[...]" />

Prof. Drs. Saleh Marzuki, M.Ed. Peramu Metode Permainan Simulasi

Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed. adalah sesepuh, guru, dan figur penting yang ikut mewarnai perjalanan perguruan tinggi UM
Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed. adalah sesepuh, guru, dan figur penting yang ikut mewarnai perjalanan perguruan tinggi UM

Oleh: Supriyono

Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang

Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed. adalah sesepuh, guru, dan figur penting yang ikut mewarnai perjalanan perguruan tinggi UM
Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed. adalah sesepuh, guru, dan figur penting yang ikut mewarnai perjalanan perguruan tinggi UM

Bagi Fakultas Ilmu Pendidikan, bahkan bagi Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed. adalah sesepuh, guru, dan figur penting yang ikut mewarnai perjalanan perguruan tinggi UM. Beliau mengabdikan diri di lembaga ini mulai tahun 1973. Beliau memasuki masa purna tugas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada tanggal 11 Juli 2009.

Sepanjang karir yang dijalaninya sebagai dosen di UM, Pak Saleh (demikian biasanya para mahasiswa dan kolega memanggil) dikenal sebagai sosok yang memiliki karir jabatan struktural terbanyak dan terpanjang dalam sejarah UM, sekaligus memiliki karir akademik yang gemilang sampai memegang jabatan fungsional Guru Besar. Salah satu karya beliau yang cukup fenomenal adalah Permainan Simulasi sebagai salah satu metode pembelajaran yang terkenal, khususnya untuk pendidikan luar sekolah.

Pak Saleh adalah pakar dan aktor utama invensi permainan simulasi sebagai inovasi metode pembelajaran ini. Permainan Simulasi, lebih sering disingkat dengan akronim sebagai “Persimu” pernah demikian terkenal, ketika digunakan secara massal sebagai metode pembelajaran dalam Penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Dalam perkembangan selanjutnya Persimu menjadi lebih dikenal sebagai alat indoktrinasi dalam penataran P-4 pada zaman Orde Baru. Akibatnya, seiring dengan runtuhnya rezim Orde Baru dan surutnya program Penataran P-4, Persimu terkena dampak ikutan turut surut dan seperti tidak dikenal lagi pada era reformasi. Padahal secara substantif Persimu adalah metode pembelajaran yang steril dari kepentingan politik maupun kepentingan apapun lainnya kecuali kepentingan pembelajaran dan pendidikan. Ketika digunakan secara masif sebagai metode penataran P-4 di zaman Orde Baru, Persimu mengalami distorsi konsep, distorsi sejarah, dan distorsi aplikasi di lapangan.

Dalam rangka menyambut Lustrum UM ke-12 tahun 2014, invensi Persimu dan ketokohan Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed., pantas untuk dipentaskan kembali khususnya peran beliau dalam mengkreasikan metode permainan simulasi, dan peran beliau dalam ikut mengelola UM menuju kebesarannya. Secara akademik risalah ini ditulis dimaksudkan untuk mengingatkan kembali tentang roh Persimu sebagai metode pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran orang dewasa dan masyarakat dan sosok Pak Saleh sebagai aktor utama invensi Persimu beserta prestasi menajerial beliau untuk menjadi inspirasi bagi generasi penerusnya.

Ulasan ini juga terkandung maksud sebagai upaya meluruskan konsepsi teoritik, prinsip, dan sedikit sejarah kelahiran Persimu di Indonesia; di mana pada saat itu Persimu telah mulai mengalami distorsi, khususnya dalam hal pola penerapannya di lapangan maupun aspek sejarahannya. Pada saat itu, ada beberapa pihak yang menulis dan menerbitkan buku atau memberikan penjelasan tentang Persimu dengan mengabaikan fakta-fakta sejarah kelahiran maupun mengabaikan nilai normatif yang terkandung dalam Persimu itu sendiri. Dengan demikian, jati diri dan sejarah kelahiran Persimu yang sempat bias dapat diluruskan kembali, sehingga praktik Persimu yang tidak taat azas dapat dikoreksi. Hal ini juga berarti menegakkan citra Universitas Negeri Malang (UM) sebagai lembaga yang turut andil besar dalam mengembangkan metode Persimu. Pada saat ini, Persimu sudah sangat jarang dimainkan atau digunakan baik dalam konteks pembelajaran masyarakat (pendidikan nonformal dan informal) maupun dalam konteks persekolahan (pendidikan formal).

Pada zaman Orde Baru, secara kuantitatif penyebarannya Persimu sebagai suatu inovasi metode pembelajaran masyarakat mengalami peningkatan yang sangat pesat. Agar tidak menyimpang dari roh epistemologinya, upaya peningkatan desiminasi inovasi yang meluas ini tidak mudah pengendaliannya. Hal ini wajar terjadi, lebih-lebih bila para “pengendali” Persimu di lapangan kurang memahami filosofi, teori, konsep, dan prinsip-prinsip yang mendasari invensi dan inovasi lahirnya metode pembelajaran di Indonesia. Umumnya yang mereka tahu hanya bentuk konkretnya saja, sedangkan hal-hal di balik “beberan, kartu, dan kubus langkah Persimu” tersebut tidak diketahui secara jelas.

KILASAN SEJARAH DAN KOTEKS INOVASINYA

Sejarah Persimu di Indonesia dimulai sejak tahun 1974/1975, berawal dari kebijakan Rektor IKIP Malang waktu itu bapak Drs. M. Rosjidan, M. A. yang berkehendak mengakselerasikan tridharma perguruan tinggi di institut yang dipimpinnya. Tridharma perguruan tinggi merupakan merupakan tugas pokok yang harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang, artinya ketiga tugas itu harus ditumbuhkan bersama-sama walaupun mungkin intensitasnya yang berbeda sesuai dengan prioritas berdasarkan sumber dan kendala yang ada. Rektor berpandangan bahwa peningkatan bidang pendidikan dan pengajaran tidak terlepas dari peningkatan kemampuan tenaga pengajarannya, bukan saja di bidang ilmu pengetahuannya melainkan juga bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Kekayaan pengalaman tenaga pengajar pada kedua bidang tersebut akan memperbaiki mutu pengajarannya karena materi pengajaran yang terpadu dengan pengalaman lapangan akan menjadi sajian segar dan menarik.

