[...]" />

Prof. Dr. D. Dwidjoseputro, M.Sc. Sosok Guru dan Guru Besar Biologi Sesungguhnya

Prof. Dwidjoseputro sosokcerdas dan bijaksana
Prof. Dwidjoseputro sosokcerdas dan bijaksana

Oleh: Ibrohim, Utami Sri Hastuti, dan Endang Suarsini

Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang

Prof. Dwidjoseputro sosokcerdas dan bijaksana
Prof. Dwidjoseputro sosokcerdas dan bijaksana

Biologi dulu lebih populer dengan sebutan ilmu hayat. Suatu cabang ilmu pengetahuan (sains) yang memfokuskan kajian pada objek makhluk hidup, mulai dari jasad renik sampai pada manusia. Banyak siswa yang menyukai Biologi karena kajiannya bersangkutan dengan hal ikhwal kehidupan manusia, mulai dari persoalan makan, kesehatan, struktur anatomi dan fisiologi, sampai dengan perkawinan dan dihasilkannya keturunan dalam sebuah keluarga. Namun sebaliknya, juga banyak siswa yang tidak menyukai Biologi karena memiliki kesan/anggapan bahwa ilmu pengetahuan ini banyak menuntut sisw/mahasiswa menghafalkan banyak istilah. Mengapa terjadi hal yang demikian? Apakah hal ini disebabkan oleh sifat objek kajiannya ataukah oleh cara/metode guru dalam mengajarkannya?

Bagaimana seharusnya sosok guru Biologi yang ideal, yang mampu membelajarkan siswa bukan hanya sekedar aspek pengetahuan Biologi tetapi dapat melahirkan saintis muda, dengan sikap, pemahaman dan keterampilan sains yang memadai, yang akan menjadi modal mereka menjadi ilmuan Biologi (biolog) muda atau menjadi guru Biologi. Prof. Dwidjoseputro telah mempratikkan dan mengamalkannya selama menjadi dosen di Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang (dulu IKIP Malang), yakni sejak Tahun 1954. Bagaimana pemikiran-pemikiran cerdas dan bijaksana serta sosok pribadinya? uraian berikut akan mencoba menggambarkanya meski sangat terbatas.

 SAINTIS, ARTIS, DAN MANUSIA RELIGIUS

Dalam membelajarkan dan menyadarkan mahasiswa tentang Biologi sebagi sains yang tidak hanya konsep, Prof. Dwidjoseputro dalam pidato pengukuhan guru besarnya pada tahun 1973, memberikan ilustrasi yang sangat gamblang. “Bunga itu indah”, itu adalah ungkapan bahasa seorang seniman (artis), sebagai gambaran getaran jiwanya ketika melihat sebuah bunga, bukan ungkapan seorang saintis. Kalau toh seorang saintis mengungkapkannya, ia mengucapkannya bukan sebagai seorang saintis melainkan sebagai seniman. Indah atau tidak indah tergantung pada manusia yang menilainya, dan penilaian itu sangatlah subyektif. Ukuran yang mantap, objektif dan mutlak untuk ini tidak ada. Keindahan tidak dapat dirangkum dalam suatu definisi ataupun suatu formula. Seorang religi mengagumi kekuasaan Tuhan melaui keindahan bunga dan manfaatnya bagi keberlanjutan keturunan jenis makhluk hidup. Religi pun hanyalah sekedar bahasa dari sekelompok manusia yang getaran jiwanya lain dari pada seorang saintis atau seorang artis. Kagum akan keagungan alam dan menikmati keindahaanya itulah jiwa artis. Kagum akan keagungan alam semesta dapat menyebabkan manusia berlutut dan bersyukur kepada Yang Maha Khalik, itulah manusia religius. Kagum akan keagungan alam dan mencari keteraturan (orde, sistem) dalam semrawutnya fenomena-fenomena alam yang dihadapinya, itulah jiwa seorang saintis.

Pendidikan dan pembelajaran Biologi semestinya lebih menumbuhkan sikap-sikap seorang saintis (biolog), tentu juga disertai pemahaman dan keterampilan sains yang memadai untuk menumbuhkannya menjadi seorang ilmuan muda. Sudah kah ini terjadi atau dilakukan oleh guru-guru sains (Biologi) di Indonesia saat ini? Di samping itu, selain menjadi seorang saintis dengan kekaguman untuk menyelediki alam semesta, seorang saintis juga dapat memiliki jiwa religious dan juga artis pada kadar tertentu.

