[...]" />

Ir. Rinanto Roesman: Promotor Studi Gerak Dan Waktu Kerja

Oleh: Waras Kamdi

Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang

Tatkala  Anda  membubuhkan  tanda  tangan  pada  secarik  kertas,  Anda melakukan gerakan yang secara berturut-turut: (a) angkut kosong, tangan menggapai pena di pangkuan pena; (b) candak, tangan memegang pena; (c) angkut isi, membawa pena ke atas kertas; (d) tempatkan, memposisikan pena di atas kertas; (e) pakai, membubuhkan tanda tangan; (f) angkut isi, kembalikan pena ke pangkuan pena; (g) lepaskan beban, lepaskan pena; dan (h) angkut kosong, tarik tangan kosong posisi semula. Semua gerakan tersebut terlalu biasa kita lihat, sehingga lepas dari perhatian kita. Akan tetapi, di mata orang yang sadar dan penaruh perhatian, serta tahu hakikat gerak dalam bekerja, keadaan itu menjadi lain. Setiap gerak kita dan waktu yang diperlukan untuk bergerak dalam menyelesaikan suatu tugas merupakan penentu efisiensi dan produktivitas kerja.Gerak tidak hanya berurusan dengan tenaga, akan tetapi juga berhubungan dengan iklim dan budaya, manajeman sumber daya manusia di tempat kerja, dan pendidikan.

Siapakah si penaruh perhatian itu? Beliau adalah Ir. Rinanto Roesman, seorang arsitek yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik di Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) IKIP Malang (sekarang Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang) hingga akhir hayatnya. Pak Rinanto, begitu panggilan akrabnya, memromosikan pelajaran gerak dan waktu kerja, sebagai bidang kajian untuk memperbaiki kualitas kerja manusia, kepada semua mahasiswanya. Lebih- lebih kepada mahasiswa FPTK yang memang disiapkan untuk menjadi calon pendidik di sekolah-sekolah menengah kejuruan maupun calon pengembang sumber daya manusia di perusahaan-perusahaan.Pendidik keterampilan psikomotorik tidak boleh salah dalam menanamkan pelajaran gerak dan waktu kepada murid-muridnya, karena keterampilan psikomotorik banyak berhubungan dengan gerakan-gerakan khusus, gerakan-gerakan yang efisien dan efektif.

Sosok yang dikenal serius, cermat, tetapi periang ini pernah menjabat dekan selama 15 tahun. Ketika marahpun kepada mahasiswanya masih menebar senyum. Dalam pengabdiannya di IKIP Malang, sebagai arsitek dan ahli struktur bangunan, ia telah menorehkan karya dan pikirannya dalam banyak hal. Kalau Anda sempat memperhatikan gedung-gedungkuliah di UM ini berjajar rapi seakan-akan berirama gelombang, dari arah selatan ke utara, berlarik-larik, tidak lain adalah wujud gagasan arsitektural Pak Rinanto yang dituangkan dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP)  IKIP  Malang  untuk  menciptakan  kenyamanan  gerak  penghuninya  agar menghasilkan efisiensi dan efektivitas kerja. Dalam konteks lain dicontohkannya fenomena sukses di India dalam mengaplikasikan studi gerak dan waktu dalam membuat denah pabrik yang mampu menghemat biaya. Dicontohkan pula di Inggris, perusahaan bisa menghemat jutaan poundsterling karena menerapkan studi gerak dan waktu dalam pabrik-pabriknya, dan mengurangi kebutuhan perluasan pabriknya. Sebagai pendidik keterampilan psikomotorik, Pak Rinanto mengahayati betul bagaimana belajar dan membelajarkan mahasiswa agar mahasiswa berkembang dengan  cara  yang  benar,  memiliki  kecakapan  gerak,  dan  menghargai  waktu. Mengapa penting mempelajari gerak dan waktu? Cara gerak yang baik akan memberi keuntungan   waktu   kerja.   Dalam   bekerja   menghasilkan   barang   atau   jasa, produktivitas diukur dalam besaran waktu, kerja adalah fungsi dari waktu. Karena itu, waktu memegang peranan dalam mengukur kerja yang mengisyaratkan kepada kita cara dan kualitas kerja seseorang.