Menyadari pentingnya penelitian dan pengabdian pada masyarakat maka pada tahun 1974 s.d. 1978, salah satu langkah manajerial yang diambil adalah dijalinnya hubungan kerjasama antara IKIP Malang dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan (BP-3K) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk mencari dan mengembangkan metode pendidikan kepada masyarakat yang efektif dan efisien. Melalui jalinan kerjasama tersebut rektor memberikan dorongan kepada staf pengajar baik senior maupun junior untuk aktif mengadakan penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

“Pada awal tahun 1975 saya selaku pimpinan IKIP Malang menugasi saudara Drs. M. Saleh Marzuki untuk memimpin percobaan permainan simulasi sebagai tindak lanjut seminar pendidikan nonformal di Ujung Pandang dan Batu dalam rangka mencari metode yang tepat guna, yaitu yang murah, mudah, luwes dan dapat menjangkau dengan cepat sasaran didik dalam jumlah besar atau secara massal. Kepadanya saya tugaskan juga untuk membentuk tim dengan cara memadukan tenaga dari IKIP Malang dan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Tim yang dibentuk pada waktu itu terdiri atas 4 orang dari IKIP Malang dan 5 orang dari Pemerintah Daerah, yang kemudian dikenal dengan Tim Tujuh” (Marzuki, 1988: viii).

Demikianlah kutipan kata sambutan Pak Rosjidan selaku Rektor IKIP Malang pada penerbitan buku Permainan Simulasi di Indonesia (Marzuki, 1988).

Sejarah invensi dan perkembangan Persimu dapat dipilah menjadi lima episode, yaitu: (1) tahap permulaan gagasan (2) tahap pengembangan model (3) tahap ujicoba (4) tahap diseminasi (5) tahap kulminasi dan (6) tahap distorsi.

Tahap Permulaan Gagasan. Persimu berangkat dari suatu kebutuhan terhadap perlunya mencari cara baru dalam bidang pendidikan nonformal di Indonesia, karena cara-cara yang bersifat konvensional tidak akan mampu mengatasi pendidikan secara luas atau masal kepada masyarakat. Adalah lembaga Pusat Inovasi dan Teknologi Pendidikan (Innotech), Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta yang pada saat itu tengah mencari cara atau metode baru yang efektif dan efisien dalam membelajarkan orang dewasa untuk berbagai tujuan dan kegiatan yang berkaitan dengan meningkatkan kecerdasan, perilaku dan kebiasaan hidup yang lebih baik, atau dengan kata lain pendidikan untuk pembangunan masyarakat. Dalam ciri yang lebih konkret, metode belajar yang dicari adalah metode yang mudah digunakan dan diproduksi, murah harga dan biaya penyelenggaraannya, penggunaannya luwes namun tujuan pengajaran dan pendidikannya tetap tercapai dengan baik.

Pada saat mencari alternatif pemecahan masalah-masalah pendidikan tersebut, BP-3K menjalin kerjasama dengan University of Massachusetts dan memperoleh bantuan dua orang konsultan, yaitu Prof. Dr. David R. Evan dan Dr. Arlen Etling. Beliau berdua menawarkan sejumlah pengalamannya beberapa tahun terakhir di Amerika Latin, diantaranya di Ekuador dalam bidang pengembangan bahan belajar untuk pendidikan nonformal, dengan harapan barang kali ada di antaranya yang dapat diterapkan atau diadaptasikan di Indonesia. Dengan kedatangan dua orang tersebut diskusi-diskusi mencari alternatif pendidikan yang bersifat massal dan tepat guna semakin intensif dan menarik. Berbagai model metode pembelajaran yang sempat ditimbang dalam diskusi menjadi alternatif solusi adalah fluency game (permainan lancar), self expression game (permainan ekspresi diri), dan simulation game (permainan simulasi).

Pak Saleh bersama Drh. Budihardjo (dari UGM) selaku counter part BP-3K dengan memanfaatkan dan belajar pada konsultan dari University of Massachusetts mengadakan analisis baik menyangkut analisis budaya, analisis individu (individual analysis) maupun analisis kemasyarakatan (social analysis) guna mengadaptasikan berbagai bentuk teknik belajar yang mereka perkenalkan dengan situasi masyarakat kita di Indonesia. Dengan demikian, penyesuaian ketiga macam teknik belajar tersebut mutlak diperlukan. Untuk itulah respon masyarakat terhadap penggunaan ketiganya perlu dipelajari dengan seksama. Seminar untuk mencari masukan- masukan dalam rangka mencari alternatif yang terbaik telah dilaksanakan masing- masing dua kali di Ujung Pandang dan dua kali di Malang pada akhir 1974 dan awal tahun 1975.

Tahapan Pengembangan Model. Pengkajian gagasan terjadi pada akhir tahun 1974 dan awal 1975 yang ditandai dengan penyelenggaraan seminar atau lokakarya pendidikan nonformal yang pertama untuk mematangkan ide mencari alternatif-alternatif pendidikan kepada masyarakat. Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai pelaksana lokakarya tersebut menyambut baik niat Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Lokakarya dipimpin oleh Drs. Soemitro yang bertindak sebagai Kepala Pusat Inovasi dan Teknologi, Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Hadir pada lokakarya itu dua orang konsultan dari USA yaitu Dr. David Evans dan Dr. Net Cooletta. Hasil lokakarya menyimpulkan bahwa berbagai metode nontradisional yang diperkenalkan oleh konsultan-konsultan itu masih perlu dikaji lebih lanjut untuk dapat dikembangkan di Indonesia.