MENJADI AHLI BIOLOGI MURNI ATAU BIOLOGI TERAPAN?

Biologi kini telah berkembang sangat pesat dengan dorongan teknologi. Biologi juga memberikan sumbangan dalam pengembangan berbagai bidang teknologi yang terkait dengan Biologi terapan, seperti kedokteran, pertanian, dan sejenisnya. Prof. Dwidjoseputro mengingatkan kita semua, bahwa di negara kita Indonesia ini, para ilmuan Biologi murni belum mendapatkan penghargaan secara material yang sama dengan mereka yang mempelajari dan mengembangkan terapannya, seperti dokter, ahli pertania dan sejenisnya. Namun perlu diingat bahwa seorang ilmuan Biologi memberikan sumbangan yang sama besar dengan para pengembang Biologi terapan. Dorongan yang paling kuat bagi seorang penuntut ilmu adalah kegemarannya menuntut ilmu, dan upah yang berharga baginya adalah kepuasan yang ia peroleh apabila ia berhasil menemukan suatu kebenaran (ilmiah). Dalam kaitan ini, Prof. Dwidjoseputro juga mengingatkan bahwa masih dibutuhkan banyak ahli Biologi yang konsisten untuk mengembangkan Biologi dalam kontek memecahkan persoalan dan mengembangkan potensi sumberdaya alam hayati yang berlimpah di Indonesia demi kesejahteran masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat mengharapkan lahirnya biolog-biolog muda setelah generasinya, yang akan menekuni berbagai bidang Biologi di Indonesia, guna memberikan sumbangan dalam meningkat kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui potensi sumberdaya alam hayatinya.

PERAN BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI DALAM MENGUBAH PANDANGAN DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT

Disadari atau tidak, Biologi memiliki peran yang sangat besar dalam nengubah pandangan dan pikiran masyarakat Indonesia dalam upaya meningkatkan kesejateraan hidupnya. Sebagai contoh, dalam kaitan menyikapi perkembangan dan pertumbuhan penduduk Indonesia yang demikian pesat pada era tahun 1970-an, Prof. Dwidjoseputro mengutip teori dan hipotesis dari Thomas Robert Malthus (1766–1834) yang terkenal dan sekaligus banyak ditentang ilmuan lain, yang mengkhawatirkan akan nasib umat manusia karena melihat gejala menanjaknya pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan pertambanhan sandang pangan. Penduduk Indonesia, tercatat sekitar 60,5 juta pada tahun 1930, menjadi 81,5 juta tahun 1955 (Sensus RI pertama), dan menjadi 122 juta pada tahun 1973 (saat Prof Dwidjoseputro menyampaikan pidatonya pengukuhan guru besarnya), dan diperkirakan mencapai 280 juta tahun 2000. Berkat sumbangan ilmu Biologi dan terapannya dalam mengembangkan teknik kontrasepsi, jumlah penduduk Indonesia bisa ditekan di bawah 250 juta sampai tahun 2014 ini.

Dalam konteks “hubungan aspek ekologi dan pembangunan”, Prof. Dwidjoseputro menggambarkan betapa pentingnya lingkungan bagi kehidupan dan perkembangan individu. Iklim yang berbeda-beda, jenis tanah yang berbeda-beda, memiliki populasi yang berbeda pula. Jika kita membatasi diri pada sebagian dari “ekologi manusia” saja maka akan sering dijumpai ungkapan “Sebenarnya si Anu itu orang baik, akan tetapi ia menjadi demikian (tidak baik) karena lingkungannya”. Dengan kata lain, ubahlah lingkungan, dan ia akan menjadi manusia yang lain. Inilah prinsip yang dianut dalam rumah (lembaga) pemasyarakatan. Demikian juga dalam konteks pendidikan era sekarang ini, maka sesungguhnya tugas guru adalah menciptakan lingkungan yang kondusif agar sikap, pengetahuan dan keterampilan siswa berkembang ke arah positif.