Pak Rinanto mengamati gerak sebagai elemen terkecil kerja yang menentukan mutu dan produktivitas suatu pekerjaan. Setiap gerak karyawan dan mahasiswanya tidak pernah luput dari pengamatannya. Saya masih ingat, di suatu pagi saya mengahadap beliau di kantor untuk melakukan wawancara untuk sebuah opini di Tabloid Komunikasi. Pada saat yang bersamaan, beliau memperhatikan seorang karyawan yang sedang merapikan meja kerja beliau, menata tempat pena, tinta, alat penghisap tinta, block note, kotak arsip di atas meja, dan telepon. Semua perlengkapan itu ditatanya di sebelah kiri meja agar tampak rapi, menurut versi karyawan. Apa yang beliau katakan? “No no no…” Lalu beliau memberi contoh menata perlengkapan meja yang benar. Taruh tempat pena, tinta, alat penghisap tinta di sebelah kanan, sedangkan block note, kotak arsip, dan telepon di sebelah kiri. Sambil duduk di kursi kerja beliau memeragakan bagaimana kedua tangan (kiri dan kanan) begerak secara bersamaan dalam menggunakan semua perlengakapan di meja. Dengan begitu, efisiensi gerak dan produktivitas kerja kita meningkat. Banyak cara kerja kita, yang terasa baik-baik saja, ketika dicermati ternyata mengalami inefisiensi gerak dan boros waktu yang membuat produktivitas kerja kita rendah. Melalui kajian tentang gerak, kita bisa memperbaiki gerak anggota badan dengan cara-cara gerak baru, sehingga kualitas kerja, efisiensi, dan produktivitas kerja meningkat.

Gerakan yang serupa dengan tangan kita membubuhkan tanda tangan pada secarik kertas yang sangat sederhana itu, dapat kita jumpai pula dalam banyak pekerjaan besar yang melibatkan gerak alat-alat berat,di pelabuhan atau di tempat- tempat pembangunan gedung bertingkat untuk mengangkut barang atau material bangunan. Cara memosisikan alat, cara mengangkut, dan cara gerak yang ditempuh semua dikerjakan dengan efisien dan penuh perhitungan gerak dan waktu kerja.

MENGAPA GERAK ORANG INDONESIA CENDERUNG LAMBAN?

Perhatikan sepintas gerak pejalan kaki, atau gerak para pemain sepak bola, Anda akan segera menemukan perbedaan kecepatan gerakantara orang-orang Eropa atau Amerika dan orang-orang Indonesia. Gerak orang-orang Eropa dan Amerika lebih cepat daripada orang-orang Indonesia. Mengapa demikian? Pak Rinanto mempunyai tesis bahwa iklim memberi pengaruh terhadap gerak dan kultur bekerja manusia. Alam tropis yang serba panas menentang tubuh kita untuk melakukan gerak badan yang cepat, dan gerakan yang mengeluarkan banyak tenaga. Yang menyedihkan, jika dipaksa hingga mengeluarkan banyak keringat, badan menjadi lesu. Jika diteruskan, badan akan kehilangan cairan, dan kita semua tahu akan berakibat fatal. Berbeda dengan orang-orang yang hidup di negara-negara beriklim dingin, dengan empat musim dalam satu tahun, waktu musim mendapat perhatian, terutama berkaitan dengan pengadaan pangan melalui pertanian. Bulan-bulan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian sudah tertentu. Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bercocok tanam harus dijalankan agar pertanian memberi hasil. Demikian pula hasil panen harus diproses pada masa musim panen agar persediaan hasil panen bisa bertahan hingga musim panen berikutnya.