Lokakarya pertama ini sampai pada kesimpulan bahwa metode-metode itu perlu dikaji lebih lanjut dan apabila mungkin akan dipergunakan sebagai metode yang dapat melengkapi metode yang selama ini telah biasa dilakukan oleh Badan Pengembangan Pendidikan Kabupaten (BAPPENKAB) Malang.

Tiga bulan kemudian yaitu pada Minggu ketiga bulan Januari (21 s.d. 23 Januari 1975) pengkajian dilanjutkan. Lokakarya kedua diadakan di Ujung Pandang. Berbeda dengan lokakarya pertama di mana kesempatan-kesempatan yang dicapai masih berupa ide-ide maka yang kedua ini sudah membicarakan bentuk konkret yang akan dilakukan. Bentuk metode yang akan dilakukan di Indonesia dan wujudnya permainannya masih perlu dibuat. Untuk menyiapkan lokakarya di Ujung Pandang inilah bapak Budihardjo, Etling, dan pak Saleh berangkat ke Ujung Pandang untuk membuat bahan belajar secara konkret. Masukan yang akan dibicarakan pada lokakarya ini adalah beberapa alternatif metode yang sudah siap untuk diperagakan di muka peserta.

Pada kesempatan lokakarya tersebut, para peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk mencoba menciptakan alat-alat, bahan-bahan maupun metode-metode yang bersumber dari permainan rakyat. Pada pembukaan lokakarya dipergunakan beberapa permainan yang sempat disiapkan sebelumnya oleh para penyaji. Drh. Budihardjo mendemonstrasikan Simulasi Gotong Royong, Arlen Etling memperagakan berbagai macam fluency game dan self expression game. Pak Saleh memperagakan Permainan Simulasi Bintang Anda.

Permainan Simulasi Bintang Anda terus dikembangkan oleh Pak Saleh bersama beberapa orang temannya di IKIP Malang dengan percobaan di Malang. Permainan Bintang Anda merupakan adaptasi dari Bario Game. Adaptasi ini dikemukakan oleh Dr. Arlen Etling konsultan dari University of Massachusetts. dalam bukunya yang berjudul “Collaboration for Materials Development” sebagai berikut:

By the opening, of the workshop Saleh had adapted the Bario Game. His Game became “Bintang Anda” meaning your star or your fortune. It focused on decisions necessary to cope with Indonesia Village life. (Etling, 1977: 16).

Permainan ini diberi nama Permainan Simulasi Bintang Anda untuk memberikan nama kepada berbagai macam permainan simulasi yang dikenal di dunia pendidikan. Perlu dijelaskan di sini bahwa nama Simulasi Bintang Anda setelah percobaan di Malang, masyarakat lebih senang meringkas nama itu menjadi Permainan Simulasi, sehingga istilah Bintang Anda menjadi kabur dan hilang. Bagi orang awam tentunya tidak menjadi soal, namun bagi para pendidik akan bertanya lagi, misalnya. simulasi yang mana.

Nama Bintang Anda pada permainan simulasi ini bukanlah suatu kebetulan melainkan melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertama, bahwa kejadian- kejadian yang dihadapi seseorang sepenuhnya atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa, namun demikian proses timbulnya tidak lepas dari perbuatan manusia sendiri, tidak sedikit kejadian yang menimpa diri seseorang adalah akibat dari pada kesalahan-kesalahan tangan manusia itu sendiri yang kemudian kurang disadarinya. Oleh karena itu, pesan-pesan dalam permainan simulasi merupakan gambaran kejadian dan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, maka tepatlah jika nasib mereka kadang-kadang karena hasil perbuatan sendiri. Kedua, bahwa nasib seseorang sebagian di antaranya dapat dikendalikan oleh orang yang bersangkutan. Jika ia mengalami kejadian yang kurang menguntungkan, boleh jadi hal tersebut karena kealpaannya sendiri. Misalnya jika seseorang mengalami sakit perut dan diare bisa saja karena kecerobohannya sendiri dalam cara makan dan minum yang kurang sehat. Itulah sebabnya kita perlu mengajarkan bagaimana cara mengendalikan diri dan lingkungannya secara lebih baik, sehingga terhindar dari kejadian yang tidak menguntungkan. Ketiga, bahwa “bintang”, di samping dapat ditafsirkan sebagai kekuatan Tuhan yang Maha Esa, sebagaimana lambang pada Garuda Pancasila, dapat pula ditafsirkan sebagai nasib dan kesempatan. Apa yang terjadi pada diri kita sebagian karena kita tidak memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Banyak orang berhasil karena mempunyai kesempatan dan pandai menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, begitu juga sebaiknya banyak yang mengalami kegagalan karena tidak memiliki dan tidak pandai menggunakannya.

Di antara permainan yang disajikan pada Lokakarya di Ujung Pandang ini, Permainan Simulasi Bintang Anda merupakan permainan yang lebih sederhana dan mudah dimainkan. Pada waktu peragaan di muka pejabat-pejabat Provinsi Sulawesi Selatan yaitu setelah Lokakarya, Permainan Bintang Anda yang berjudul Keluarga Berencana mendapat sambutan yang baik dari mereka. Warga masyarakat diajak untuk mencoba memainkannya sehingga mereka dapat merasakan dan menghayati permainan simulasi Bintang Anda tersebut. Permainan Bintang Anda untuk Keluarga Berencana dibuat khusus untuk peragaan di depan pejabat karena Simulasi yang diperagakan pada saat Lokakarya yang berjudul Keluarga Besar kurang sesuai atau dirasakan kurang menarik perhatian mereka.

