[...]" />

Quality Improvement in Education in Point of View of Three Country

Pembicara utama: Dr. Jennifer Pei-Ling Tan
Pembicara utama: Dr. Jennifer Pei-Ling Tan

Seminar Internasional

Setiap Negara pasti selalu ingin meningkatkan pendididkan rakyatnya ke arah yang lebih baik. Masyarakat yang memilki kecerdasan baik akan mengahasilkan produksi yang baik pula, dan pada gilirannya akan tercapai kesejahtraan masyarakat. Reformasi dibidang pendidikan merupakan salah satu Jalan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereformasi pendidikan diperlukan masukan, dan pengalaman dari negara lain yang sudah lebih dulu berhasil. Ada tiga negara rela berbagi pengalaman dengan Indonesia, khususnya FIP Universitas Negeri Malang dalam acara seminar Internasional.

Pembicara utama, Dr. Jennifer Pei-Ling Tan yang telah melakukan penelitian tentang perubahan pendidikan di Singapura selama dua puluh tahun, Dr. Maiko Kishi, dari Jepang yang bekerja di Meiji University, Mr. Sturt Weston, dari Inggris Direktur Program Prioritas, USAID. USA. Mereka menyumbangkan pemikiran ,dan pengalamannya selama melakukan penelitian maupun pengalaman kerjanya. Agar bisa menginspirasi dunia pendidikan di Indonesia.

Pola pikiran siswa sulit diubah.

Dr. Jennifer Pei-Ling Tan”, Innovasi pendidikan merupakan masalah umum, tidak hanya di Singapura, Australia, Inggris, Cina, bahkan di seluruh Dunia, yang penting bagaimana para pendidik. Mengapa kita harus berinovasi dalam dunia pendidikan?. Kita disini akan menyajikan dua kerangka kurikulum yang berlaku secara global, bagaimana mamajukan pendidikan bukan hanya untuk mementingkan angka/skor kelulusan ujian saja. Akan tetapi bagaimana kita menanamkan ketrampilan untuk menghadapi abat dua puluh satu.

Perubahan dalam pendidikan ada tiga komponen yang tidak dapat diabaikan. Komponen itu adalah keinginan orang tua (keluarga), kurikulum, guru, dan siswa. Tiga komponen ini yang sangat sulit diubah adala persepsi siswa. Siswa mempunyai pemahaman bahwa nilai/skor yang tinggi lebih bergengsi dibanding ketrapilan. Mereka beranggapan nilai akademik A misalnya, bisa menjadi jaminan akan diterima di perguruan tinggi. Hal ini lebih bergengsi dibangding dari pada yang nilai ketrampilan baik, yang ujung-ujungnya masuk di sekolah kejuruan. Sehingga siswa tidak suka menikuti ekstra kurikuler, untuk merubah pendidikan menjadi baik, jalan yang paling mudah merurikulum, dan guru.

Singapura telah menyempurnakan Kurikulum. Kurikulum baru ini berisi nilai-nilai inti yaitu empati, tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut adalah inti yang harus ditanamkan pada siswa. Ketrampilan-ketrampilan sosial, yang berisi kesadaran sosial, bagaimana mengelola hubungan baik yang baik, mengelola tanggung jawab, mengelola kesadaran diri atau mengelola diri sendiri. Nilai-nilai/hal-hal yang penting oleh Kementerian Singapor pada saat ini adalah menyiapkan ketrampilan abad dua puluh satu. Keterampilan abad 21 isi adalah berfikir kreatif kemampuan berkomunikasi, kemampuan ICT, kewarganegaraan, dan kompetensi kultural.

Keseluruhan perangkat kurikulum ini oleh Kementerian Pendidikan Singapura disebut kerangka kurikulum total yang bertujuan untuk mengeluarkan kemampuan diri siswa, rasa percaya diri, kemampuan mengarahkan diri sendiri, keaktivan, dan rasa kepedulian kepada masyarakat. Semua ini harus dicapai di dalam proses pendidikan. Semua kopetensi ini menjadi berbengsi di abad 21 ini.
Komposisi ketrampilan, dan kemampuan akademik untuk menunjang keberhasilan pekerja yang telah diadakan penelitian di Singapura basilnya adalah dua puluh persen kemapuan akademik, delapan puluh persen ketrampilan.

Tan, merekomendasi bagaimana, dan apa yang akan dilakukan dalam pendidikan, dan pembelajaran. Guru direkomendasikan tidak hanya mengejar keinginan untuk mengejar skor/nilai. Hasil penelitian terlihat ada hubungan terbalik antara skor dan kreativitas, sehingga perlu diupayakan tinggi dua-duanya.

