[...]" />

Memanusiakan Manusia dan Menjadikan Manusia Seutuhnya

Wawancara dengan Wakil Rektor I UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd

2Membentuk perguruan tinggi yang menjadi unggulan dan rujukan tidak hanya menjadi visi dan misi Rektor UM saat ini, tetapi sudah menjadi visi misi lembaga. Keunggulan dan rujukan sudah lama diterapkan di Universitas Negeri Malang (UM) ini. Baik dalam aspek pendidikan, kurikulum, pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Prof. Dr. Hariyono, M.Pd selaku Wakil Rektor I mengatakan, “Saya sebagai Wakil Rektor I yang membidangi pendidikan dan akademik sedang membangun kelembagaan yang memiliki capacity building. Walaupun kita sudah memiliki beberapa prodi yang terakreditasi A, namun kita sebagai manusia yang terdidik jangan terlena oleh semuanya itu. Kita tidak boleh terlena oleh kemasan-kemasan, baik kemasan administrasi sampai kemasan akademik maupun promosi UM”

Hakikat pendidikan sebenarnya adalah memanusiakan manusia, untuk memanusiakan manusia tersebut dibutuhkan kejujuran dan kesahajaan. Dengan memanusiakan manusia kita dapat mengakui dan menghargai eksistensi orang lain dengan sesama manusia dan sebagai manusia itulah kita memiliki potensi untuk belajar di dunia pendidikan. Sehingga bila kita mendapatkan beberapa prodi di UM yang terakreditasi A kita boleh berbangga, tetapi hal itu bukan karena kemasan-kemasan akademik, melainkan benar-benar karena kita unggul dalam memanusiakan manusia.

Mencerdaskan civitas akademika yang ada di jurusan masing-masing dengan memanusiakan manusia di setiap prodi UM tidak hanya akan mendapatkan produk yang berkualitas tetapi juga akan men-dapatkan keunggulan dalam kualitas manusia terdidiknya. Selain memanusiakan manusia kita juga berusaha sebaik mungkin untuk menjadikan mahasiswa yang seutuhnya, dengan menjadikan mahasiswa yang mandiri dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pendidikannya. “Untuk apa kita mendapatkan akreditasi A tetapi mahasiswa kita selama berkuliah tidak cermat, tidak pandai, dan ketika lulus hanya menjadi pengangguran. Saya rasa memanusiakan manusia merupakan hal yang penting dalam menjadikan mahasiswa yang seutuhnya. Menjadi mahasiswa yang terampil, pandai, dan dapat mengenali potensi dirinya untuk selalu berusaha dan berkembang menjadi lebih baik” tambahnya.
Untuk mewujudkan semua hal tersebut kami berusaha memperbaiki kurikulum yang kami terapkan di UM selama ini. Kami ingin bahwa kurikulum UM berada diatas standar pendidikan yang telah diatur Peraturan Menteri nomor 49 tahun 2014, kami ingin membangun sebuah kurikulum yang berada di atas standar penelitian dan pengajaran yang ada di UM selama ini. Kalau kurikulum tersebut tidak dapat kita lebihkan maka kita tidak akan pernah bisa menjadi unggulan dan hanya bisa menjadi standar yang diinginkan untuk sebuah kelulusan mahasiswa.

Kami sedang merancang dan secara simultan mencoba menginternalisasi keunggulan yang ada di UM ke dalam internal dosen dimana seyogyanya setiap dosen mengenali keunggulannya masing-masing dan dapat membentuk kelompok bidang keahlian (KBK) di masing-masing jurusan. Dengan kelompok bidang keahlian tersebut masing-masing dosen maupun guru besar dapat saling belajar untuk memecahkan suatu masalah secara berkelompok dan orientasi pembelajaran akan lebih terfokus. “Kami tidak hanya menyuruh mahasiswa untuk belajar tetapi kita juga menginginkan dosen juga bisa belajar berkelompok dalam KBK tersebut. Dengan adanya KBK akan mewadahi segala aktivitas penelitian yang dilakukan oleh dosen, guru besar, maupun mahasiswa
di masing-masing jurusan. Terbentuknya KBK akan membantu segala kegiatan penelitian yang selama ini merupakan aktivitas yang dirasa sulit dilakukan oleh setiap mahasiswa” jelasnya.

Dalam proses kelembagaan kita menyebutnya sebagai internalisasi keunggulan dalam kehidupan dosen maupun kehidupan mahasiswa untuk membangkitkan semangat berkolaborasi dalam memajukan UM. Dosen, mahasiswa, dan seluruh civitas akademika UM harus mulai mengenali keunggulan masing-masing untuk memajukan setiap prodi, jurusan, fakultas, dan memajukan universitas.