Pak Rinanto berkesimpulan bahwa efisiensi dalam menggunakan segala sarana untuk menangani produksi pangan, yang cara kerjanya dibatasi musim, menjadi cambuk untuk melaksanakan pekerjaan dengan efisiensi yang tinggi. Gerak dan waktu menjadi faktor yang sangat diperhitungkan dalam bekerja, karena orang tidak mau kehilangan masa musim berproduksi untuk mempertahankan hidup pada musim berikutnya. Cara-cara bekerja yang demikian itu menjadi kebiasaan, dan akhirnya kebiasaan menjadi satu terserap ke dalam kebudayaan. Oleh karena itu, Pak Rinanto menyarankan persoalan hawa panas, cara kerja, dan waktu yang merupakan faktor-faktor yang sangat berakibat dan penting, saling berkait seerat cincin-cincin rantai, dalam membangun budaya kerja yang produktif di negeri ini, perlu mendapat perhatian dan dicari pemecahannya. Persoalan waktu menjadi masalah pokok dalam pembicaraan mengenai kerja, bahkan mengenai kegiatan hidup, kebiasaan, dan akhirnya kebudayaan merupakan fungsi dari ruang dan waktu. Ruang dalam arti letak geografis negara dan kondisi tanah, dan waktu adalah besaran dimensi yang ditempati oleh waktu yang memberi ruang aktivitas manusia. Oleh karena itu, jangan keburu mengolok-olok bangsa kita sendiri yang acapkali dibilang berbudaya lamban, malas, kurang terampil, dan aneka sebutan sejenis. Ternyata, kondisi alam tropis yang kita miliki memberi andil mengapa “kecerdasan” gerak tubuh kita tidak “secerdas” gerak tubuh manusia yang hidup di negara-negara beriklim dingin, dengan empat musim berganti dalam setahun.

Berangkat dari tesis inilah Pak Rinanto mempromosikan pentingnya studi gerak dan waktu di negeri ini, mencari dan menemukan metode gerak yang tepat yang dapat menghemat waktu kerja, yang berarti pula meningkatkan efisiensi kerja, dan bagaimana pendidikan kerja dijalankan untuk menumbuhkan budaya kerja baru yang lebih produktif. Namun demikian, belum banyak ditemukan studi gerak dan waktu kerja dengan konteks iklim tropis Indonesia yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia. Semangat mengangkat kembali pemikiran Rinanto Roesman ini adalah mengingatkan para pembaca akan betapa pentingnya studi gerak dan waktu dalam ruang kajian pendidikan keterampilan psikomotorik, menemukan cara-cara kerja baru yang tepat untuk iklim Indonesia, dan membangun budaya kerja baru yang produktif. Apalagi, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Indonesia sedang menuju pada sistem penghargaan kerja berbasis pada kinerja (performance-based management) di hampir di semua sektor bisnis dan pemerintahan. Studi gerak dan waktu kerja mestinya menjadi isu “kece” di negeri beriklim tropis ini untuk mendukung performance-based management yang mulai dominan dalam sistem manajemen ketenagakerjaan di Indonesia. Program studi pendidikan kejuruan selayaknya  mengambil  bagian  pertama  dalam  studi  gerak  dan  waktu  kerja, menemukan cara-cara kerja baru yang tepat di negara beriklim tropis, ekonomi gerak, cara-cara mendidik tenaga kerja terampil menurut studi gerak dan waktu, dan pada akhirnya menciptakan budaya kerja baru yang lebih produktif.

MENGAMBIL MANFAAT DARI PENGALAMAN STUDI GERAK

Studi gerak dan waktu kerja dimulai sejak orang merasa perlu memperhatikan aspek bekerja dalam menghasilkan barang. Dalam proses produksi barang atau benda selalu melibatkan pekerjaan merencana dan membuat barangnya. Agar dalam bekerja dapat menggunakan waktu, tenaga, dan modal dengan sebaik-baiknya, cara bekerja harus diatur. Waktu memegang peranan yang sangat penting. Demikian juga, jumlah orang yang akan dipekerjakan direncanakan sebaik mungkin.

Pak Rinanto mengidentifikasi studi gerak dan waktu kerja meliputi tiga faktor, yaitu (1) penentuan secara ilmiah cara kerja yang cocok, (2) penetapan waktu yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu, dan (3) implementasi cara kerja dan perencanaan waktu dalam pelaksanaan pekerjaan. Faktor-faktor tersebut berbeda satu sama lain, akan tetapi tak terpisahkan dalam pelaksanaan pekerjaan produksi barang. Cara kerja tertentu dapat menentukan jumlah waktu yang digunakan, sebaliknya waktu yang digunakan dapat menjadi ukuran untuk membandingkan cara kerja yang berbeda.