Bermodal keberhasilan uji coba di Ujung Pandang, langkah pengembangan model dilanjutnya secara lebih intensif di Malang dengan dukungan kerjasama dengan BP-3K dan Pemerintah Kabupaten Malang. Pada bulan Januari 1975 diselenggarakan di Malang, untuk menjajakan ide dan contoh-contoh permainan ala Indonesia, yang sesungguhnya merupakan pengulangan saja. Sama halnya dengan di Ujung Pandang Lokakarya ini diprakarsai oleh BP-3K dan IKIP Malang sebagai tuan rumah. Lokakarya mengambil tempat di Selecta, Batu Malang. Acara Lokakarya persis dengan yang di Ujung Pandang. Tujuan utamanya adalah menjajakan ide dan teknik baru, serta ingin mengetahui reaksi para pejabat terhadapnya. Lokakarya diikuti oleh unsur-unsur IKIP Malang, IKIP Surabaya, Universitas Jember, Pemerintah Daerah Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Bidang Penmas Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur, Pendidikan Masyarakat Kota Madya dan Kabupaten Malang.

Tahap Ekperimentasi. Kegiatan berlangsung antara tahun 1975-1976 dan terbagi menjadi dua fase yaitu fase uji coba dan fase desiminasi terbatas. Setelah selesai lokakarya di Selecta Malang masing-masing peserta diharapkan mengadakan uji coba berbagai macam permainan yang pernah didemonstrasikan pada saat lokakarya. Peserta dari instansi pemerintah diperkirakan sulit untuk mengadakan uji coba karena alasan kesibukan rutin sesuai dengan program masing-masing, mereka menganggap bahwa tugas uji coba, tugas-tugas penelitian bukan kewenangannya. Harapannya untuk mengadakan upaya uji coba adalah perguruan tinggi yang turut serta pada lokakarya pertama dan kedua baik di Ujung Pandang maupun di Malang. Perguruan tinggi yang berpartisipasi adalah IKIP Ujung Pandang, IKIP Surabaya, Universitas Jember dan IKIPMalang.

Sambutan pertama datang dari Rektor IKIP Malang Drs. M. Rosjidan, M.A. yang menginginkan agar IKIP Malang meneruskan kegiatan uji coba. Rektor IKIP Malang, menunjuk Pak Saleh menjadi ketua tim percobaan permainan simulasi. Salah satu pesan rektor adalah agar memanfaatkan kerjasama IKIP Malang dan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Suatu hal yang patut dicatat di sini adalah bahwa dana untuk uji coba permainan simulasi di Malang adalah atas usaha pimpinan IKIP Malang. Sebagai pimpinan perguruan tinggi tentunya bukanlah sekedar mencarikan dana melainkan mengadakan pengarahan-pengarahan dan pemantauan pelaksanaannya. Tanpa ada pimpinan lembaga yang berkemauan keras untuk mengembangkannya, barangkali Permainan Simulasi tidak akan terwujud seperti sekarang ini.

IKIP Malang dan Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Malang memang sudah memiliki wadah kerjasama yaitu Badan Pembinaan Pendidikan Kabupaten (Bapenkab) Malang yang pada waktu itu diketuai oleh Drs. Kasmiran Woeryo. MA., dosen di Departemen Pendidikan Sosial FIP IKIP Malang. Sebagai salah satu realisasi kerjasama dibentuklah tim percobaan permainan simulasi yang terdiri atas unsur IKIP Malang dan unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Susunan timnya adalah Rektor IKIP Malang Drs. Rosjidan, M.A., Dekan FIP IKIP Malang Markus Pigawahi, M.Sc., dan Drs. Kasmiran Woeryo, M.A. sebagai tim pengarah/konsultan Drs. M. Saleh Marzuki sebagai Ketua Tim, Drs. Latief Ismail dan Drs. Djoko Sutarno sebagai Ketua I dan Ketua II, Drs. Basenang Siliwangi sebagai Sekretaris Tim, Laoh M. R., B.A. sebagai bendahara Tim, dan R. Sutijab, B.A. dan Sukarib sebagai anggota. Bapak Drs. Djoko Sutarno, Laoh M.R., B.A., R. Sutijab, B.A. dan Sukarib adalah pegawai di Pemda Kabupaten Malang, sedangkan nama-nama lainnya adalah dosen IKIP Malang. Dalam kegiatan lebih lanjut berhubung sesuatu hal tidak semuanya bisa aktif, sehingga lebih dikenal dengan sebutan tim tujuh, tim tujuh inilah yang aktif keluar masuk desa uji coba untuk memantau dan memantapkan jalannya uji coba.

Sebelum uji coba lapangan diselenggarakan, terlebih dahulu dilakukan uji coba terbatas dan semacam diskusi terfokus yang melibatkan mahasiswa di IKIP Malang terhadap model awal Permainan Simulasi Bintang Anda. Mahasiswa diminta memberikan masukan terhadap draf model. Selanjutnya, uji coba lapangan di Malang dilakukan di Desa Telogosari Kecamatan Ampel Gading Kabupaten Malang. Desa Telogosari ditetapkan sebagai tempat uji coba didasarkan pada kesepakatan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Beberapa alasan pemilihan yang dikemukakan antara lain Kecamatan Ampel Gading merupakan kecamatan binaan Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP), masyarakatnya relatif berpendidikan rendah, komunikasi dan transportasi relatif mudah, respons pimpinan desa cukup baik terhadap penelitian, dan mendapat restu/persetujuan pimpinan daerah. Romantika uji coba awal tidak perlu dituturkan di sini, walaupuan sesungguhnya dapat memberikan pengalaman berharga bagi mereka yang hendak berkecimpung dalam kancah pendidikan masyarakat dan penelitian sosial.