Bahasa Inggris wajib tapi bukan prioritas

Dr. Maiko Kishi, dari Jepang bekerja di Meiji University
Dr. Maiko Kishi, dari Jepang bekerja di Meiji University

Dr. Makiko Kishi, ”Di Negeri Jepang mata pelajaran bahasa Inggris wajib, tetapi bukan prioritas. Bedasarakan pengalaman di Jepang siswa sekolah dasar diajarkan bahasa inggris dari mulai kelas satu sampai kelas sembilan, ternyata juga belum bisa berbicara dengan bahasa Inggris. Tujuan pembelajaran bahasa Ingris di jepang hanya untuk bisa menjawab ujian. Untuk itu guru dibekali bahasa Inggris dan ICT guna menyerap ilmu pengetahuan IPTEK dari luar Jepang. Guru dipacu melakukan pengayaan ilmu pengetahuan yang mencukupi, sebab gurulah yang akan menjadi fasilitator siswa dalam prose pembelajaran. Model pembelajaran sekarang memotivasi untuk memproduksi ilmu pengetahuan dalam prosesnya ini, dan penggunaan bahas Inggri sudah termasuk didalamnya.

Peningkatan pendidikan kata kuncinya adalah inovasi dalam pendidikan. Kata kunci berikutnya apa, siapa, dan bagaimana. Pembalajaran tradisional biasanya guru mempunyai pengetahuan yang luas. Murid datang dengan kepala kosong (seperti kertas putih) yang akan diisi pengetahuan oleh guru. Kemudian inovasi yang akan dimasukan disini adalah radikal Invansif and Learning. Guru dan murid bersama-sama memproduksi/menghasilkan ilmu pengetahuan. Biasanya siswa belum berpengalaman menghasilkan ilmu pengetahuan, peran guru adalam membimbing siswa bagaimana menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru. Dalam pembelajaran guru bisa mengatur kegiatan macam-macam, seperti memfasilitasi, dan mengkoordinasikan belajar.
Pendidikan dari tradisional ke Invansi and learning ini perlu perubahan. Transformasi pengajaran ini harus berubah dari siswa bersifat pasif menjadi aktif. Ada empat ciri perdidikan pertama, Guru menggunakan peralatan (laboratorium) yang ada pembelajaranya sifatnya workshop. Kedua, Guru jika bekerjasama/kolaboratif dengan siswa menggunakan VBA sifatnya bimbingan. Ketiga, Guru invansi membuat tujuan pembelajaran ini bisa menjadi workshop. Keempat, apabila siswa saja yang menentukan tujuan sendiri sifatnya isidental.

Pendidikan tidak boleh mencetak manusia robot.

Mr. Sturt Weston, dari Inggris Direktur Program Prioritas, USAID. USA.
Mr. Sturt Weston, dari Inggris Direktur Program Prioritas, USAID. USA.

Mr. Sturt Weston memaparkan, Sebenarnya untuk apa mendidikan anak, jaman dulu hafalan saja sudah pintar, akan tetapi ke depan mengajarkan dunia yang belum diketahui. Pada zaman dulu belum banyak mobil dan sekarang berkembang pesat dengan teknologi yang canggih Dua puluh atau tiga tahun kedepan anak kita harus apa, harus mampu apa oleh kerena itu. Pikiran anak kita harus disiapkan berkembang terus, bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang belum pernah diketahui atau dialami. Oleh kerena itu kita tidak mencetak robot, tetapi mencetak orang yang pintar mampu berkembang sendiri.

Fokus kita meningkatan proses pembelajaran jadi menarik dan efektif, terutama mata pelajaran membaca tulis, matematika, dan sains. Meningkatkan pembelajaran harus mendapat dukungan pemerintah daerah, khusus dalam hal mencukupi alokasi guru di setiap sekolah. Pemerintah harus kreatif dalam penempatan guru sesuai kemampuan, dan kebutuhan.

Selanjutannya LPTK kedepan sangat penting, kalu program yang lama sebatas guru pada program jabatan. Keterbibatan LPTK sangat penting supaya guru-guru mau mengajar di sekolah sudah menguasai teknik pembelajaran. Guru sudah memahami pembelajaran berbasis sekolah, dan ciri-ciri pembelajaran problem solving.

Ciri-ciri proses perubahan dalam pendidikan yakni, ciri-ciri perubahan guru yang biasanya jadi penceramah menjadi fasilitator, merancang kegiatan kegiatan yang merangsang anak untuk berfikir dengan cara mengajak siswa untuk memecahkan masalah melalui diskusi. Selanjutnya ada pameran hasil karya untuk menghargai karya siswa. Dengan demikian sumber belajar menjadi beragam tidak hanya bersumber dari guru, tetapi siswa juga mampu menjadi peran dalam pembelajaran. Guru sebagai fasilitator harus cakap menggunakan media pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang berkreasi, berinovasi mengembangkan kecakapan hidup sehari-hari. Seperti cara siswa memecahkan masalah, berpikir kooperatif, dan kemampuan menghasilkan suatu karya. Inilah yang dimaksud memdidik siswa bukan mencetak robot. (bud)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*