Semua pekerjaan dilakukan dengan gerakan, baik pekerjaan berat maupun ringan. Pak Rinanto mengatakan jenis pekerjaan dapat berbeda, misalnya pekerjaan produksi barang di pabrik, pekerjaan mengangkut dan menumpuk barang di gudang, pekerjaan bertani, pekerjaan pembersihan kamar hotel, dan lain-lain, sarana dan tempat kerja juga dapat berubah dan berkembang, tetapi pekerjaan yang dilaksanakan semua dilakukan dengan gerakan anggota badan. Dengan demikian, melalui studi gerak dan waktu dapat dicari dan ditentukan cara kerja yang terbaik, dan dapat digunakan sebagai acuan untuk mengendalikan kegiatan. Prosedur mencari dan memilih cara kerja yang paling cocok untuk semua kondisi adalah sama, apapun barang yang dihasilkan dan sarana yang digunakan. Demikian pula, kita dapat meneliti usaha yang paling efektif yang dilakukan oleh manusia. Pengelolaan studi waktu kerja yang digunakan untuk suatu pekerjaan dan pengukuran waktu kerja sangat menentukan keberhasilan usaha. Dengan studi gerak dan waktu kerja, perusahaan akan mampu merencanakan dan mengontrol produksi dengan jalan koordinasi dan sinkronisasi bagian-bagian produksi yang terlibat, yaitu bahan, tempat kerja, cara kerja, alat, mesin, dan kebutuhan lainnya.

Pengamat yang tertarik pada pelajaran gerak dan waktu sering mencoba merekayasa gerak dalam suatu pekerjaan untuk memperoleh kemudahan dan kenyamanan kerja, dan mengurangi, bahkan jika mungkin menghilangkan, gerakan- gerakan yang canggung, melelahkan, dan tidak menghemat energi. Di dalam kuliah-kuliahnya tentang pelajaran gerak dan waktu kerja, Pak Rinanto sering mencontohkan percobaan Barnes (1980) tentang Papan Pasak. Instrumen percobaan ini terdiri atas satu papan pasak yang berlubang-lubang teratur, yang ke dalamnya dapat dipasangkan pasak-pasak. Percobaan papan pasak ini untuk mempelajari waktu yang diperlukan dalam memasang pasak dengan membandingkan kerja memasang pasak antara menggunakan satu tangan dan dua tangan. Gerakan tangan diamati pada keadaan pertama dan kedua (perhatikan gambar berikut).

keadaan

Pekerja yang berhasil baik tidak berarti berhasil melakukan pekerjaan yang paling berat, akan tetapi mereka yang berhasil memperhitungkan setiap gerakan dengan menggunakan cara yang baik. Dalam hal ini, yang menjadi tekanan pengamatan, bukan hanya soal waktu tersingkat yang digunakan untuk menyelesaikan percobaan, tetapi juga jumlah pekerjaan yang bermutu yang dapat diselesaikan dengan seekonomis mungkin. Kecepatan kerja yang terlalu besar tidakselalu merupakan pengganti cara kerja yang baik. Memasang pasak ke dalam lubang-lubang di papan keadaan I dikerjakan dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menggenggam pasak, sebagaimana sering kita lihat pada kebanyakan orang mengerjakan hal ini, memakan waktu 0,62 menit untuk mengisi penuh lubang-lubang. Jika dilakukan dengan gerakan simultan (keadaan II), kedua tangan bersama-sama, waktu yang diperlukan mengisi lubang-lubang hanya 0,41 menit. Keadaan II menggambarkan suatu usaha mengembangkan cara kerja yang baik, dengan menganalisis gerakan-gerakan tangan dan menerapkan prinsip-prinsip gerak ekonomis.

Dengan bentuk pasak yang ujung-ujungnya berbeda, satu ujung bersegi dan ujung yang bulat peluru, target percobaan tersebut adalah waktu tersingkat untuk mengisi papan dengan pasak ujung bulat peluru masuk lubang. Orang awam yang diminta memasukkan pasak secepat mungkin ke dalam lubang akan melaksanakan sebagaimana tampak dalam gambar keadaan I. Dengan cara ini, sebagian besar yang aktif adalah tangan kanan, sedangkan tangan kiri hanya memegang pasak alias tidak melakukan pekerjaan produktif. Lain halnya dengan pekerja yang menggerakkan kedua tangannya mengisi papan pasak seperti tampak dalam gambar keadaan II. Pekerja melakukan pekerjaan yang lebih produktif, karena pekerja telah menerapkan prinsip gerakan ekonomis.

