Select Page

Universitas Negeri Malang (UM) bekerjasama dengan ARA Indonesia Institute dan keluarga Besar Mas Isman mengadakan seminar umum dalam rangka pengusulan Mas Isman sebagai pahlawan Nasional Republik Indonesia. Seminar yang bertemakan peran, ide, dan gagasan Mas Isman dalam transformasi sosial pemuda melalui perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia ini dilaksanakan pada hari Kamis, 2 April 2015 bertempat di Aula Utama Gedung A3 lantai 2 UM.

Rektor UM Prof, Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd hadir dalam pembukaan  seminar bersama sejumlah pejabat di lingkungan UM, antara lain Wakil Rektor I Prof. Dr. Hariyono, M.Pd, Wakil Rektor IV  Dr. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed., Dekan FIP Prof. Dr. Bambang Budi W, M.Pd, Dekan FIS  Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, Dekan FIK Prof. Dr. M.E. Winarno, M.Pd,. Turut pula hadir dalam kegiatan seminar ini Bapak Joko Yuniarto perwakilan MGMP IPS SMP Kota Malang, Bapak Angga Sulaiman, SIP, MAP yang merupakan anak bungsu Mas Isman.

Prof. Rofi’uddin dalam sambutannya menyampaikan “kalau kita mencoba melihat generasi muda saat ini, jangankan menghargai pahlawan, nama pahlawan di Indonesia saja banyak yang  tidak tahu. Mereka lebih hafal dengan tokoh super hero fiksi yang berkembang. Generasi muda sekarang telah banyak lupa dengan kiprah pahlawan bangsa yang selama ini membela nusa dan bangsa segenap raganya” jelasnya. Hal ini merupakan tantangan kita semua dalam ikut mengedukasi generasi muda saat ini untuk mengenal dan lebih menghormati kepahlawanan yang ada. UM merasa bangga dengan diadakannya seminar umum ini, selain ikut memperjuangkan status pahlawan Nasional bagi Mas Isman yang juga merupakan mantan komandan pasukan TRIP, UM juga dapat mengenalkan sejarah kepahlawanan mantan komandan pasukan Trip dalam melawan penjajahan Belanda.

Tantangan saat ini yang kita hadapi tentu berbeda jauh dengan tantangan yang harus dihadapi Mas Isman saat era penjajahan. “Kalau dulu kita harus berjuang keras membela negara demi kemerdekaan dari penjajah, saat ini para pemuda menghadapi tantangan dalam melawan penjajahan ideoligi, dan radikalisme yang berkembang di tengah masyarakat saat ini” urainya.

Angga Sulaiman salah seorang pemateri dalam seminar ini yang merupakan anak bungsu Mas Isman memaparkan sepak terjang Mas Isman dalam usahanya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.Menurut catatan sejarahnya  berbagai bintang jasa selama masa kemerdekaan, ide dan gagasan yang dimunculkan sudah sangat cukup untuk menjadikan Mas Isman masuk dalam deretan Pahlawan Nasional. “Perjuangan, ide, dan gagasan yang telah diusung Mas Isman dapat digunakan sebagai pedoman bagi generasi muda saat ini khususnya mahasiswa UM dalam memperjuangkan kehidupannya” jelasnya.

Perjuangan Mas Isman sebagai inisiator dan komandan  dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa timur saat itu benar-benar heroik. Mas Isman selalu mengikuti perkembangan TNI dan situasi politik saat itu. Sepak terjang Mas Isman saat perang kemerdekaan bersama rekan-rekannya dalam mempersiapkan perjuangan jangka panjang patut diacungi jempol. Mas Isman membentuk People Defense yang memiliki kedekatan makna dengan konsep Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (PKRS) yang memiliki tujuan untuk mengikutsertakan seluruh anggota masyarakat dalam mempertahankan kesatuan Negara Republik Indonesia. Pasca kemerdekaan Mas Isman telah berkontribusi dalam pendirian Koperasi Simpan Pinjam Gotong Royong  yang biasa dikenal masyarakat dengan nama Kosgoro. Mas Isman juga berkesempatan menjadi delegasi RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1959-1960 dan 1960-1964.

Menurut Prof. Hariyono dalam materinya disampaikan bahwa letak penting dari perlawanan Mas Isman pada saat perang bukan pada jumlah korban dari pihak sekutu atau Belanda yang berhasil dibunuh, melainkan perlawanan TRIP yang dipimpin Mas Isman lebih pada nilai simbolik perjuangannya yang tidak kenal lelah serta kemampuannya melakukan perjuangan sesuai tantangan zamannya. Keberanian, sikap peduli dengan nasib bangsa serta rela berkorban yang dilakukan TRIP menjadi salah satu pemantik tumbuh kembangnya nilai-nilai patriotisme dan heroisme. Sikap pimpinan yang rela berkorban demi kepentingan bangsa itulah yang saat ini sulit ditemukan. Demikian pula sikap dan keberanian menantang pasukan Belanda yang kuat secara terang-terangan mencerminkan keteguhan hati sekaligus pribadi yang bukan hipokrit atau munafik.

Perjuangan yang mampu memberi inspirasi sekaligus keteladanan sebagaimana dilakukan Mas Isman didasari oleh kompetensi dan integritas. Mereka selalu meningkatkan kompetensi untuk terus mempertajam visi dan memperdalam komitmen untuk merealisasi perjuangan. Rasa tanggung jawab moral dan sosial terhadap nasib bangsa dan negara mendorong penguatan kualitas pribadi yang tinggi. Sikap rela berkorban tersebut dilakukan Mas Isman untuk kepentingan  yang lebih besar diatas kepentingan pribadinya.

Dan tentu kita sebagai bangsa besar sangat perlu menghormati jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa ini dari tangan penjajah. Salah satu yang perlu dihormati adalah Mas Isman. Mas Isman memang belum ditetapkan secara resmi sebagai pahlawan, namun bagi mereka yang pernah dekat dan tahu perjuangan Mas Isman, sosok Mas Isman sudah dianggap sebagai seorang pahlawan. “Sekedar menghormati jasa pahlawan tidak akan membawa kemajuan bangsa kedepan tanpa ada generasi muda yang memiliki cita-cita dan jiwa besar. Sudah saatnya kita semua membangun energi positif guna mendorong munculnya generasi muda yang lebih tangguh dan cerdas dalam menghadapi tantangan bangsa Indonesia” urai WR I di akhir paparan materi.(Ksr)