Dalam prinsip ekologi, dinyatakan bahwa aspek lingkungan mempengaruhi makhluk hidupnya. Diterapkan oleh Prof Dwidjoseputro dalam pandangannya tentang pendidikan. Beliau merujuk Teori Konvergensi Stern (1930), seorang ahli Psikologi, yang menyatakan bahwa bahwa dasar maupun ajar sama-sama pentingnya bagi berhasilnya pendidikan. Tanpa dasar, pengajaran yang betapapun baiknya tidak akan berhasil, tanpa ajar, dasar yang bagaimana pun baiknya tidak akan berhasil. Dalam Genetika (ilmu keturunan), dasar disebut genotipe, ajar identik dengan faktor-faktor luar atau milieu, dan hasilnya disebut fenotipe. Lebih jauh Prof. Dwidjoseputro, melukiskan dengan Jajaran Genjang Daya berikut ini.

Jajaran Genjang daya Genotipe adalah konstanta, milieu dapat berubah-ubah (variable). Sisi yang menggambarkan milieu dan arahnya boleh berlainan; perubahan itu menyebabkan berubahnya jajaran genjang. Maka perubahan milieu mengakibatkan perubahan fenotipe; dengan kata lain fenotipe adalah fungsi dari milieu

Bertolak dari teori konvergensi ini, maka Biologi mempunyai dua tugas, yang pertama ialah menyehatkan lingkungan dalam arti seluas luasnya, seperti memperindah lingkungan, mencegah pencemaran (pollution), sanitasi dan sebagainya. Tugas yang kedua memperbaiki genotipe dengan memperhatikan hukum-hukum Genetika yang akan dijelaskan berikut ini.

Menurut Prof. Dwidjo, Genetika atau ilmu keturunan merupakan cabang Biologi yang besar sumbangannya dalam usaha-usaha untuk menghilangkan takhayul dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Sebagai contoh, dalam kalangan kaum awam masih berlaku anggapan bahwa “anak seorang dalang pastilah menjadi dalang, anak dokter mesti menjadi dokter”. Sangat boleh jadi anak-anak tersebut mempunyai warisan Biologis dari ayah mereka, akan tetapi warisan Biologis itu hanya dapat ditunaikan (terjadi) jika ada pendidikan dan pengajaran yang sesuai (lingkungan). Dalam Biologi, khususnya ilmu Genetika, diketahui bahwa warisan Biologi tersebut bukan dari ayah semata, dan ibu bukanlah sekedar wadah saja. Anak adalah hasil dari penyatuan sperma (dari ayah) dan ovum (dari ibu) yang masing-masing membawa konsep tersendiri. Fusi antara keduanya menghasilkan suatu konsep baru, suatu “blue print” yang membayangkan (mewujudkan) arsitektur baru dan tertentu. Selanjutnya Prof. Dwidjoseputro menyatakan bahwa pengembangan “bule print” selama 9 bulan dalam kandungan ibu itu pada ghalibnya suatu rentetan proses sebab akibat menurut pola (gen) yang sudah ada dalam zigot. Walaupun demikian, bisa terjadi penyimpangan, yaitu jika ibu mengalami kelainan peoses fisiologi karena sakit, kekurangan makanan, dan sebagainya.

Namun demikian di sisi lain, Prof. Dwidjoseputro menegaskan bahwa Biologi tidak dapat membuktikan, bahwa telinga cacat dari bayi yang lahir ada hubungannya dengan ayah yang pernah melukai telingan seekor binatang ketika sang ibu sedang mengandung. Belum ada penelitian yang mengkaji hubungan antara sifat-sifat yang temurun dengan hari dan bulan kelahiran seorang manusia baru. Saintis tidak apriori menolak atau menerimanya sebelum ada pembuktian yang mantap. Genetika eksperimental telah membuktikan bahwa hanya sifat dasar (genotipe) lah yang menurun (Weismann, 1834-1914), dan bukan sifat-sifat yang diperoleh (dari pengaruh lingkungan) seperti yang diutarakan oleh Lamarck (1744–1829).

Menurut Prof. Dwidjo, Biologi memberikan sumbangan dalam upaya “memuliakan” atau memperbaiki keturuan. Upaya manusia memperbaiki keturunan suatu bangsa telah dilakukan oleh bangsa Yunani kuno dalam memuliakan (ras veredeling) bangsanya, yaitu dengan meniadakan yang lemah dan yang cacat. Usaha semacam itu juga dilakukan oleh Jerman sebelum Perang Dunia II dalam cita-citanya membangun “bangsa tuan” (Herren Volk) yang terdiri atas “übermensh”. Pemuliaan keturunan dalam dunia pertanian, peternakan, dan perikanan sudah lazim dilakukan untuk menghasilkan bibit-bibit unggul yang akan meningkatkan kualitas dan jumlah produksi. Sesungguhnya Pemuliaan esensinya adalah permainan dengan gen. Genetika molekuler ini berkembang setelah Watson and Crick (1953) menemukan model struktur DNA (Deoxyribose Nucleic Acid), hingga saat ini telah berkembang genetic engineering yang luar biasa.