Untuk lebih memahami gerak, gerakan kerja tersebut dapat dirinci berturut-turut: (1) angkut barang (candak pasak), (2) pilih (pasak) di antara yang ada di dalam kotak pasak dibantu dengan mata yang mencarikan pasak (pekerjaan mencari kemudian menemukan dan mencandak pasak tertentu disebut pilih), (3) candak (tutup ibu jari dengan jari-jari lain mengelilingi pasak), (4) angkut isi (bawa pasak dari kotak menuju lubang pada papan dan kemudian tempatkan pada lubang yang tepat, pasak dalam keadaan tegak dan sisi bulat peluru di bawah dan tempatkan, sementara), (5) tempatkan (permanen, pasak ditempatkan masuk ke dalam lubang baris tertentu), dan (6) angkut kosong (tangan ditarik ke posisi semula percobaan).Jika keadaan I dan keadaan II dibandingkan, keadaan II dapat dikatakan: (1) merupakan cara baru yang memperbaiki keadaan I, (2) tangan kiri dengan gerakan pegang (tahan) pasak dihilangkan, (3) tangan kiri dan kanan melakukan gerakan yang bermanfaat, (4) kedua tangan bekerja sama secara simetris mengambil dan menempatkan pasak, dan (5) ada penghematan sebanyak 34 proses waktu kerja.

Barnes (1980) menyarankan agar percobaan-percobaan semacam ini dimanfaatkan untuk menunjukkan keuntungan dari penerapan studi gerak dan waktu kerja. Pada tataran pekerjaan yang lebih kompleks studi gerak dan waktu kerja menjadi sangat bermakna bagi pengembangan prinsip-prinsip ekonomi gerak. Menurut Barnes, pekerja melakukan pekerjaan dengan tangan saja, atau menggunakan alat, mesin atau perkakas lain, secara prinsip ekonomi gerak lebih menekankan aspek gerak manusia. Pengembangan prinsip-prinsip ekonomi gerak juga sering dikaitkan dengan upaya mengurangi kelelahan. Prinsip-prinsip ekonomi gerak yang berhubungan dengan manusia, antara lain: (1) kedua tangan harus memulai dan menyelesaikan pekerjaan pada waktu yang sama, (2) kedua tangan tidak boleh menganggur pada waktu yang bersamaan, dan (3) gerakan-gerakan lengan harus dilakukan dalam arah yang bertentangan secara simetris dan harus diusahakan simultan. Ketiga aturan lintas gerak tersebut saling berhubungan dan dapat dipertimbangkan untuk digunakan kombinasi antar prinsip itu.

Ilmu pengetahuan dan teknologi makin bergerak konvergen. Disiplin ilmu dan teknologi satu sama lain saling mendekat, beritegrasi, dan melahirkan jenis-jenis pekerjaan baru yang makin rumit dan canggih. Selain rumit, proses industrinya diorganisasi dengan bagian-bagian yang melaksanakan pekerjaan khusus, dan satu sama lain saling bergantung. Oleh karena itu, mengembangkan dan mengambil manfaat studi gerak dan waktu adalah keniscayaan. Kebutuhan akan studi ini makin nyata akibat dari perkembangan prosedur kerja yang kompleks, alat-alat yang rumit, dan tuntutan menjalankan tugas dengan cerdas dan terampil.

PENGEMBANGAN METODE KERJA

Arah pikiran Pak Rinanto berikutnya adalah bagaimana mengembangkan metode atau cara kerja yang tepat untuk meningkatkan produktivitas kerja. Belajar dari pengalaman Andrew Ray (1965), Pak Rinanto mempelajari cara kerja untuk meningkatkan produktivitas kerja dari sejumlah bahan atau sumber tertentu tanpa penambahan investasi modal (kalaupun ada, sedikit). Tak beda dengan studi gerak dan waktu, studi kerja merupakan pengembangan teknik dan aplikasi gerak pada berbagai kegiatan. Kebanyakan orang berpendapat bahwa studi gerak dan waktu mengandung arti yang terbatas, sehingga studi kerja sering juga digunakan untuk memaknai studi gerak dan waktu dalam arti luas.