Uji coba berlangsung 6 bulan dan hasil-hasil monitoring, refleksi, dan evaluasi menjadi masukan bagi revisi demi revisi dilakukan sehingga permainan simulasi ini menghasilkan bentuk yang semakin sempurna. Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Malang H.R. Soewignyo belum juga menginginkan untuk disebarkan ke desa lain selain di Telogosari. Namun demikian, desakan masyarakat desa sekitar Telogosari sangat kuat untuk segera diizinkan menggunakan permainan simulasi. Mantri Polisi Ampel Gading (waktu itu mewakili kecamatan) sendiri belum berani mengizinkan tersebarnya permainan simulasi ke desa-desa lain. Desakan demi desakan berdatangan baik kepada tim peneliti, kepada Bappenkab, dan kepada Mantri Polisi Ampel Gading. Akhirnya, Bappenkab dan tim peneliti melaporkan kejadian itu kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Malang, untuk memohon ijin penyebarannya. Reaksi Bupati Malang sangat positif tetapi dengan syarat akan meninjau terlebih dahulu. Bagi tim peneliti tentunya kunjungan itu merupakan salah satu rangkaian kejadian penting dalam hal mana support seperti ini sangat diharapkan. Peninjauan dilaksanakan dan dengan penuh semangat pemegang keputusan ini langsung memutuskan malam itu juga supaya permainan simulasi ini ditularkan ke desa-desa sekitar Telogosari di wilayah Kecamatan Ampel Gading. Meskipun demikian Bupati menpersyaratkan agar dikendalikan dengan baik, jangan sampai berdampak negatif. Khususnya jangan sampai dimanfaatkan oleh kekuatan politik tertentu untuk kepentingan mereka atau kepentingan selain pembangunan.

Tahapan Diseminasi. Tahap ini ditandai dengan perluasan penyebaran Persimu ke beberapa wilayah Pembantu Bupati di Kabupaten Malang. Wilayah yang dimaksud adalah daerah Pembantu Bupati Bululawang dan Tumpang. Pada tahap ini diadakan pembenahan organisasi pembinaan yaitu dengan dibentuknya Satuan Tugas Pembinaan Permainan Simulasi tingkat Kabupaten dan tingkat Kecamatan. Pada tahap ini pula diadakan penilaian oleh Badan Peneliti dan Pengembangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, yaitu pada bulan Oktober 1977.

Diseminasi terus dilakukan sampai tahun 1980-an dengan wilayah diseminasi telah meliputi seluruh Kabupaten Malang. Peranan dinas-dinas dan instansi tingkat Kabupaten Malang pada masa itu mulai menonjol. Instansi yang merespon terlebih dahulu antara lain: Pendidikan Masyarakat, Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Departemen Pertanian, dan Departemen Kesehatan. Rupanya mulai terasa bahwa penyuluhan-penyuluhan yang dilakukannya betul-betul terbantu dengan adanya permainan simulasi ini.

Prestasi yang dicapai oleh tim percobaan permainan simulasi IKIP Malang dan Bappenkab Malang, di samping tersebar luasnya permainan di seluruh Kabupaten Malang, juga telah dihasilkan sejumlah petunjuk Pelaksanaan Permainan Simulasi (Juklak Persimu), berupa: (1) petunjuk umum, (2) juklak cara mengenalkan gagasan Permainan Simulasi, (3) cara melatih fasilitator, (4) cara menentukan topik dan isi, (5) cara membuat permainan simulasi, (6) cara memainkan dan berdiskusi, (7) cara membentuk dan membina kelompok belajar, (8) cara monitoring, (9) cara mempertemukan kebutuhan warga belajar dengan lembaga pelayanan, dan (10) cara menilai pelaksanaan simulasi. Terciptanya juklak-juklak tersebut atas inisiatif pusat Inovasi dan Teknologi BP-3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, lembaga ini berperan aktif sebagai promotor mulai dari awal sampai akhir.

Tahapan Kulminasi. Tahapan kulminasi adalah ketika Persimu digunakan sebagai salah satu metode penataran P-4 yang terjadi secara masif, sehingga implementasi metode Persimu menyebar ke seluruh Indonesia. Pak Saleh menyatakan bahwa penggunaan Persimu untuk penyebarluasan P-4 telah dilakukan tim pengembangan sebelum adanya keinginan BP-7 (Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Uji coba Persimu untuk pemasyarakatan P-4 telah dilakukan ketika uji coba dilakukan Desa Ketawang Kecamatan Gondanglegi. Bersamaan dengan saat penilaian lomba PKK tingkat Provinsi Jawa Timur di desa ini, maka permainan simulasi P-4 diperagakan dan disaksikan oleh yang terhormat Bapak Hari Soeharto, S.H. selaku Ketua BP-7 Jakarta Pusat. Pada awal tahun 1980 beberapa staf BP-7 Pusat Jakarta mengadakan peninjauan ke Malang dan bermaksud mempelajari kemungkinan digunakannya Permainan Simulasi untuk P-4. Dari hasil peninjauan itulah rupanya disimpulkan bahwa permainan Simulasi dapat membantu BP-7 dalam penyebarluasan P-4.

Dalam perkembangannya ternyata Simulasi P-4 cukup berhasil, efektif dan efisien sebagai media dan sarana mempercepat pemasyarakatan P-4 dan pesan-pesan pembangunan lainnya. IKIP Malang patut bangga karena permainan simulasi telah menjadi milik nasional bangsa Indonesia. Hasil eksperimentasi telah menghasilkan puluhan topik yang berkenaan dengan kegiatan pembangunan. Sesuai dengan sifatnya yang lentur, mudah, murah dan mudah diproduksi pada fase ini pengelolaan dan penyebarannya sudah menemukan polanya, sehingga pesan apa pun termasuk P-4 selama kontennya berangkat dari kejadian-kejadian masalah yang dihadapi masyarakat (community- juklak simulasi P-4. Karena pada tahapan ekperimentasi telah dihasilkan 9 juklak Persimu, maka menyusun juklak-juklak Simulasi P-4 bukan hal yang baru.