PERAN BIOLOGI DALAM BIDANG SISTEMATIKA MAKHLUK HIDUP

Apa manfaat lain dari mempelajari Sistemati (Biosistematik) atau Taksonomi dalam Biologi? Prof. Dwidjoseputro menggambarkannya sebagi berikut. Kita tidak mempunyai catatan tentang bahasa apa yang digunakan oleh Adam untuk berkomunikasi dengan Hawa, pun kita tidak mempunyai data mengenai bagaimana sepasang manusia yang pertama ini menyebut tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan yang ada di sekitar mereka. Walaupun bahasa belum sempurna, di sekitar Adam dan Hawa pasti ada berbagai makhluk hidup lain yang berbeda-beda, seperti ada pohon, semak, perdu, rerumputan, hewan besar, hewan kecil dan lain sebagainya. Manusia saat ini dihadapkan oleh bayangan banyak jenis tumbuhan, hewan bahkan jasad renik yang harus dikenali dan dikomunikasikan dengan manusia yang lain karena suatu kepentingan. Terpaksalah manusia harus memberi nama pada apa yang dilihat dan dimaksudkannya. Itulah yang disebut dengan klasifikasi. Karena pengklasifikasian tidak acak-acakan, akan tetapi menurut suatu atauran tertrntu, menurut suatu sistem, maka klasifikasi disebut juga sistematik. Karena dalam sistematik ini ada pengelompokan menurut tingkat-tingkat (takson), maka digunakan istilah taksonomi untuk penggolongan makhluk-makhluk hidup tersebut. Untuk menggampangkan komunikasi antar bang-bangsa maka dibuat suatu ketentuan pemberian nama jenis makhluk hidup dengan dua kata (binomenklatur; binomial nomenklatur). Nama depan menunjukkan genus dan nama belakang menunjukkan spesies/jenis, seperti padi (Oryza sativa).

Dalam bidang mikroBiologi, yang merupakan salah satu cabang Biologi, yang ditekuninya Prof. Dwidjoseputro menyatakan bahwa di Indonesia masih sangat diperlukan banyak ahli-ahli Mikrobiologi yang dapat mengungkap kekayaan mikroba Indonesia sebagai Negara tropis yang besar di dunia. Selama ini penemuan berbagai antibiotik dari mikroba yang sangat berguna untuk pengobatan berbagai penyakit masih didominasi oleh ahli-ahli Biologi dari Negara barat, yang tentunya saja mereka mengekplorasinya dari jenis-jenis makhluk hidup di sekitar mereka. Sementara di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati belum banyak diungkap. Sebagai contoh sederhana Prof. Dwidjoseputro mengungkapkan suatu kepercayaan masyarakat desa yang percaya bahwa luka dapat disembuhkan dengan kotoran lembu atau kerbau. Hal ini dapat menjadi titik tolak penelitian yang mungkin mewujudkan “tambah emas”. Bagi seorang saintis yang terpenting bukan emasnya tetapai penemuanna yang bermanfaat.

Uraian di atas merupakan gambaran keluasan wawasan Prof. Dwidjo dalam khasanah perkembangan Biologi, dan sekaligus pemikirannya tentang peran Biologi dalam meningkatkan peri kehidupan masyarakat.