Oleh karena berada pada tataran praktis, studi gerak berhubungan langsung dengan tujuan peningkatan produktivitas kerja. Sasaran akhir dari studi kerja adalah menyederhanakan cara kerja dan mengembangkan cara kerja yang lebih ekonomis. Selain itu, studi kerja dapat mengukur atau menentukan jumlah waktu untuk melaksanakan cara kerja tersebut. Sasaran akhirnya adalah peningkatan produktivitas. Meminjam istilah Habibie, cara kerja yang tepat akan meningkatkan nilai tambah.

Studi kerja dapat dilakukan dalam perspektif luas, yang meliputi semua bagian, mengenai cara kerja, tata letak mesin dan peralatan, aliran bahan, dan lintas kerja tenaga kerja, termasuk di dalamnya adalah gerakan mikro. Pendek kata, studi kerja merupakan merupakan studi yang lebih komprehensif mengenai perilaku pekerja, tata letak meja kerja dan mesin, alat-alat dan perlengkapan pendukung lainnya, gerak anggota badan, dan posisi badan dalam melaksanakan tugas. Studi kerja juga mencakup studi lingkungan tempat kerja, bentuk badan, suhu dan tingkat kebisingan di sekitar tempat kerja, yang selama ini kita kenal dengan studi egonomik. Biasanya, studi kerja semacam ini didekati dengan studi gerak makro yang meliputi yang merekam secara rinci gerak cepat tangan dan lengan-lengan kita dalam bekerja. Dengan film dan gambar yang dihasilkan kamera, kita dapat menganalisis gerak-gerak mikro. Melalui studi kerja ini kita menemukan cara melaksanakan suatu pekerjaan yang paling tepat dan paling baik, dan paling mudah. Prosedur-prosedur kerja yang baru dapat ditemukan dan akhirnya dapat dikembangkan metode-metode kerja yang efisien dan efektif untuk meningkatkan produktivitas kerja. Di era manajemen  institusi  berbasis  kinerja  dan  di  era  pesatnya  pertumbuhan  jenis pekerjaan (job) baru dengan prosedur kerja yang makin rumit seperti sekarang ini, memromosikan kembali gagasan Pak Rinanto tentang studi gerak dan waktu terasa sangat  aktual.  Ini  isu  yang  kece,  tetapi  tak  banyak  mahasiswa  pascasarjana, khususnya mahasiswa program studi pendidikan kejuruan, yang menaruh perhatian dan menelitinya.

APAYANG DIHARAPKAN DARI PEMBELAJARAN KEJURUAN?

Sebagai tokoh perintis pendidikan kejuruan di IKIP Malang, dan menjadi dekan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan selama 15 tahun, tak mengherankan jika kepekaan Pak Rinanto terhadap hal-hal dasar mengenai pendidikan kerja sangat tinggi. Gagasan-gagasan pengembangan pendidikan kejuruan yang berbasis pada pengetahuan teori dan hasil riset mewarnai kebijakan- kebijakan beliau selama menjadi nahkoda FPTK. Bukti “wasiat” tentang ketekunan beliau mengawal pendidikan kejuruan ini ada. Saya mendapati secarik kertas surat yang ditujukan kepada para pembantu dekan dan para ketua jurusan di tahun 1980-an. Surat ini masih tersimpan rapi di file perpustakaan Bapak Drs. Heru Muryanto, yang pada saat itu beliau menjabat sebagai ketua jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.