Kehidupan di abad 21 ini kecerdasan yang kita butuhkan tidak hanya tentang subyek method saja, melainkan penguasaan soft skill juga dibutuhkan. Sehingga dari sini kita dapat mengambil sebuah keputusan bahwa seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk menyampaikan materi, tetapi tugas utama seorang pendidik adalah mengajak mahasiswa untuk belajar. Istilahnya how learn to learn, dengan hal tersebut mahasiswa dapat memiliki keingintahuan yang amat besar dan keinginan belajar mandiri yang terus menerus. Harus kita sadari bersama bahwa ilmu yang kita ajarkan kepada mahasiswa saat ini tidak akan relevan lagi untuk 5-7 tahun mendatang. “Kalau mahasiswa atau alumni UM tidak kita ajarkan dan biasakan dalam belajar mandiri dan terus menerus, mungkin ketika lulus dia menjadi orang hebat tetapi 5-7 tahun berikutnya alumni tersebut belum tentu menjadi orang hebat. Oleh karena itu kita harus memulai untuk mengajak mahasiswa kita untuk memiliki kebiasaan belajar mandiri dan kontinyu” himbaunya” terangnya .

Diharapkan dengan kebiasaan belajar terus menerus ini, mahasiswa yang bersangkutan dapat terus mengupgrade setiap perkembangan ilmu yang dia butuhkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia profesional. Aktifitas ini lah yang akan kita lakukan dalam beberapa waktu mendatang.

Dalam kelembagaan kita telah berkoordinasi dengan bidang tiga yang mengurus kemahasiswaan, antara lain kita akan memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi diatas rata-rata baik dibidang akademik maupun non akademik. Sehingga saat wisuda semester gasal 2015 kemarin kita memberikan juga penghargaan prestasi kategori non akademik. Tidak hanya mereka yang memiliki IPK baik, tetapi juga memiliki segudang prestasi non akademik yang membanggakan UM.

Saat ini bidang satu sedang membahas bersama Rektor bahwa mahasiswa S1 yang bisa menulis karya ilmiah yang dimuat di jurnal terakreditasi baik nasional maupun internasional tidak harus menyusun skripsi. dengan cara tersebut mahasiswa sejak semester pertama akan memiliki gambaran untuk mejadi mahasiswa yang hebat dan memiliki keunggulan. Sehingga bila ada instruksi dari kementrian pendidikan tinggi yang mengisyaratkan bahwa mahasiswa S2 harus dapat membuat artikel ilmiah untuk jurnal nasional, mahasiswa S3 harus bisa membuat karya ilmiah untuk jurnal internasional, dan ternyata mahasiswa S1 sudah dapat membuat karya ilmiah yang dimuat di jurnal nasional, maka kita dapat menyebutnya diatas rata-rata. Kita harus dapat mengapresiasi dan menghargai seorang mahasiswa S1 yang sudah bisa membuat artikel ilmiah dan dimuat di jurnal nasional. Hal ini akan menjadi salah satu unggulan dan tolak ukur keberhasilan mahasiswa UM dalam proses pendidikan diatas standar yang ditentukan selama ini.

Kita berkewajiban membuat suasana yang men-dorong mahasiswa untuk selalu berprestasi. Mahasiswa yang telah sukses membuat artikel ilmiah dalam jurnal nasional tersebut tidak serta merta akan diakui langsung karyanya dan dapat menggantikan skripsi, namun mahasiswa tersebut harus tetap mengikuti ujian pemantapan karya ilmiah buatannya tersebut. Ujian ini dimaksudkan untuk mempertanggung jawabkan kualitas dari terciptanya artikel ilmiah yang dibuat. Hal ini akan meminimalisir usaha-usaha plagiarisme dan kecurangan yang lain .

Secara simultan mahasiswa kelak akan dituntut untuk selalu memacu usahanya untuk berprestasi baik di akademiknya maupun prestasi non akademiknya. Dengan usaha yang maksimal diharapkan mahasiswa UM mendatang dapat berpacu dan bersaing sehat dengan lulusan perguruan tinggi lain. Prestasi yang diraih mahasiswa tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi institusi lain dalam merujuk kualitas pendidikan di UM dan menciptakan keunggulan UM mendatang.(Ksr/Tik)

 

1 Comment on Memanusiakan Manusia dan Menjadikan Manusia Seutuhnya

  1. Terimakasih Prof. saya sangat setuju. Dan ada beberapa hal yang saya ingin menambahkan dari sudut pandang yang hampir sama, untuk lebih menciptakan suasana yang sangat mendukung: antara lain: 1. salah satunya adalah aktivitas mahasiswa dalam studi mereka jangan hanya dibiarkan hanya mendengar dan mencatat apa yang diajarkan lector atau dosen, tapi bagaimana mereka dipancing untuk lebih banyak membuat report book, report hasil survey, mengcreate lebih banyak pertanyaan atau selalu “bertanya” dan bukan hanya menjawab soal lalu mendapat nilai dari Dosen. Metode ini semestinya sudah dimulai sejak anak-anak masih di bangku sekolah dasar hingga menengah atas. Namun senyatanya metode ini baru dilakukan oleh beberapa sekolah swasta yang juru berani mencobakan sehingga mereka berani menyebut sebegai sekolah yang semi international atau sekolah entrepreneurship. Hanya saja keberadaan sekolah sekolah semacam ini banyak mengalami tantangan dan kesulutan ketika harus menyesuaikan dengan kurikulum nasional yang lebih banyak menghafal, menjawab pertanyaan guru dan dosen… yang terlalu kaku dan sempit……
    Kalau kondisi semacam itu mau dipertahankan ; kapankan kita berani bersaing dengan dunia luar?
    Ini salah satu tanggapan saya Prof, sebegai pemerhati dan mantan praktisi pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*