 PERJUANGAN MENUJU PUNCAK KARIR AKADEMIK

Prof. Dr. D. Dwidjoseputro seorang guru besar Biologi yang mengawali karirnya sebagai dosen di Jurusan Biologi FKIE IKIP Malang pada tahun 1954 setelah lulus dari B-1 Ilmu Hayat Semarang-Bandung 1953. Beberapa tahun kemudian Dwidjoseputro muda berangkat studi ke Amerika Serikat dan mendapat gelar “Bachelor of Sacience (B.Sc.)” dari “George Peabody College for Teachers of Vanderbilt University (Nashville, Tennessee, USA)” pada tahun 1959. Dua tahun kemudian Dwidjoseputro mendapatkan gelar “Master of Science (M.Sc)” dari “Vanderbilt University (Nashville, Tennessee, USA)”, tepatnya pada tahun 1961. Sepulang dari menyelesaikan studi masternya dan kembali ke kampus, Dwidjoseputro mendapatkan kepercayaan memimpin IKIP Malang dari tahun 1963 sampai 1966. Seusainya menjadi rektor beliau berangkat studi lagi ke Vanderbit University dan meraih gelar doctor dalam bidang Biologi (Ph.D.) pada tahun 1969. Tidak lama setelah menyelesaikan studi doktornya, dengan karya penelitian dan pengajarannya, Dwidjoseputro memperoleh gelar puncak akademiknya dan dikukuhkan sebagai guru besar Biologi pada tahun 1973. Perjalanan karir akademik yang sangat cepat, menggambarkan beliau adalah sosok guru atau dosen yang sangat tekun dan bersungguh-sungguh dalam belajar dan bekerja.

SOSOK SEORANG GURU DAN DOSEN BIOLOGI IDEAL

Bagaimana sosok Dwidjoseputro mengajarkan Biologi kepada para mahasiswanya dituturkan oleh beberapa mahaiswanya beikut ini. Prof. Dwidjoseputro mengampu Mata kuliah MikroBiologi, Mikologi, Fitopatologi dan Fisiologi Tumbuhan. Bapak Dwidjoseputro, demikian kami biasa menyebut nama beliau, merupakan Guru Besar yang patut menjadi teladan bagi kami, para mahasiswanya. Sifat-sifat beliau yang ramah, sabar, displin, tertib, dan telaten dalam membimbing para mahasiswanya sangat membantu dalam kegiatan belajar mengajar, baik teori maupun praktikum. Walaupun ada asisten yang membimbing praktikum, beliau turut memberikan pengarahan agar teori dan praktikum saling menunjang. Beliau juga sekali waktu hadir pada saat kegiatan praktikum dan memantau aktifitas praktikan. Beliau mampu membuat materi perkuliahan yang rumit menjadi sangat mudah dipahami oleh mahasiswanya. Kami selalu terkenang dengan kebiasaan beliau yang selalu tepat waktu pada setiap memberi materi perkuliahan. Beliau menyapa mahasiswanya dengan ramah dan selalu bersikap adil dalam kegiatan belajar mengajar, tidak pernah membeda-bedakan mahasiswa yang pintar maupun yang kurang pintar.

Menurut Prof. Dwidjoseputro, seorang guru harus bersedia dan mampu membimbing semua siswa, baik siswa yang pintar dan cepat memahami materi pelajaran maupun siswa yang kurang pintar dan kurang cepat memahami penjelasan guru atau membaca buku. Bapak Dwidjoseputro menyampaikan kepada kami bahwa “guru yang pandai ialah guru yang menguasai ilmu dan mampu membimbing siswa yang kurang pandai sehingga berhasil lulus dengan nilai yang baik”. Menurut beliau bila seorang guru berhasil membimbing siswa yang pandai sehingga lulus dengan baik, itu sebenarnya bukan gurunya yang pandai, melainkan siswanya yang memang sudah pandai. Apabila direnungkan, memang tugas guru cukup berat apabila harus mendampingi dan membimbing siswa yang kurang mampu dalam bidang akademik sehingga lambat dalam memahami materi pelajaran. Guru harus sabar dan telaten sehingga dapat mengantarkan siswanya menuju keberhasilan. Namun hal ini sudah menjadi konsekuensi dari tugas seorang pendidik. Seorang dosen juga harus mampu melakukan hal yang sama kepada para mahasiswanya, hal ini juga dilakukan oleh Bapak Dwidjoseputro.

Penulis pada saat mengikuti kuliah MikroBiologi yang diampu oleh beliau sangat terkesan pada sikap beliau sebagai seorang dosen yang patut diteladani. Pada suatu ketika Bapak Dwidjoseputro memberi tugas membaca buku teks Mikrobiologi, menerjemahkan, dan menjelaskan hasil terjemahan materi yang telah dipilihkan oleh beliau pada pertemuan minggu berikutnya. Salah satu teman kami ada yang kurang mampu menerjemahkan kalimat bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Beliau dengan sabar dan telaten menjelaskan cara menerjemahkan kalimat yang benar sambil duduk di samping teman tersebut dan membantu serta membimbingnya sampai dapat memahaminya. Sungguh hal ini merupakan sikap seorang dosen yang sangat terpuji dan patut diteladani.