BP-7 dan BP-3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengambil inisiatif meminta tim IKIP untuk membuat juklak Permainan Simulasi P-4. Draft juklak Permainan Simulasi P-4 sebagai hasil pengalaman eksperimentasi selama lima tahun (1975-1980) kemudian disajikan pada seminar dan Lokakarya Permainan Simulasi P-4 di Pandaan, Jawa Timur.

Lesson Learn

Sebagai sebuah invensi metode pembalajaran, Persimu telah diterima dan berkembang di tengah masyarakat sebagai sebuah pilihan metode belajar yang efektif tertutama dalam membangkitkan kesadaran kritis masyarakat dan berpartisipasi dalam pembangunan. Rintisan invensi dan pengembangan Persimu sekaligus merupakan contoh implementasi pendekatan penelitian yang sekarang dikenal sebagai penelitian tindakan (action research) di Indonsia, di mana ada kolaborasi antara pejabat selaku penguasa wilayah yang mengambil keputusan, akademisi dari perguruan tinggi yang mengembangkan pilihan-pilihan model, dan praktisi pendidikan masyarakat yang mengimplemembtasikan keputusan di lapangan.

Bukan itu saja, proses penemuan Persimu juga memberikan inspirasi tentang pengembangan jaringan kerja perguruan tinggi dengan mitra kerja yang dibutuhkan untuk aktualisasi komponen Tri Dharma Perguruan Tinggi yang saling terkait, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat secara integral, padu, sinergis, koheren, dan produktif. Kita bisa melihat bagaimana Pak Saleh sebagai akademisi di perguruan tinggi memiliki komitmen yang jernih tentang kebodohan dan keterbelakangan sebagai masalah yang mengancam harkat kemanusiaan. Inilah panggilan jiwa seorang pendidik sejati, yaitu alasan memberantas kebodohan dan keterbelakangan menuju terwujudnya manusia paripurna (insan kamil) yang cerdas dan masyarakat adil makmur. Model kerjasama inilah yang semakin disadari sebagai strategi dalam pengembangkan ilmu sosial, pembangunan, dan pendidikan masyarakat.

Pelajaran lainnya adalah, betapa panjang proses penemuan rekayasa sosial (social enginering) yang perlu dilalui untuk mendapatkan sebuah pendekatan baru dan cara baru sampai dengan bentuk finalnya sebagai sebuah inovasi yang diterima di tengah masyarakat. Metode penelitian formal dengan pendekatan positivistik belum akan cukup menghasilkan temuan yang cocok dengan kebutuhan masyarakat, demikian pun dengan pendekatan penelitian naturalistik. Dalam kepentingan ini pendekatan penelitian tindakan (action research) menunjukkan relevansi dan kelayakannya bila yang dibutuhkan adalah solusi segera atas problematika nyata yang dihadapi masyarakat.

Secara imaterial Persimu adalah metode pembelajaran sebagaimana metode bermain peran (role playing), diskusi, curah pendapat, tanya jawab, demonstrasi, dan sebagainya. Pada mulanya kelahiran strategi pembelajaran ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu strategi atau lebih tepatnya teknik pembelajaran bagi orang dewasa. Dalam disiplin keilmuan pendidikan luar sekolah, membelajarkan orang dewasa berbeda asumsi, prinsip, dan caranya dengan pembelajaran bagi anak-anak dan remaja pada umumnya. Orang dewasa berbeda orientasi, tujuan, gaya, dan kapasitas belajarnya dibanding anak-anak dan remaja.

Persimu sebagai sebuah inovasi metode pembelajaran dalam pendidikan nonformal memiliki latar belakang dan alasan konseptualnya, asumsi-asumsi dan prinsip-prinsip yang melandasinya, dan prosedur operasional penerapannya di lapangan. Latar belakang terciptanya persimu sebagai alat dan metode pembelajaran masyarakat yang bersifat self instructional materials ini adalah bahwa: (1) proses belajar akan lebih berhasil dalam situasi dan suasana yang menggembirakan dan menyenangkan; (2) belajar sacara konvensional melalui ceramah, buku teks dan sejenisnya, sering dirasakan berat oleh orang dewasa; dan (3) perolehan pengalaman belajar melalui dialog, memiliki kebermaknaan dan pemahaman lebih mendalam. Mengenai hal ini persimu telah dapat memenuhi dan membuktikannya secara konkret di lapangan.

Di samping itu penggunaan Persimu sebagai alat dan metode pembelajaran masyarakat karena adanya keinginan untuk memeratakan dan memperluas jangkauan pendidikan kepada masyarakat, peningkatan taraf kualitas hidup dan kehidupannya. Pada saat Persimu dikembangkan, masih sangat banyak warga masyarakat yang sangat rendah tingkat pendidikannya, bahkan buta huruf atau lupa huruf. Bagi mereka penyuluhan pembangunan yang disampaikan melalui media cetak, lisan maupun elektronik, lebih-lebih yang menggunakan bahasa “asing” yang mereka tidak mengerti, atau bahasa Indonesia yang samar-samar mereka pahami, jelas sangat sulit mereka terima. Dengan Persimu, melalui penjelasan isi pesannya oleh fasilitator atau teman “bermain”nya siapa pun akan lebih mudah menangkap dalam situasi yang “santai” dan gayeng mereka akan terdorong untuk mengemukakan pemikiran kritisnya berdasarkan pengalaman nyata dan aspirasi yang mereka miliki.

