Kanker serviks atau yang disebut juga kanker mulut rahim merupakan keganasan pada perempuan terbesar ke-dua di seluruh dunia. Survei yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) menemukan sekitar 500.000 kasus baru per tahun, sedangkan di Indonesia diperoleh data 20 – 24 kasus kanker mulut rahim terjadi setiap tahunnya. Kanker mulut rahim telah bertanggung jawab terhadap 274.000 kematian dan merupakan penyebab kematian perempuan terbesar ke tiga. Laju kematian kanker mulut rahim di Eropa sebesar 5,9 dari 100.000 perempuan per tahunnya, sedangkan di negara yang sedang berkembang laju kematiannya meningkat sepuluh kali lipat.
Pada tahap awal umumnya kanker mulut rahim tidak menunjukkan gejala yang khas. Infeksi HPV pada mulut rahim membutuhkan waktu 10-20 tahun untuk menimbulkan gejala-gejala nyata dari kanker mulut rahim. Baru pada tahap lanjut dapat muncul gejala seperti peradangan vagina yang tidak normal, keputihan berbau busuk, nyeri panggul, dan nyeri pada saat senggama. Usia rata-rata pasien kanker mulut rahim berkisar antara 30-50 tahun, meskipun beberapa tahun terakhir dijumpai beberapa kasus berusia di bawah 30 tahun. Berdasar studi epidemilogis 90% kanker mulut rahim disebabkan oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV). HPV adalah virus yang paling sering dijumpai pada penyakit menular seksual dan diduga berperan dalam proses terjadinya kanker. Terdapat sekitar 130 tipe HPV yang telah berhasil diidentivikasi dan lebih dari 40 HPV menginveksi area genital laki-laki dan perempuan.
Pada tahap pre-kanker pencegahan dapat dilakukan dengan cara skrining atau penapisan pre-kanker mulut rahim. Apabila ditemukan lesi pre-kanker maka akan dilanjutkan dengan pengobatan, sedangkan apabila tidak ditemukan maka dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan primer. Di Indonesia hanya lima persen populasi perempuan yang melakukan skrining kanker mulut rahim, dan hampir 76,6 persen pasien ketika terdeteksi sudah memasuki stadium lanjut. Skrining dapat dilakukan dengan melakukan tes pap smear (5) dan juga inspeksi visual asam asetat (Tes IVA). Di negara berkembang penggunanaan secara luas program pengamatan leher rahim mengurangi insiden kanker rahim yang invasif hampir 50% atau lebih.
Selain menggunakan tes pap smear dan tes IVA pencegahan dapat dilakukan pula dengan pencegahan primer, antara lain dengan berperilaku seksual yang sehat, tidak berhubungan seksual diluar nikah, tidak merokok, dan melakukan vaksinasi kanker mulut rahim. Vaksinasi HPV mengurangi resiko terkena kanker serviks 70-80%, sehingga paptest rutin pasca vaksinasi HPV tetap dianjurkan karena 20-30% resiko yang tidak dapat dicegah oleh vaksinasi ini harus tetap dipantau melalui prosedur pap smear. Pengobatan kanker mulut rahim memiliki peluang sebesar 90% untuk disembuhkan jika telah diketahui secara dini. Jika kanker timbul di usia masih dini tidak segera diobati, maka akan cepat menyebar ke jaringan di sekitarnya dan peluang untuk kesembuhannya tinggal 65%. Adapun standar pengobatan kanker serviks meliputi operasi, radioterapi, dan kemoterapi.
Paparan yang disampaikan oleh dr. Nugrahanti Prasetyorini, SpOGK ini disampaikan dalam Seminar Deteksi dan Pencegahan Kanker Serviks yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita UM. Kegiatan seminar yang diadakan dalam rangka memperingati hari kartini tahun 2015 ini bertempat di Gedung Sasana Budaya UM pada hari Kamis, 23 April 2015 mulai pukul 07-30 – 11.30 WIB.
Hadir dalam kesempatan ini Wakil Rektor I Prof. Dr. Hariyono, M.Pd, Wakil Rektor II Prof. Dr. Wahjoedi, M.E., Wakil Rektor IV Dr. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed., Dekan FE UM Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si, Dekan FIK UM Prof. Dr. M.E. Winarno, M.Pd., Dekan FIS UM Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, Ketua Dharma Wanita UM Ibu Faridah H. Rofi’uddin, S.Pd., M.Pd, dan seluruh undangan.
Ibu Faridah Rofi’uddin dalam sambutannya dihadapan ratusan undangan yang hadir menyampaikan bahwa kegiatan yang terselenggara merupakan bagian dalam rangka mengenang dan memperingati jasa-jasa Ibu Kartini yang telah berusaha memperjuangkan harkat martabat kaum wanita. Usaha dan hasil pemikiran Ibu Kartini yang banyak dituliskan dalam surat-suratnya serta diterbitkan dalam sebuah buku “Habislah Gelap Terbitlah Terang” telah menjadi inspirasi bagi banyak wanita Indonesia untuk berubah menjadi lebih baik. Dorongan untuk menjadikan wanita Indonesia memiliki persamaan derajat dengan laki-laki di berbagai bidang telah menghantarkan RA Kartini untuk mendirikan sekolah wanita pertama di Indonesia dengan dukungan suaminya K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan Bupati Rembang pada saat itu.
Di era sekarang yang sudah semakin maju ini wanita dituntut untuk dapat menjadi perempuan yang berilmu pengetahuan, perempuan yang memiliki kemampuan dan keahlian di berbagai bidang kehidupan serta dapat bersinergi dengan para suaminya untuk membangun kehidupan rumah tangga dan menciptakan Indonesia yang lebih maju. Sinergi yang dilakukan para wanita saat ini harus dapat menjangkau semua bidang, baik di bidang keluarga, ekonomi, pembangunan dan pemerintahan sesuai dengan profesi dan keahlian yang dimiliki. (Ksr)