Bapak Dwidjoseputro juga telah mendidik kami agar bersikap kritis dan mampu menjelaskan fenomena yang terdapat di lingkungan sekitar kita. Dalam buku “Pengantar MikroBiologi” yang ditulis oleh beliau tertulis kalimat pada halaman depan “Alam Semesta Penuh Rahasia”. Di dalam kalimat yang beliau tulis tersebut sebenarnya terdapat filsafat yang tinggi. Alam semesta yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT untuk tempat hidup semua makhluk hidup berisi banyak sekali hal-hal yang harus diteliti sehingga dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia.

Pada suatu ketika dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Mata kuliah Mikologi, penulis bersama-sama teman sekelas dan Bapak Dwidjoseputro pergi ke hutan Coban Rondo, Batu. Kami diberi tugas melakukan observasi terhadap jamur-jamur yang tumbuh di hutan, keanekaragaman, ciri-ciri morfologi, serta habitatnya. Kami melakukan tugas tersebut dengan gembira didampingi oleh beliau sambil melakukan tanya jawab tentang materi kegiatan observasi tersebut. Melalui kegiatan ini, konsep-konsep yang beliau jelaskan pada saat kuliah lebih dapat kami pahami. Kegiatan belajar mengajar yang beliau terapkan ini merupakan metode belajar yang bersifat kontekstual, dimana kami melakukan pengamatan secara langsung keanekaragaman jamur, ciri-ciri dan habitatnya.

Gambar 2. Foto Prof. Dwijoseputro bersama para mahasiswanya pada saat kegiatan KKL di Hutan Coban Rondo, Batu.

Foto Prof. Dwijoseputro bersama para mahasiswanya pada saat kegiatan KKL di Hutan Coban Rondo, Batu
Foto Prof. Dwijoseputro bersama para mahasiswanya pada saat kegiatan KKL di Hutan Coban Rondo, Batu

Keterangan:

Deret belakang dari kiri ke kanan: Musyafar, Prof. Dwijoseputro, Hawa Tuarita, Utami Sri Hastuti. Deret depan dari kiri ke kanan: Herawati Susilo, Eko Sri Sulasmi.

Pada tahun berikutnya, Bapak Dwidjoseputro juga mengadakan kegiatan KKL Mata kuliah Mikologi untuk mahasiswa angkatan adik kelas penulis. Kegiatan KKL dilakukan di pabrik jamur merang Wonosobo. Para mahasiswa peserta KKL diberi tugas melakukan pengamatan secara langsung tentang proses budidaya jamur merang, mulai dari penyiapan media tanam untuk jamur merang, cara menanam, memelihara, sampai dengan memanen dan menjualnya. Melalui kegiatan belajar yang didampingi oleh beliau ini, maka materi perkuliahan menjadi mudah difahami dan tetap diingat, karena kami diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan secara langsung, sehingga dapat memahami dan menyimpulkan secara tepat.

Prof. Dwidjoseputro adalah juga sosok dosen yang sangat mahir atau ahli dibindang ilmu yang ditekuninya, khususnya bidang mikroBiologi. Pada saat dulu memberi kuliah, beliau menjelaskan satu persatu secara mendetail isi materi dalam buku, dengan runut sambil sebentar menutup mata menjelaskan secara morfologi bentuk sel bakteri, jamur, siklus hidupnya lengkap dengan gambarnya. Kami sangat mengagumi kepakaran beliau tentang ilmu yang dimilikinya karena di saat kami membuka buku mikologi yang membahas keanekaragaman jamur yang terdiri dari 5 kelas, banyak famili, apalagi lebih dari seratus spesies yang tersebar di bumi ini. Beliau begitu mudahnya menjelaskan secara detail dengan membawa sebatang kapur (a chalk) berdiri di depan papan tulis (blackboard) untuk memperjelas uraiannya. Secara runut satu persatu spesies dijelaskan mulai dari gambar morfologinya, siklus hidupnya, pergantian generasinya, dan sebagainya tanpa ada kesalahan. Benar saja ternyata penulis buku teks yang digunakan tersebut adalah beliau sendiri Prof. Dwidjoseputro.