Persimu juga merupakan jawaban atas adanya sifat–sifat takut menonjol, takut mengemukakan pendapat, pasif, skeptif, pasrah dan mengasingkan diri pada sebagian besar masyarakat pedesaan di Indonesia; padahal sikap-sikap tersebut kurang menunjang laju pembangunan nasional. Melalui latihan-latihan diskusi yang bersuasana “main-main” yang tidak menakutkan dan tidak menegangkan, yakni melalui Persimu, sikap-sikap tersebut diharapkan dapat terkikis. Dan terbukti persimu manjur mengobati kerawanan sosial itu. Terbukti kehadiran Persimu sangat manjur ketika digunakan sebagai alat dan media pembelajaran, guna menggugah kesadaran terhadap pembangunan dalam arti yang seluas-luasnya.

Ketika Persimu digunakan sebagai salah satu metode utama Penataran P-4 dan Penataran Industrial Pancasila, perkembangan persimu yang terakhir ini tidaklah dikatakan maju, bahkan bisa dinilai Persimu mengalami dekonstruksi. Bentuk konkret memang tidak banyak berubah, tetapi “semangat”-nya yang telah berbeda dari ketika dirancang dan lahir tahun 1975. Perkembangan Persimu ketika digunakan dalam penataran P-4 disamping menunjukkan hasil diseminasi inovasi yang berhasil, pada sisi lain menampakkan deklinasinya dari landasan epistemologi Persimu itu sendiri.

Penenerapan Persimu untuk P4 terjadi secara masih, merata hampir di setiap desa, bahkan ada dibentuk kelompok-kelompok pemain Persimu untuk kepentingan lomba dan untuk disuguhkan kepada para pejabat yang sedang bertamu ke desa-desa. Ada juga pimpinan desa dan wilayah yang menganggap Persimu adalah target program yang memiliki titik akhir atau tuntas. Cara bermain Persimu semakin bersifat formalitas, diformalisasi, dan birokratisasi. Untuk membuat perangkat Persimu harus ada ijin dari pejabat yang berwenang. Dengan demikian pengembangan perangkat keras Persimu cenderung menjadi kaku. Pada sisi lain kemampuan petugas teknik yang kurang memadai; kelemahan pesan; kurangya kelenturan pelaksanaan permainan; dan terjadinya aktifitas bersimulasi yang semu atau didramatisasi di beberapa desa dan instansi.

Melihat bahwa Persimu merupakan salah satu media dan metode pembelajaran, maka sudah saatnya untuk diadakan evaluasi secara sistematis untuk melihat segi-segi kelemahan praktik Persimu di lapangan semuanya demi efektivitas penyuluhan pembangunan, penyebaran dan pembudayaan P-4 khususnya, tetap menjadi harapan, bahwa Persimu mampu memenuhi fungsinya sebagai alat dan metode pembelajaran yang murah, mudah, dan massal, sehingga efektif dan efisien. Dengan sifatnya yang dapat membelajarkan sendiri dan yang lentur, Persimu akan tetap relevan dengan kebutuhan belajar seluruh lapisan masyarakat.

Untuk itulah akhirnya, menjadi tuntutan bagi para pemangku kajian kependidikan, praktisi pendidikan masyarakat, dan mereka yang memiliki komitmen terhadap pendidikan dan pengembangan masyarakat untuk menilai secara obyektif perkembangan praktik Persimu dewasa ini. Selanjutnya mengupayakan suatu reformulasi (perumusan ulang) dan melakukan pembenahan administratif dan subtantif, sehingga mekanisme pendidikan yang semula dirancang agar lentur dan self instructional tersebut dapat benar-benar terwujud dan berlangsung dinamis.

Satu catatan penting yang cukup relevan untuk dikemukakan bahwa sampai saat ini Persimu tidak memiliki atau belum diajukan hak kekayaan intelektualnya (HAKI). Situasi ini barangkali perlu menjadi perhatian pihak UM sebagai intitusi yang memiliki kebijakan awal mengekplorasi dan mengembangkan Persimu.

DOSEN BIROKRAT

Demikianlah, Pak Saleh (dan karyanya) memang perlu dikenang dan dihargai sebagai tokoh UM yang berprestasi secara akademik dan manajerial. Sebagimana telah ditulis di bagian awal, Pak Saleh dikenal sebagai sosok yang memiliki karir jabatan struktural terbanyak dan terpanjang sepanjang sejarah UM, sekaligus memiliki karir akademik yang gemilang sampai memegang jabatan fungsional Guru Besar. Di samping tugas fungsionalnya sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UM, sederet jabatan struktural pernah dijalaninya. Beliau merupakan satu-satunya dosen UM yang berpengalaman mengemban jabatan administratif sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (Biro AAK) tahun 1982-1987, sehingga pantas mendapat julukan sebagai “dosen birokrat”, karena setelah itu jabatan kepala biro selalu diemban oleh tenaga kependidikan (bukan oleh dosen lagi).

Julukan itu diperkuat dengan data demikian banyak jabatan atau tugas tambahan yang pernah diemban sepanjang karirnya sebagai dosen pegawai negeri sipil. Tercatat sejak memulai karir sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Sosial (nama lama dari Jurusan Pendidikan Luar Sekolah) FIP IKIP Malang pada tahun 1973, lebih dari sepuluh jenis jabatan struktural yang pernah diembannya di UM.

Jabatan struktural/tugas tambahan di internal UM yang pernah diemban pak Saleh adalah Sekretaris Jurusan Pendidikan Sosial (1973-1975), Ketua Jurusan Pendidikan Sosial (1975-1976 dan 1979-1980), Kepala Biro AAK (1982-1987), Sekretaris Program Studi Magister PLS, PPs (1990-2000), Kepala Pusat Pelayanan Masyarakat, LPM UM (1990-1993), Pembantu Rektor I UM (1994-1997), Dekan FIP UM (1997-1999), Pembantu Rektor I, UM (2000—2004 dan 2004—2007), Pejabat Rektor UM (2001-2002), dan Ymt. Pembantu Rektor III UM (28-05-2003 s.d. 01-09-2003). Dari sisi karir jabatan struktural ini, beliau tidak memangku jabatan struktural hanya pada masa dua tahun setelah usai menjabat Kabiro AAK, dan satu setengah tahun menjelang akhir masa tugasnya sebagai PNS.

