kediri tersebut.

Botol Air Mineral Jadi Peraga Cara Kerja Dinamo

Tak hanya itu, dia juga mengambil botol bekas tempat air mineral ukuran paling besar. Botol yang ini makin aneh lagi bentuknya. Sebab,ditempeli empat kumparan kabel yang dirapikan dengan pelat dan di temepelkan di tiap sisi botol tersebut. Di bagian atas botol diberi baling-baling dari batang kayu yang diberi tiga warna (kuning, hijau, biru), dua warna (kuning dan biru), hingga satu warna saja. Di bagian penyangga baling-baling itu diberi magnet. Lalu, dia menarik benang yang dililitkan ke penyangga baling-baling tersebut dan baling-baling ada magnetnya berputar, sehingga magnet menginduksi kumparan kabel. Kumparan yang telah terinduksi elektronnya akan bergerak akibatnya bermuatan lisrtik dan akhirnya bisa menya-lakan lampu.

“Anda bisa lihat sendiri dua lampu kecilnya nyala, inilah cara kerja dinamo. Kerjanya mirip yang dipakai pembangkit listrik di Karangkates. Orang-orang biasa menyebutnya dengan GGL (Gaya Gerak Listrik),” imbuh pria 59 tahun tersebut.

Dia juga menunjukkan miniatur pesawat yang didesain tanpa awak. Pesawat dari styrofoam ini menggunakan tenaga surya. “Ini alat peraga materi tenaga matahari. Jadi, lebih murah daripada beli ke pabrik,” tandasnya.

Penulis: Djoko Wibowo

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*