Beliau juga menceritakan adanya perubahan pengelompokan jamur akan mengubah nama spesiesnya. Sebagai contoh adalah jamur oncom. Mula-mula, jamur ini digolongkan sebagai Deuteromycota dengan nama Monilia sitophila. Namun, ketika beliau melakukan penelitian dengan menumbuhkan jamur tersebut di berbagai media tumbuh, ternyata tumbuhlah spora yang ada di dalamnya. Spora ini yang akhirnya dikenal dengan askuspora, sehingga jamur oncom dapat melakukan reproduksi seksual dan menghasilkan askus. Oleh beliau jamur oncom dimasukkan ke dalam Ascomycota dan namanya diganti Neurospora sitophila.

Memang, pola mengajar dengan menjelaskan dan ceramah seperti ini barangkali sudah kurang sesuai dengan perkembangan zaman dan perubahan filososfi dan paradigm konstruktivisme dalam pendidikan dan pembelajaran. Namun demikian, cerita di atas menegaskan bahwa seorang dosen yang mengajarkan bidang ilmu tertentu harus mengusai dan menjadi pakar sekaligus penelitinya. Hal ini penting agar ada di antara mahasiswa yang dapat mencontoh kepakarannya dan meneruskan pengembangan ilmu di bidang tersebut.

 

PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DI KELAS

Prof. Dwidjoseputro senantiasa menyisipkan pendidikan karakter secara tidak langsung pada saat kegiatan belajar mengajar. Beliau selain datang tepat waktu pada jam kuliah, juga selalu memenuhi janji kepada kami, para mahasiswanya. Sebagai contoh, suatu ketika seorang teman penulis mengajukan suatu pertanyaan kepada Bapak Dwidjoseputro. Pada waktu itu beliau belum dapat menjawabnya dan beliau berjanji untuk mencari jawabannya serta akan menyampaikannya pada pertemuan selanjutnya. Pada pertemuan yang berlangsung seminggu kemudian, beliau menyampaikan jawaban atas pertanyaan teman penulis tersebut, padahal teman penulis tersebut telah lupa dengan pertanyaannya. Sikap yang dicontohkan oleh Bapak Dwidjoseputro tersebut merupakan karakter yang perlu dimiliki oleh setiap orang, terutama guru atau dosen dalam hal kesediaannya untuk menepati janji.

Pada kesempatan lain, kami ingat saat teman kami terlambat masuk kelas, ternyata alasannya masih belum selesai mengerjakan tugasnya padahal semalaman sampai tidak tidur mengerjakannya. Akibatnya teman tersebut di kelas tidak konsentrasi, sebentar ijin ke luar kelas alasan ke kamar kencing tapi ternyata sambil merokok. Begitu masuk kelas ketahuan aroma mulut baru merokok, ditanya oleh Pak Dwidjo “apakah Saudara merokok?” dia tidak bisa mengelak dan jawabannya “iya Pak, saya ngantuk”. Penulis ingat setelah mendengar jawaban teman tersebut, beliau tampak sangat peduli dengan keadaan teman kami ini. Beliau menghentikan diskusi kelas, dan beliau justru menasihati kami se kelas, dan berbicara panjang-lebar sekitar tentang perilaku mahasiswa yang sedang studi. Intinya, yang penulis rasakan adalah beliau dengan ikhlas merelakan waktu jam pertemuan hari itu digunakan untuk lebih menekankan pentingnya pendidikan karakter dibentuk sejak dini. Ketulusan beliau menasehati peserta didiknya tampak pada wajah yang ikhlas, suaranya tetap lembut, dan tidak sedikitpun ada bentakan ataupun menampakkan kemarahan. Beliau tetap menampilkan peran seorang pendidik profesional memberi nasehat kepada kami sambil menorehkan sebatang kapur ke papan tulis menuliskan kalimat bijak di papan tulis sebagai berikut: never put off until tomorrow what you can do today. Beliau setelah itu juga menanyakan artinya kepada kami sekelas. Namun, kami terdiam semua, entah karena kami memang tidak bisa atau mungkin karena kami merasa bersalah dengan tingkah laku teman kami sehingga hanya mendengarkan dan memperhatikan semua nasehat beliau. Beliau nampak maklum, nasehat tetap dilanjutkan dan arti kalimat tersebut dijelaskan. Arti kalimat tersebut: jangan menunda sampai besok, apa yang dapat kamu kerjakan hari ini. Begitulah pelajaran berharga yang dapat dipelajari dari beliau.