Jabatan lain yang bersifat nonstruktural yang pernah diembannya adalah Project Director SEAMEO Regional Innotech Community Based Basic Learning Package Project, Malang Indonesia, (1978-1980). Di samping itu, ia merupakan anggota tim Pengarah Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia V (Oktober 2004), Anggota Tim Penyusun Buku Pengembangan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan Abad 21 (SPTK-2) Depdiknas (2002), Anggota Tim Penyusun Lesensi Pendidik, Ditjen Dikti, Depdiknas (2003), Anggota Tim Review Pedoman Pembelajaran Jarak Jauh, Dikti, Depdiknas (2004), dan Anggota Dewan Pakar Pendidikan Luar Sekolah Provinsi Jawa Timur (2003-2007). Anggota tim ad hoc Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk penyusunan Standar Pendidikan Nonformal yaitu Standar Isi Pendidikan Kesetaraan, (2006) dan Standar Pengelola Pendidikan Kesetaraan (2008).

Karena kesibukannya yang luar biasa sebagai pejabat struktural itulah hampir bisa dipastikan beliau kurang punya waktu untuk menyusun karya ilmiah yang dipublikasikan secara luas. Namun ternyata tidak demikian, masih cukup banyak karya ilmiah beliau yang terpublikasi dalam bentuk makalah, bahan ajar, laporan penelitian, atau artikel jurnal, baik di dalam maupun di luar negeri. Naskah- naskah karya ilmiah itulah yang telah mampu menghantarkan Pak Saleh meraih jabatan akademik puncak sebagai Guru Besar di UM pada tahun 2004.

Pak Saleh lahir tanggal 10 Juli 1944 di Pandanawu Pamekasan. Putra bapak Marzuki Puspateruna dan ibu Kutyani. Karena ibudanya wafat, Saleh kecil memiliki dua orang ibu sambung yang mengasuhnya yaitu ibu Mutiah (almarhumah) dan ibu Hj. Maisyaroh. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Negeri Bunder I, Pandanawu, Pamekasan pada tahun 1957. Pendidikan menengah ia selesaikan di Sekolah Guru B Pamekasan pada tahun 1961 dan Sekolah Guru A Pamekasan pada tahun 1964. Program sarjana jurusan jurusan Pendidikan Sosial ia selesaikan di IKIP Malang pada tahun 1971. Mendapatkan gelar Master of in Education (M.Ed.) dari University of Massachusetts, USA pada tahun 1982. Gelar guru besar dalam bidang Pendidikan Luar Sekolah ia peroleh pada tahun 2004.

Pendidikan nonformal yang pernah ia tempuh adalah (1) Inovation and Tekhnology of Educations (Manila, 1977); (2) Developing Lateracy Materials (Michigan, 1977); (3) Nonformal Education Materials Development (Michigan, 1978); (4) Rural Education and Non Formal Education (Equador, 1979); (5) English Language and Prientation Program (Boston, 1981); (6) Adult Continuting Education (Ottawa, 1981); (7) Sekolah Tinggi Staf Pemimpin Administrasi SESPA, Angkatan XIII, Lembaga Administrasi Negara (Jakarta, 1982); Training Tutor Akta 5 (Jakarta, 1983); dan Training bagi Pelatih Administrasi dan Manajemen Perguruan Tinggi (Jakarta, 1984).

Banyak buku dan model bahan belajar yang berhasil ditulis oleh Saleh Marzuki, berkaitan dengan Persimu, pendidikan nonformal, dan pengembangan paket belajar. Ia telah melakukan banyak kegiatan penelitian berkaitan dengan pembangunan masyarakat, pemanfaatan air sungai oleh masyarakat, pengembangan paket pembelajaran keaksaraan, kinerja dosen PGSD. Menyajikan makalah pada berbagai pertemuan ilmiah nasional dan internasional. Ia juga aktif dalam kegiatan pengabdian pada masyrakat. Tanda penghargaan yang ia peroleh adalah Penatar Nasional Simulasi P-4 BP7 Pusat, Penghargaan KB Lestari dari Gubernur Jawa Timur, dan Satya Lencana Karya Satya.

SUBJEKTIVITAS DAN PENGAKUAN

Sebagai penutup dan pertanggung jawaban akademik terhadap isi, perkenankan dalam kesempatan ini dikemukanan bahwa keberanian saya (penulis) menerima tugas menyusun tulisan tentang Pak Saleh sebagai bagian dari “Tokoh UM” dalam rangka Lustrum UM ke 12, dilandasi rasa hormat dan ungkapan terima kasih dari murid kepada guru yang senantiasa bersemayam dalam hati. Keberanian memberikan “opini” tentang pribadi, pikiran, dan karya beliau ini “terpaksa” saya lakukan untuk ikut menandai momentum Lustrum UM ke-12. Ungkapan pendapat ini hanyalah sebagian kecil saja dari apa yang ada pada kompleksitas pribadi Pak Saleh sebagai pribadi, kepala keluarga, sebagai dosen, dan pimpinan UM yang tidak bisa, dan tidak akan mampu saya ungkapkan seluruhnya.

Sebagian isi tulisan ini saya ambil dari dokumen cetak kertas berupa buku karya Pak Saleh berjudul Permainan Simulasi di Indonesia: Suatu Metode Belajar untuk Pembangunan Masyarakat, naskah Pidato Pengukuhan Guru Besarnya, dan sebagian yang lain adalah kesan pribadi interakasi saya dengan beliau. Demikianlah semoga paparan ini mampu menjadi bagian dari tugas menginspirasi bagi kemajuan UM ke depan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*