Select Page

Sebagian besar pemuda Indonesia lebih suka menikmati suasana yang aman dan nyaman (comfort zone), dimana sebuah situasi yang mapan dan aman secara psikis. Konsekuensi dari keadaan tersebut pemuda enggan berubah secara sosial. Kepekaan terhadap keadaan lingkungan sekitar menjadi rendah bahkan mereka cenderung berpikir pasif (passive mindset). Pola ini membelenggu pemuda pada tataran pemikiran yang statis. Alhasil orang- orang yang mempunyai minset dinamislah yang mampu menembus kesuksesan.

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa peran pemuda dalam perubahan terbukti mampu membawa bangsa dan negara lebih baik. momentum lahirnya organisasi perjuangan Budi Utomopada tahun 1925 memberikan inspirasi bagi pergerakan nasional yang dipelopori oleh Soetomo, Gunawan, Suwarno dkk. Demikian pula sosok Tirta Adisuryo dan Kartini yang meretas perjuangan dengan cara modern sebelum organisasi Budi utomo didirikan. Para pelajar dikala itu berhasil membawa obor perubahan serta menjadi pembimbing masyarakat nusantara memasuki perjuangan dalam dunia yang baru. Itulah ringkasan paparan pandangan Prof. Dr. Hariyono, M.Pd.

jiwa muda motor perubahan

Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., memberikan pengarahan dalam Semanar jiwa muda motor perubahan di Gedung Sasbud UM

Dr. Abdul Wahid, S.S., M.Phil., menyambung bahwa pemuda memiliki tempat yang spesial dalam memori kolektif bangsa dalam histeriografi nasional Indonesia. Jejak dan kiprah pemuda dipanggung sejarah tercatat dengan tinta emas dan diingat dengan keagungan. Semua itu berkat kontribusi dan keterlibatan mereka dihampir semua episode penting perjalanan bangsa Indonesia sejak periode kemerdekaan mutakhir sebagai kekuatan pedobrak kejumudan sosial politik dan kekuatan perubahan sosial-revolusioner.

Saat sekarang ini Indonesia diuntungkan dengan bonus demografi. Dimana suatu kondisi usia muda lebih dominan daripada usia tua. Hal ini menjadi sesuatu yang positif bagi bangsa. Keadaan ini bisa dimanfaatkan sebagai penggerak usia muda dalam percepatan pertumbuhan ekonomi, pembelajaran politik dan sosial. Bangsa Indonesia bisa mengarahkan populasi pemuda ini sebagai tolok kebangkitan dalam semangat kemandirian, optimisme dan wawasan keterbukaan.

Selain itu Daya Negeri Wijaya, S.Pd., M.A menyampaikan bahwa pemuda yang tidak mengenal dan tidak mau belajar tentang sejarah adalah sebuah kemunduran. Sejarah telah merekonstruksi kejadian-kejadian masa lalu yang dapat dijadikan pembelajaran. Masa lalu tidak bisa berulang, tetapi bisa terjadi kembali dengan waktu, tempat, dan situasi yang berbeda. Sejarah merupakan disiplin ilmu yang mengakumulasi pengetahuan yang bersumber pada kejadian masa sebelumnya, sehingga perlu untuk diketahui oleh pewaris bangsa ini.

Itulah pemaparan para narasumber yang hadir diantara 188 peserta seminar pada 6 April 2015. Seminar yang dimotori oleh Yeni Ananingsih tersebut mengusung tema Pemuda dan Sejarah Indonesia dalam Perspektif Politik, Pendidikan dan Sosial-Ekonomi dan mengundang tiga sejarawan yaitu Prof. Dr. Hariyono, M.Pd selaku Guru Besar Pendidikan Sejarah UM yang sekaligus sebagai Wakil Rektor I UM, Dr. Abdul Wahid, S.S., M.Phil dosen Sejarah Universitas Gajah Mada (UGM) dan Daya Negeri Wijaya, S.Pd., M.A Sejarawan UM. Acara dibuka pukul 08.00 WIB oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd. Dalam sambutan pembukaannya Sumarmi menyampaikan pesan bagi peserta seminar yang sebagian besar merupakan mahasiswa Jurusan Sejarah untuk menjadi bagian dari perubahan bangsa Indonesia ke arah lebih baik. kegiatan yang berlangsung di Gedung Sasana Budaya UM tersebut berakhir pada pukul 14.30 WIB. (Har)