BUDAYA MENELITI DAN MENULIS

Dalam mengembangkan budaya penelitian, Prof. Dwidjoseputro banyak bercerita pengalaman penelitian dan mengaplikasi postulat Koch satu persatu sampai para mahasiswa mengerti, hafal dan dapat mempraktikkan tahapannya. Pada saat selanjutnya, para mahasiswa diberi tugas mengaplikasikan sendiri saat kuliah Mikologi, yaitu menerapkan penelitian untuk mengidentifikasi penyebab penyakit pada beberapa tanaman. Pertama, dicatat gejala kelainannya dan diiris jaringannya yang sakit. Kedua, diisolasi mikroorganismenya dengan menanamnya pada media tumbuh. Ketiga, hasil isolasinya mikroba dikembalikan ke tanaman yang sehat lagi sehingga muncul gejala yang sama dengan tanaman semula.

Kami para mahasiswa senantiasa diajak mendiskusikan hasil penelitian, banyak contoh cerita beliau yang intinya senantiasa memotivasi mahasiswa untuk belajar melakukan metode ilmiah yang benar. Sewaktu kuliah Mikologi, kami diajak kuliah kerja lapangan (KKL) ke lokasi pembuatan tempe di daerah Sanan, Malang, juga ke pabrik produksi jamur merang yang produksinya diekspor ke luar negeri yang berlokasi di Wonosobo. Sambil membimbing dengan akrab di perjalanan beliau menceritakan segala sesuatu kejadian dengan melihat langsung dan membahasnya seolah sebagai pemandu wisata, sehingga tanpa disadari justru model pembelajaran yang beliau terapkan inilah yang membawa kami menjadi sangat terkesan dengan pemodelan seorang pembimbing Mata kuliah mikologi yang mumpuni. Beliau terkadang menyisipkan materi pendidikan yang disebutkan sebagai metode belajar inkuiri-diskoveri yang sarat dengan kalimat filosofi.

Beberapa karya ilmiah yang berupa buku atau hasil penelitian telah dipublikasikan, anatar lain: Dasar-dasar MikroBiologi untuk Perguruan Tinggi (1962), Pengantar Genetika untuk Perguruan Tinggi (1965), Pengantar Fisiologi Tumbuhan untuk Perguruan Tinggi (1962, 1970, 1973), Sari Ilmu Kesehatan untuk SMA (1955, 1966, 1972), Repetitor Tubuh Manusia untuk SMA (1957, 1966, 1973), Ilmu Hayat untuk SMP (1971), Biologi SMA (1972), dan beberapa artikel dalam majalah dalam dan luar negeri, seperti: Microbiological studies of Indonesia fermented foodstuffs (Mycopathologia et Mycologia Applicata; Vol. 41, Fase 3-4, 1970). Selain itu beliau juga aktif sebagai anggota dan pengurus lembaga ilmiah, seperti: Sigma Xi, Perhimpunan Biologi Indonesia, Torrey Botanical Club, dan American Institute of Biological Science.

PROF. DWIDJOSEPUTRO IN MEMORIAM

Setelah mengabdi dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, Prof. dwidjoseputro wafat tahun 1990. Kami para sejawat dosen dan mahasiswa merasa sangat kehilangan sosok seorang guru besar yang ramah, sabar, displin, tertib, telaten dan patut menjadi teladan bagi kita semua. Beliau telah berhasil mendidik kami dengan baik sehingga menjadi pendidik yang professional. Kini para anak didik beliau telah melanjutkan tugas beliau menjadi guru atau dosen di berbagai instansi di seluruh Indonesia. Penulis telah mendapat banyak ilmu dan bekal sikap baik yang dicontohkan oleh beliau, baik semasa menjadi mahasiswa, kemudian penulis ditunjuk oleh beliau untuk menjadi asisten, dan sekarang menggantikan beliau menjadi salah satu dosen MikroBiologi di Jurusan Biologi FMIPA UM dan telah meraih Guru Besar di bidang MikroBiologi juga. Semoga sikap-sikap baik yang telah beliau contohkan dapat kita teladani dalam melaksanakan tugas kita sebagai pendidik. Terimakasih kepada Prof. dwidjoseputro yang telah berjasa memberikan ilmu, mendidik, dan memberi teladan yang baik kepada para anak didiknya. Kami akan melanjutkan tugas dan pengabdian beliau.

Sumber:

Disarikan dari naskah Pidato pengukuhan guru besar Prof. Dr. D. Dwidjoseputro, M.Sc., tanggal 22 September 1973, dan pengalaman para penulis sebagai mahasiswanya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*