Apa isi surat itu? Surat yang diketik beliau sendiri itu berupa ringkasan pola tindakan pembenahan manajamen bengkel sebagai pusat belajar dan berlatih kerja mahasiswa. Dengan gayanya yang khas, tanpa sedikitpun menampakkan nada “perintah”, apalagi nada marah, meski terselip rasa kurang puas beliau melihat perkembangan pengelolaan bengkel di jurusan yang juga belum kunjung baik, dalam surat itu beliau buatkan skema algoritmik pembenahan manajemen bengkel untuk meningkatkan kualitas bengkel. Skema pembenahan manajemen ini beliau buat berdasarkan hasil sejumlah riset di berbagai negara, dan teori-teori belajar motorik. Tampak jelas sekali visi beliau dalam pembenahan praktik pembelajaran keterampilan motorik hingga tataran mikro, karena beliau meyakini kualitas kerja orang dimulai dari kualitas belajar mereka, dan bengkel adalah tempat pertama mereka belajar bekerja yang baik. Beliau tidak mau terjadi kesalahan manajemen pembelajaran yang berakibat pada kesalahan tindakan belajar mahasiswa. Sekali mahasiswa belajar kerja dengan cara yang salah, tidak mudah kita melakukan perbaikan, begitu yang selalu disampaikan beliau di setiap kesempatan.

Beliau memandang, masalah pembelajaran kejuruan yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana cara melatih secara intensif banyak orang agar terampil per individu melakukan pekerjaan. Pendekatan yang harus diambil adalah cara antara yang dilakukan dengan magang atau pendidikan latihan perorangan dan cara-cara mendidik dan melatih dengan mengajar kelompok. Masalah lain yang tak kalah penting adalah bagaimana menyiapkan bakal instruktur atau pendidik di sekolah menengah kejuruan itu bisa mengembangkan, terbuka, dan berminat untuk melakukan hal itu. Sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi gerak, pembelajaran keterampilan psikomotor yang berhubungan dengan gerakan-gerakan khusus harus dilakukan dengan cara-cara yang tepat. Oleh karena itu, perlu ada dimensi lain yang perlu diajarkan kepada para calon instruktur atau guru sekolah menengah kejuruan, sehingga apa yang diharapkan dapat terjadi. Hal tersebut perlu mendapat perhatian khusus, sehingga dalam melatih calon instruktur atau guru sekolah menengah kejuruan dilakukan dengan cara, seperti dalam bahasa Jawa dikatakan “mowo- mowo”, kapan menekankan pada dimensi yang satu dan kapan menekankan dimensi yang lain, dan kapan mengombinasikannya; kapan menerapkan cara magang, kapan menerapkan cara berkelompok, dan kapan mengombinasikan keduanya.

Beliau mengritik metode mengajar yang selalu saja memberatkan pada penguasaan pengetahuan kognitif. Bukan berarti penguasaan pengetahuan tidak penting, akan tetapi, beliau prihatin dengan cara-cara mengajar psikomotorik kejuruan yang belum menyentuh aspek micro skills seperti gerak dan metode kerja yang efisien dan efektif. Masih harus ditemukan dan dikembangkan metode mengajar untuk menguasai kecakapan psikomotorik kejuruan teknik, seperti pertukangan, memasak, dan lain-lain. Lapangan pengembangan bidang metode mengajar kecakapan psikomotorik di negara kita masih terbuka lebar bagaikan lapangan yang masih perawan, belum dijamah secara sungguh-sungguh. Untuk menemukan metode yang cocok beliau menyarankan kajian-kajian serius, khususnya jika dikaitkan dengan iklim tropis yang panas dan lembab di negara kita.

Kegelisahan beliau tentang mutu pembelajaran kejuruan belum sepenuhnya terjawab hingga beliau wafat. Namun demikian, gagasan-gagasan arah pengembangan pendidikan kejuruan yang beliau tinggalkan, terutama tentang studi gerak dan waktu kerja, serta acara-cara pembelajaran kejuruan psikomotorik,telah memberikan kesadaran baru dan inspirasi bagi kita, lebih-lebih jika dikaitkan dengan perspektif kekinian. Perkembangan bidang-bidang kejuruan baru yang makin kompleks dan canggih menantang kita untuk meneruskan kajian-kajian tentang kecakapan psikomotorik ini, dan cara-cara pembelajarannya yang tepat. Kita menunggu akan hadirnya Rinantoian-rinantoian yang tekun mengembangkan gagasan-gagasan beliau dalam perspektif kekinian.***

Catatan:

Sebagian besar pemikiran Pak Rinanto ini dituangkan dalam buku karya beliau berjudul Keterampilan Psikomotor yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, 1988

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*